1,720,985 research outputs found

    Rekonstruksi dan Revitalisasi Kesenian Rapa’i Aceh Pasca Tsunami

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami persebaran kesenian rapa’i dan langkah-langkah strategis yang ditempuh oleh seniman, budayawan, dan pemerintah daerah untuk menjadikan kesenian rapa’i tetap hidup dan lestari dalam masyarakat yang sedang berubah setelah dilanda bencana. Penelitan dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif berupa survei lapangan, wawancara, dan pendokumentasian. Kesenian rapa’i  adalah salah satu jenis kesenian bernuansa Islam di Aceh yang sarat dengan nilai religious, kultural, sosial, keindahan, dan pendidikan. Sebelum bencana tsunami melanda Aceh tahun 2004, kesenian rapa’i digunakan sebagai media dakwah dan berakulturasi dengan budaya lokal. Simbol-simbol ekspresif  seni dan agama  berpadu menjadi kekuatan spiritualitas kebudayaan dan agama Islam. Unsur-unsur seni berupa musik, tari dan sastra menjadi karakter tersendiri dan telah mengantarkan kesenian rapa’i sebagai identitas budaya Aceh. Kehadiran dan perkembangannya  berhubungan  kait dengan perkembangan tarekat dan kehidupan sosial budaya masyarakat Aceh. Namun pada tahun 2004, Aceh diporak porandakan oleh gempa bumi dan tsunami yang menewaskan lebih dari 2000 orang, termasuk di dalamnya seniman-seniman dan budayawan Aceh. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran terhadap eksistensi kesenian rapa’i dalam menghadapi budaya global

    MODIFIKASI TARI RENTAK GUMANTAN DARI RITUAL KE SENI PERTUNJUKAN PADA MASYARAKAT PISANG BEREBUS KECAMATAN GUNUNG TOAR KABUPATEN KUANTAN SINGINGI

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang tari Rentak Gumantan sebagai modifikasi dari ritual gumantan pada masyarakat Pisang Berebus Kecamatan Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Penelitian ini mengangkat fenomena yang ada di dalam ritual gumantan tersebut ke dalam sebuah tarian yang dinamai dengan tari Rentak Gumantan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Ucapan, tulisan dan prilaku yang dapat diamati dari orang atau subjek itu sendiri dideskripsikan dan dianalisis dengan cara menyaksikan secara langsung pertunjukan tari Rentak Gumantan tersebut. Ritual Gumantan ini pada awalnya selalu dipercayai oleh masyarakatnya sebagai sarana pengobatan yang berhubungan dengan makhluk ghaib. Namun seiring dengan pergeseran waktu ritual gumantan ini dimodifikasi menjadi seni pertunjukan yaitu tari Rentak Gumantan yang tidak terikat dengan sifatnya yang ritual. Kini tari tersebut sudah digunakan dalam berbagai acara dengan memasukkan unsur-unsur estetika, seperti gerak, musik, pola lantai, properti dan kostum, sehingga menjadi karya yang mempunyai nilai-nilai estetika dibandingkan dengan yang sebelumnya.  Kata kunci : Ritual Gumantan, Tari Rentak Gumantan, Estetika    ABSTRAK             This experimente about Rentak Gumantan dance for modification from ritual gumantan for society Pisang Berebus subdistrict Gunung Toar regency Kuantan Singingi Riau Provice. This experimence about fenomenal in ritual gumantan from a dance with nama Rentak Gumantan dance. This experimence use the kualitatif metode bi in readiness deskription analysis, express, written and behaviour can quietly from person or perform live Rentak Gumantan dance. At first time this ritual gumantan always believe for society as clearance sale with abuse. However a long time, this ritual gumantan in modification increase to performance art that is Rentak Gumantan dance not bound with ritual characteristic. Now this dance already use in program aesthetics elemen, like a movement, music, composition, thing and costum, finally outward a work have aesthetics value as before as.Keywords: Ritual Gumantan, Rentak Gumantan Dance, Aesthetic

    “HILANG DI MATE” TERINSPIRASI DARI KESENIAN TRADISI LISAN NANDONG DI DESA RAWAJADI KECAMATAN RENGAT KABUPATEN INDRAGIRI HULU

    No full text
    In the Malay community in the city of Rengat, the oral tradition is called Nandong, which in oral literature is used to put children to sleep, usually conveyed with poetry or rhymes and sung rhythmically or humming, this is because Malay culture is always synonymous with poetry or rhymes. Based on the results of the artist's analysis of Nandung art, the artist found uniqueness in the rhythm which has vibrations or vibrato in the swing of the sentences. Then the creator also saw the strength of the poetry or rhyme found in Nandung, where the poetry or rhyme contained in the pantun contained a moral utterance or message conveyed. This is the idea in creating musical compositions using a traditional approach. The author divides it into two parts, beginning and end. In the first part, the focus is on presenting the Nandong pantun as an opening to start this composition, then we move on to the pantun that the author developed accompanied by melodic instruments using working techniques. The author presents the final part of this composition with a work that has developed a vocal melody into a varied and melodic playing, especially on the vocals and rhythm patterns that the author has developed using the work technique

    “INTERPRETASI MOTIF ORNAMEN BADA MUDIAK DI MINANGKABAU”

    Full text link
    Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk memahami falsafah motif bada mudiak di Minangkabau, menafsir kembali hubungannya dengan falsafah “alam takambang jadi guru”. Tentang penciptaan motif, hubungannya dengan alam dan reinterpretasi motif yang berlandaskan doktrin adat Minangkabau yaitu Adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah. Menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data melalui studi pustaka. Orang Minangkabau menamakan tanah airnya Alam Minangkabau. Pemakaian kata alam itu mengandung makna yang tidak bertara, seperti yang diungkapkan dalam mamangannya: Alam takambang jadi guru. Penciptaan karya ornamen Bada Mudiak di Minangkabau merupakan ekspresi dari hasil interpretasi yang berasal dari pengamatan terhadap alam, seperti tumbu-tumbuhan, hewan, serta benda keperluan sehari-hari. Seni Islam menolak untuk menggambarkan manusia dan mahkluk hidup karena ada keyakinan dan kepercayaan yang mengarahkan senimannya ke arah produk kreatif tertentu, doktrin Adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah, meletakkan agama Islam sebagai sumber utama dalam pandangan hidup orang Minangkabau, sehingga visualisasinya cendrung mengarah pada seni yang abstrak (sarian) dan geometrik.             Kata Kunci : Alam,Abstrak, Bada Mudiak, Hul

    TARI KEDURAI IMBANG SEMATO ALAM: REPRESENTASI BUDAYA BENGKULU

    Full text link
    ABSTRAKKedurai Imbang Semato Alam merupakan sebuah wujud karya tari yang mengusung sebuah peristiwa budaya di Kabupaten Lebong. Kedurai Imbang Semato Alam merupakan inovasi baru yang berpijak dari upacara kedurai apem kemudian dilahirkan ke dalam bentuk koreografi tari. Kedurai apem berfungsi sebagai ritual tolak bala. Bebarapa hal yang terdapat dalam peristiwa budaya tersebut diantaranya nilai-nilai yang menjadi pokok mengenai upacara ini yang sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Berkaitan dengan upacara ini bahwa ada hubung kait antara penjamuan kue (pesta kue) dengan bersih desa.Kata kunci: Karya Tari Kedurai Imbang Semato Alam, tolak bala, sistem budaya. ABSTRACTKedurai Imbang Semato Alam is represent a existing dance masterpiece carrying a cultural event in Regency Lebong. Kedurai Imbang Semato Alam is represent the new innovation which tread on from ceremony of kedurai apem then borne into dance choreography form. Kedurai Apem function as ritual refuse the army. Several things which is there are in the cultural event among other things values that becoming fundamental of concerning this ceremony is very hand in glove of its relation with the society. Correlate of this ceremony that there is linking barb between cake feast (cake party) with the countryside cleanness.Keys Word: Dance Masterpiece of Kedurai Imbang Semato Alam, refuse the army, cultural system

    SEBERANG Ilir’S MUSICAL CONCEPT IN SYAROFAL ANAM’S PERFORMANCE AT TWELVES NIGHT IN THE CITY OF PALEMBANG

    Full text link
    This paper aims to reveal the musical concept of Seberang Ilir in the Syarofal Anam at night twelve in Palembang City. The musical concept of Seberang Ilir appears in technical terms related to Pengawak Hadi, Hadi Penjawab, and Rodat being an essential part of the vocal elements and dancer movements. In addition, from the position of the musicians known as musicians of the Penabuh Umak, Ningkah-Ngulung, and Mecah/Ngana’i. Pengwak Hadi means bearer of Hadi, meaning a person who is trusted to bring Shalawatan (priest) in the Syarofal Anam performance. Answering Hadi is a technical term for the role of a supporter of neurologist Anam, that is, intending to reply to the vocals of the Hadi singer; and Rodat ‘s poems Syarofal AnamUmak is a person or group that plays a fixed rhythm (tempo control) on a Terbangan instrument Terbangan pattern of basic. Ningkah is a pattern of flying rhythms beat whose shape gives a shout from the Umak or intersperses the Umak; Ningkah Mecah rhythm patterns wasp marry. Ngulung is a variation of the Tepukan Terbangan pattern Mecah and rhythm or Ngana’I is a partner pattern of Ngulung. The problems discussed in this paper include the formation of the musical concept of Seberang Ilir in the Syarofal Anam at night twelve in Palembang city. Keywords: Musical Concept, Seberang Ilir, Syarofal Anam, Twelfth Night, Palemban

    KESENIAN GAMBANG SEBAGAI IDENTITAS ETNIS TIONGHOA DI KAMPUNG PONDOK KOTA PADANG

    Full text link
    ABSTRAKKesenian Gambang merupakan salah satu bentuk kesenian yang bukan lahir dari tradisi masyarakat Minangkabau. Kesenian Gambang hadir karena terjadinya perpaduan dengan berbagai kebudayaan dari luar tradisi Minangkabau yaitu pengaruh kebudayaan Tiongkok. Kesenian Gambang pada awalnya adalah kesenian penghibur oleh sebagian masyarakat keturunan Cina atau disebut etnis Tionghoa yang ada di Kota Padang. Dalam tulisan ini dibahas tentang budaya apa saja yang mempengaruhi kesenian Gambang tersebut serta simbol dan bentuk komunikasi seperti apa yang teramati dalam kesenian tersebut. Pertunjukan kesenian Gambang juga dijadikan sebagai media interaksi sosial bagi masyarakat Kampung Pondok. Interaksi sosial dalam bentuk kerjasama, persaingan, pertikaian, dan akomodasi. Kajian kesenian Gambang Sebagai media interaksi simbolis dan non simbolis juga terdapat didalam pertunjukannya. Kesenian Gambang juga dijadikan sebagai media komunikasi intrapersonal bagi masyarakat Kampung Pondok untuk proses berfikir melahirkan ide-ide dalam berkreativitas, lain halnya dengan komunikasi interpersonal yang merupakan komunikasi antara individu dengan individu, dan komunikasi antar kelompok, serta sebagai media komunikasi antarbudaya. Selanjutnya untuk menyatakan bagaimana bentuk dan analisis musik dari kesenian Gambang di Kampung Pondok penulis menggunakan berbagai metode dalam mengungkap, menganalisa data sesuai dengan prosedur dan dengan teknik pengolahan. Metode kualitatif dan kuantitatif yang dipakai dalam penelitian ini serta transriptif analisis musik yang dibantu dengan wawancara dari berbagai pihak yang berkompeten dalam kelompok kesenian Gambang diharapkan mampu menjelaskan bagaimana bentuk dan fungsi pertunjukan Gambang sebagai media interaksi secara detail. dengan memakai disiplin kajian etnomusikologi sebagai teori utama, juga memakai pendekatan antropologi dan sosiologi sebagai teori pendukung. Adapun teori yang dipakai adalah teori fungsi, difusi, akulturasi dan analisis musik. Setelah melakukan penelitian maka dapat dijelaskan hasil temuan dari tesis ini. Pertama terjadinya interaksi dalam pertunjukan kesenian Gambang itu sendiri, mulai dari bentuk dan fungsi sebagai komunikasi dalam pertunjukan kesenian Gambang, sampai kepada analisis style dari musiknya. Kata kunci : Pertunjukan, Kesenian Gambang, Interaksi, Komunikasi.ABSTRACT Gambang art is one art form that is not born of a tradition of Minangkabau society. Gambang arts present for the blend with a variety of cultures outside the Minangkabau tradition, namely China. Art is art Gambang at first entertainer by most people of Chinese descent or called ethnic Chinese in the city of Padang. In accordance with the thesis title Gambang Performance Art As A Media Interaction In Chinese Ethnic Village Cottage In Tokyo City Chinatown, in this thesis discussed about the culture that influence the arts and the Gambang symbols and forms of communication such as what was observed in the arts. Performing Arts Gambang also be used as a medium of social interaction for the community of Kampung Pondok. Social interaction in the form of cooperation, competition, conflict, and accommodation. As a media arts studies Gambang symbolic and non-symbolic interaction is also contained in the show. Art Gambang also be used as a medium of interpersonal communication for the public to lodge village thought processes spawned ideas in creativity, another case with interpersonal communication is communication between the individual and the individual, and group communication, as well as intercultural communication medium. Furthermore, to state how the shape and analysis of art Gambang music in Kampung Pondok author uses a variety of methods in uncovering, analyzing the data in accordance with the procedures and processing techniques. Qualitative and quantitative methods of analysis used and transriptif music assisted with interviews from various parties who are competent in the Gambang Art is expected to explain how the form and function as a medium of interaction Gambang performances in detail. using the discipline of ethnomusicology as the study of the major theories, the approach also uses anthropology and sociology as the supporting theory. The theory used is the theory of functions, diffusion, acculturation and musical analysis. After doing research, it can be explained the findings of this thesis. The first occurrence of interactions in art performances Gambang itself, ranging from shape and function as communication in art performances Gambang to the analysis of the style of music. Key words: Performance, Art Gambang, Interaction, Communication

    “Five Of Quin” Eksplorasi Nada Pada Pola Ritme Pengantar Lagu Randai Kuantan Di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau

    Full text link
    Five Of Quin” ini adalah sebuah karya komposisi musik yang terinspirasi dari pola ritme pengantar lagu musik Randai Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Pengkarya melakukan analisa dan eksplorasi nada dari pola Tersebut sehingga menghasilkan sebuah interval nada baru yaitu A,B,Cis,E,Fis, dan nterval nada baru inilah yang menjadi fokus pengkarya Dalam penggarapan karya ini. Tujuan dari pembuatan karya ini adalah Untuk Melakukan sebuah inovasi (pembaruan) yang berawal dari sebuah Kesenian tradisional di berbagai aspek garap kedalam sebuah komposisi musik yang sesuai dengan konsep yang ditawarkan. Dalam penciptaannya, Pengkarya menggunakan beberapa metode penciptaan, yaitu Observasi, Eksplorasi, Diskusi, Kerja Studio, dan Perwujudan. Komposisi musik ini digarap dengan menggunakan pendekatan popular dengan genre EDM (Electronic Dance Music) dan subgenre house music. Kata Kunci: house music; EDM; five of quin; quin, five ABSTRACT"Five Of Quin" is a music composition works that was inspired by the rhythm pattern of the introduction to the Randai Kuantan music song, Kuantan Singingi Regency, Riau Province. The artist analyzes and explores the tone of the pattern so as to produce a new tone interval, namely A, B, Cis, E, Fis, and it is this new tone interval that is the focus of the author in the making of this work. the purpose of making this work is to carry out an innovation (update) that starts from a traditional art in various aspects of working into a musical composition that is in accordance with the concept offered. In its creation, the creator uses several methods of creation, namely Observation, Exploration, Discussion, Studio Work, and Embodiment. This musical composition was composed using a popular approach with the EDM (Electronic Dance Music) genre and house music subgenre.Keywords: house music;  EDM; five of quin; quin; fiv

    PETATAH-PETITIH MINANGKABAU DALAM PENCIPTAAN KOMPOSISI MUSIK "BATAMPEK"

    Full text link
    ABSTRAK Karya komposisi musik “ Batampek”  merupakan musik yang terinspirasi dari sebuah pepatah minangkabau nan buto paambuih lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah paunyi rumah, nan kuaik pambao baban, nan binguan disuruah-suruah, nan cadiak lawan barundiang. pepatah tentang penggambaran seorang pemimpin yang bijaksana yang bisa memanfaatkan sesuatu dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bagaimana seorang peimpin memposisikan dirinya terhadap beragam bentuk manusia yang dipimpinnya.  Kata kunci: Komposisi, Batampek, Pepatah, pemimpin,    ABSTRACT Work of musical composition "Batampek" a musical inspired by a Minangkabau proverb buto paambuih lasuang nan, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah paunyi rumah,nan kuaik pambao baban, nan binguang disuruah-suruah, nan cadiak dibao barundiang. adage about the portrayal of a wise leader who can take advice of something and put something in place. How a leader positioned it self against various forms of human lead.  Key words: Composition, proverb, leader, positio

    MAKNA DAN FUNGSI TARI KAIN DALAM UPACARA BEGAWAI DI INDERAGIRI HULU, RIAU

    Full text link
    ABSTRAKTari Kain merupakan tari tradisional yang terdapat pada masyarakat Talang Mamak di desa Talang Jerinjing Kabupaten Inderagiri Hulu Provinsi Riau, yang ditarikan oleh dua orang laki-laki. Tari ini merupakan tari yang dilakukan pada upacara Begawai masyarakat Talang Mamak Upacara Begawai adalah upacara perkawinan. Tari Kain berasal dari gerak yang berasal dari fenomena dan kejadian alam kemudian dibentuk menjadi sebuah gerak baku yang tidak boleh dirubah ataupun diganti di dalam upacara Begawai tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk tari Kain dalam upacara Begawai. Adapun metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Teori yang digunakan untuk membedah fenomena tari Kain ini adalah teori struktural dari Levi Strauss, teori semiotik Roland barthes.Hasil temuan dari penelitian ini adalah bahwa tari Kain merupakan tari untuk pengesahan perkawinan bagi masyarakat Talang Mamak, seandainya pada upacara perkawinan tidak dilaksanakan tari Kain maka perkawinan dianggap tidak sah secara adat. Dalam gerak-gerak tari Kain mengandung simbol-simbol dan makna-makna tertentu yang terkait dengan kepercayaan masyarakat Talang Mamak. Dengan demikian penelitian ini diberi judul Makna tari kain dalam upacara Begawai pada masyarakat Talang Jerinjing kecamatan Rengat Barat Kabupaten Inderagiri Hulu Provinsi Riau.Kata kunci: Tari Kain, Upacara Begawai, Makna, dan Inderagiri Hulu. ABSTRACTKain dance is a traditional dance that is present in the community in the village Talang Talang Mamak Jerinjing Inderagiri Hulu district of Riau province , which is danced by two men . This dance is a ritual dance performed in public Begawai Talang Mamak Begawai ceremony is the marriage ceremony . Cain dance derived from the motion derived from natural phenomena and events then formed into a raw motion should not be changed or replaced in the Begawai ceremony . The purpose of this study was to determine how the dance form fabrics in Begawai ceremony . The method used is qualitative method . The theory is used to dissect this phenomenon Kain dance is a structural theory of Levi Strauss , Roland Barthes' semiotic theory . The findings from this study is that Cain dance is a dance for the public endorsement for the Talang Mamak marriage , if the marriage ceremony was not held dance Cain then marriage is considered invalid by custom . In the dance movements of fabrics containing symbols and meanings associated with a particular public trust Talang Mamak . This study therefore entitled Meanings dance fabric Begawai ceremony at the sub-district community Jerinjing Gutter West Rengat Inderagiri Hulu Regency Riau Province . Keywords: Dance Fabrics, Begawai ceremony, Meaning, and Inderagiri Hulu
    corecore