1,720,959 research outputs found

    Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal : Kumpulan Esai Seni, Budaya dan Sejarah Indonesia

    No full text
    “Seorang bangsawan Sunda mendanai pembuatan film cerita pertama yang diproduksi di Hindia Belanda?yang kelak disebut film Indonesia. Seorang Belanda membuat film yang dilarang, karena dianggap menyinggung perasaan orang Sunda. Kisah-kisah tadi terekam dalam buku yang mencakup berbagai topik ini, antara lain teater, kesenian rakyat, sinematografi, arsitektur, dan spiritualisme. Sudut pandang penulisnya menunjukkan sebuah komitmen terhadap pengungkapan kebenaran dan pelestarian budaya.” Linda Christanty ? sastrawan dan wartawan “Seni tradisi sebagai bagian dari produk kebudayaan terlalu penting untuk dilupakan begitu saja. Terlebih perjalanannya melintasi panggung sejarah di negeri ini tetiba saja harus melompat ke sebuah zaman yang ditandai oleh produk teknologi informasi yang mengubah kebiasaan orang menikmati hiburan. Buku yang ditulis Fandy Hutari, sarjana sejarah alumnus Unpad ini, merawat ingatan kita tentang bagaimana perjalanan?bahkan lompatan?seni tradisi dan hiburan dari masa lalu ke masa sekarang. Buku ini memberikan kita tentang gambaran bagaimana peradaban manusia takkan pernah bisa lepas dari tanggapan manusia atas tantangan zamannya.” Bonnie Triyana ? pendiri dan pemimpin majalah Historia “Di tangan Fandy Hutari, fakta sejarah yang tidak jarang terasa beku__kering atau penuh monotonitas, dihidupkan kembali menjadi narasi yang segar. “Basah”, karena penuh data, dan renyah untuk dikunyah hingga tuntas. Tiap tulisan dalam buku ini tidak saja berupa gundukan informasi, namun juga cercah pemetaan persoalan dan analisis yang inspiratif, sehingga berpeluang membangun sikap bagi pembacanya.” Kuss Indarto ? pemimpin redaksi majalah Mata Jendela, kurator seni rupa “Melalui buku ini, penulis menyampaikan dengan menarik wajah modernitas yang membentuk koloni Hindia Belanda. Pendekatan kebudayaan terhadap sejarah, memungkinkan pembaca buku ini menelusuri kembali proses globalisasi imperial yang menjadikan budaya yang sebelumnya spesifik Eropa menjadi fenomena global, termasuk persinggungannya dengan beragam budaya lain di koloni. Serangkaian perjumpaan dari latar budaya yang beragam itulah yang melahirkan beragam kisah sejarah yang menarik, dan sekaligus menjadi inspirasi bagi para pembaca masa kini memahami kenyataan kontemporer Indonesia. Ini adalah buku yang layak dibaca, acuan bagi mahasiswa ilmu sosial dan humaniora sebagai cara memperkaya pandangan mereka.” Andi Achdian — sejarawan “Buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal karya Fandy Hutari ini mengingatkan saya pada ujaran sejarawan Belanda, Johan Huizinga, dalam karya masyhurnya Homo Ludens, bahwa: ‘all play means something’. Melalui sekumpulan tulisannya, Fandy pun menyadarkan kita bahwa segala bentuk hiburan dan tradisi adalah sesuatu teramat berarti dalam membentuk perjalanan sejarah dan budaya Indonesia.” Fadly Rahman ? penulis dan sejarawan “Buku ini seperti mengajak kita untuk “merenovasi” visi sejarah maupun visi kebudayaan manusia Indonesia masa kini dalam melihat masa lalu kita yang kemajemukannya kian jauh tergerus oleh lintasan berbagai sejarah (kolonialisme, modernisme, nasionalisme, globalisasi), dan rapuh untuk terkubur kian jauh dalam kegelapan wilayah masa lalu, cahayanya kian kita curi untuk menguasai “indonesia masa depan.” Afrizal Malna, penyair & pegiat seni “Seni pertunjukan, sastra, dan kebudayaan tradisional di Nusantara seringkali dilupakan dan menghilang begitu saja. Bahkan, karena dogma-dogma dan ideologi pemerintah, banyak di antaranya dianggap haram dan tidak layak dikenang. Namun, Fandy Hutari bukan saja mengenang, melainkan juga menyusuri kembali jejak-jejak historis ini di dalam artikel-artikelnya.” Soe Tjen Marching — akademisi, komponis, penulis, dan pendiri majalah Bhinneka “Adalah pilihan yang tidak mudah menjadi pemburu yang bergerak dalam samar puing-puing sejarah; terbatasnya data, minimnya dokumentasi. Mungkin ini adalah tantangan yang menggoda bagi kawan Fandy: menguak yang tertimbun dan tersamar menjadi terang; seperti halnya kalimat-kalimat yang mengulas tentang perjuangan panjang para pejuang budaya di dalam buku ini.” F.W. Pei — pemimpin portal www.indonesiaseni.com “Potret pergulatan seni Indonesia modern pada masa kebangkitannya dan resistensi seni tradisi terhadap gilasan pengaruh budaya asing pada masa kini. Buku yang sangat perlu dibaca.” Supriatna—ketua sanggar Motekar Jatinangor, budayawan Sund

    Statistik parametrik untuk penelitian kuantitatif: Dilengkapi dengan perhitunganmanual dan aplikasi SPSS versi 17

    No full text
    Buku ini membahas masalah penelitian kuantitatif dengan memanfaatkan uji statistik, seperti uji asumsi dasar, t dan z, korelasi, regresi dan komparatif dua sampel serta uji anova

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado
    corecore