197,285 research outputs found
FIGURES 1–2 in A report on Sipyloidea stigmata Redtenbacher (Diapheromeridae: Necrosciinae) as the first phasmid crop pest in India and its redescription
FIGURES 1–2. Sipyloidea stigmata: 1. female, 2. male.Published as part of Prathapan, K. D., Anith, K. N., Faizal, M. H., Lekha, M. & Dhanya, M. K., 2008, A report on Sipyloidea stigmata Redtenbacher (Diapheromeridae: Necrosciinae) as the first phasmid crop pest in India and its redescription, pp. 58-64 in Zootaxa 1959 (1) on page 59, DOI: 10.11646/zootaxa.1959.1.3, http://zenodo.org/record/524143
A report on Sipyloidea stigmata Redtenbacher (Diapheromeridae: Necrosciinae) as the first phasmid crop pest in India and its redescription
Prathapan, K. D., Anith, K. N., Faizal, M. H., Lekha, M., Dhanya, M. K. (2008): A report on Sipyloidea stigmata Redtenbacher (Diapheromeridae: Necrosciinae) as the first phasmid crop pest in India and its redescription. Zootaxa 1959 (1): 58-64, DOI: 10.11646/zootaxa.1959.1.3, URL: https://biotaxa.org/Zootaxa/article/view/zootaxa.1959.1.
Budaya Nongkrong Remaja Di Kawasan Blok M Pada Tahun 1980-1995
Penelitian ini membahas mengenai budaya nongkrong remaja dikawasan Blok M pada tahun 1980-1995. Penelitian ini bertujuan untukmenjelaskan sejarah wilayah Kebayoran Baru yang bertransformasi dari kotasatelit menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, bisnis dan juga hiburan.Sehingga membuat wilayah tersebut, khususnya kawasan Blok M menjaditempat nongkrongnya remaja ibukota. Penulisan dalam penelitian inimenggunakan metode historis, dengan pendekatan sosial budaya dan teorileisure class atau waktu luang yang dikembangkan oleh Thorstein Veblen.Pengumpulan data menggunakan sumber primer yang terdiri dari koransezaman, majalah sezaman, foto-foto dokumentasi dan juga hasil wawacarayang berkaitan dengan peneleitian ini. Dalam penelitian ini memperlihatkanbagaimana kebiasaan remaja-remaja yang sering melakukan kegiatannongkrong, khususnya di kawasan Blok M pada tahun 1980-1995. Hasilpenelitian berawal dari rencana pemerintah Belanda yang ingin membangunkota satelit Kebayoran Baru akibat permasalahan banyaknya penduduk yangberada di Weltevreden, sehingga kebutuhan akan perumahan sebagai tempattinggal masyarakat Batavia pada masa itu menjadi mendesak. Seiring denganberjalannya waktu dan kota Jakarta yang terus tumbuh membuat kawasan inibertransformasi dari kota satelit menjadi salah satu bagian penting dari kotaJakarta. Area Blok M yang ada di dalamnya pun menjadi jantung dariKebayoran Baru sebagai pusat bisnis, ekonomi dan juga hiburan. Kondisidemikian membuat beberapa budaya lahir dan berkembang di Blok M, salahsatunya ialah kebiasaan remaja-remaja tersebut menghabiskan waktunyamelakukan kegiatan nongkrong di Blok M sehingga membentuk sebuahbudaya. Blok M yang pada mulanya sepi menjelma menjadi pusat trend danterkenal sebagai pusat nongkrongnya remaja ibukota pada tahun 1980-1995.Oleh karena itu, untuk meningkatkan ataupun mengembalikan eksistensikawasan Blok M yang terkenal sebagai tempat untuk nongkrongnya remaja,pemerintah ataupun pihak terkait perlu untuk melakukan penyegaran denganmelakukan revitalisasi kawasan Blok M
Budaya Nongkrong Remaja Di Kawasan Blok M Pada Tahun 1980-1995
Penelitian ini membahas mengenai budaya nongkrong remaja dikawasan Blok M pada tahun 1980-1995. Penelitian ini bertujuan untukmenjelaskan sejarah wilayah Kebayoran Baru yang bertransformasi dari kotasatelit menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, bisnis dan juga hiburan.Sehingga membuat wilayah tersebut, khususnya kawasan Blok M menjaditempat nongkrongnya remaja ibukota. Penulisan dalam penelitian inimenggunakan metode historis, dengan pendekatan sosial budaya dan teorileisure class atau waktu luang yang dikembangkan oleh Thorstein Veblen.Pengumpulan data menggunakan sumber primer yang terdiri dari koransezaman, majalah sezaman, foto-foto dokumentasi dan juga hasil wawacarayang berkaitan dengan peneleitian ini. Dalam penelitian ini memperlihatkanbagaimana kebiasaan remaja-remaja yang sering melakukan kegiatannongkrong, khususnya di kawasan Blok M pada tahun 1980-1995. Hasilpenelitian berawal dari rencana pemerintah Belanda yang ingin membangunkota satelit Kebayoran Baru akibat permasalahan banyaknya penduduk yangberada di Weltevreden, sehingga kebutuhan akan perumahan sebagai tempattinggal masyarakat Batavia pada masa itu menjadi mendesak. Seiring denganberjalannya waktu dan kota Jakarta yang terus tumbuh membuat kawasan inibertransformasi dari kota satelit menjadi salah satu bagian penting dari kotaJakarta. Area Blok M yang ada di dalamnya pun menjadi jantung dariKebayoran Baru sebagai pusat bisnis, ekonomi dan juga hiburan. Kondisidemikian membuat beberapa budaya lahir dan berkembang di Blok M, salahsatunya ialah kebiasaan remaja-remaja tersebut menghabiskan waktunyamelakukan kegiatan nongkrong di Blok M sehingga membentuk sebuahbudaya. Blok M yang pada mulanya sepi menjelma menjadi pusat trend danterkenal sebagai pusat nongkrongnya remaja ibukota pada tahun 1980-1995.Oleh karena itu, untuk meningkatkan ataupun mengembalikan eksistensikawasan Blok M yang terkenal sebagai tempat untuk nongkrongnya remaja,pemerintah ataupun pihak terkait perlu untuk melakukan penyegaran denganmelakukan revitalisasi kawasan Blok M
FIGURE 1 in A new species of Longitarsus (Coleoptera: Chrysomelidae) feeding on Chinese potato, Plectranthus rotundifolius (Lamiaceae) in southern India
FIGURE 1. Longitarsus serrulatus sp. nov., dorsal habitusPublished as part of Prathapan, K. D., Faizal, M. H. & Anith, And K. N., 2005, A new species of Longitarsus (Coleoptera: Chrysomelidae) feeding on Chinese potato, Plectranthus rotundifolius (Lamiaceae) in southern India, pp. 1-8 in Zootaxa 966 on page 3, DOI: 10.5281/zenodo.17126
ANALISIS GEMPA PADA STRUKTUR GEDUNG TRAINING CENTER UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG BERDASARKAN SNI 03-1726-2002, SNI 03-1726-2010, DAN SNI 03-1726-2012
Rezza Geovanny
1
, M. Faizal Amry
1
, Prabowo Setiyawan
2
, M. Faiqun Niam
.
Dalam Tugas Akhir ini ditinjau yaitu gedung Training Center UNNES
Semarang yang akan dilakukan adalah menganalisis gaya gempa dengan
menggunakan tiga pedoman SNI gempa yaitu SNI 03-1726-2002, SNI 03-17262010,
dan SNI 03-1726-2012. Tujuannya untuk mengetahui perbedaan dalam hasil
analisis dan perancangan berdasarkan tiga peraturan gempa tersebut.
Pada penelitian ini dilakukan perhitungan beban – beban yang bekerja pada
gedung Training Center UNNES Semarang berdasarkan tiga peraturan SNI gempa,
diketahui bahwa adanya perbedaan. Akan tetapi untuk SNI 03-1726-2010, dan SNI
03-1726-2012 ada kesamaan dikarenakan wilayah gempa untuk Semarang memiliki
koefisien yang sama. Langkah berikutnya adalah menganalisis struktur dengan
program SAP2000.
Hasil d� � � � � '� � � � �°� �� �!� ��� � �� #�� �� � •� �94,620 ton
x
=0,322 m, d
=0,409 m
x
=0,203 m, d
y
=0,151 m
y
x
=0,203 m, d
=0,151 m
y
2
Kata kunci : Struktur, analisis, perancangan, gaya gempa, beban, SNI 03-17262002,
SNI 03-1726-2010, SNI 03-1726-2012.
2
KEPATUHAN TERHADAP PEDOMAN AKTIVITAS FISIK WHO PADA ANAK USIA DINI: Evaluasi dengan Metode Machine learning
Studi ini berupaya untuk mengevaluasi dan mengukur tingkat aktivitas fisik anak usia dini sejalan dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menggunakan teknik klasifikasi machine learning pada data yang diperoleh dari kuesioner. Menyadari pentingnya aktivitas fisik di tahun-tahun formatif, penelitian ini bertujuan untuk menilai kepatuhan terhadap ambang batas aktivitas yang direkomendasikan WHO pada anak usia dini. Metodologi ini mengintegrasikan kuesioner komprehensif yang mengungkap beragam aspek pola aktivitas fisik anak usia dini, yang mencakup durasi, intensitas, dan jenis aktivitas yang dilakukan dalam berbagai situasi. Sebanyak 99 orang tua siswa melaporkan aktivitas keseharian anak mereka yang berusia 4 sampai 5 tahun (M= 4.59 + 0.41). Dengan memanfaatkan model klasifikasi algoritma machine learning decision tree, penelitian ini memproses data yang dikumpulkan untuk membedakan pola dan mengklasifikasikan tingkat aktivitas berdasarkan kriteria WHO. Hasilnya menunjukkan, indikator waktu aktivitas, waktu tidur dan waktu bermain menjadi indikator penentu decision tree dalam mengklasifikasi kepatuhan anak usia dini terhadap rekomendasi aktivitas fisik WHO. Lebih lanjut, machine learning decision tree sangat efektif dalam mengevaluasi dan mengklasifikasikan kepatuhan aktivitas fisik anak usia dini dengan performa akurasi 90%. Efektivitas pendekatan machine learning decision tree dalam mengevaluasi dan mengkategorikan tingkat aktivitas fisik anak usia dini secara akurat, menyoroti bidang-bidang potensial untuk intervensi dan strategi yang ditargetkan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap aktivitas fisik yang direkomendasikan oleh WHO. Metodologi ini menawarkan instrumen yang menjanjikan bagi para profesional kesehatan, pembuat kebijakan, dan pendidik untuk lebih memahami dan mengatasi perilaku aktivitas fisik anak usia dini, sehingga berkontribusi terhadap promosi gaya hidup sehat sejak usia dini
Dr. Duane M. Jackson, Morehouse College, July 2011
This video is a conversation with Dr. Duane M. Jackson. Dr. Jackson talks about his paper, "Recall and the Serial Position Effect: The Role of Primacy and Recency on Accounting Students' Performance." Jackie Daniel, AUC Woodruff Library, is the interviewer
"Reflections on the subject of Emigration from Europe with a view to Settlement in the United States" By M. Carey.
"Reflections on the subject of Emigration from Europe with a view to Settlement in the United States: containing bried sketches of the moral and political character of those states.
By M. Carey, member of the American philosophical, and of the American Antiquarian Society, and author of The Olive Branch, Cindiciae Hibernicae, essays on banking, on political economy, and on internal improvement.
To which are now added the English editor's comments on the subject; together with Important Advice to Emigrants, and Cautions Against Impositions Practiced in the Outports
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
