34 research outputs found

    ASUHAN KEBIDANAN BERKESINAMBUNGAN (CONTINUITY OF CARE/COC) PADA NY. R UMUR 35 TAHUN G4P3A0AH3 MULTIPARA DI PUSKESMAS PLERET BANTUL

    Get PDF
    Menurut penelitian Sunarsih tahun 2019 Kelahiran dan kehamilan merupakan suatu hal yang fisiologis, namun jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi patologis. Sekitar 40% ibu hamil mengalami masalah kesehatan berkaitan dengan kehamilan dan 15 % dari semua ibu hamil menderita komplikasi jangka panjang yang mengancam jiwa bahkan sampai menimbulkan kematian. Sehingga diperlukan asuhan yang berkesinambungan dan berkualitas dengan melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur minimal 4x selama hamil, pertolongan persalinan di tenaga Kesehatan, melakukan kunjungan neonates, ibu paska bersalin dan memilih alat kontrasepsi yang sesuai pilihan sehingga mampu untuk menekan AKI dan AKB. untuk memelihara serta meningkatkan kesehatan ibu selama hamil sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menyelesaikan kehamilan dengan baik dan melahirkan bayi sehat. Ibu hamil dengan multipara cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi terutama saat memasuki trimester ketiga kehamilan karena sebelumnya belum pernah merasakan hamil dan melahirkan. Salah satu ibu hamil dengan faktor risiko multipara dengan kecemasan trimester III di Puskesmas Pleret Bantul adalah Ny. R Kunjungan ANC trimester ketiga ini ditemukan berdasarkan hasil anamnesis dimana ibu mengatakan merasa cemas menghadapi persalinan. Pada tanggal 22 Januari 2022 ibu bersalin di RS Nurhidayah spontan Selama masa Nifas, tidak terjadi komplikasi. Bayi lahir Spontan, Normal , pukul 09 .37 WIB, jenis kelamin Perempuan, BBL 3370 gram, PB 49 cm tidak mengalami komplikasi. Ibu memutuskan memakai KB suntik karena berkomitmen memberikan ASI secara ekslusive dan mau mengatur kehamilan. Kesimpulan dari asuhan ini adalah ibu hamil dengan multipara mengalami kecemasan pada kehamilan trimester III . Pada persalinan terjadi secara spontan tanpa komplikasi, bayi di lahirkan secara spontan, sehat. Saran untuk bidan agar dapat meningkatkan asuhan berkesinambungan upaya untuk peneurunan kematian ibu dan bayi dapat dilakukan dengan peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan Kesehatan ibu ialah salah satu upaya yang dilakukan adalah mendekatkan jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui program perencanaan dan persalinan dan pencegahan komplikasi / P4K , semakin meningkatnya rasa kepercayaan pasien terhadap bidan untuk meningkatkan cakupan persalinan normal

    Indonesian Blogger Communities: Display of Digital Artefacts As The Legitimate Ruling Mechanism

    Get PDF
    Makalah ini membahas pertanyaan seputar ‘Apakah komunitas blogger yang direartikulasikan dari ‘hubungan hegemonik konservatif’ memiliki potensi untuk memberdayakan blogger Indonesia?’ Atau apakah berpotensi mereproduksi bentuk lain dari hubungan kekuasaan untuk blogger Indonesia, seperti dunia maya yang tidak selalu menjamin demokratisasi. Hal ini berkisar pada gagasan tentang komunitas, dimana era digital telah mengubah hubungan kekuasaan. Terdapat argumen bahwa apa yang disebut komunitas virtual cenderung mereproduksi mekanisme yang berkuasa dengan menciptakan kembali artefak digital sebagai pengingat untuk mempertahankan wilayah budaya. Penelitian ini adalah penelitian etnografi tentang blogging dan mencakup hampir empat tahun pengamatan partisipan dan wawancara informal dengan beragam blogger termasuk pria, wanita, pengadopsi awal dan pendatang baru, pendiri, administrator, orang-orang yang menulis blog secara profesional dan mereka yang menulis blog di waktu luang. Temuan saya menunjukkan bahwa budaya blogging Indonesia tidak merujuk pada ‘komunitas modern’. Budaya blogging orang Indonesia tetap mempraktikkan bahasa-bahasa kuno primordialisme tetapi dimediasi melalui model-model baru. Komunitas Blogger di Indonesia mencerminkan transaksi unik antara civitas dan polis. Di satu sisi mereka siap membangun identitas mereka sebagai anggota masyarakat (komunitas) tetapi di sisi lain, banyak juga yang mengembangkan identitas mereka sebagai anggota polis (masyarakat) dengan membangun artefak digital. Selain itu, praktik-praktik ini membutuhkan keanggotaan yang sangat melekat pada daerah dan wilayah. This paper discusses questions around ‘Do blogger communities that are rearticulated from ‘old school hegemonic relations’ have the potential to empower Indonesian bloggers?’ Or do they, on the other hand, potentially reproduce other forms of power relationships for Indonesian bloggers, as cyberspace does not always guarantee democratisation. It revolves around the notion of community, which in digital era has decentre power relations. It offers an argument that what so called virtual community tends to reproduce ruling mechanism by recreating digital artefacts as trivial reminders to maintain cultural territories. This study is an ethnographic research on blogging and includes almost four years of participant observation and informal interviews with a diverse range of bloggers including men, women, early adopters and newcomers, founder, administrator, people who blog professionally and those who do so in their free time. My findings shows that Indonesian blogging culture does not refer to a ‘modern community. It remains practicing old languages of primordialism but mediated through new models. Blogger communities in Indonesia reflect a unique transaction between civitas and polis. On one hand they readily establish their identity as members of civitas (communities) but on the other hand, many also develop their identity as members of polis (society) by establishing digital artefacts. Additionally, these practices require memberships which are strongly attached to localities and territories

    Politik Seksual dalam Film Animasi Disney

    No full text

    Indonesia’s Internet Blueprint

    No full text

    Indonesian women blogging: from Serambi Mekka (Aceh) to Batawi (Jakarta) and in between

    No full text
    All around the world, women are still facing gender digital divide due to their absence in the internet infrastructure establishment. The Web 2.0 technology helps women to catch up with men in adopting the internet. After the introduction of free blog providers in 2000, a significant number of Indonesian women embrace digital communication through blogging practice. Having a resemblance with women bloggers in general, Indonesian women bloggers tend to use blogging to document personal experiences. However, my thesis refuses to see Indonesian women as single entities, thus I take up de Certeau’s idea in ‘The Practice of Everyday Life’ (1984) to explain that within the circulation of power in media discourse (Couldry, 2004) Indonesian women bloggers apply contextual tactics to reclaim their sense of agency in the Indonesian male-dominated public sphere. Employing multidisciplinary approaches, my study aim to answer the questions“what kind of things people do in relation to media”? and also “how is the complexity of users’s engagement with media embedded in everyday life cultures”? (Takahashi, 2010; Couldry, 2005; Bird, 2003) within Indonesian women’s context. My study shows that blogging is not a universal practice, nor simple, limited or fixed. That is, in their engagement with blogging, Indonesian women make out by ‘poaching’ blogging in their own contexts and reconstruct blogging for their own social, economic, political and cultural benefit. Thus within Indonesian women’s context that were subjected to national ideology of state ibuism, a blog can be understood as a medium of negotiation for Indonesian women not only for joining public sphere, but also to create their sense of agency

    Politik Seksual dalam Film Animasi Disney

    No full text
    Using Roland Barthes's semiotics as a tool of analysis, this article intends to find out the implications made by Disney's changes on this story of Chinese women and people in general. Barthes's multilevel semiotics shows how the same medium-the animation Mulan-could be viewed from different perspectives. Disney claimed that Mulan is a message on women's heroism. This is based on Disney's convictions that Mulan is an animation produced with "respect to women and non-Western peoples." Through feminist frame of thought and knowledge of the differences between the original Chinese and the Disney version, women experienced multilayered subordinations in the animation. The first subordination against women occurs when a person is born as a girl. Based on myths, society gives a set of characterizations to women, called the feminine character. The character is used as the basis to subordinate women and repress them. The next subordination against women occurs when the feminine character, having been applied to women for as long as they live (and taken for granted), is applied to a certain thing, person or group. Thus, whatever is regarded as having the feminine characteristics are placed in a subordinate position, and thus experience repression. Using the ethnographic approach, the writer finds that the viewers of Mulan could be categorized into three groups based on their meaning of Mulan: the "lover" group, the "ironists" group, and the "hater" group. Key words: sexual politics, Disney, feminist postcolonial theory.&nbsp

    POLA KONSUMSI PANGAN DAN STATUS GIZI BALITA UMUR 2-5 TAHUN DI DESA BANJARHARJO KECAMATAN KALIBAWANG KABUPATEN KULON PROGO

    Get PDF
    Latar Belakang : Masalah gizi di Indonesia di dominasi oleh masalah gizi kurang dan lebih. Kekurangan gizi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan. Untuk itu perlu ditingkatkan status gizi dengan cara meningkatkan keragaman konsumsi pangan. Tujuan : Untuk mengetahui pola konsumsi pangan dan status gizi balita umur 2-5 tahun di Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Metode : Jenis penelitian ini adalah survey yang dilakukan dengan pengumpulan data. Penelitian ini dilakukan di Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Sebanyak 162 balita dijadikan sampel penelitian. Aspek-aspek yang diteliti yaitu pola konsumsi pangan dan status gizi balita. Data pola konsumsi pangan dikumpulkan menggunakan form recall 24 jam dan data status gizi dengan cara penimbangan berat badan. Hasil : Sejumlah 1 (0,6%) balita yang termasuk dalam kategori keragaman pangan rendah, 50 (30,9%) balita yang termasuk dalam kategori keragaman pangan sedang dan 111 (68,5%) balita yang termasuk dalam kategori keragaman pangan tinggi. Sejumlah 25 (15,4%) balita yang gizi kurang, 135 (83,3%) balita yang gizi baik, terdapat 2 (1,2%) balita yang gizi lebih dan tidak ada balita yang status gizi buruk. Kesimpulan : Pola konsumsi pangan balita termasuk dalam kategori keragaman konsumsi pangan tinggi. Status gizi balita termasuk dalam kategori gizi baik. Kata Kunci : Pola Konsumsi Pangan, Status Giz
    corecore