1,721,138 research outputs found
PERBEDAAN HASIL BELAJAR PSIKOMOTORIK PENGGUNAAN METODE DEMONSTRASI DAN METODE AUDIOVISUAL PADA PEMBELAJARAN SENAM HAMIL
Endah Retno Dewi, R0105017, Perbedaan Hasil Belajar Psikomotorik
Penggunaan Metode Demonstrasi dan Metode Audiovisual pada
Pembelajaran Senam Hamil Program Studi D IV Kebidanan Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2009.
Metode mengajar memegang peranan penting dalam proses pendidikan. Pada
pembelajaran senam hamil dibutuhkan metode pembelajaran yang tepat sehingga
pemahaman aplikasi dari pokok bahasan yang disampaikan dapat dicapai oleh
peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil
belajar psikomotorik antara penggunaan metode demonstrasi dan metode
audiovisual pada pembelajaran senam hamil.
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian Quasi Experimental dengan
pendekatan posttest dan uji statistik yang digunakan adalah ‘t-test’. Populasi
penelitian ini adalah mahasiswa Akademi Kebidanan Giri Satria Husada Wonogiri
semester II. Pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling, dengan kriteria
inklusi. Pengelompokkan sampel dilakukan dengan cara random. Dari 40 sampel
dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing 20 responden untuk kelompok
demonstrasi dan 20 responden untuk kelompok audiovisual. Masing-masing
kelompok diberi perlakuan, untuk kelompok demonstrasi mendapat metode
demonstrasi dan untuk kelompok audiovisual mendapat perlakuan metode
audiovisual. Setelah kedua kelompok mendapat perlakuan kemudian dilakukan
posttest.
Hasil penelitian berdasarkan uji statistik ‘t-test’ menunjukkan adanya
perbedaan hasil belajar antara metode demonstrasi dan metode audiovisual. Hal
tersebut terlihat dari hasil pengukuran posttest pada metode demonstrasi
menunjukkan nilai mean sebesar 90,10 sedangkan pada metode audiovisual
menunjukkan nilai mean sebesar 79,60. Hasil uji t didapatkan thitung > ttabel
(6,528 > 2,093) dan secara statistik bermakna (p < 0,05).
Simpulan pada penelitian ini adalah terdapat perbedaan belajar psikomotorik
penggunaan metode demonstrasi dan metode audiovisual pada pembelajaran
senam hamil. Metode demonstrasi menunjukkan hasil belajar yang lebih baik
daripada metode audiovisual.
Kata Kunci : metode demonstrasi, metode audiovisual, hasil belajar,
pembelajaran senam hami
AKIBAT HUKUM PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 46/PUU-VIII/2010 TERHADAP STATUS HUKUM ANAK YANG LAHIR DILUAR NIKAH DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
ABSTRAK Nama : Endah Retno Saraswati, NIM : S351308016, Judul : “Akibat Hukum Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 Terhadap Status Hukum Anak Yang Lahir Di Luar Nikah Dalam Perspektif Hukum Islam”. Mahasiswa Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Tahun 2016. Penelitian dan penulisan tesis ini bertujuan untuk Untuk mengetahui status hukum anak yang lahir dari perkawinan yang tidak sah secara agama dan tidak dicatat oleh Negara. Serta untuk dapat mengetahui apakah anak tersebut dapat mendapatkan harta warisan dari Ayah kandung biologisnya. Metode penelitian hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum normatif dengan menggunakan data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier, dan data yang diperoleh dianalisis dengan mengunakan analisis yuridis normatif. Penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa terjadi perkawinan yang menurut hukum Islam adalah sah, namun tidak dicatatkan oleh Negara. Dalam Perkawinan tersebut telah melahirkan anak, yang menurut Hukum Islam sah, namun karena terganjal tidak adanya pencatatan perkawinan yang dilakukan oleh kedua orang tua kandungnya, sehingga anak tersebut tidak diakui secara Hukum oleh Negara. Menurut Hukum Islam anak tersebut tidak sah dan tidak memiliki nasab dengan ayah kandung biologisnya karena lahir akibat dari perkawinan yang tidak sah menurut agama dan negara. Sehingga tersbut dikatakan sebagai anak zina karena perkawinan tersebut dilaksanakan tidak sah secara agama maupun secara negara. Kesimpulan dari tesis ini adalah bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010, tidak berlaku bagi pengakuan anak yang lahir dari perkawinan yang tidak sah secara agama dan tidak dicatatkan. Hal tersebut karena perkawinan tersebut dilaksanakan tidak memenuhi rukun dan syarat nikah sehingga tidak sah secara agama. Anak tersebut tidak berhak mendapatkan nafkah dan warisan dari ayah kandung biologisnya, walaupun secara biologis dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, anak tersebut memiliki hubungan darah dengan ayah kandung biologisnya. Kata Kunci : Status Hukum Anak, Pencatatan pernikahan, MahkamahKonstitus
PENERAPAN AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI DALAM ALOKASI DANA DESA PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI DESA PULE KECAMATAN PULE KABUPATEN TRENGGALEK
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Penerapan Akuntabilitas dan Transparansi dalam Alokasi Dana Desa (ADD) pada Masa Pandemi Covid-19 di Desa Pule, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek” ini di tulis oleh Endah Retno Sari, NIM. 12403173048. Jurusan Akuntansi Syari’ah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Tulungagung (IAIN) Tulungagung, yang dibimbing oleh Siswahyudianto, M.M NIDN. 2015068402
Secara analisa terkait sistem pengelolaan dana di berbagai Desa belum ada yang mampu mewujudkan pengelolaan administrasi keuangan Desa yang baik maupun benar, itu berarti dalam alokasi dana Desa belum mampu menciptakan akuntabilitas dan transparansi. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan sekarang telah muncul akuntansi Desa maka dengan adanya akuntansi Desa ini diharapkan dapat membantu mewujudkan akuntabilitas dan transparansi alokasi dana Desa di Desa
Rumusan masalah pada penelitian skripsi ini adalah (1) Bagaimana Penerapan Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa pada Masa Pandemi Covid-19 di Desa Pule Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek? (2) Bagaimana Transparansi Pengelolaan Alokasi Dana Desa pada Masa Pandemi Covid-19 di Desa Pule Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek?
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk menganalisis Penerapan Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa pada Masa Pandemi Covid-19 di Desa Pule Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek (2) Untuk menganalisis Transparansi Pengelolaan Alokasi Dana Desa pada Masa Pandemi Covid-19 di Desa Pule Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek
Hasil penelitian yaitu : (1) Penerapan akuntabilitas dlam pengelolaan Alokasi Dana Desa pada Masa Pandemi Covid-19 di desa Pule sudah cukup baik yang dibuktikan dengan adanya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pengalokasian dana di desa dan juga merealisasikan sebagian dari perencanaan pembangunan didesa Pule yaitu merencanakan RPJMDes dalam jangka waktu 6 tahun dan juga dapat dilihat dari pembanguna masjid, perbaikan jalan, pengadaan bantuan untuk anak sekolah yang kurang mampu, serta pembangunan rumah yang layak bagi warga yang kurang mampu, (2) Penerapan transparansi pengelolaan Alokasi Dana Desa pemerintah desa pada Masa Pandemi Covid-19 di desa Pule masih cukup kurang, hal ini dikarenakan masih kurangnya keterbukaan pemerintah desa kepada masyarakat dalam pengelolaan alokasi dana desa, selanjutnya juga masih banyak keterbatasan masyarakat untuk mendapatkan informasi terkait pengelolaan alokasi dana desa.
Kata Kunci : Akuntabilitas, Transparansi, Alokasi Dana Desa (ADD
Aplikasi BAP dan KNO3 untuk Meningkatkan Produksi Benih Umbi Bawang Merah asal True Seed of Shallot (TSS).
Kendala utama peningkatan produksi bawang merah nasional adalah ketersediaan benih bermutu terutama benih bebas hama dan penyakit. Benih umbi yang digunakan petani umumnya disisihkan dari pertanaman sendiri secara berulang sehingga produktivitasnya rendah dan membawa penyakit tular benih. Kementerian Pertanian telah merekomendasikan untuk menggunakan benih botani (true seed of shallot/TSS) sebagai bahan tanam, akan tetapi belum banyak petani bawang merah yang menggunakannya, karena teknik yang belum dikuasai dan umur tanaman yang lebih panjang. Oleh karena itu penangkar TSS harus memproduksi umbi dari TSS untuk disebarluaskan kepada petani bawang. Pada umumnya dari 1 butir TSS hanya dihasilkan 1-2 umbi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah benih umbi dari 1 butir benih (TSS). Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB Dramaga bulan April - Agustus 2017. Rancangan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak satu faktor yaitu BAP 0 ppm (air sebagai kontrol), BAP 50 ppm, BAP 100 ppm, KNO3 100 ppm, dan KNO3 200 ppm; diulang empat kali. Varietas yang digunakan adalah dua varietas Biru Lancor dan Trisula. TSS ditanam dalam petak berukuran 1 m x 1 m. BAP dan KNO3 diaplikasikan pada 5, 6, 7 minggu setelah tanam, dengan volume 1 l m-2 (petak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi BAP dan KNO3 tidak meningkatkan jumlah umbi per rumpun, dan persentase umbi mini dan kecil yang dihasilkan baik pada varietas Biru Lancor dan Trisula. Jumlah tanaman per petak yang dipanen pada varietas Biru Lancor sebanyak 158 tanaman. Berdasarkan jumlah umbi yang dihasilkan per tanaman, sebanyak 51,6% hanya menghasilkan 1 umbi per tanaman, 35,0% menghasilkan 2 umbi per tanaman, 9,9% menghasilkan 3 umbi per tanaman, dan sisanya menghasilkan 4-7 umbi per tanaman, sehingga total jumlah umbi yang dihasilkan sebanyak 263,4 umbi per petak. Jumlah tanaman varietas Trisula rata-rata 146 per petak, sebanyak 89,5% menghasilkan 1 umbi per tanaman, 9,3% menghasilkan 2 umbi per tanaman, dan sisanya menghasilkan 3-7 umbi per petak, sehingga total jumlah umbi yang dihasilkan varietas Trisula sebanyak 164.0 umbi per petak. Berdasarkan ukurannya varietas Biru Lancor menghasilkan umbi mini 8-17%, umbi kecil 18-23%, umbi sedang 45-50%, dan umbi besar 13-16%. Varietas Trisula menghasilkan umbi mini 15-21%, umbi kecil 13-16%, umbi sedang 26-31%, dan umbi besar 33-45%. Aplikasi BAP 50 dan 100 ppm mampu menghasilkan beberapa tanaman dengan 6-7 umbi per rumpun baik pada varietas Biru Lancor maupun Trisula. Data ini memberi indikasi bahwa aplikasi BAP berpotensi meningkatkan jumlah umbi per tanaman pada varietas Biru Lancor dan Trisula
Flowering and reproductive biology of Zingiber spectabile
The species of Zingiberales are sources of globally important spices and ornamental plants, and have long been used in Asian traditional medicine, cuisine and as herbs. Some species have high ornamental value due to their attractive foliage or flowers, including Zingiber spectabile Griff. Hybridization has been the major source of genetic variation in flower and ornamental breeding and understanding the flowering season and peaks of flowering is important for flower growers. Stigma receptivity, or the effective pollination period, is one of the important factors determining successful fertilization and has been rarely studied in Zingiberaceae. The objectives of this study were to examine the Z. spectabile reproductive biology, to investigate stigma receptivity under several flowering developmental stages, and their reproductive success. The inflorescence development of Z. spectabile from the start of the bracts opening to fully open bracts took 13-17 weeks. The ideal time for artificial pollination was between 11:00-13:00 hours, and the anthers dehisced prior to stigma receptivity. Our study demonstrates that Z. spectabile is self-compatible and crosspollination does not increase fruit set and seed set
Aplikasi BAP dan Night Break untuk Induksi Pembungaan Bawang Merah Varietas Sumenep dan Maja
Bawang merah varietas Sumenep merupakan varietas yang tidak dapat
berbunga secara alami, berbeda dengan varietas Maja yang berbunga secara alami,
sehingga hanya diperbanyak melalui benih umbi yang beresiko menularkan
penyakit. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi pengaruh aplikasi BAP
dan night break terhadap pembungaan pada bawang merah varietas Sumenep dan
Maja. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Pasir Sarongge IPB, Cianjur
(1000 m dpl) selama bulan Maret hingga Juli 2017. Penelitian terdiri atas dua
percobaan yang dilakukan secara terpisah terhadap dua varietas, yakni varietas
Sumenep dan Maja. Benih umbi berukuran 5-7 cm dari masing-masing varietas
divernalisasi pada suhu 10 0C selama 24 hari. Tiap percobaan menggunakan
rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) tersarang dengan 2 faktor. Faktor
pertama adalah perlakuan dengan dan tanpa night break selama 4 jam, dan faktor
kedua adalah konsentrasi BAP (0, 50, 100, 150, 200 dan 250 ppm) yang tersarang
pada faktor pertama dengan 4 ulangan. Perlakuan night break diterapkan pada
pukul 22.00-02.00, sementara BAP disiramkan ke titik tumbuh tanaman pada 2, 4,
6 minggu setelah tanam. Hasil percobaan menunjukkan bahwa 60% tanaman
bawang merah varietas Sumenep berbunga tanpa perlakuan night break maupun
aplikasi BAP. Aplikasi 4 jam night break cenderung menurunkan persentase
tanaman berbunga, yang dapat dikompensasi dengan aplikasi BAP. Tanaman ratarata
menghasilkan 1.5 umbel per rumpun. Aplikasi 4 jam night break pada varietas
Maja meningkatkan pertumbuhan tanaman, tetapi tidak berpengaruh terhadap
persentase tanaman berbunga dan jumlah umbel per rumpun (rata-rata 1.1). BAP
tidak berpengaruh terhadap semua parameter pertumbuhan dan pembungaan
tanaman bawang merah varietas Maja. Bunga yang terbentuk dari kedua varietas
tidak ada yang berkembang menjadi kapsul yang mengandung biji
Pengaruh Dosis Boron dan Penentuan Ruas Tanaman yang Tepat untuk Produksi Benih Melon Hibrida IPB
Melon is a populer fruit in Indonesia and has high economic value. However, domestic melon production does not meet the market demand due to unavailable high quality seeds. Moreover most of available melon fruit in the market is of hybrid variety, so that the seeds are imported for fruit production. The research was aimed to study the effect of boron and position of hermaphroditic flower in the internodes on hybrid seed production and seed quality of hybrid melon. The research was arranged in split plot according to randomized complete block design with 4 replications. The main plot was dosages of boron, i.e. 0, 1, 2, and 3 kg ha-1 and the subplot was position of hermaphroditic flower in the internodes, i.e. 10-15th internodes (lower), 16th-21st internodes (middle), and 22nd27th internodes (upper). The result showed that boron at 2 kg ha-1 did not affect the the flowering, fruit quality, and seed yield, but affected seed quality. Additionally, the position of hermaphroditic flower in the internodes did not affect fruit quality, but the upper internodes (22nd-27th) resulted in higher seed yield and seed quality. Hermaphroditic flower in 22nd-27th internodes produced high seed germination regardlessdosages of boron
Aplikasi NAA dan BAP untuk Meningkatkan Produksi Benih Umbi Bawang Merah asal True Seed of Shallot (TSS).
Penggunaan biji botani bawang merah (true seed of shallot atau TSS) sebagai benih mampu menghindari penyakit tular umbi, namun belum banyak digunakan karena teknik budidaya bawang merah dari TSS belum dikuasai petani. Diperlukan benih umbi asal TSS dalam jumlah besar dan berukuran kecil agar benih umbi yang digunakan petani bebas penyakit. Mayoritas penanaman TSS hanya menghasilkan 1-2 umbi per tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah umbi asal TSS melalui aplikasi NAA dan BAP yang dilaksanakan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak satu faktor mencakup air (kontrol), BAP 50 ppm, BAP 100 ppm, NAA 10 ppm, NAA 10 ppm + BAP 50 ppm, NAA 10 ppm + BAP 100 ppm, NAA 20 ppm, NAA 20 ppm + BAP 50 ppm, dan NAA 20 ppm + BAP 100 ppm; empat ulangan. Perlakuan dilakukan pada 5, 6, 7, dan 8 minggu setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi perlakuan tidak meningkatkan jumlah umbi per tanaman. Aplikasi BAP 50 ppm mampu menginduksi 4 umbi per tanaman pada varietas Trisula, dan 8 umbi per tanaman pada varietas Sanren meskipun dengan perentase yang rendah. Sebanyak 83% umbi varietas Trisula dan 78% umbi varietas Sanren termasuk dalam kategori umbi mini dan kecil
Keberhasilan Reproduksi dan Sistem Perkawinan Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn.) : Aksesi Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah
Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari tingkat keberhasilan reproduksi dan sistem perkawinan empat aksesi tanaman jarak pagar yaitu aksesi Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Induk Jarak Pagar Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat pada bulan April – Juli 2007. Penelitian terdiri atas dua percobaan yaitu keberhasilan reproduksi dan sistem perkawinan. Percobaan keberhasilan reproduksi menggunakan rancangan acak lengkap satu faktor yaitu faktor aksesi yang terdiri atas aksesi Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Pada percobaan sistem perkawinan, persentase pembentukan buah hasil penyerbukan buatan dianalisis dengan rancangan kelompok lengkap teracak satu faktor yaitu tipe penyerbukan yang terdiri atas penyerbukan dalam satu malai, dalam satu tanaman, dalam satu aksesi, dan antar aksesi, sedangkan viabilitas dan vigor benih hasil penyerbukan buatan dianalisis menggunakan rancangan split-plot dua faktor yaitu faktor aksesi sebagai petak utama dan faktor tipe penyerbukan sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor aksesi berpengaruh nyata terhadap tingkat keberhasilan reproduksi dengan nilai tertinggi sebesar 0.73 pada aksesi Jawa Tengah, atau 73% dari potensi reproduksinya, dan terendah sebesar 0.53 pada aksesi Banten. Potensi reproduksi dipengaruhi oleh bunga dan ovul per tanaman sehingga dapat ditingkatkan melalui perbaikan sifat tanaman menggunakan tehnik pemuliaan. Keberhasilan reproduksi ditentukan oleh jumlah buah dan biji sehingga diduga dapat ditingkatkan melalui perbaikan teknik budidaya seperti pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta peningkatan efisiensi penyerbukan. Faktor tipe penyerbukan tidak berpengaruh nyata terhadap persentase pembentukan buah dan benih. Rataan persentase pembentukan buah sebesar 68% sedangkan pembentukan biji sebesar 50%. Penghitungan indeks inkompatibilitas menghasilkan nilai sebesar 0.98 yang menunjukkan bahwa polen dan pistil hanya bersifat inkompatibel sebagian. Interaksi antara aksesi dengan tipe penyerbukan berpengaruh sangat nyata terhadap viabilitas dan vigor benih. Viabilitas dan vigor benih tertinggi pada aksesi Banten dan terendah pada aksesi Jawa Tengah. Untuk produksi benih pada aksesi Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Tengah persilangan dalam satu aksesi akan lebih menguntungkan sedangkan pada aksesi Banten persilangan antar aksesi akan lebih menguntungkan
Induksi Pertunasan pada Umbi Tanaman Sedap Malam (Polianthes tuberosa L.) dengan Pengasapan dan Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh
Increasing flower production of Polianthes is hindered by limited supply of bulb. Newly harvested bulb shows after ripening phenomenon, in which new bulbs are not readily sprouting. Farmers usually air or sun-dried the bulbs followed by curing above the kitchen stove for 1-3 months to induce sprouting. It is therefore necessary to accelerate sprouting. The purpose of this research was to study if bulbs of different sizes will sprout at the same time and if sprouting could be accelerated. The research was conducted at the Laboratory of Seed Science and Technology, Department of Agronomy and Horticulture, IPB Darmaga during November 2010 - February 2011. The research consisted of two experiments. In the first experiment bulbs were grouped into small (0.5 2.5 cm) sizes and subjected to air-drying or curing for six days. Each treatment was replicated four times with 20 bulbs for each experimental unit. In the second experiment sprouting was induced using BAP, GA3 or cured as three different set of experiments. The concentrations of BAP were 0, 100, 200, 300 ppm, whereas GA3 were 0, 50, 100, 150, and 200 ppm. Curing was carried out for 0, 2, 4, 6 days. The result showed that larger bulb produced higher number of sidebulb, so did curing as opposed to air-drying. The large bulb produced higher percentage of sprouting bulb than medium and small bulb. The larger the bulb the earlier they sprout. Result from the second experiment showed that the higher concentration of BAP give higher number of sidebulbs and earlier sprouting. Bulbs treated with BAP at 300 ppm uniformly sprouted within one week after treatment. However, it was not significantly different from BAP at 200 ppm. Use of GA3 up 100 ppm affected number of sidebulb and shoot length but did not affect percentage of sprouting bulbs. Use of curing did not affect number of sidebulb, shoot length as well as percentage of sprouting bulbs
- …
