1,720,965 research outputs found
PERSPEKTIF POLITIK HUKUM TERHADAP PENUNDAAN PEMILU SERENTAK NASIONAL TAHUN 2024
Demokrasi merupakan system pemerintahan dengan salah satu elemen kunci di dalamnya berupa system politik untuk memilih dan mengganti pemerintah melalui Pemilu yang bebas dan adil (Larry Diamond, 2004). Pemilu yang bebas dan adil kemudian diterjemahkan konstitusi Indonesia sebagai Pemilu yang dilaksanakan secara langsung, bebas, rahasia jujur dan adil setiap 5 tahun sekali. Singkatnya Pemilu Luber Jurdil secara berkala. Desain sistem politik Indonesia pasca amandemen UUD 19452 mengalami perubahan signifikan. Perubahan mendasar terkait dengan Pemilihan Umum (Pemilu), dimulai dari Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) secara langsung dalam amandemen ketiga dan keempat UUD 1945 yang dalam implementasinya juga mengalami bongkar pasang perundang-undangan. Semangat reformasi 1998 juga menumbuhkan komitmen konstitusional bernegara untuk membatasi kekuasaan pemerintahan agar tidak terjadi tirani dan kesewenang- wenangan akibat kekuasaan yang absolut. Hal itu diartikulasikan dalam pasal 7 Undang – Undang Dasar 1945 bahwa Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama 5 tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan
IDENTIFIKASI AREAL BEKAS KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN MENGGUNAKAN ANALISIS SEMI OTOMATIS CITRA SATELIT LANDSAT
<p>Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada tahun 2015 merupakan salah satu kebakaran terbesar di Indonesia pasca kebakaran pada tahun 1997/1998. Selama kejadian puncak pada tahun 2015 telah mengakibatkan kerugian finansial hingga Rp 221 triliun atau setara 16,1 miliar dolar AS (The World Bank, 2016). Dampak kebakaran telah menimbulkan potensi kerugian yang tidak bisa dihitung secara finansial berupa hilangnya keanekaragaman hayati, rusaknya habitat hidup satwa liar, dan perubahan ekosistem dan lingkungan. Salah satu metode Identifikasi Areal Bekas Kebakaran Hutan dan Lahan dengan teknologi penginderaan jauh adalah analisis semi otomatis. Data titik panas Citra Modis/Terra Aqua (<em>hotspot</em>) harian digunakan sebagai bahan awal menentukan luas areal terbakar dengan metode otomatis analisis kerapatan titik panas (<em>point density analysis</em>). Data hasil analisis ini selanjutnya ditumpang-susunkan dengan citra Landsat untuk proses delineasi visual areal bekas kebakaran. Hasil deliniasi areal kebakaran dijadikan dasar pengecekan lapangan untuk melakukan verifikasi terhadap hasil deliniasi areal terbakar dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Hasil kajian menunjukkan total luas areal yang terbakar tahun 2015 adalah 2,6 juta hektar, dimana seluas 0,4 juta hektar berada pada areal berhutan. Pada tahun 2016, hasil analisis sebaran areal kebakaran hutan dan lahan menunjukkan penurunan sebesar 83%, yaitu menjadi 438.363 hektar. Penghitungan akurasi metode ini melalui cek lapangan menghasilkan nilai akurasi sebesar 85%. Identifikasi Areal Bekas Kebakaran Hutan dan Lahan dengan teknologi penginderaan jauh dapat dilakukan dengan cepat, dan akurasi yang tinggi.</p><p><strong>Kata kunci</strong>: Bekas kebakaran hutan dan lahan, <em>hotspot</em>, Landsat, <em>point density analysis</em>, visual delineasi<em></em></p></jats:p
PENERAPAN SANKSI PIDANA DENDA SEBAGAI UPAYA MENEKAN TINGKAT PELANGGARAN LALU LINTAS DI KOTA PALANGKA RAYA
Penerapan sanksi pidana denda terhadap pelanggaran lalu lintas belum berbanding lurus dengan tingkat penurunan kasus pelanggaran lalu lintas. Sanksi pidana denda terhadap pelanggar lalu lintas belum menimbulkan efek jera sepenuhnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pelanggaran lalu lintas di kota Palangka Raya ada 5 (lima) faktor yaitu faktor substansi (peraturan perundang-undangan), faktor penegak hukum, faktor sarana dan prasarana terutama anggaran untuk melakukan razia, faktor kesadaran hukum masyarakat dan faktor budaya masyarakat. Kelima faktor di atas saling berkaitan dengan eratnya, karena menjadi hal pokok dalam penegakan hukum, serta sebagai tolok ukur dari efektifitas penegakan hukum. Dari lima faktor tersebut faktor penegak hukumnya sendiri (kepolisian) merupakan titik sentralnya
Penerapan Metode Dicovery Learning Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri I Jurug Tahun Ajaran 2011/2012
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas IV SD Negeri I Jurug Tahun Ajaran 2011/2012 melalui penerapan metode Discovery Learning pada materi pokok operasi penjumlahan pecahan. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam PTK ini yang menjadi subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri I JURUG Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali Tahun Ajaran 2011/2012 sebanyak 28 siswa, terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua (2) siklus. Masing-masing siklus terdiri atas tahapan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observing), dan yang terakhir refleksi.
Metode pengumpulan data digunakan melalui metode tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah diskriptif kwalitatif dengan analisis interatif yang terdiri dari pengumpulan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian sebelum pelaksanaan siklus diperoleh hasil bahwa sebesar 39% (11 siswa) mendapat nilai ≥65 (KKM) dari 28 siswa. Dalam pelaksanaan siklus I hasil belajar siswa meningkat menjadi 64% (18 siswa) dari 28 siswa. Pada pelaksanaan siklus II hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 22% dari siklus I menjadi 86% (24 siswa) dari 28 siswa. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Discovery Learning dapat meningkatkan prestasi belajar matematika kelas IV SD Negeri I Jurug Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali Tahun Ajaran 2011/201
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KUALITAS INTERAKSI ATASAN–BAWAHAN DENGAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB)
OCB merupakan ekspresi kecintaan, loyalitas, dan rasa memiliki yang tinggi
dari anggota organisasi. Jika organisasi memiliki orang-orang yang memiliki OCB
tinggi, maka dapat diharapkan organisasi tersebut akan mampu menghadapi
tantangan yang muncul dari perubahan lingkungan, baik internal maupun eksternal.
OCB juga dapat diartikan sebagai perilaku di luar peran. Diasumsikan bahwa apabila
interaksi atasan-bawahan berkualitas tinggi maka seorang atasan akan berpandangan
positif terhadap bawahannya sehingga bawahannya akan merasakan bahwa
atasannya banyak memberikan dukungan dan motivasi. Hal ini meningkatkan rasa
percaya dan hormat bawahan pada atasannya sehingga mereka termotivasi untuk
melakukan “lebih dari” yang diharapkan oleh atasan mereka. Kualitas interaksi
atasan bawahan merupakan hal yang penting karena Kualitas interaksi atasan-
bawahan juga diyakini sebagai prediktor organizational citizenship behavior
(OCB). Sehingga dapat dirumuskan masalahnya adalah “apakah ada hubungan antara
persepsi terhadap kualitas interaksi atasan-bawahan dengan OCB?”
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap
kualitas interaksi atasan-bawahan dengan OCB. Hipotesis yang diajukan adalah:
“ada hubungan antara persepsi terhadap kualitas interaksi atasan-bawahan dengan
OCB”. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 415 karyawan, dan teknik sampling
yang digunakan yaitu purposive non random sampling, yaitu subyek yang dijadikan
sampel penelitian didasarkan ciri tertentu.
Data dalam penelitian ini dianalisis dengan product moment. Alat ukur yang
digunakan untuk mengungkap variabel-variabel penelitian ada 2 macam alat ukur
yaitu: skala persepsi terhadap kualitas interaksi atasan-bawahan dan skala OCB.
Berdasarkan hasil analisis data menggunakan product moment maka diperoleh
korelasi yang signifikan antara persepsi terhadap kualitas interaksi atasan-bawahan
dengan OCB atau r= 0,453 dengan p= 0,000 yang berarti p<0,01, artinya ada
hubungan positif yang sangat signifikan antara persepsi terhadap kualitas interaksi
atasan-bawahan dengan OCB
ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM PENGENDALIAN DISTRIBUSI MATERI SECARA ONLINE PADA BINUS CENTER
ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM PENGENDALIAN DISTRIBUSI MATERI SECARA ONLINE PADA BINUS CENTE
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
