1,720,979 research outputs found
Isolasi dan Karakterisasi Nanolignin dari Tandan Kosong Kelapa Sawit.
Lignin merupakan salah satu komponen makro molekul kayu ketiga secara
kovalen berikatan dengan selulosa dan hemiselulosa. Lignin dapat dimanfaatkan
sebagai bahan pengikat, pengisi, surfaktan, produk polimer, dispersan dan
antibakteri. Salah satu sumber lignin adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS)
yang merupakan limbah padat berlignoselulosa dari industri minyak kelapa sawit
dengan kandungan lignin yang cukup tinggi, yaitu 28,26 %. Lignin dari TKKS
dapat diisolasi dengan penambahan NaOH (10 % b/v) sehingga menghasilkan lindi
berwarna hitam dengan pH berkisar antara 12-14. Lindi hitam yang dihasilkan
kemudian diendapkan ligninnya dengan cara pengasaman menggunakan asam
sulfat dengan variasi konsentrasi 10, 20 dan 30 % sehingga diperoleh isolat lignin
TKKS. Isolat lignin lalu diultrasonikasi sehingga dihasilkan nanolignin. Hasil
Isolasi lignin menghasilkan nilai rendemen, kadar lignin, dan kristalinitas tertinggi
berturut-turut 20,36 , 34,39, dan 51,90 %. Lignin yang diperoleh mengandung gugus
serapan lignin dan berukuran ± 26-213,43 μm. Lignin yang diisolasi mulai
terdegradasi pada suhu 140°C
Pembuatan Hidrogel Nanofiber Selulosa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
Serat selulosa telah berhasil diisolasi dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) melalui proses delignifikasi menggunakan larutan KOH 6% selama 12 jam, kemudian dilanjutkan dengan proses bleaching menggunakan hipoklorit selama 5 jam. Berdasarkan uji ADF NDF, selulosa yang didapatkan memiliki kadar selulosa 69,55%, hemiselulosa 17,76%, dan lignin 5,81%. Selanjutnya nanofiber diisolasi dari selulosa melalui proses mechanical treatment. Gambar SEM menunjukkan bahwa ukuran nanofiber selulosa yang berhasil diisolasi adalah ± 30 nm. Nanofiber selulosa tersebut kemudian dibentuk menjadi hidrogel menggunakan proses vacum filtration dan alkaline treatment. Hidrogel yang dihasilkan menunjukkan bentuk yang lebih stabil dengan tingkat daya serap air yang tinggi. Hidrogel tersebut memiliki potensi untuk digunakan sebagai penutup luka
Aktivitas Antimikroba pada Saset Berbasis Selulosa TKKS dengan Bawang Putih sebagai Agen Antimikroba Alami
Produksi kelapa sawit di Indonesia memiliki hasil samping berupa limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang sangat melimpah, namun hanya 10% dari TKKS tersebut yang dimanfaatkan dan sisanya masih menjadi limbah. Salah satu komponen tertinggi yang memiliki nilai tambah yang tinggi adalah selulosa. Selulosa berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai matriks dalam pembuatan saset antimikroba dengan minyak atsiri bawang putih sebagai agen antimikroba alami. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antimikroba pada saset berbasis selulosa TKKS dan minyak atsiri bawang putih serta pengaruh penggunaannya terhadap sifat organoleptik roti (warna dan aroma). Berdasarkan hasil pengujian in vitro, penggunaan saset antimikroba tersebut menunjukkan adanya pengaruh terhadap penghambatan pertumbuhan Aspergillus niger, ditunjukkan dengan tidak adanya Aspergillus niger yang tumbuh pada cawan petri. Berdasarkan hasil pengujian pengaplikasian saset pada roti tawar dapat diketahui bahwa penambahan minyak atsiri bawang putih sebanyak 50% b/b, 75% b/b, dan 100% b/b tidak berbeda nyata dapat menghambat selama 12 hari. Panelis lebih menyukai roti tawar dengan perlakuan kontrol, namun untuk penyimpanan yang lebih lama panelis lebih menyukai roti tawar dengan perlakuan penambahan saset antimikroba yang ditambahkan minyak atsiri bawang putih
Aplikasi Nanofiber Selulosa Tandan Kosong Kelapa Sawit pada Film Thermoplastic Starch Nanokomposit untuk Menjaga Mutu Cabai Merah.
Material berukuran nanometer memiliki potensi untuk banyak diaplikasikan sehingga menghasilkan sifat baru, seperti pengemasan produk pertanian. Tujuan penelitian ini adalah mengaplikasikan material nanofiber selulosa dari tandan kosong kelapa sawit pada film thermoplastic starch untuk menjaga mutu cabai merah serta mengindentifikasi karakteristiknya. Persiapan serat selulosa menggunakan delignifikasi (10% NaOH) dan pemutihan (H2O2 30%), isolasi menggunakan mechanical treatment dan pembentukan film thermoplastic starch nanokomposit (TPS-n) dengan soulution casting method (pati, PVA, gliserol dan nanofiber selulosa). Film TPS-n diaplikasikan pada cabai merah dengan suhu dingin (±7oC) dan suhu ruang (±29oC). Hasil Isolasi selulosa menghasilkan nilai kemurnian 90.22 %, kandungan lignin 1.85 % dan kristanilitas 54.3 %. Nanofiber selulosa berhasil diisolasi dan diperoleh ukuran ±100-200 nm. Pada kondisi suhu penyimpanan yang berbeda, kinerja film TPS-n memiliki kinerja fisik-mekanis yang berubah. Film TPS-n pada kondisi ruang mampu menjaga mutu cabai merah hingga hari ke-9, sedangkan suhu dingin pada hari ke-15 terlihat masih segar
Strategi Pengembangan UMKM Pangan Berdaya Saing di Kota Bandung.
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor usaha
yang memiliki peran penting dalam meningkatkan perekonomian di Indonesia.
Salah satu UMKM yang memiliki potensi untuk berdaya saing adalah UMKM
pangan di Kota Bandung. Untuk menciptakan UMKM pangan yang mampu
berdaya saing dengan produk pangan lain, maka harus mampu menjaga kualitas
dari berbagai aspek. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi
karakteristik UMKM pangan di Kota Bandung, menganalisis pengaruh faktor
internal dan faktor eksternal terhadap daya saing, dan merumuskan strategi
pengembangan UMKM pangan berdaya saing.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner kepada 30 UMKM
pangan dan wawancara dengan pakar UMKM pangan di Kota Bandung berjumlah
5 orang. Penelitian ini dilakukan di Kota Bandung pada bulan Juni 2016.
Pemilihan responden dan pakar UMKM pangan menggunakan teknik purposive
sampling. Metode pengolahan data menggunakan analisis perumusan strategi
yang terdiri dari analisis faktor internal dan eksternal, analisis matriks internal
eksternal, analisis Strength Weaknesses Opportunies Threats (SWOT), dan
Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).
Berdasarkan survey yang dilakukan, UMKM pangan di Kota Bandung
memiliki beberapa karakteristik, yaitu rata-rata perempuan dengan usia 41-50
tahun, dengan tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), dan rata-rata
omset penjualannya berkisar Rp.1.000.000-10.000.000. Faktor internal yang
terdiri dari kekuatan dan kelemahan dengan skor tertinggi adalah mutu produk
telah sesuai harapan konsumen dan teknologi produksi yang digunakan masih
sederhana. Faktor eksternal yang terdiri dari peluang dan ancaman yang
mempunyai skor tertinggi adalah meningkatnya pelanggan baru dan adanya
loyalitas pelanggan serta fluktuasi harga bahan baku. Dari faktor internal dan
eksternal diperoleh enam alternatif strategi pada analisis SWOT, yaitu
meningkatkan mutu dan variasi produk untuk menarik minat pelanggan baru;
menggunakan kemajuan teknologi dan bahan baku untuk meningkatkan produksi
serta memperluas pasar; meningkatkan kemampuan SDM, memanfaatkan asosiasi
dan dukungan pemerintah untuk memperluas pasar prdouk; memaksimalkan
bahan baku dan kemajuan teknologi untuk memproduksi produk UMKM yang
khas; menjaga mutu produk dan mepertahankan nilai brand untuk menghadapi
persaingan usaha sejenis serta mencari produsen untuk mencapai kestabilan
pasokanbahan baku dan meningkatkan pengetahuan SDM sehingga dapat
menciptakan produk UMKM yang khas. Hasil analisis QSPM diperoleh prioritas
strategi yaitu meningkatkan kemampuan SDM, memanfaatkan asosiasi dan
dukungan pemerintah untuk memperluas pasar produk (skor 6.433)
Production of Polyvinyl Alcohol-Lignin Nanocomposite Film with Oil Palm Empty Fruit Bunch as Lignin Source
One effort to reduce the food spoilage from microorganisms is by using active packaging that can maintain the quality of the products. Lignin is a material that has antimicrobial properties, antioxidants, anti-UV, and a good reinforcement agent in matrix polymers which is a potential candidate of active packaging material. One source of lignin is oil palm empty bunches (OPEFB). The purpose of this study was to produce lignin nanoparticle (nanolignin) from OPEFB and produce its PVA-nanocomposite. Nanolignin was produced by mechanical treatment by using ultrasonication. PVA-nanocomposites were produced from the mixture of PVA with different molecular weight (degree of polymerization 500 and 2000) as the matrix with the addition of nanolignin (0, 1, 3, and 5 wt%) as the fillers. The casting method was implemented to produce nanocomposite. The morphology of film was observed by using scanning electron method (SEM), chemical component by fourier transform infrared (FTIR), transparency by UV-vis spectrometer, mechanical properties by tensile strength analysis and dynamic mechanical analysis (DMA), and thermal properties by thermogravimetric analysis (TGA) and differential scanning calorimetry (DSC). The addition of nanolignin until 3 wt% increased crystallinity, tensile strength, and thermal properties of nanocomposite films. However, the addition of 5 wt% of nanolignin showed that the nanolignin is well dispersed in the low molecular weight of PVA matrix, which was shown by the high Young’s modulus and low crystallinity. Nanolignin is a good filler for the next-generation functional nanocomposite, especially in the manufacturing of the active packaging
Production of Alginate-Silica-Nanocellulose Composites with Cinnamon Essential Oil for Antimicrobial Sachet
Food safety become important requirement that must be fulfilled before being consumed by people. The use of food packaging materials is an important role in maintaining food quality and safety. Antimicrobial sachet is one of the innovative technological concepts of active packaging that can inhibit undesirable microorganisms so that it can extend the shelf life of products. Silica and calcium alginate is used as a carrier material for antimicrobial compounds for the production of sachets. Nanocellulose is used as a filler in carrier matrix composite. One source of nanocellulose is oil palm empty bunches (OPEFB). The purpose of this final project is to produce the antimicrobial sachet using mixture of alginate and silika as the carrier materials with addition of nanocellulose (0, 1, 3, 5%) as a filler, and cinnamon essential oil as antimicrobial agent. The obtained nanocellulose and composites was analyzed by several analysis such as, morphologhy was observed by scanning electron method (SEM), chemical component by fourier transform infrared (FTIR), hardness by texture analyzer, thermal properties by thermogravimetric analysis (TGA), and crystallinity by X-ray diffraction (XRD). The performance of antimicrobial sachet was tested by release of essential oil and antimicrobial test. Addition of nanocellulose to the composite showed good mechanical properties and the morphologhy BDNC5 more compact and spherical than others. The antimicrobial sachet with addition of nanocellulose was proven to slow down the release of CEO from composite beads significantly, and had high inhibitory to microbial activity. The sachet that had good suppress the microbial growth is BDNC5. Almost all microorganisms tested by sachet BDCN5 showed high inhibitory, 5.43% in Escherichia coli, 5.19% in Salmonella sp, 3.36% in Aspergillus sp, and 8.72% in Staphylococcus aureus
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
