87 research outputs found

    Tata Rias Pengantin dan Tradisi Perkawinan Wologoro pada Suku Tengger

    No full text
    ABSTRAK TATARIAS PENGANTIN DAN TRADISI PERKAWINAN WOLOGORO PADA SUKU TENGGER Nama : Dwi Putri Elvitasari NIM : 15050634057 Program Studi : S1 Pendidikan Tata Rias Jurusan : Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Fakultas : Teknik Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya Pembimbing : Dr. Mutimmatul Faidah, S.Ag, M.Ag Suku Tengger mempunyai tradisi sendiri dalam melaksanakan upacara perkawinannya, upacara tersebut dinamakan upacara perkawinan wologoro. Upacara ini wajib dilakukan oleh masyarakat suku tengger setelah sah melakukan perkawinan secara agama dan negara, upacara ini dilakukan untuk memperkenalkan mempelai pengantin dan juga meminta restu kepada para dewata dan para leluhur. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendeskripikan bentuk, fungsi dan makna tata rias yang ada pada suku Tengger, dan (2) mendeskripsikan prosesi upacara perkawinan adat wologoro pada suku Tengger dan maknanya. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi. Keabsahan data dilakukan dengan triagulasi yaitu cross check hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian adalah : (1) bentuk, fungsi, dan makna tata rias pengantin sari Keputren sebagai tata rias khas dari kabupaten Lumajang dan merupakan perkembangan busana dari masyarakat kerajaan majapahit, dan juga hasil dari pengambilan data dilapangan bentuk tata rias yang dikenakan oleh masyarakat Tengger pada saat pernikahan, dan (2) bentuk dan makna prosesi perkawinan adat wologoro yaitu : (a) pasrah manten, (b) ngundang besan, (c) Temu manten, (d) wologoro, dan (e) banten kayopan. Dalam tahap wologoro sendiri juga memilki tahapan atau prosesi yang wajib dilakukan oleh mempelai pengantin dan juga keluarga mempelai pengantin dengan tujuan meminta restu kepada para dewata, danyang banyu, dan juga kepada para leluhur mereka, upacara ini wajib dilakukan oleh masyarakat suku Tengger tidak memandang ras, agama dan kedudukan sosial. Setiap tahapan pada upacara wologoro ini memiliki makna agar kehidupan keluarga mempelai pengantin kedepannya tidak mendapat gangguan dari makhluk dari alam lain, langgeng, dan dapat mendapat restu dari para dewa. Kata Kunci : Tradisi perkawinan wologoro pada suku Tengger, bentuk, fungsi dan makna. ABSTRACT BRIDAL MAKEUP AND WOLOGORO MARRIAGE TRADITIONS OF TENGGER TRIBE Name : Dwi Putri Elvitasari NIM : 15050634057 Studies Program : Beauty and Health Department Major : Home Economic Fakulty : Engineering Intitution Name : State University of Surabaya Supervisor : Dr. Mutimmatul Faidah, S.Ag, M,Ag. The Tengger tribe has its own tradition in carrying out their marriage ceremonies, the ceremony is called the wologoro marriage ceremony. This ceremony must be carried out by the Tengger tribal community after a legal marriage in religion and country, this ceremony is conducted to introduce the bride and also ask for the blessings of the gods and ancestors. This research aimed to: (1) describe the configuration, function and meaning of bridal makeup in Tengger tribe, and (2) describe the wologoro traditional marriage ceremony procession of Tengger tribe and its meaning. This type of research is a qualitative descriptive method of collecting data interviews, observation, and documentation. The validity of the data is done by triagulation, that is, cross-checking results of interviews, observations, and documentation.The results of the study are: (1) the configuration, function, and meaning of the sari Keputren bridal as the typical bridal of Lumajang district and are the fashion developments of the Majapahit royal society, and also the results of data collection in the form of bridal makeup worn by the Tengger community at the time of marriage, and (2) the form and meaning of the wologoro traditional marriage procession, namely: (a) bridal resigned, (b) inviting in-laws, (c) Gathering manten, (d) wologoro, and (e) banten kayopan. In the wologoro stage it self also has stages or processions that must be carried out by the bride and bridegrooms family with the aim of asking the blessings of the gods, and the banyu, and also to their ancestors, this ceremony must be performed by the Tengger tribe community regardless of race, religion and social position. Every stage in this wologoro ceremony means that the bride and grooms family life in the future will not be disturbed by creatures from other realms, lasting, and can get the blessing of the gods. Key words : wologoro marriage traditions of Tengger tribe, configurtion, function, and meaning

    KELAYAKAN MEDIA PEMBELAJARAN POWTOON PADA SUB KOMPETENSI PEGERITINGAN RAMBUT TEKNIK DASAR SISWA KELAS XI TATA KECANTIKAN RAMBUT

    Full text link
    KELAYAKAN MEDIA PEMBELAJARAN POWTOON PADA SUB KOMPETENSI PEGERITINGAN RAMBUT TEKNIK DASAR SISWA KELAS XI TATA KECANTIKAN RAMBUT Azizah Aulia PrisantiMahasiswa S1 Pendidikan Tata Rias Fakultas Teknik Universitas Negeri [email protected] Dr. Mutimmatul Faidah, S.Ag., M.AgPendidikan Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri [email protected] Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran powtoon pada sub kompetensi pengeritingan rambut teknik dasar siswa kelas XI tata kecantikan rambut. Jenis penelitian adalah penlitian kuantitatif. Metode pengumpulan data menggunakan data angket. Analisis data menggunakan rumus rata-rata dan persentase.Hasil penelitian menunjukan penilaian media termasuk dalam kategori sangat baik dengan rata-rata 3,8 aspek yang dinilai pada mediapowtoon antara lain penilaian terhadap keterangan teks, tempo atau kecepatan penyampaian materi, kualitas gambar, pencahayaan, keseuaian media powtoon dengan isi materi, kesesuaian dalam menjelaskan alat dan bahan, kesesuaian isi media powtoon membantu siswa memahami materi, keseuaian media powtoon terhadap pemahaman siswa tentang cara pengeritingan. Dengan demikian pembelajaran menggunakan media powtoon dapat terlaksana dengan baik.Kata kunci: media pembelajaran powtoon, kuantitatif, Pengeritingan Rambut Dasar Abstract: This study aims to determine the feasibility of powtoon learning media in the sub competency of hair curling basic techniques of grade XI hairstyling students. This type of research is quantitative research. The method of collecting data uses questionnaire data. Data analysis uses the average formula and percentage. The results showed that the assessment of the media included in the excellent category with an average of 3.8 aspects assessed in mediapowtoon, including an assessment of the text description, tempo or speed of material delivery, image quality, lighting, Powtoon media compatibility with material content, suitability in explaining tools and materials, the suitability of powtoon media content helps students understand the material, the powtoon medias compatibility with students understanding of how to curl. Thus learning using powtoon media can be done well.Keywords: Powtoon learning media, Quantitavtive , Basic Hair Curlin

    Sertifikasi Halal di Indonesia dari Civil Society menuju Relasi Kuasa antara Negara dan Agama

    Full text link
    This article attempts to describe the implementation of ḥalâl certification in Indonesia prior to the Law of Halal Product Assurance (Undang-Undang Jaminan Produk Halal/UU JPH), and identifies the governance of ḥalâl certification according to the law. The results of this study state that prior to the application of UU JPH, the ḥalâl certification was under the authority of Majelis Ulama Indonesia (MUI), through the Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetika (LPPOM) in the process of sertification and control product. The fatwa commission of MUI has the authority to determine the ḥalâl products and the Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) issues the ḥalâl label. This institutional dualism makes the position of LPPOM weak. The organization does not have the authority to force manufacturers to certify, because the halal certification is voluntary, not mandatory. Similarly, the function of oversight and enforcement was weak because there is no legal provision which obliges company to certify its product. In addition, the UU JPH removes the dualism of ḥalâl certification institutions under the authority of the Ministry of Religious Affairs. The fusion of ḥalâl certification system provides the legal basis for the ḥalâl certification obligations for products and firmness in the monitoring and surveillance systems of ḥalâl products

    الأفعال المتعدية بحرف جر

    Full text link
    Skripsi ini membahas tentang kata kerja dan pembagiannya dari sisi bentuk kata serta kebutuhannya terhadap obyek. Kontribusi huruf Jer dalam Fiil berikut analisa ayat- ayat Al Quran dalam tataran perbandingan tafsir-tafsir Nahwu. Dan rahasia pentransitifkan Fiil dengan huruf Jer berikut analisis contoh

    FENOMENOLOGI TILANG DAMAI OLEH PELANGGAR LALU LINTAS DI WILAYAH GRESIK

    Full text link
    ABSTRAK Beberapa media menggambarkan Kepolisian Kabupaten Gresik sebagai kesatuan yang memiliki integritas tinggi dan anti suap. Akan tetapi setelah dilakukan observasi di awal penelitian ternyata masih ditemukan beberapa pelanggar lalu lintas yang melakukan tilang berujung damai dengan polisi lalu lintas, yang pada akhirnya menjadi suatu banalitas oleh pelanggar lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif pelanggar lalu lintas dalam melakukan tilang berujung damai di wilayah Kabupaten Gresik. Penelitian ini menggunakan teori fenomenologi Alfred Schutz untuk mengetahui fenomena tilang berujung damai yang dilakukan oleh pelanggar lalu lintas di wilayah Kabupaten Gresik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Schutz yang menekankan motif sebab dan motif tujuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motif sebab dari pelanggar lalu lintas: sosialisasi teman sebaya, berpengalaman melakukan penyuapan, dan sosialisasi keluarga. Adapun motif tujuan dari pelanggar lalu lintas melakukan penyuapan adalah : Menghindari birokrasi persidangan, faktor ekonomi, dan menghindari sanksi keluarga. Kata kunci : fenomenologi, Alfred Schutz, tilang damai. ABSTRACT A number of media were depicting the Police Departement of Gresik Region as a unit which had high integrity and anti-bribery. However,  after conduct observation at the beginning of research in fact is the finding of some traffic offenders who performs tipped ticketed for peace with a traffic cop , which in turn into a banalitas by traffic offenders. This research aims to understand motives of traffic offenders in doing tipped ticketed for peace in the region of Gresik. This study using the theory of alfred schutz phenomenology to know the phenomenon tipped ticketed for peace which was carried out by offenders traffic in the region of Gresik gresik. The method that is used is qualitative descriptive with the approach phenomenology schutz that emphasizes motives and motives for the purpose. This research result indicates that ‘because motive’ of traffic offenders: socialization their peers, versed bribery, and socialization family. As for ‘in order to motive’ of traffic offenders bribery is: avoid bureaucracy the trial, factors of economy, and avoid sanctions family. Keywords: phenomenology, Alfred Schutz, tipped ticket

    Integrasi pendidikan Seks dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam: penelitian pengembangan bagi Siswa SMA di Surabaya

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi fakta empiris meningkatnya angka kenakalan remaja terkait pergaulan bebas, aborsi, pomografi serta ketergantungan pada obat terlarang. Permasalahan krusial remaja ini membutuhkan kepedulian semua pihak untuk melakukan berbagai langkah preventif guna mencegah terjadinya lost generation, mengingat remaja adalah aset bangsa yang strategis bagi pembangunan. Signifikansi penelitian ini adalah menyiapkan bahan pendidikan tentang seksualitas sesuai visi dan misi Pendidikan Agama Islam melalui pembelajaran di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk merum.uskan integrasi pendidikan seks dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam di SMA dan menghasilkan perangkat pembelajaran pendidikan seks yang terintegrasi dalam kurikulwn Pendidikan Agama Islam yang berkualitas di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan model Plomp, dengan menempuh lhna fase, yaitu investigasi, disain, konstruksi, validasi, dan implementasi. Simpulan penelitian ini adalah: (1) pengintegrasian pendidikan seks ke dalaJn kurikulum Pendidikan Agama Islam dilakukan dengan mengembangkan beberapa butir standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berpotensi pendidikan seks. Pengintegrasian tersebut mengikuti pola pembelajaran terpadu; (2) perangkat pembelajaran pendidikan seks yang dihasilkan terdiri dari: silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), buku ajar, lembar kerja siswa (LKS), media, dan alat evaluasi. Pengembangan silabus mencakup 7 butir standar kompetensi dan 21 butir kompetensi dasar. RPP, buku ajar, LKS, media, dan alat evaluasi yang dihasilkan fokus pada satu standar kompetensi yaitu "Menghindari Perilaku Tercela" pada tema "Dosa Besar''. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kevalidan dengan nilai rerata validitas RPP sebesar 4,76, nilai validitas buku ajar sebesar 4,78, nilai validitas LKS sebesar 4,71, nilai validitas media sebesar 4,79, dan nilai validitas evaluasi sebesar 4,71. Dari sisi kepraktisan, perangkat pembelajaran dinilai sangat praktis, sebagaimana dalam pelaksanaan uji coba di tiga sekolah. Selain itu, dari sisi keefektivan dinilai sangat efektif. Dengan demikian, perangkat pembelajaran yang dikembangkan berkualitas. Pengembangan pendidikan seks dilandasi oleh dasar filosofis, teoretis, dan yuridis. Sehingga penelitian ini menghasilkan karakteristik pembelajaran dan perangkat pembelajaran. Karakteristik pembelajaran pendidikan seks adalah: materi (preventif-kuratit), kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotorik), strategi (kritis-kreatif-retlektif) dan evaluasi (holistik). Karakteristik perangkat pembelajaran yaitu: silabus (integratif PS-PAI), RPP (pembelajaran kooperatif - Ghazalian), buku ajar (komunikatif-faktual), Lembar Kerja Siswa (problem solving), media (audio-visual-faktual), dan evaluasi {multi instrumen)

    Perwujudan Tata Rias Karakter Tokoh Kesatria Dalam Kesenian Tari Jaranan Turonggo Yakso Di Kabupaten Trenggalek

    Full text link
    Abstrak Kesenian Jaranan Turonggo Yakso merupakan seni pertunjukan yang memiliki fungsi sebagai sarana ritual dan sarana bersih desa biasanya dilaku­kan untuk menyambut bulan Suro. Tata rias wajah tokoh Kesatria dalam kesenian tari Jaranan Turonggo Yakso menggambarkan sebagai karakter Kesatria berkuda yang gagah dan mempunyai watak bijaksana dan tegas yang bertugas untuk membasmi angkara murka. Tujuan dari penelitian ini aadalah (1) menghasilkan desain tata rias karakter tokoh Kesatria dalam kesenian tari Jaranan Turonggo Yakso ditinjau dari pandangan pencipta tari; (2) mewujudkan tata rias karakter tokoh Kesatria dalam kesenian tari Jaranan Turonggo Yakso; (3) mengetahui penilaian pakar terhadap perwujudan tata rias tokoh Kesatria dalam kesenian tari Jaranan Turonggo Yakso. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mengikuti prosedur penciptaan karya seni. Objek penelitian adalah tata rias karakter Kesatria dalam kesenian tari Jaranan Turonggo Yakso. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, dokumentasi, dan angket penilaian. Hasil penilaian dianalisis dengan menggunakan rata-rata nilai. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) penilaian desain perwujudan tata rias karakter tokoh Kesatria yang akan diwujudkan adalah desaine2 dengan penilaian keseluruhan diperoleh nilai rata-rata tertinngi diasntara ketiga desain yang dibuat yaitu 4,6 dikategorikan “sangat sesuai” (2) hasil penilaian para ahli terhadap hasil jadi perwujudan tata rias tokoh Kesatria dalam kesenian tari Jaranan Turonggo Yakso di Kabupaten Trenggalek memperoleh nilai rata-rata 4,4 dengan predikat nilai “baik”, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perwujudan tata rias tokoh Kesatria layak menjadi referensi dan acuan dalam perwujudan tata rias karakter tokoh Kesatria dalam kesenian tari Jaranan TuronggokYakso di Kabupaten Trenggalek. Kata Kunci: Kesenian, Tari Jaranan Turonggo Yakso, Tokoh Kesatria, Tata Rias Karakter Abstract Jaranan Turonggo Yakso art is a performinghart that has a function as a meanskofrritual and a means of cleaning the village usually done to welcome the month of Suro. The make-up of a Knight in the Jaranan Turonggo Yakso dance art depicts the character of a gallant knight riding and having a wise and resolute character whose job is to eradicate anger. The objectivesfof this studyuare (1) to produce cosmetology designs of the characters of the Knights in the Jaranan Turonggo Yakso dance art from the perspective of the dance creator; (2) realizing the make-up of the character of a Knight inuthe Jaranan Turonggo Yakso dance; (3) knowing the experts evaluation of the embodiment of the Knights makeoup in the Jaranan Turonggo Yakso dance art. This type of researchais a descriptive study byefollowingrtherprocedurefof creating artwork. The object of research is the make up of the character of the Knights in the Jaranan Turonggo Yakso dance art. Data collection techniques with interviews, documentation, and questionnaire assessment. The results of the study were analyzed using the average value. The results showed that (1) the design evaluation of the embodiment of the character of the Knight character that will be realized is design 2 with the overall assessment obtained by the highest average value among the three designs made ie 4.6 categorized as "very appropriate" (2) the results of the an expert on thegresults of the embodiment of the Knights make-up in the Jaranan Turonggo Yakso dance art in the Trenggalek Regency has an average value of 4.4 with a predicate of "good", thus it can be concluded that the embodiment ofgthe Knights make-up is worthy of reference and reference in the embodiment cosmetology of character of the Knights in the Jaranan Turonggo Yakso dance in Trenggalek Regency. Keywords: Art, Dance,Jaranan Turonggo Yakso Art, Knights Character, Make up characte

    Survival of Traditional Retailers: An Islamic Business Perspective

    Full text link
    This study aimed to explain the reality of survival mechanisms and adaptive strategies by traditional retailers in Surabaya in facing the existence of massive modern retail stores. This study used qualitative research with a phenomenological approach. The data collection method used observation and interview techniques. Data analyzed with Clark and Scott's survival mechanism theory and the adaptive strategy by Miles and Snow. The result of this research was in the aspect of defender strategy, traditional retailers did various strategies when prices went up, and instead of increased the prices they choosed to reduce the profits. The stores equipped with people daily needs to retain customers. Even though the stock was small, the items sold were complete. It was important to promote family relations with buyers. A striking aspect is the close family relation that was so different from modern retail stores. In the aspect of reactor strategy, the owners responded to the situation without having a long-term strategy design. Their stores responses were reactive and short-term oriented in the form of selling goods by following the tastes of buyers and current trends. Meanwhile, in carrying out business performance in connection with the survival mechanism, Surabaya traditional retailers met the business assessment of the Islamic perspective namely on the aspects of material, mental, spiritual, and fraternal
    corecore