18 research outputs found
Pemolisian masalah lintas perbatasan: Studi perdagangan perempuan ilegal Indonesia di Malaysia
Artikel ini fokus terhadap fenomena kegiatan menyelundupkan korban perdagangan perempuan ilegal Indonesia ke Malysia. modus yang digunakan memiliki pola legal entry and illegal stay, serta illegal entry and illegal stay melalui jalur lintas perbatasan antara Batam dan Johor. isu ini menarik perhatian dan menjadi isu serup a di berbagai negara terkait dengan ancaman kejahatan lintas perbatasan yang berimplikasi terhadap keamanan perbatasan. berawal dari kegiatan migrasi yang diakui sebagai hak setiap warga negara dengan harapan mendapatkan perubahan ekonomi yang lebih baik, namun kenyataan nya menimbulkan masalh baru.implikasi nya, menurunkan kewibawaan negara asal karena warga nya telah menciptakan masalh baru bagi negara tujua
Disharmoni Hak Migran di Wilayah Perbatasan Berimplikasi Kejahatan Perdagangan Manusia di Luar Negeri
Globalisasi migran merupakan hak migran untuk mencari peluang kehidupan yang lebih baik di daerah tujuan.Tidak selamanya tujuan migrasi sesuai harapan, terdapat fenomena kasus keimigrasian dan korban perdagangan manusia bagi buruh migran Indonesia di luar negeri yang berimplikasi terhadap kewibawaan pemerintah Republik Indonesia. Permasalahan terjadi karena adanya disharmoni hak migran yang dihadapkan pada dua pilihan yang belum terselesaikan antara pemahaman prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia dengan prinsip-prinsip penegakan hukum keimigrasian. Melalui pemolisian diharapkan dapat mengatasi permasalahan dengan mengedepankan kemitraan antara masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menciptakan keteraturan sosial.
 
Keamanan Lintas Perbatasan Studi Migran Ilegal antara Batam dan Johor
Artikel ini fokus terhadap fenomena kegiatan penyelundupan korban perdagangan perempuan ilegal Indonesia ke Malaysia. Modus yang digunakan memiliki pola legal entry and illegal stay, serta illegal entry and illegal stay melalui jalur lintas perbatasan antara Batam dan Johor. Isu ini menarik perhatian dan menjadi isu serupa di berbagai negara terkait dengan ancaman kejahatan lintas perbatasan yang berimplikasi terhadap keamanan perbatasan. Berawal dari kegiatan migrasi yang diakui sebagai hak setiap warga negara dengan harapan mendapatkan perubahan ekonomi yang lebih baik, namun kenyataannya menimbulkan masalah baru. Implikasinya, menurunkan kewibawaan negara asal karena warganya telah menciptakan masalah baru bagi negara tujuan. Melalui konsep policing, Polri dapat mengembangkannya melalui pemolisian masalah lintas perbatasan untuk melakukan pencegahan. Hal ini dapat dijadikan acuan dalam merumuskan, mengimplementasikan, dan mengawasi terhadap kebijakan Polri terkait keamanan perbatasan
The Patterns of Human Trafficking of Indonesian Migrant Workers: Case Study of the Riau Islands and Johor Border Crossing
In this article, patterns of sending Indonesian migrant workers through the cross-border between the Riau Islands, Indonesia and Johor, Malaysia are examined. These patterns have implications for transnational crimes of human smuggling and trafficking. A new pattern involving Indonesian migrant workers was revealed. The migrant workers enter and reside in the destination country legally and subsequently become illegal migrants because the employer or the company does not extend their contracts. This pattern differs from two other patterns that are commonly practiced and are well-known: legal entry and illegal stay, if migrant workers work in a destination country without working permits; and illegal entry and illegal stay, if migrant workers enter a destination country through illegal mediums and work there without valid documents. This finding enriches previous studies on patterns involved in people smuggling and human trafficking with emphasizes that Indonesian migrant workers’ vulnerability cannot be reduced to mere proceduralbureaucratic matters. This research employed the case study method. The primary data was collected by conducting in-depth interviews with Indonesian migrant workers who became victims of human trafficking as key informants
ANALISIS PENGARUH UPAH DAN TUNJANGAN KESEJAHTERAAN TERHADAP PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KERJA PADA PERUSAHAAN ABON DAGING SAPI “ELANG”, DI AMPEL BOYOLALI.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : Untuk mengetahui ada
tidaknya pengaruh upah dan tunjangan kesejahteraan terhadap produktivitas
karyawan perusahaan abon daging sapi “Elang” di Ampel Boyolali. Untuk
mengetahui faktor mana yang lebih berpengaruh antara upah dan tunjangan
kesejahteraan terhadap produktivitas karyawan.
Hipotesa dalam penelitian ini ialah : Upah memberi pengaruh dominan
dibanding tunjangan kesejahteraan terhadap produktivitas karyawan pada
perusahaan Abon Daging Sapi “Elang” di Ampel Boyolali
Dari hasil perhitungan dan analisa yang dilakukan untuk pembuktian
terhadap hipotesa, maka dapat diambil kesimpulan dari seluruh penelitian yang
sudah dilakukan sebagai berikut :
Y = 8,427 + 3,540X1 + 7,579X2 + e
Interpretasi dari hasil di atas adalah : a = 8,427 artinya apabila upah (X1)
dan tunjangan kesejahteraan (X2) sama dengan nol maka produktivitas tenaga
kerja (Y) naik sebesar 8,427 kg. b 1 = 3,540 artinya upah (X1) berpengaruh positif
terhadap produktivitas tenaga kerja atau apabila setiap perusahaan upah sebesar
Rp. 1,00 akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja (Y) sebesar 3,540 kg
dengan asumsi tunjangan kese jahteraan (X2) konstan. b2 = 7,579 artinya tunjangan
kesejahteraan (X2) berpengaruh positif terhadap produktivitas atau apabila setiap
perubahan pada variabel tunjangan kesejahteraan sebesar Rp. 1,00 akan
meningkatkan produktivitas tenaga kerja (Y) sebesar 7,579 kg dengan asumsi
besarnya upah (X1) konstan.
Berdasarkan hasil Uji Hipotesa F-test adalah Karena Fhitung > Ftabel
(104,928 > 4,26), maka Ho ditolak berarti ada hubungan yang signifikan antara
upah dan tunjangan kesejahteraan dengan produktivitas karyawan. Dari pengujian
yang dilakukan, maka hipotesis dapat diterima, karena adanya pemberian upah
dan tunjangan kesejahteraan yang layak dapat meningkatkan produktivitas kerja
karyawan pada perusahaan tersebut.
Berdasarkan hasil Uji Hipotesa t -test adalah Uji t test antara upah (X1)
terhadap produktivitas karyawan (Y). Ho ditolak t hit lebih besar dari t tabel
(3,218 > 2,306) maka hal ini menunjukkan bahwa upah mempunyai pengaruh
yang kuat dengan produktivitas karyawan. Uji t test antara tunjangan
kesejaht eraan (X2) terhadap produktivitas karyawan (Y) Ho ditolak t hit lebih
besar dari t tabel (2,470 > 2,306), maka hal ini menunjukkan bahwa tunjangan
kesejahteraan mempunyai pengaruh dengan produktivitas karyawan. Dari hasil uji
t diketahui bahwa faktor upah lebih dominan dibandingkan faktor tunjangan
kesejahteraan terhadap produktivitas karyawan. Sedangkan dari hasil Koefisien Determinasi (R2
) yaitu hasil perhitungan
dengan menggunakan SPSS (pada lampiran -lampiran) didapat bahwa R2
sebesar
0,968. Hal ini berarti bahwa variabel produktivitas karyawan dijelaskan oleh
variansi variabel upah dan tunjangan kesejahteraan sebesar 96,8%. Sedangkan
sisanya sebesar 3,2% dijelaskan oleh variabel lain
Role of Administrative Staff in Management of Entry Letter at The Office of Notary and PPAT Eny Sulaksono, SH.
The purpose of this paper is to find out the importance of the role of administrative staff in managing incoming letters at the Notary and PPAT offices, Eny Sulaksono, SH. Data collection techniques used in this paper observation and literature study method. The result of this paper, the role of the administrative staff in handling incoming letters at the Notary's office and PPAT, includes receiving letters, sorting letters, recording letters, opening and reading letters of direction, delivering letters, but there are several obstacles in managing incoming letters regarding places that are not adequate, as for the obstacles in managing incoming letters at the Notary and PPAT office, lack of manpower or human resources such as limited employees in managing incoming letters so that procedures do not run optimally and maximally and facilities are still inadequate such as room or a place for storing documents and securities so that incoming letters are not organized and stored neatly. The suggestion: [1] author suggests that the Notary Office and PPAT Eny Sulaksono, SH., realize that the importance of letters in an agency, therefore if it is better for a notary office. This adds a special room or place for storing important letters or documents to avoid damage to letters. And it makes it easier for staff employees or notaries if you want to find old letters or documents because they have been neatly arranged in a separate room, [2] likewise regarding the second obstacle, namely the lack of manpower or human resources in the office, so suggestion is that it is better if the Notary can add special workers to handle incoming mail management, so that the work of each staff can run optimally and maximally and can expedite the administration of the notary office. Keywords: Administrative Staff, Management of Entry Lette
The Patterns of Human Trafficking on Indonesian Migrant Workers: Case Study of Riau Islands and Johor Border Crossing
AbstrakTulisan ini mendiskusikan pola-pola pengiriman pekerja migran asal Indonesia melalui lintas perbatasan antara Kepulauan Riau (Kepri), Indonesia dengan Johor, Malaysia. Pola-pola ini memiliki implikasi terhadap terjadinya kejahatan lintas negara, yaitu perdagangan manusia dan penyelundupan manusia. Berdasarkan hasil analisis terhadap temuan lapangan, tulisan ini menemukan pola baru. Pola tersebut adalah proses masuk dan tinggal pekerja migran asal Indonesia secara legal, namun kemudian menjadi ilegal karena majikan atau perusahaan tidak mengurus perpanjangan kontrak para pekerja migran yang menjadi pekerjanya. Pola ini berbeda dari pola yang sudah diketahui dan umum terjadi selama ini, yaitu masuk secara legal, tapi tinggal secara ilegal, di mana mereka bekerja dengan memanfaatkan visa turis, serta masuk dan tinggal secara ilegal, di mana mereka datang dan bekerja tanpa melalui jalur yang sah dan tanpa kelengkapan dokumen. Temuan ini melengkapi temuan studi-studi terdahulu tentang pola-pola kejahatan penyelundupan dan perdagangan manusia. Temuan ini sekaligus memberikan penekanan bahwa kerentanan para pekerja migran Indonesia tidak dapat direduksi menjadi perkara prosedural-birokratis semata. Metode penelitian yang digunakan berupa studi kasus. Adapun fenomena yang menjadi studi kasus adalah pekerja migran asal Indonesia sebagai korban perdagangan manusia di Johor, Malaysia. Data primer yang digunakan dihimpun dengan memanfaatkan teknik wawancara mendalam. Informan utamanya adalah para pekerja migran asal Indonesia yang telah menjadi korban perdagangan manusia. Kegiatan pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Juni–Juli 2017 di Johor dan Melaka (Malaysia), serta Batam dan Tanjung Pinang (Indonesia). Abstract This article discusses patterns of sending of Indonesian migrant workers through cross-border between Riau Islands, Indonesia and Johor, Malaysia. These patterns have implications for transnational crimes of human smuggling and trafficking. Based on the results of the analysis of field findings, this paper found a new pattern. The pattern is the process of entering and living of Indonesian migrant workers legally, but then becomes illegal because the employer or the company does not extend migrants workers’ contract who become their employees. This pattern differs from two other patterns that are commonly practiced and well known: legal entry and illegal stay, if migrant workers work in destination country without working permits, and illegal entry and illegal stay, if migrant workers enter destination country and work there through illegal channel and without valid documents. This finding enriches past studies on the patterns of people smuggling and trafficking in person. This finding also stresses how Indonesia migrant workers’ vulnerability cannot be reduced to merely procedural-bureaucratic matter. This research uses case study as its method. As its case study, it chooses phenomenon of trafficking of Indonesian workers in Johor, Malaysia. The primary data was collected by using in depth interview. The key informants consist of Indonesian migrant workers who fell into human trafficking. The data collection was conducted on June-July 2017 in Johor and Melaka (Malaysia) as well as in Batam and Tanjung Pinang (Indonesia). 
