44 research outputs found

    “Focus Group Discussion” dalam Paradigma Pembangunan Partisipatif

    No full text
    Some recent years, the field of Development Communication has developed a bottom up approach in order to build a comprehensive program for stakeholders. The reason behind this approach is to generate participation among people who became their target. As a variant of participatory development, Focus Group Discussion has became an alternative for communication research method. In practice, Focus Group Discussion has great potential to achieve their optimum role. But, whoever employ this approach must also aware its limitations

    Polemik Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi & Pornoaksi (RUU-APP)

    No full text
    This article focuses on polemics conce

    Pola Relasi Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah dalam Upaya Meningkatkan IPM di Jawa Barat

    No full text
    Sejak dilanda krisis ekonomi pada akhir 1997, saat ini Indonesia masih berada dalam tahap pemulihan yang meliputi tidak hanya restrukturisasi di bidang ekonomi, tetapi juga perubahan-perubahan di bidang sosial dan politik. Namun dalam proses pemulihan itu tidak dapat dihindari semakin meluasnya kesenjangan antar kelompok dan juga antara daerah kaya dan miskin. Selain masalah kesenjangan pendapatan masyarakat, kesenjangan juga terjadi dalam pencapaian indeks Pembangunan Manusia (IPM) antar daerah. Berdasarkan penghitungan terakhir yang dilakukan oleh BPS, pencapaian 20 IPM terbaik tahun 2004 masih didominasi oleh kota-kota besar, seperti Jakarta, Yogyakaryta, Padang, dan Makasar.IPM Jawa Barat masih jauh tertinggal dibanding propinsi lainnya. Evaluasi yang dilakukan menunjukkan, bahwa pencapaian target tahunan selama ini masih kurang menggembirakan. Di antara penyebabnya menyebutkan: kondisi makro, perencanaan kurang terpadu, dan in efisiensi anggaran, (Renstra Jawa Barat, 2003-2008). Padahal, sesuai dengan kebijakan pembangunan di propinsi ini, tahun 2010 Jawa Barat berambisi menjadi propinsi termaju di Indonesia. Untuk menggapai keinginan agar tidak hanya menjadi sebuah wacana, diperlukan berbagai upaya konkret dengan memanfaatkan kualitas sumberdaya manusia dan potensi yang ada. Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, dan masyarakat, memiliki peranan yang penting dalam upaya peningkatan IPM di Jawa Barat, namun pola relasi yang terjalin saat ini antara ketiganya masih belum optimal. Berdasarkan fenomena tersebut, makalah ini mencoba untuk memberikan pemikiran mengenai pola relasi yang mungkin dapat diimplementasikan khususnya dalam membentuk pola yang tepat dalam proses interaksi yang positif antara Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, dan masyarakat. Dengan demikian, akan diperoleh rumusan yang jelas dan tepat mengenai pola hubungan seperti apa yang sebaiknya dilakukan dalam konteks upaya meningkatkan IPM pada masyarakat di Jawa Barat. Hasil analisis mencerminkan bahwa Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah atau sebaliknya, harus memiliki orientasi yang sama terhadap masyarakat. Ketika tidak terjadi kesamaan, masing-masing pihak mencoba berupaya berorientasi pada pihak yang lainnya. Pemerintah Daerah sebagai pemegang kebijakan (regulator), pendorong dan pemfasilitasi (enabler) harus mengkoordinasikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat Jawa Barat dalam upaya peningkatan IPM kepada pihak Perguruan Tinggi, sehingga antara kebutuhan yang tengah menjadi fokus perhatian Pemerintah Daerah pada masyarakat akan sama dengan fokus perhatian kalangan akademis terhadap masyarakat. Demikian pula masyarakat sebagai obyek pembangunan akan melaksanakan program pemerintah dan hasil temuan Perguruan Tinggi (misalnya program peningkatan IPM), adapun sebagai subyek pembangunan masyarakat bertindak sebagi pelaku dari program itu sendiri. Kunci dari semua hubungan antara Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, dan masyarakat, adalah adanya manajemen informasi yang jelas berazaskan komunikasi timbal balik (dua arah). Berdasarkan argumen-argumen sederhana ini, maka penulis memetakan pola relasi antara Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, dan masyarakat, dengan istilah ”Pola Relasi Segitiga Emas”

    Interelasi Perempuan dan Internet

    No full text
    Internet tidak hanya merevolusi cara perempuan dalam berinteraksi yang menembus jarak, ruang, dan waktu, tetapi ia juga hadir dengan budayanya sendiri memengaruhi watak perempuan dalam berkomunikasi. Keakraban dengan sesuatu yang alami dan nyata (real) kini telah diganti dengan keeratan dengan sesuatu yang tidak nyata, virtual, dan semu. Kealamian pun bahkan dianggap sebagai kesemuan, namun ilusi dianggap riil. Internet dianggap telah menciptakan realitas baru yang dikenal sebagai virtual reality di dalam sebuah virtual world.Fenomena interrelasi perempuan dan internet menarik untuk dicermati. Di satu sisi ada peralihan cara perempuan dalam pencarian sumber informasi, bertemu, berbicara, belajar, dan berdagang melalui internet yang mengukuhkannya sebagai subjek. Di sisi lain sosok  perempuan di internet tetap menjadi objek beragam bentuk kejahatan yang dilakukan di internet (cybercrime). Pada posisinya sebagai objek perempuan masih menjadi korban kekerasan secara verbal dan visual dalam wujud pornografi (cyberporn), pelecehan seksual, penculikan, perilaku narsistik, dan  sasaran budaya konsumtif

    Komunikasi Antarpersona: Perspektif Komunikasi Cyberspace

    No full text
    Kehadiran teknologi komunikasi canggih telah menggeser dan memperkaya makna komunikasi antarpersona. Kini, komunikasi antarpersona tak lagi mensyaratkan keharusan adanya tatap muka. Komunikasi demikian dapat berlangsun, misalnya dengan internet melalui fasilitas chatting. Inilah komunikasi antarpersona dalam dunia cyber. Sebagaimana komunikasi antarpersona tatapmuka, pada komunikasi antarpersona di dunia maya pun masih diperlukan dimensi-dimensi psikologis, sehingga komunikasi itu bisa efektif. Namun demikian, bagaimanapun komunikasi antarpersona cyberspace tidak sepenuhnya persis sama dengan komunikasi antarpersona tatap muka, karena ada yang tergantikan yakni aspek "memberi dan menerima diri penuh secara psikologis"

    Citra Caleg Perempuan Dalam Framing Media Online

    No full text
    Fenomena tentang berita-berita pemilu memperlihatkan bahwa perempuan kurang mendapat akses ke dunia publik, karena representasi perempuan di media lebih kecil, hampir setengahnya, daripada representasi laki-laki yang dijadikan sebagai narasumber oleh media cetak nasional. Dilihat dari komposisi perbandingan status perempuan dan laki-laki yang menjadi narasumber, masih ada kecenderungan media belum memberikan akses yang sama dan berimbang bagi semua profesi yang ada, khususnya perempuan, untuk menjadi narasumber utama. Perempuan masih lebih banyak diletakkan sebagai sumber pengamatan saja.Kecenderungan di atas muncul akibat konstruksi pemberitaan media yang bias gender. Dalam tulisan ini peneliti mengulas kajian tentang citra perempuan dalam pemberitaan di media online Penelitian ini adalah berita yang terdapat di media on line Kompas.com dan Detik.com yang memuat berita Caleg Perempuan peserta Pemilu 2014. Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis framing dari Robert N. Entman.Hasil penelitian menunjukkan Framing Kompas.Com dan Detik.Com mendefinisikan masalah berita terkait caleg perempuan adalah bahwa perempuan yang berani mencalonkan diri kebanyakan terdiri dari orang-orang populer. Sedangkan perkiraan masalah berita terkait caleg perempuan pada pemilu 2014 secara umum peneliti mengelompokkan pada tiga kategori yakni citra fisik, citra populer dan citra konflik. Keputusan moral yang diajukan hasilnya menunjukkan menjadi alasan ekonomis,politis, pragmatis dan estetis.Rekomendasi penyelesaian yang diajukan yakni caleg perempuan dapat menjadi anggota parlemen jika memenuhi faktor pengetahuan dan pendidikannya, sisi spiritualnya, sisi perekonomiannya dan sisi peran publiknya di dunia politik

    Komunikasi Antarpersona: Perspektif Komunikasi Cyberspace

    No full text
    Kehadiran teknologi komunikasi canggih telah menggeser dan memperkaya makna komunikasi antarpersona. Kini, komunikasi antarpersona tak lagi mensyaratkan keharusan adanya tatap muka. Komunikasi demikian dapat berlangsun, misalnya dengan internet melalui fasilitas chatting. Inilah komunikasi antarpersona dalam dunia cyber. Sebagaimana komunikasi antarpersona tatapmuka, pada komunikasi antarpersona di dunia maya pun masih diperlukan dimensi-dimensi psikologis, sehingga komunikasi itu bisa efektif. Namun demikian, bagaimanapun komunikasi antarpersona cyberspace tidak sepenuhnya persis sama dengan komunikasi antarpersona tatap muka, karena ada yang tergantikan yakni aspek "memberi dan menerima diri penuh secara psikologis"

    Effectiveness Of Interpersonal Communication In The Prevention Of Violence Against Children

    No full text
    Banyak anak yang menjadi korban kekerasan, tidak menerima rasa sayang, dilindungi, termasuk juga tidak bersekolah. Salah satu upaya dalam mencegah tindakan kekerasan terhadap anak dimulai dari keluarga. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan melihat efektivitas komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh orang tua dengan anak di Kota Bandung dalam rangka mencegah kekerasan terhadap anak. Studi kasus digunakan pada penelitian ini, dengan alasan bahwa setiap daerah berbeda satu sama lain karena tentunya memiliki budaya yang berbeda. Responden penelitian berjumlah 100 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orangtua di Kota Bandung sebagian besar melakukan keterbukaan dalam berkomunikasi dengan anak, khususnya berkaitan dengan kekerasan yang mungkin ada di lingkungan anak. Selain itu mereka memiliki sikap positif terhadap pergaulan anak. Rasa empati pada anak juga ditunjukkan orangtua dalam mencegah tindak kekerasan pada anak. Kesetaraan dalam keluarga juga dilakukan oleh orangtua di Kota Bandung untuk membuka ruang partisipasi anak, sehingga anak akan terbuka pada orangtua untuk bercerita berbagai hal. Many children have become violence victim, not receive affection, protected including not attending school. Some of effort in preventing from violence is starting from the family. Therefore, this study is aimed for the effectiveness of interpersonal communication that is conducted by the parents with children in Bandung city, in order to prevent the violence against children. The case study used in this research, on the grounds that every area is different to each other because it certainly has a different culture. The respondent sample that we made a survey is 100 people. Results showed that parents in Bandung city are doing most of openness in communicating with their children, particularly related to violence that might exist in the child’s environment. In addition, they have a positive attitude towards the association of children. Empathy in children is showing from their parents in order to prevent from violence. Equality in family is done by their parents in Bandung city to open the space for child participation, so that the children will open to their parents for asking something or to tell a various things

    KOMUNIKASI ANTARPERSONA ANAK DENGAN ORANGTUA DALAM MENCEGAH KEKERASAN

    No full text
    The family becomes the starting place for a child's growth. Therefore, the family needs to provide the process of education and a sense of security in children. This is understandable because currently the graph of violence against children the number tends to rise from year to year. The problem of violence is a phenomenon of icebergs, in fact not all victims of violence often report their cases for various reasons. Based on the results of the author's research, communication made by parents in preventing violence in children gives an idea that communication between parents parent to child has contributed to the process of preventing violence in children. On the other hand, interpersonal communication between the child and the parent needs to be done to see the whole family communication in preventing violence that occurs in the child. Based on the phenomenon described it is interesting to examine how: "Communication Antarpersona Children with Parents in Preventing Violence?" This research uses descriptive method conducted in 3 (three) public schools in the city of Bandung with the number of samples of 100 people. Samples taken as respondents were taken through cluster sampling technique from 51 junior high schools in Bandung. The results showed that openness and mutual support of children to parents is still not optimal, but on the other hand the problem of empathy is quite deep, as well as with a sense of positive and mutual appreciation is very strong. Keluarga menjadi tempat awal tumbuh kembang seorang anak. Oleh karena itu, keluarga perlu memberikan proses pendidikan dan rasa aman pada anak. Hal ini bisa dipahami karena saat ini grafik kekerasan terhadap anak angkanya cenderung naik dari tahun ke tahun. Masalah kekerasan merupakan fenomena gunung es, faktanya seringkali tidak semua korban kekerasan mau melaporkan kasusnya dengan berbagai alasan. Berdasarkan hasil penelitian penulis, komunikasi yang dilakukan oleh orangtua dalam mencegah kekerasan pada anak memberikan gambaran bahwa komunikasi antarpersona orangtua dengan anak memiliki kontribusi pada proses pencegahan kekerasan pada anak. Pada sisi lain, komunikasi antarpersona antara anak dengan orangtua perlu dilakukan untuk melihat secara utuh komunikasi keluarga dalam mencegah kekerasan yang terjadi pada anak. Berdasarkan fenomena yang dijelaskan tersebut menarik mengkaji bagaimana : “Komunikasi Antarpersona Anak dengan Orangtua dalam Mencegah Tindak Kekerasan?” Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang dilakukan di 3 (tiga) sekolah negeri yang ada di kota Bandung dengan jumlah sampel sebanyak 100 orang. Sampel yang menjadi responden diambil melalui teknik kluster sampling dari 51 SMP yang ada di kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbukaan dan saling mendukung anak kepada orang tua masih belum optimal, namun di sisi lain masalah empati cukup mendalam, begitu pula dengan rasa positif dan saling menghargai sangat kuat
    corecore