83 research outputs found
Mengikat Karyawan Dengan Telecommuting (Studi Keterikatan Kerja Karyawan Telecommuting)
Survei pada tahun 2012 menunjukkan bahwa hanya ada 1/3 karyawan yang memiliki keterikatan kerja dengan pekerjaannya di Indonesia. Salah satu sebab permasalahan yang dipersepsikan karyawan adalah kurangnya keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Hal ini terjadi karena belum banyak perusahaan yang menerapkan kebijakan jam kerja fleksibel. Akan tetapi, beberapa tahun belakangan beberapa perusahaan di Indonesia mulai menerapkan disain kerja telecommuting, sebuah disain kerja yang memungkinkan karyawan untuk tidak bekerja di kantor yang terpusat. Beberapa penelitian sebelumnya menyajikan beberapa keuntungan penerapan telecommuting, diantaranya meningkatnya produktivitas, kepuasan kerja, dan menurunnya stres kerja. Namun belum ada penelitian yang meneliti perbedaan tingkat keterikatan kerja pada karyawan yang bekerja di kantor tersentralisasi dengan karyawan telecommuting. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tersebut. Sejumlah 53 karyawan berpartisipasi dalam penelitian ini, dimana jumlah karyawan telecommuting adalah 21 karyawan dan karyawan yang bekerja tersentralisasi sejumlah 32 orang. Dimensi keterikatan kerja yang diukur adalah absorpsi, dedikasi, dan semangat. Pengambilan data menggunakan kuesioner Utrecht Work Engagement Scale (UWES) dengan 17 aitem yang diadaptasikan. Data dianalisis menggunakan teknik statistik non parametrik. Hasilnya dapat disimpulkan bahwa kelompok karyawan telecommuting menunjukkan rata-rata tingkat keterikatan kerja yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan kelompok karyawan yang bekerja tersentralisasi (U = 180,5 , p = .005). Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perusahan di Indonesia untuk mempertimbangkan penerapan telecommuting. Kata kunci: keterikatan kerja, telecommuting, telework, UWES engagement scale, jam kerja fleksibel, work-life balanc
Hubungan antara Mindful Parenting dengan Gaya Pengasuhan pada Ibu yang Memiliki Anak Usia 3-6 Tahun
Anak usia dini (3-6 tahun) berada dalam tahap mengembangkan inisiatif sehingga umumnya tampil dengan penuh energi dan eksplorasi. Hal ini dapat menguras energi emosional ibu sebagai pengasuh utama. Untuk itu, ibu perlu terampil mengelola kondisi emosional dengan tetap merespon anak secara baik dan memerhatikan kebutuhan anak untuk memahami konsteks sosial. Mindfulness dalam pengasuhan (mindful parenting) menerapkan kesadaran penuh dalam konteks pengasuhan yang sedang berlangsung antara ibu dengan anak, sehingga memfasilitasi ibu untuk sabar, menerima, sekaligus memanfaatkan moment yang ada untuk membangun interaksi sehingga dianggap dapat membangun gaya pengasuhan yang positif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara mindful parenting dengan pola asuh pada ibu yang memiliki anak usia 3-6 tahun. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 101 ibu yang dipilih secara incidental di daerah DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan alat ukur Mindfulness in Parenting Questionnaire (MIPQ) dan The Parenting Styles and Dimensions Questionnaire (PSDQ). Data diolah dengan korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menyatakan bahwa, terdapat hubungan positif yang siginifikan antara mindful parenting dengan tipe pola asuh authoritative (r = 0,608 ; p = 0,000 < 0,05), dan hubungan negative yang signifikan dengan pola asuh authoritarian (r = -0,278 ; p = 0,005 < 0,05). Sementara, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara mindful parenting dengan tipe pola asuh permissive (r = -0,171; p= 0,087 > 0, 05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin seorang ibu memiliki karakter atau kemampuan pengasuhan yang berkesadaran maka akan semakin memiliki pola asuh yang autorithative. Kesimpulan penelitian perlu mempertimbangkan kondisi sampel yang kurang beragam secara sosiodemografis
Body Awareness dan Gaya Hidup Sehat Dewasa Muda
The prevalence of chronic diseases is currently shifting towards young people, so individuals need to adopt a good and sustainable healthy lifestyle for their future health and well-being. However, Indonesian people have low awareness regarding health. Body awareness of health can encourage someone to evaluate their lifestyle and prevent long-term health problems. This study aimed to determine the relationship between body awareness and the dimensions of a healthy lifestyle in young adults. The participants were 102 young adults (Mean age = 22 years) in Jabodetabek, selected using a convenience sampling technique. The instruments used were the Body Awareness Questionnaire (BAQ), which has a good reliability coefficient (Alpha = .842), and the Health-Promoting Lifestyle Profile II (HPLP II), which has sufficient reliability (Alpha = .585 - .893). The results showed a significant positive relationship between body awareness and each dimension of a healthy lifestyle (r = .350–.483), including health responsibility, nutrition, physical activity, stress management, interpersonal relations, and spiritual growth. This suggests that higher body awareness is associated with a healthier lifestyle among young adults. Thus, promotional or educational programs from psychologists or health practitioners to promote a healthy lifestyle for the young adult generation can be carried out by increasing their knowledge and skills regarding body awareness.Prevalensi penyakit kronis saat ini bergeser ke arah usia muda sehingga individu perlu menjalankan gaya hidup sehat yang baik secara berkelanjutan untuk kesehatan dan kesejahteraan nantinya. Namun, masyarakat Indonesia memiliki rasa kesadaran akan kesehatan yang rendah. Body awareness merupakan perhatian dan kesadaran individu terhadap proses tubuh (siklus dan ritme fisiologis) yang normal. Hal ini dapat mendorong seseorang untuk mengevaluasi gaya hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body awareness dengan dimensi gaya hidup sehat pada dewasa muda. Partisipan penelitian berjumlah 102 dewasa muda (Musia = 22 tahun) yang berdomisili di kota-kota besar Indonesia atau Jabodetabek dipilih dengan teknik accidental sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Body Awareness Questionnaire (BAQ) yang memiliki indeks reliabilitas yang baik (???? = 0.842) dan Health- Promoting Lifestyle Profile II (HPLP II) yang memiliki reliabilitas yang cukup ( ???? = 0.585 - 0.893). Peneliti menggunakan uji korelasi spearman karena distribusi data yang tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan positif antara body awareness dengan setiap dimensi gaya hidup sehat (r = 0.350 – 0.483), artinya, semakin tinggi body awareness maka semakin baik juga gaya hidup sehat dewasa muda. Dengan demikian, program promosi atau edukasi dari psikolog atau praktisi mengenai kesehatan pada generasi dewasa muda dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka mengenai body awareness
Hubungan antara Gaya Hidup Sehat dan Kepuasan Hidup pada Usia Madya
Dewasa madya mengalami perubahan secara fisik dan kondisi hidup yang dapat membuat mereka kurang puas terhadap hidupnya. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan kepuasan hidup adalah kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya hidup sehat dan kepuasan hidup pada dewasa madya di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jumlah partisipan 86 orang dewasa madya (M=45 tahun) yang dipilih dengan menggunakan teknik convenience sampling. Gaya hidup sehat diukur dengan Health Promoting Lifestyle Profile-II (HPLP II) yang memiliki reliabilitas baik pada tiap dimensinya (???? = 0.750-0.884). Kepuasan hidup diukur menggunakan Satisfaction With Life Scale (SWLS) yang cukup reliabel (???? = 0.709). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara dimensi gaya hidup sehat berupa interpersonal relationship (r = 0.405, p<.001), stress management (r = 0.405, p<.001), health responsibility (r = 0.281, p=0.009), dan spiritual growth (r = 0.480, p<.001) dengan kepuasan hidup pada dewasa madya. Artinya, semakin baik gaya hidup sehat dewasa madya, maka kepuasan hidupnya meningkat. Dengan demikian, peningkatan kepuasan hidup dewasa madya dapat dilakukan dengan strategi yang melibatkan interpersonal relationship, stress management, health responsibility, dan spiritual growth
Disadvantaged Family\u27s Quality of Life and Psychosocial Environment on Growth and Development of Infants
Stunting, a condition characterized by poor growth and development, has become a significant public health concern in Indonesia. Therefore, the current study adopts a correlational design and aims to explore the relationship between family quality of life, psychosocial environment, and the growth and development of under-two-year-old infants from low socioeconomic status. To conduct the study, 720 mothers were selected through cluster sampling in Pandeglang Regency. Family quality of life and psychosocial environment were measured using the BC-FQoL and HOME-SF tools, respectively. Nutritional status was determined based on height-for-age (H/A) and weight-for-age (W/A) to evaluate growth and development. The results showed that there was no significant relationship between family quality of life, psychosocial environment, and nutritional status. Weight-for-age had a weak but significant relationship with emotional well-being, family interaction, and emotional psychosocial stimulation. Height-for-age was only related to emotional well-being, indicating the need to consider the psychosocial situation and family involvement in caring for infants
Academic Dishonesty Differences Evaluated by Academic Identity Status in Undergraduate Students
Academic dishonesty has become a pressing concern in higher education, as illustrated by 2024 data from the Indonesian Corruption Eradication Commission (Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK) indicating that more than half of respondents admitted to engaging in cheating. Such behavior may be shaped by academic identity status, defined as an individual’s self-perception and commitment within the academic domain. However, empirical evidence on this association remains scarce, particularly among Indonesian undergraduate students. The present study examined differences in academic dishonesty across academic identity statuses in a sample of 216 Indonesian undergraduates aged 18–25 years. Using a quantitative design, participants completed the Academic Dishonesty Scale and the Academic Identity Measure (AIM). A one-way ANOVA revealed significant differences in academic dishonesty scores across identity statuses, F(3, 212) = 5.239, p = .002, η² = .069. Post hoc comparisons indicated that students with a moratorium identity status reported higher levels of academic dishonesty than those with an achievement identity status, whereas no other pairwise differences reached statistical significance. These findings extend the literature on academic dishonesty by integrating identity status theory within the Indonesian higher education context and suggest that academic identity development should be considered when designing targeted preventive and remedial interventions in universities
Perilaku Online Beresiko Remaja Hubungannya dengan Kualitas Hidup dan Mediasi Orang Tua
Adolescents in urban area of Indonesia have become the highest internet users. Most of them were social media consumers. The high usage could make them involve in risky online behavior, which included giving personal information and accessing sexual content. The activities could affect to adolescents’ permissiveness about sexuality and interfere with their psychological development. Among the factors associated to risky behavior were parental monitoring and adolescent psychososial condition, but there was not many study in Indonesia that directly see the role of the factors in adolescents’ risky sexual online behavior. Therefore, the study aimed to know wheater adolescents’ quality of life and parental mediation contributed to their risky sexual online behavior. This associative research had included 148 adolescents in Jakarta by accidental sampling technique. We used EU KIDS ONLINE sub parental mediation, online risky activity, risky sexual activity and KIDSCREEN-27 as instrument. The study indicated that parental technical mediation and physical activity and health associated to risky sexual activity as the perpetator. The result should be generalized with caution to adolesecence population in Jakarta as the sample and data were not normally distributed. Any research of the same topic should consider the sample representativeness and social desireability of the risky sexual online behavior scale. Literacy about the safety of technical internet use and interaction needs to be increased.
Hubungan Antara Self-Compassion dan Gaya Hidup Sehat Pada Mahasiswa
Mahasiswa saat ini memiliki beberapa masalah dalam menerapkan gaya hidup sehat seperti tingkat asupan gizi yang kurang baik, aktifitas fisik yang rendah, mudah stres. Mahasiswa perlu menerapkan gaya hidup sehat agar memperoleh kesehatan tubuh dan mental yang optimal. Salah satu faktor untuk meningkatkan gaya hidup sehat adalah self-compassion karena self-compassion mengacu pada cara sehat yang berhubungan langsung dengan dirinya sendiri. Penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui signifikansi hubungan antara self-compassion dan gaya hidup sehat pada mahasiswa serta mengetahui tinjauannya dalam Islam. Partisipan adalah 170 mahasiswa berdomisili di kota-kota besar di Indonesia yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Hasil penelitian dengan uji kolerasi spearman menunjukan bahwa self-compassion berkorelasi positif dan signifikan dengan gaya hidup sehat pada dimensi hubungan interpersonal, pertumbuhan spiritual, dan manajemen stres, dan tidak berkorelasi dengan dimensi nutrisi, tanggung jawab kesehatan dan aktivitas fisik.. Keterbatasan pada penelitian ini adalah perlu upaya promosi kesehatan dengan meningkatkan rasa self-compassion mahasiswa baik melalui praktisi maupun akademisi, serta edukasi kesehatan secara holistik
Disadvantaged Family's Quality of Life and Psychosocial Environment on Growth and Development of Infants
Stunting, a condition characterized by poor growth and development, has become a significant public health concern in Indonesia. Therefore, the current study adopts a correlational design and aims to explore the relationship between family quality of life, psychosocial environment, and the growth and development of under-two-year-old infants from low socioeconomic status. To conduct the study, 720 mothers were selected through cluster sampling in Pandeglang Regency. Family quality of life and psychosocial environment were measured using the BC-FQoL and HOME-SF tools, respectively. Nutritional status was determined based on height-for-age (H/A) and weight-for-age (W/A) to evaluate growth and development. The results showed that there was no significant relationship between family quality of life, psychosocial environment, and nutritional status. Weight-for-age had a weak but significant relationship with emotional well-being, family interaction, and emotional psychosocial stimulation. Height-for-age was only related to emotional well-being, indicating the need to consider the psychosocial situation and family involvement in caring for infants
Peran Trait Mindfulness terhadap Stres Kehamilan
Pregnancy and giving birth are special moment in women’s life. Pregnancy starts with a dynamic growing period and significant development both physical and mental. Women’s judgement on her pregnancy can determine whether it can be a stressful or not. Trait mindfulness (observing, describing, acting with with awareness, non-judging, nonreactivity) could affect someone on perceiving all accepting daily experience. Trait mindfulness related to mental health. Islam also suggest people to tafakur (contemplate). The study aimed to determine how the role of trait mindfulness take part in a pregnancy stress. The sample was 223 pregnant woman and was taken by accidental sampling technique. This research use Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) Indonesian Version and Pregnancy Experiences Scale – Brief Version (PES-Brief) Indonesian Version as measuring instrument. The result of regression test showed that trait mindfulness on the dimention of acting with awareness predicted 7.3% (R-Square value 0.073, F value 3.439, p value 0,005) the pregnancy stress. However on the dimention of observing, describing, non-judging and non-reactivitydid not has role in the pregnancy stress
- …
