43 research outputs found

    Identifikasi Lama Masa Studi Mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Prodi S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2007 s/d 2009 Universitas Negeri Malang

    No full text
    ABSTRAK   Purwaningtyas, Endah. 2013. Identifikasi Lama Masa Studi Mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Prodi S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2007 s/d 2009 Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri Fakuktas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Nurul Aini, M.Pd (2) Agus Sunandar, S.Pd, M.Sn.   Kata Kunci: Identifikasi Lama Masa Studi, Faktor Internal, Faktor Eksternal.   Masa studi adalah waktu yang diperlukan oleh mahasiswa untuk menyelesaikan program pendidikannya, terhitung sejak pertama kali terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Negeri Malang. Masa studi digunakan untuk menentukan kualitas lulusan mahasiswa. Jika ingin memiliki kualitas yang baik mahasiswa harus menyelesaikan studi sesuai dengan masa studi yang telah ditetapkan berdasarkan program studi yang diambil. Mahasiswa yang lulus tepat waktu dengan Indeks Prestasi Komulatif yang cukup memiliki kualitas yang baik dibandingan dengan mahasiswa yang lulus tidak tepat waktu dengan Indeks Prestasi Komulatif yang baik. Banyak mahasiswa prodi S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2007 s/d 2009 yang menyelesaikan studi melebihi batas masa studi ideal yang ditentukan yaitu 4 tahun (delapan semester). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lama masa studi  mahasiswa prodi S1 Pendidikan Tata Busana jurusan Teknologi Industri angkatan 2007 s/d 2009 secara mendalam meliputi faktor internal dan eksternal. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2007 s/d 2009 yang berjumlah 152 mahasiswa, diambil dengan teknik proportional stratified random sampling, sehingga sampel yang didapat dalam penelitian ini secara keseluruhan berjumlah 60 mahasiswa. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket tertutup. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan persentase. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa identifikasi lama masa studi mahasiswa berkaitan dengan jumlah lulusan dan masa studi yang ditempuh mahasiswa memiliki jumlah persentase kelulusan tertinggi adalah mahasiswa angkatan 2007 yaitu berjumlah (62,50%), yang memiliki jumlah persentase kelulusan sedang adalah mahasiswa angkatan 2008 yaitu berjumlah (51,02%), dan mahasiswa yang memiliki jumlah persentase kelulusan terendah adalah mahasiswa angkatan 2009 yaitu berjumlah (0,00%). Masa studi yang ditempuh mahasiswa untuk menyelesaikan studi memiliki jumlah persentase tertinggi adalah mahasiswa menyelesaikan studi dengan lama studi 9 semester yaitu berjumlah (37,18%), Masa studi yang ditempuh mahasiswa untuk menyelesaikan studi memiliki jumlah persentase sedang adalah mahasiswa menyelesaikan studi dengan lama studi 8 semester yaitu berjumlah (14,29%), dan masa studi yang ditempuh mahasiswa untuk menyelesaikan studi memiliki jumlah persentase terendah adalah mahasiswa menyelesaikan studi dengan lama studi 13 semester yaitu berjumlah (3,17%). Berdasarkan hasil analisis, faktor internal yang menyebabkan keterlambatan  masa studi mahasiswa memiliki jumlah persentase tertinggi pada faktor ekonomi berkaitan dengan biaya kuliah berjumlah (48,6%), jumlah persentase sedang pada faktor ekonomi berkaitan dengan biaya kuliah sendiri berjumlah (30%), dan jumlah persentase terendah pada faktor ekonomi berkaitan dengan biaya kuliah dari keluarga berjumlah (16%). Kebanyakan mahasiswa memperoleh uang biaya kuliah dari orang tua mereka (92%), dan mereka merasa kesulitan untuk membiayai praktikum dan uang kontrakan (50%). Hal ini terbaca pada data yang menunjukkan bahwa beberapa mahasiswa menggunakan sebagaian waktunya untuk bekerja demi memenuhi kekurangan biaya yang dialaminya. Faktor pekerjaan memiliki jumlah persentase tertinggi yang mempengaruhi lama masa studi adalah berkaitan dengan mahasiswa bekerja berjumlah (58%), jumlah persentase sedang pada faktor pekerjaan yang mempengaruhi lama masa studi adalah berkaitan dengan mahasiswa tidak bisa memanage waktu berjumlah (34%), dan jumlah persentase terendah pada faktor pekerjaan yang mempengaruhi lama masa studi adalah berkaitan dengan pekerjaan mengganggu kegiatan kuliah berjumlah (20%). Masalah kesehatan memiliki jumlah persentase tertinggi adalah berkaitan dengan penyakit kadang mengganggu kegiatan perkuliahan berjumlah (30%),  jumlah persentase sedang pada masalah kesehatan adalah berkaitan dengan mahasiswa memiliki penyakit bawaan berjumlah (26%), dan jumlah persentase terendah pada masalah kesehatan adalah berkaitan dengan penyakit mengganggu kegiatan perkuliahan berjumlah (10%). Faktor internal berkaitan dengan motivasi, memiliki jumlah persentase tertinggi pada dukungan dari teman atau sahabatnya yaitu sebesar (94%), jumlah persentase sedang pada faktor motivasi adalah berkaitan dengan keluarga yang kurang mendukung kegiatan perkuliahan berjumklah (62%) dan jumlah persentase terendah pada faktor motivasi adalah berkaitan dengan orang tua terkadang mendukung kegiatan perkuliahan berjumlah (6%). Masalah  pribadi memiliki jumlah persentase tertinggi adalah berkaitan dengan mahasiswa yang kadang-kadang malas berjumlah (80%), jumlah persentase sedang pada masalah pribadi adalah berkaitan dengan mahasiswa kurang bersemangat mengerjakan tugas berjumlah (38%), dan jumlah persentase terendah pada masalah pribadi adalah berkaitan dengan mahasiswa malas berjumlah (12%). Faktor eksternal berkaitan masalah penyelesaian skripsi memiliki persentase tertinggi berasal dari dukungan pembimbing berjumlah (90%), jumlah persentase sedang pada masalah penyelesaian skripsi adalah berkaitan dengan intensitas bimbingan yang kadang teratur berjumlah (46%), dan jumlah persentase terendah pada masalah penyelesaian skripsi adalah berkaitan dengan intensitas bimbingan kurang teratur berjumlah (30%). Faktor eksternal lain yang mempengaruhi keterlambatan masa studi adalah faktor administratif yang berkaitan dengan surat menyurat memiliki persentase tertinggi adalah berkaitan dengan pengurusan surat ijin penelitian berjumlah (32%), jumlah persentase sedang pada faktor administratif adalah berkaitan dengan pengurusan surat seminar berjumlah (30%), dan jumlah persentase terendah pada faktor administratif adalah berkaitan dengan pengurusan surat ujian berjumlah (26%). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan (1) Mahasiswa yang bekerja seharusnya bisa lebih  memanage waktunya antara bekerja dan kuliah, sehingga tugasnya sebagai mahasiswa dan pekerja dapat berjalan beriringan dengan baik tanpa mengganggu kegiatan perkuliahannya, (2) Dukungan dari orang tua, keluarga, teman dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam kelancaran kegiatan perkuliahan, seharusnya dukungan tersebut selalu diberikan kepada mahasiswa baik secara langsung maupun tidak langsung oleh orang tua, keluarga dan teman pada khususnya, (3) Mahasiswa seharusnya menyadari bahwa tugas akhir merupakan matakuliah yang harus segera diselesaikan. Oleh karena itu mahasiswa harus tetap semangat untuk bimbingan walaupun menghadapi berbagai rintangan, (4) Mahasiswa yang mengalami keterlambatan studi seharusnya diberikan pembinaan sebagai langkah percepatan agar dapat  lulus pada semester berikutnya

    Servant leadership pada perguruan tinggi berbentuk BLU untuk meningkatkan kinerja dengan self efficacy sebagai variabel mediasi

    Get PDF
    Kepemimpinan telah sejak lama menjadi kajian yang menarik minat para peneliti pada empat dekade terakhir. Mulai dari Stogdill 1974, Rauch & Behling 1984, Bass 1985, Bass & Avolio 1994, Beekun, 1999 dan terus berkembang sampai saat ini. Kisah bagaimana Rektor memaafkan dosen yang kehilangan mobil dinas, serta bagaimana beliau senantiasa meng-sms para dosen dan karyawan di pertengahan malam agar dikaruniai rahmat, barkah serta ampunan dari Allah swt, serta bagaimana beliau berusaha untuk merangkul orang-orang yang mungkin secara ideologi politik kampusnya yang berbeda, serta bagaimana beliau kemudian memberikan hadiah kepada orang yang baru saja ditegur karena melakukan kesalahan, merupakan fenomena yang lahir dari rasa cinta dan kasih sayang yang mendalam dalam lubuk hati beliau. Model di atas jelas selaras dengan apa dikemukan Greenleaf sebagai Servant Leadership, yang tercermin dalam karakter Listening, Empathy dan Stewardship. Pertama, seorang pemimpin harus memiliki karakter yang bermoral melalui peningkatan keyakinan kepada Tuhan sehingga melahirkan empat kekutan spiritual berupa iman, islam, taqwa dan ihsan. Ke empat karakter ini dapat diukur dengan lima parameter kunci berupa perilaku Islami yang menyangkut tentang keadilan, amanah, kebajikan, berusaha meningkatkan kemampuan diri dan menepati janji (Beekun, 1999). Dalam penelitiannya, Beekun (1999) meyakini bahwa karakter yang memiliki moralitaslah yang akan mengarahkan seorang pemimpin untuk mengelola organisasi ke arah yang lebih baik. Karena itu, nilai spiritual yang menyangkut iman, islam, taqwa dan ihsan merupakan bagian dari dimensi kinerja bagi kepemimpinan Islami (Yunus,2009)

    Servant leadership pada perguruan tinggi berbentuk BLU untuk meningkatkan kinerja dengan self efficacy sebagai variabel mediasi

    Get PDF
    Kepemimpinan telah sejak lama menjadi kajian yang menarik minat para peneliti pada empat dekade terakhir. Mulai dari Stogdill 1974, Rauch & Behling 1984, Bass 1985, Bass & Avolio 1994, Beekun, 1999 dan terus berkembang sampai saat ini. Kisah bagaimana Rektor memaafkan dosen yang kehilangan mobil dinas, serta bagaimana beliau senantiasa meng-sms para dosen dan karyawan di pertengahan malam agar dikaruniai rahmat, barkah serta ampunan dari Allah swt, serta bagaimana beliau berusaha untuk merangkul orang-orang yang mungkin secara ideologi politik kampusnya yang berbeda, serta bagaimana beliau kemudian memberikan hadiah kepada orang yang baru saja ditegur karena melakukan kesalahan, merupakan fenomena yang lahir dari rasa cinta dan kasih sayang yang mendalam dalam lubuk hati beliau. Model di atas jelas selaras dengan apa dikemukan Greenleaf sebagai Servant Leadership, yang tercermin dalam karakter Listening, Empathy dan Stewardship. Pertama, seorang pemimpin harus memiliki karakter yang bermoral melalui peningkatan keyakinan kepada Tuhan sehingga melahirkan empat kekutan spiritual berupa iman, islam, taqwa dan ihsan. Ke empat karakter ini dapat diukur dengan lima parameter kunci berupa perilaku Islami yang menyangkut tentang keadilan, amanah, kebajikan, berusaha meningkatkan kemampuan diri dan menepati janji (Beekun, 1999). Dalam penelitiannya, Beekun (1999) meyakini bahwa karakter yang memiliki moralitaslah yang akan mengarahkan seorang pemimpin untuk mengelola organisasi ke arah yang lebih baik. Karena itu, nilai spiritual yang menyangkut iman, islam, taqwa dan ihsan merupakan bagian dari dimensi kinerja bagi kepemimpinan Islami (Yunus,2009)

    Peran kepemimpinan Islami dan kepemimpinan layanan dalam model kinerja dosen pada perguruan tinggi keagamaan Islam negeri di Jawa Timur

    Get PDF
    The performance is one of the important things to achieve the objectives of the organization. The performance of a lecturer at different colleges with a performance at the business-oriented organizations. The performance of a lecturer at the College is intended to achieve the objectives of the Organization through the forth elements in Undang-Undang No. 14 of 2005. These elements include educational activities and teaching, research, public service and other support. The purpose of this research was to analyze the influence of perception of Islamic leadership and servant leadership perception towards the performance of the lecturer through the work engagement and organizational commitment as mediator variables. This research uses a quantitative approach and survey methods, conducted on 148 lecturer civil state (PNS) and the certification status has been serdos of the two Islamic State University accredited A in East Java. The data collection tools used four questionnaires and data from lecturer performance recap (serdos) per semester and even by 2014. The results of this research shows that theoretical models of lectures performance, consisting of perception of Islamic leadership and servant leadership, work engagement and organizational commitment contributes of lecturers performance. Especially viewed through work engagement and organizational commitment dynamic as antecedence of lecturers performance. Noticed that work engagement has a strong and significant antecedent to increased lecturers performance

    Konstruk teoritis dan pengukuran karakteristik kepemimpinan yang melayani pada lembaga pendidikan Islam

    Get PDF
    Organisasi merupakan satuan sosial yang terdiri dari dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan tersebut harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut akan mampu mencapainya bersama. Pada organisasi tersebut masing-masing individu diberi peranan tertentu dalam suatu sistem kerja melalui berbagai kewenangan dan tanggung jawab (Robbins & Judge, 2008). Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan yang saling berkaitan. Tahap pertama merupakan proses konseptualisasi dan konstruksi terhadap kepemimpinan layanan. Tahap kedua dilakukan berdasarkan hasil yang diperoleh dari tahap pertama. Pada tahap ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui uji coba skala kepemimpinan layanan dan analisis faktor skala kepemimpinan layanan . Kepemimpinan Layanan adalah kepemimpinan yang menempatkan manusia sebagai faktor utama dalam organisasi, melibatkan bawahan, menghargai bawahan, memberikan contoh dan komunikatif. Faktor-faktor yang menjadi karakteristik dari kepemimpinan layanan adalah : Keputusan yang melibatkan bawahan dengan musyawarah dan mufakat.Memberikan arahan dan motivasi pada bawahan. Mampu mengakomodir berbagai pendapat dan perbedaan pendapat. Melaksanakan keputusan yang telah disepakati dengan cara bertanggung jawab pada keputusan tersebut. Komunikatif dengan cara mengkomunikasikan kebijakan pada stakeholder. Transparan dengan menumbuhkan semangat kerja.Empati pada bawahan.Faktor/ indikator yang paling dominan dalam pembentukan kepemimpinan layanan adalah : Melaksanakan keputusan dan bertanggung jawabKomunikatifTransparansiIndikator yang paling lemah dalam membentuk kepemimpinan layanan adalah keputusan yang melibatkan bawahan

    Harmoni Islamic Leadership dan Servant Leadership: Relevansi dalam Kinerja Perguruan Tinggi (sertifikat hak cipta)

    No full text
    salah satu upaya untuk menjamin kepuasan kerja karyawan dalam sebuah perguruan tinggi adalah ketepatan penggunaan kepemimpinan disamping hal-hal lainnya. Harmoni Islamic Ledership dan servant leadership terbukti signifikan dalam upaya memberikan kepuasan kerja dan retensi karyawan. Sebuah perguraun tinggi yang menerapkan nilai-nilai kepemimpinan etis dan transformatif cenderung memiliki karyawan yang lebih puas dan loyal. Karena itu, disarankan pemimpin perguruan tinggi mengadopsi prinsip-prinsip kepemimpinan yang mengedepankan [elayanan dan nulai-nilai spiritual guna menciptakan lingkungan kerja yang positif dan berkelanjuta

    Harmoni Islamic Leadership dan Servant Leadership Relevansi Dalam Kinerja Perguruan Tinggi

    No full text
    Harmoni Islamic Leadership dan Servant Leadership: Relevansi dalam Kinerja Perguruan Tinggi menghadirkan sebuah sintesis konseptual dan praktis mengenai kepemimpinan dalam konteks pendidikan tinggi Islam. Dalam konteks transformasi organisasi modern, perguruan tinggi dituntut untuk mengembangkan model kepemimpinan yang tidak hanya efektif secara manajerial, tetapi juga mampu menumbuhkan nilai-nilai moral, spiritual, dan etika pelayanan. Langkah keilmuan semacam ini diperlukan untuk mengeksplorasi keterpaduan antara Islamic Leadership, yang berakar pada prinsip ketauhidan, amanah, keadilan, dan uswah hasanah, dengan Servant Leadership yang menekankan pelayanan, pemberdayaan, empati, dan komitmen terhadap pertumbuhan individu. Kajian yang dikembangkan berguna untuk memaparkan keselarasan nilai antara kedua model kepemimpinan tersebut, serta menegaskan kontribusinya dalam meningkatkan kinerja perguruan tinggi, baik pada ranah tata kelola institusi, budaya akademik, produktivitas sivitas akademika, maupun kualitas layanan pendidikan. Melalui pendekatan literatur kontemporer, analisis empiris, dan studi kasus kelembagaan, buku ini menunjukkan bahwa harmoni antara Islamic Leadership dan Servant Leadership mampu menghasilkan pola kepemimpinan transformatif yang berfokus pada integritas, akuntabilitas, dan pelayanan publik pendidikan. Tentu kemudian, menghasilkan konstruksi pemikiran yang diharapkan memberikan landasan teoritik, inspirasi praktis, dan arah strategis bagi para pemimpin, akademisi, dan pengelola perguruan tinggi dalam membangun model kepemimpinan berkelanjutan yang selaras dengan nilai-nilai Islam dan prinsip kepemimpinan humanistik. Secara aktualitatif, pemikiran tersebut juga diharapkan menjadi referensi penting dalam pengembangan kebijakan, pelatihan kepemimpinan, serta penguatan tata kelola institusi pendidikan tinggi di Indonesia
    corecore