45 research outputs found
PENGARUH SISTEM SARINGAN PASIR LAMBAR SECARA HORISONTAL TERHADAP ANGKA KUMAN DAN KEKERUHAN AIR SUNGAI DI DESA SRIWEDARI KECAMATAN SALAMAN KABUPATEN MAGELANG
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan saringan pasir lambat sistem horisontal dalam menurunkan angka kuman dan kekeruhan pada air sungai.
Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen, sedangkan analisa data menggunakan uji analisa varians. Jumlah sampel yang diperiksa sebanyak 30 sampel.
Hasil angka kekeruhan setelah penyaringan rata-rata 1– 1,56 NTU. Penurunan angka kekeruhan setelah melalui saringan pasir rata-rata 94,44% - 96,35%. Angka kuman setelah penyaringan rata-rata 1,802.10 pangkat 4 – 5,58.10 pangkat 4. Penurunan angka kuman setelah penyaringan rata-rata 36,47% - 43,04%.
Pengujian dengan Analisa Varians pada kekeruhan menghasilkan F-test = 162.205, sehingga F-test > F-tabel berarti terdapat perbedaan yang bermakna angka kekeruhan sebelum dan sesudah penyaringan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penurunan kekeruhan dan angka kuman dengan saringan pasir lambat sistem horisontal cukup tinggi. Angka kekeruhan telah memenuhi syarat sebaai air bersih dan air minum tetapi dari segi bakteriologi tidak memenuhi standar kualitas air bersih. Apabila air tersebut akan digunakan sebagai air minum perlu dilakukan pengolahan dengan merebus air sampai mendidih.
Kata Kunci: SARINGAN PASIR LAMBAT SECARA HORISONTA
A Novel Ni-Al Alloy Metal Induced Lateral Crystallization Process for Improved Channel Conduction in 3-D NAND Flash
This work was supported by IMEC's Industrial Affiliation Program on Storage Memory Devices
Maternal undernutrition and the ovine acute phase response to vaccination
Background: The acute phase response is the immediate host response to infection, inflammation and trauma and can be monitored by measuring the acute phase proteins (APP) such as haptoglobin ( Hp) or serum amyloid A (SAA). The plane of nutrition during pregnancy is known to affect many mechanisms including the neuroendocrine and neuroimmune systems in neonatal animals but effects on the APP are unknown. To investigate this phenomenon the serum concentration of Hp and SAA was initially determined in non-stimulated lambs from 3 groups (n = 10/group). The dams of the lambs of the respective groups were fed 100% of requirements throughout gestation (High/High; HH); 100% of requirements for the first 65 d of gestation followed by 70% of requirements until 125 d from when they were fed 100% of requirements (High/Low; HL); 65% of liveweight maintenance requirements for the first 65 d gestation followed by 100% of requirements for the remainder of pregnancy ( Low/High; LH). The dynamic APP response in the lambs was estimated by measuring the concentration of Hp and SAA following routine vaccination with a multivalent clostridial vaccine with a Pasteurella component, Heptavac P (TM) following primary and secondary vaccination. Results: The Hp and SAA concentrations were significantly lower at the time of vaccination ( day 8-14) than on the day of birth. Vaccination stimulated the acute phase response in lambs with increases found in both Hp and SAA. Maternal undernutrition led to the SAA response to vaccination being significantly lower in the HL group than in the HH group. The LH group did not differ significantly from either the HH or HL groups. No significant effects of maternal undernutrition were found on the Hp concentrations. A significant reduction was found in all groups in the response of SAA following the second vaccination compared to the response after the primary vaccination but no change occurred in the Hp response. Conclusion: Decreased SAA concentrations, post-vaccination, in lambs born to ewes on the HL diet shows that maternal undernutrition prior to parturition affects the innate immune system of the offspring. The differences in response of Hp and SAA to primary and secondary vaccinations indicate that the cytokine driven APP response mechanisms vary with individual AP
STUDI KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN PAKU DI KAWASAN EMBUNG TALANG ABANG DESA KARANGREJO KECAMATAN GARUM KABUPATEN BLITAR SEBAGAI SUMBER BELAJAR BERUPA BOOKLET
Skripsi dengan judul “Studi Keanekaragaman Tumbuhan Paku Di Kawasan
Embung Talang Abang Desa Karangrejo Kecamatan Garum Kabupaten Blitar
Sebagai Sumber Belajar Berupa Booklet” ditulis oleh Siti Nur Cholifah Nim.
12208183186, Pembimbing Arbaul Fauziah, M.Si.
Kata Kunci : Booklet, Embung Talang Abang, Tumbuhan Paku.
Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan salah satu tumbuhan tumbuhan
berkormus dan perbembuluh yang memiliki keanekaragaman jenis dan persebaran
yang cukup luas. Salah satu tempat hidup tumbuhan paku adalah telaga. Kawasn
embung talang abang desa karangrejo kecamatan garum Kabupaten Blitar banyak
ditemukan tumbuhan paku, namun belum ada publikasi mengenai keanekaragaman
tumbuhan paku di kawasan tersebut.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan jenis-jenis tumbuhan
paku yang terdapat di Embung Talang Abang Desa Karangrejo Kec. Garum Kab.
Blitar. (2) Mendiskripsikan pengembangan keanekaragaman tumbuhan paku di
kawasan Embung Talang Abang Desa Karangrejo Kec. Garum Kab. Blitar sebagai
sumber belajar berupa booklet.
Penelitian ini menggunakan 2 jenis penelitian yaitu: (1) Kualitatif,
dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan paku. Metode yang
digunakan adalah metode jelajah (cruise methods) dengan teknik Purposive
Sampling. Teknik pengumpulan data yaitu dengan pengambilan sampel,
dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi
data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. (2) RnD dilakukan untuk
mengembangkan produk berupa Booklet Keanekaragaman Tumbuhan Paku. Model
yang digunakan adalah ADDIE yaitu Analisys, Design, Development,
Implementation dan Evaluation.
Hasil penelitian ini adalah: (1) diperoleh 12 jenis tumbuhan paku yang
terdiri dari 2 kelas, 10 famili, dan 12 genus yang yaitu meliputi spesies Pteris
Ensiformis Burm. F. Adiantum Lunulatum Burm. F, Pityrogramma calomelanos
(L) Link., Platycerium bifurcatum (Cav.) C. Chr, Diplazium esculentum., Tectaria
Angulata (Willd.) Copel Nephrolepis biserrata (Sw.) Schott.,Christella Dentata
(Forssk.) Brownsey & Jermy, Microlepia strigosa (Thunb.) C. Presl ,Asplenium
nidus linn. Hymenophyllum Javanicum Spreng., Lycopodiella cernua (L.) Pic. Serm.
Selain itu, pengukuran faktor abiotik menunjukkan nilai pH tanah sebesar 7 (netral),
dan suhu udara 22ºC. (2) Booklet Tumbuhan Paku di Kawasan Embung Talang
Abang dengan hasil penilaian ahli materi diperoleh presentase nilai sebesar 80%
xxi
yang termasuk kedalam kategori valid. Hasil penilain ahli media diperoleh
presentase nilai sebesar 90% yang termasuk kedalam kategori sangat valid. Dan
hasil uji keterbacaan oleh mahasiswa sebesar 86% yang termasuk kedalam kategori
sangat valid. secara keseluruhan Booklet tumbuhan paku dinyatakan layak untuk
digunakan sebaai media pembelajaran
Fenomena poligami pada keluarga miskin: Di Desa Bulupitu, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang
INDONESIA:
Penelitian yang dirancang dengan metode kualitatif dan pendekatan fenomologi ini bermaksud untuk menemukan gambaran-gambaran yang terkait dengan alasan-alasandan permasalahan-permasalahan yang menyangkut fenomena poligami pada keluarga miskin di desa Bulupitu Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang. Untuk itu penulis mengangkat rumusan masalah: (1) Bagaimana alasan orang miskin untuk berpoligami? (2) Bagaimana masalah yang dihadapi orang-orang miskin yang berpoligami?. Adapun tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan: (1) Menganalisa dan mendiskripsikan apa yang menjadi alasan keluarga miskin untuk berpoligami. (2) Memahami dan mendiskripsikan kehidupan orang miskin poligami di dalam keluarganya.
Berdasarkan hasil penelitian, diketemukan hasilbahwa alasan orang miskin untuk berpoligami: (1) Dorongan biologis dan fisiologisdorongan ini merupakan dorongan yang paling dasar yang biasa timbul lantaran ingin memuaskan kebutuhan hidup, diantaranya kebutuhan seks melalui pernikahan. (2) Dorongan penghargaan, Dorongan ini timbul lantaran rasa ingin dihargai sebaai sosok yang mampu diantara yang lain, misalnya dengan poligami maka diakui kejantanannya sebagai laki-laki, (3) Dorongan spiritual (aktualisasi diri), Dorongan ini bisa timbul karena rasa ingin menolong sesama, tentunya tidak melihat melihat secara fisik saja dalam arti sekalipun tua tetap dipoligami. Untuk masalah yang dihadapi orang-orang miskin yang berpoligami adalah sebagai berikut: (1) masalah nafkah. (2) masalah tempat tinggal, (3) masalah pakaian, (4) masalah pembagian waktu, (5) masalah mengurus anak.
ENGLISH:
The study designed by the method of qualitative and phenomenological approach it intends to find images related to the reasons and problems concerning the phenomenon of polygamy in a poor family in the village Bulupitu Gondanglegi District Malang Regency. For that the author raised the formulation of the problem: (1) How the poor reason for polygamy? (2) How the problems facing poor people who polygamy ?. The purpose of this study is to describe: (1) Analyze and describe what the reason for poor families to polygamy. (2) Understand and describe the lives of the poor polygamy in the family.
Based on the results of the study, it was found that the poor reason for polygamy:(1) This Encouragement of biological and physiological is the most basic encouragement that usually arises due to want to satisfy the necessities of life, including sexual needs through marriage. (2) awards Encouragement, this Encouragementarises because of intrigued appreciated as someone who is able among the others, for example by polygamy then recognized his manhood as men. (3) spiritual Encouragement (self-actualization),this Encouragement could arise because of a sense of wanting to help others, certainly not only physically see in the sense of though old remain polygamy. To the problems faced by poor people who practice polygamy are as follows: (1) living matter. (2) a residenceproblems,(3) clothing problems, (4) time division problems, (5) child care problems
