21 research outputs found

    Determinan Berat Badan Lahir Rendah di Indonesia (Performa Diagnostik Model Prediksi)

    Get PDF
    Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia, termasuk di Indonesia. Hal ini dapat terlihat pada prevalensi yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis performa diagnostik model prediksi pada determinan BBLR di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain studi cross-sectional berdasarkan data SDKI 2017. Populasi penelitian yaitu wanita usia subur usia 15 tahun hingga 49 tahun yang memiliki anak dengan batas usia maksimal 59 bulan. Setelah data di-cleaning, 13269 sampel masuk dalam penelitian. Teknik analisis data menggunakan distribusi frekuensi pada variabel kategorik, distribusi sentral dan sebaran pada variabel numerik. Pemilihan kandidat variabel prediksi dilakukan dengan analisis uji chi-square, dilanjutkan dengan analisis multivariat menggunakan uji regresi binary logistik, serta performa diagnostik dengan evaluasi ROC. Hasil penelitian diperoleh prevalensi BBLR di Indonesia sebesar 7% (95% CI = 6,6%-7,5%). Mayoritas ibu memiliki karakteristik optimal, kecuali rendahnya tingkat pendidikan, ekonomi serta kualitas pelayanan ANC. Pada hasil analisis bivariat, variabel yang memiliki hubungan signifikan yaitu usia, tingkat pendidikan, status ekonomi, paritas, jarak kehamilan, gemelli, riwayat komplikasi, dan kuantitas pelayanan ANC. Faktor risiko utama BBLR yaitu gemelli, riwayat komplikasi kehamilan, tingkat pendidikan, status ekonomi, dan jarak kehamilan. Probabilitas minimum model prediksi sebesar 2,8% dan maksimum 80,5% dengan AUC=0,638, sensitivitas=0,074, dan spesifisitas=0,996. Intervensi suplemen multiple micronutrient pada ibu, memperkuat kualitas ANC, edukasi pada keluarga serta penguatan program ASI eksklusif perlu dilakukan untuk mengontrol risiko berat badan lahir rendah di Indonesia

    The Relationship between Sex Education and Sexual Behaviour in Adolescents

    Get PDF
    Adolescent sexual behavior remains a global problem with high reports of cases of adolescents behaving freely. The lack of knowledge about sexuality is caused by limited information, services, and advocacy. There has not been a reproductive health curriculum for adolescents in schools. Therefore, this study aims to determine the relationship between sex education and sexual behavior in adolescents. This research is a quantitative study with a cross-sectional design. The sampling was taken using a total sampling technique. The sample included all students of class X and XI, with a total of 102 people. The research instrument used a questionnaire. Data were analyzed using chi-square and multiple logistic regression. Bivariate analysis results showed that there was a relationship between sex education by parents, teachers, peers, and social media and sexual behavior. The results of multivariate analysis with logistic regression tests showed that sex education provided by parents was the most substantial relationship with sexual behavior. The study concluded that parents, teachers, and social media were associated with sex education. Extensive sex education from other trusted information could reduce pre-marital sexual activity among adolescents.  Elaborating on external factors would implicate a good attitude and behavior in students

    The Relationship between Sex Education and Sexual Behaviour in Adolescents

    Get PDF
    Adolescent sexual behavior remains a global problem with high reports of cases of adolescents behaving freely. The lack of knowledge about sexuality is caused by limited information, services, and advocacy. There has not been a reproductive health curriculum for adolescents in schools. Therefore, this study aims to determine the relationship between sex education and sexual behavior in adolescents. This research is a quantitative study with a cross-sectional design. The sampling was taken using a total sampling technique. The sample included all students of class X and XI, with a total of 102 people. The research instrument used a questionnaire. Data were analyzed using chi-square and multiple logistic regression. Bivariate analysis results showed that there was a relationship between sex education by parents, teachers, peers, and social media and sexual behavior. The results of multivariate analysis with logistic regression tests showed that sex education provided by parents was the most substantial relationship with sexual behavior. The study concluded that parents, teachers, and social media were associated with sex education. Extensive sex education from other trusted information could reduce pre-marital sexual activity among adolescents.  Elaborating on external factors would implicate a good attitude and behavior in students

    COVID-19’s Vaccine Rejection: Lesson Learned To Preserving Health Security In Indonesia

    No full text
    Background: Indonesia is a country with low COVID-19 vaccination coverage from 2020 through 2021. Different sociodemographic conditions determine the success of vaccination in suppressing the transmission of COVID-19. This systematic review aims to identify the reasons for the refusal of the COVID-19 vaccine among the general and vulnerable communities in Indonesia. Methods: This study uses a systematic review method using PubMed and Google Scholar. The keywords used are COVID-19 vaccine, acceptance, determinant, and Indonesia. The article, which was specifically researched, presents the acceptance of the COVID-19 vaccine in Indonesia only in 2020 and 2021. Elicit information from found articles to form conclusions for each article. Results: Based on 12 studies, the main causes of the rejection of the COVID-19 vaccine in Indonesia are knowledge and negative attitudes. In the aspect of knowledge, three things become problems, namely fear of the side effects of vaccination, doubts about the effectiveness of vaccines, and doubts about vaccine safety. Negative attitudes are influenced by propaganda and conspiracies. Conclusion: The general population and vulnerable people in Indonesia are more likely to reject the COVID-19 vaccine, so the target for mass vaccination is not achieved, the main reasons being knowledge and perception. Control strategies and invitations for specific COVID-19 vaccinations are critical in order to get the general public and vulnerable populations to participate in vaccination activities.

    Determinan Kejadian Hipertensi Masyarakat Pesisir Berdasarkan Kondisi Sosio Demografi dan Konsumsi Makan

    No full text
    Hypertension is still a public health problem, including in the coastal areas. Socio demographic dan unbalanced food consumptions in coastal communities becomes determinant of hypertension. The purpose of this study is to find out hypertension’s determinant in coastal communities based on socio demographic and food consumption. This research uses a descriptive-analytic method with cross-sectional study in December 2019 with a sample of 90 people using the chi-square test. The results showed a significant relationship between food consumption patterns (p = 0.009; POR = 3.780), educational status (p = 0.001; POR = 5.350), age (p = 0,000; POR = 9,000) The conclusion of the study is that there is a significant relationship between food consumption patterns, educational status and age of hypertension in the coastal areas of Percut Village, Percut Sei Tuan District, Deli Serdang Regency, North Sumatra. Suggestions for health workers to be able to increase efforts to promote health on an ongoing basis, especially for patients with hypertension.Penyakit hipertensi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat termasuk di daerah pesisir. Faktor sosio demografi dan konsumsi makan masyarakat pesisir yang tidak seimbang menjadi determinan kejadian hipertensi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui determinan kejadian hipertensi masyarakat pesisir berdasarkan kondisi sosio demografi dan konsumsi makan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan study cross sectional pada bulan Desember 2019 dengan sampel penelitian berjumlah 90 orang dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian terdapat hubungan yang signifikan antara pola konsumsi makanan (p=0,009; POR=3,780), status pendidikan (p=0,001;POR=5,350), usia (p=0,000;POR=9,000) Kesimpulan penelitian yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara pola konsumsi makanan, status pendidikan dan umur terhadap kejadian hipertensi di wilayah pesisir Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Saran kepada petugas kesehatan untuk dapat meningkat upaya promosi kesehatan secara berkesinambungan khususnya kepada penderita hipertensi

    Kualitas Hidup Pedagang Kaki Lima: Perspektif Lingkungan

    No full text
    Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas hidup pedagang kaki lima pada indikator lingkungan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross- sectional, pengambilan data dengan menggunakan kuisioner dari The Bref Version of World Health Organization's Quality of Life Questionere dengan indikator lingkungan , Jumlah responden sebanyak 98 orang pedagang kaki lima di kota Medan. Hasil : Tingkat kesehatan lingkungan tempat tinggal pedagang kaki lima berada paling banyak pada katagori memuaskan dengan frequensi sebesar 63 orang atau presentase sebesar 64,3% (CI 95% = 54,1 -73,5). Tingkat kepuasan pedagang kaki lima dengan kondisi tempat tinggalnya berada paling banyak pada katagori memuaskan dengan frequensi sebesar 56 orang atau presentase sebesar 57,1 % (CI 95% = 48-67,3). Tingkat kepuasan pedagang kaki lima terhadap pelayanan kesehatan yang didapatkan berada paling banyak pada kategori cukup baik dengan frequensi sebesar 49 orang atau presentase sebesar 50% (CI 95%= 39,8 - 60,2). Tingkat kepuasan pedagang kaki lima terhadap transportasi menunjukan paling banyak pada kategori cukup baik dengan frequensi sebesar 39 orang atau presentase sebesar 39,8 % (CI 95% = 29,6 - 49). Tingkat penerimaan informasi pedagang kaki lima menunjukan paling banyak pada kategori memuaskan dengan presentase 59 orang atau frequensi sebesar 60,2% (CI 95% = 50 - 70,4). Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa gambaran kualitas hidup pedagang kaki lima dengan indikator lingkungan menunjukan kategori memuaskan yaitu pada tingkat kesehatan lingkungan,tingkat kepuasan tempat tinggal dan kondisi tempat tinggalnya serta tingkat penerimaan informasi. Pada kategori cukup baik yaitu pada pelayanan kesehatan dan kepuasan terhadap transportasi

    A Comparative Analysis Of Air Power Application For Operational Effectiveness In The Russia-Ukraine And Second Gulf Wars

    Get PDF
    The study presents a synthesis of research that analyses air power and operational effectiveness in the second Gulf War and the Russia-Ukrain wars. The paper identified factors that were used to compare the utilisation of air power in both wars, especially by the coalition of air forces in Operation IRAQI FREEDOM and counter-offensive strategies utilised by the Ukrainian Air Force (UkrAF) to destroy the modern air assets of the Russian Air Force (RuAF). The methodology used is qualitative, utilizing a literature review approach. Researchers investigated and discussed formulating journal articles and online books. This study will employ comparative analysis as its technique for analyzing data. The collected data will be analyzed by comparing the operational effectiveness of air power during the Russia-Ukraine War and the Second Gulf War. The results find include psychological operation, aerial combat engagement, financial cost implications, the employment of ISR, and combat employment of hypersonic weapons. The authors introduce a new terminology in air power/public diplomacy known as 'aggressor burden', which denotes a need in the use of air power to seek alliances or acceptance from the international community for mission effectiveness. The paper also posits that joint coordination could enhance operational effectiveness. Air power planners/operators are encouraged to consider these in their application of air power. This study concluded that air power application provides a better opportunity for effective operations using management functions

    PHS4 Psychological Perspective Quality of Life Street Seller in Medan City

    No full text
    Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran deskriptif kualitas hidup pedagang kaki lima di Kota Medan dari perspektif psikis. Metode: penelitian ini menggunakan desain Cross-sectional. Sampel penelitian ini sebesar 98 responden yaitu pedagang kaki lima di Kota Medan dengan menggunakan kuesioner The brief Version of World Health Organization’s Quality of Life Questionnaire dengan indikator psikis. Hasil: Tingkat menikmati hidup paling banyak kategori baik (43,9 %, CI 95% = 33,7-54,1%). Tingkat merasa hidup berarti paling banyak kategori baik (39,8 %, CI 95% = 30,6-50%). Tingkat perasaan aman paling banyak kategori baik (64,3%, CI 95% = 55,1-74,5%). Tingkat menerima penampilan tubuh paling banyak kategori puas(46,9%, CI 95% = 36,7-56,1%). Tingkat kecukupan uang paling banyak kategori baik (52 %, CI 95% = 41,8-63,2%). Tingkat kesempatan bersenang-senang paling banyak kategori baik(39,8%, CI 95% = 29,6-49%). Tingkat kepuasaan terhadap kemampuan aktivitas paling banyak kategori baik (55,1 %, CI 95% = 45,9-65,3%). Tingkat Kepuasan bekerja paling banyak kategori baik (45,9%, CI 95% = 35,7-55,1%). Tingkat kepuasaan terhadap diri paling banyak kategori baik(46,9 %, CI 95% = 36,8-57,1%) Tingkat perasaan negatif paling banyak kategori baik (50 %, CI 95% = 40,8 -60,2%). Simpulan: Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat menikmati hidup, tingkat merasa hidup berarti, tingkat perasaan aman, tingkat menerima penampilan tubuh, tingkat kecukupan uang, tingkat kesempatan bersenang-senang, tingkat kepuasan kemampuan aktivitas, tingkat kepuasan bekerja, tingkat kepuasaan diri dan tingkat perasaan negatif paling banyak dalam kategori baik.Objektif: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran deskriptif kualitas hidup pedagang kaki lima di Kota Medan dari perspektif psikis. Metode: penelitian ini menggunakan desain Cross-sectional. Sampel penelitian ini sebesar 98 responden yaitu pedagang kaki lima di Kota Medan dengan menggunakan kuesioner The brief Version of World Health Organization’s Quality of Life Questionnaire dengan indikator psikis. Hasil: Tingkat menikmati hidup paling banyak kategori baik (43,9 %, CI 95% = 33,7-54,1%). Tingkat merasa hidup berarti paling banyak kategori baik (39,8 %, CI 95% = 30,6-50%). Tingkat perasaan aman paling banyak kategori baik (64,3%, CI 95% = 55,1-74,5%). Tingkat menerima penampilan tubuh paling banyak kategori puas(46,9%, CI 95% = 36,7-56,1%). Tingkat kecukupan uang paling banyak kategori baik (52 %, CI 95% = 41,8-63,2%). Tingkat kesempatan bersenang-senang paling banyak kategori baik(39,8%, CI 95% = 29,6-49%). Tingkat kepuasaan terhadap kemampuan aktivitas paling banyak kategori baik (55,1 %, CI 95% = 45,9-65,3%). Tingkat Kepuasan bekerja paling banyak kategori baik (45,9%, CI 95% = 35,7-55,1%). Tingkat kepuasaan terhadap diri paling banyak kategori baik(46,9 %, CI 95% = 36,8-57,1%) Tingkat perasaan negatif paling banyak kategori baik (50 %, CI 95% = 40,8 -60,2%). Kesimpulan: Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat menikmati hidup, tingkat merasa hidup berarti, tingkat perasaan aman, tingkat menerima penampilan tubuh, tingkat kecukupan uang, tingkat kesempatan bersenang-senang, tingkat kepuasan kemampuan aktivitas, tingkat kepuasan bekerja, tingkat kepuasaan diri dan tingkat perasaan negatif paling banyak dalam kategori bai

    Kualitas Hidup Pedagang Kaki Lima : Perspektif Sosial

    No full text
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kualitas hidup pedagang kaki lima di Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia dari indikator sosial.  Metode: Penelitian ini menggunakan desain Cross-Sectional. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 98 orang pedagang kaki lima di Kota Medan secara acak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2018. Penggambilan data dengan menggunakan kuisioner dari The Bref Version of World Health Organizations’s Quality of Life Questionere dengan indikator sosial untuk mengukur kualitas hidup pedagang kaki lima di Kota Medan. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indikator dari tingkat kemampuan bergaul pedagang kaki lima berada paling banyak pada kategori baik dengan presentase sebesar 53,1% dan dengan frekuensi sebanyak 52 orang (CI 95% = sebesar 42,9% - 63,3%). Indikator dari tingkat kepuasan hubungan sosial pedagang kaki lima berada paling banyak berada kategori memuaskan dengan presentase sebesar 50% dan dengan frekuensi sebanyak 49 orang (CI 95%= sebesar 40,8% - 60,2%). Indikator dari dukungan teman terhadap pedagang kaki lima berada paling banyak pada kategori memuaskan sebesar 49% dan dengan frekuensi sebanyak 48 orang (CI 95%= sebesar 39.8% - 69,2%). Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa tingkat kemampuan bergaul pedagang kaki lima berada pada kategori baik, pada tingkat kepuasan hubungan sosial pedagang kaki lima berada pada kategori memuaskan, dan pada tingkat dukungan teman terhadap pedagang kaki lima berada pada kategori memuaskan.Objektif : Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kualitas hidup pedagang kaki lima di Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia dari indikator sosial.  Metode : Penelitian ini menggunakan desain Cross-Sectional. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 98 orang pedagang kaki lima di Kota Medan secara acak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2018. Penggambilan data dengan menggunakan kuisioner dari The Bref Version of World Health Organizations’s Quality of Life Questionere dengan indikator sosial untuk mengukur kualitas hidup pedagang kaki lima di Kota Medan. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indikator dari tingkat kemampuan bergaul pedagang kaki lima berada paling banyak pada kategori baik dengan presentase sebesar 53,1% dan dengan frekuensi sebanyak 52 orang (CI 95% = sebesar 42,9% - 63,3%). Indikator dari tingkat kepuasan hubungan sosial pedagang kaki lima berada paling banyak berada kategori memuaskan dengan presentase sebesar 50% dan dengan frekuensi sebanyak 49 orang (CI 95%= sebesar 40,8% - 60,2%). Indikator dari dukungan teman terhadap pedagang kaki lima berada paling banyak pada kategori memuaskan sebesar 49% dan dengan frekuensi sebanyak 48 orang (CI 95%= sebesar 39.8% - 69,2%). Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa tingkat kemampuan bergaul pedagang kaki lima berada pada kategori baik, pada tingkat kepuasan hubungan sosial pedagang kaki lima berada pada kategori memuaskan, dan pada tingkat dukungan teman terhadap pedagang kaki lima berada pada kategori memuaskan
    corecore