1,721,002 research outputs found

    Penelitian Artistik: Teori dan Praktik

    No full text
    Terminologi penelitian artistik di Indonesia masih relatif baru dan terus berkembang dengan beragam konseptualisasi dan praktiknya sehingga untuk memahami dinamika dan konteksnya harus melihat kembali sejarah seni kontemporer dan konteks politik akhir 1990-an ketika seni menghadapi krisis identitas terkait fungsi sosial dan epistemiknya yang mendorong para seniman dan institusi pendidikan seni terutama di Inggris untuk mencari interaksi lintas disiplin. Namun, konsep penelitian artistik tampaknya muncul sebagai konsekuensi dari fenomena kritis pasca-Perang Dunia II ketika seni mengalami krisis identitas terkait dengan fungsi sosial dan epistemiknya sehingga mendorong beberapa seniman dan institusi pendidikan mulai mencari interaksi lintas disiplin. Dengan munculnya fenomena seni kontemporer sebagai konsep diskursif seni, maka seni konseptual dan praktik eksperimental era 1960-an melihat beberapa seniman bergerak lebih dekat ke investigasi filosofis. Pada 1970- an, pertemuan pertama yang terintegrasi secara institusional antara seni, sains, dan disiplin lainnya hadir seperti Center for Advanced Visual Studies di MIT, ketika seniman mengonfirmasi tradisi avant-garde untuk terlibat dengan teknologi baru; perkembangan ini mendahului munculnya seni bio atau seni net pada 1980-an dan 1990-an. Seiring dengan hal ini, deklarasi Bologna—sebuah reformasi Eropa yang bertujuan untuk standardisasi gelar akademik ditandatangani pada 1999—memperkenalkan formalisasi penelitian artistik melalui program Ph.D. artistik. Selama beberapa tahun terakhir, gagasan penelitian artistik seperti “mengganggu” kebijakan budaya, diskursus ilmiah, dan artistik, yang juga telah dibahas secara ekstensif dalam berbagai proyek pameran dan seminar. Meskipun ada berbagai definisi tentang apa itu penelitian artistik atau apa yang bisa disebut sebagai penelitian artistik, semua definisi memiliki satu kesamaan, yaitu penelitian artistik adalah penelitian yang dilakukan oleh “seniman” sebagai bagian dari praktik artistik mereka. Namun demikian, seiring dengan perkembangannya tentu saja wajar kemudian muncul berbagai tafsir atas definisi yang sudah ada karena berbagai definisi dan deskripsi—berakar pada motivasi yang sangat beragam dan bahkan kadang kontradiktif. Beberapa contoh seperti berkembangnya berbagai wacana di antara para akademisi dan seniman di Eropa. Sekolah seni memang memiliki peran penting dalam tren kontemporer mengenai penelitian artistik seperti misalnya terdapat tiga aspek institusional berdasarkan dampak dari deklarasi Bologna pada sekolah seni, kebutuhan umum untuk melegitimasi pendekatan teoretis dalam pendidikan seni termasuk persoalan pendanaan. Melalui forum tersebut, kesepakatan Pendidikan Tinggi Eropa pada 1999 dan program gelar kemudian direstrukturisasi ke dalam sistem pendidikan tinggi nasional. Di Jerman, sekolah seni harus menghadapi perubahan yang lebih mendalam dibandingkan dengan universitas. Terutama, mereka kehilangan gelar tradisional seperti “Meisterschüler” tanpa dapat menggantinya dengan gelar yang setara. Penelitian dalam praktik artistik—kecuali ketika mereka mencoba mengadopsi konsep pendidikan pada jenjang pascasarjana. Akibatnya, beberapa sekolah seni Jerman memulai program doktoral yang harus dilegitimasi baik secara artistik maupun ilmiah. Memang, ini tidak secara langsung membentuk penelitian artistik itu sendiri, tetapi lebih pada kebutuhan institusional. Perkembangan ini ternyata juga sekaligus memenuhi keperluan lain yang kurang terlihat namun laten, yaitu kebutuhan legitimasi bagi banyak teoretikus yang mengajar di sekolah seni. Teori di banyak sekolah seni bukanlah mata pelajaran utama, melainkan hanya sebagai mata pelajaran pendukung. Tujuan utama gelar tersebut adalah seni, bukan teori. Banyak mata kuliah—seperti filsafat atau sejarah seni—yang diajarkan di sekolah seni sebenarnya adalah jurusan utama di universitas umum sehingga diasosiasikan dengan tingkat penghargaan yang jauh lebih tinggi. Perspektif penelitian artistik yang murni hanya mungkin dilakukan di sekolah seni, berpotensi memberikan keunggulan positif bagi para teoretikus yang mengajar di sekolah seni dan meningkatkan posisi mereka dibandingkan dengan di universitas umum tempat mereka dahulu belajar. Sekali lagi, ini tidak serta-merta membentuk penelitian artistik itu sendiri, melainkan menunjukkan adanya kepentingan institusional

    Keberlanjutan budidaya ikan sistem keramba di danau rawa pening kabupaten semarang

    Full text link
    Danau Rawa Pening secara geografis terletak di 7o04’ LS-7o30’ LS dan 110o 24’46” BT-110o 49’06” BT. Danau tersebut sudah mengalami eutrofikasi akibat pencemaran unsur nitrogen (N) dan fosfat (P). Salah satu aktivitas antropogenik yang menyebabkan pencemaran tersebut adalah budidaya ikan dengan Keramba Jaring Apung (KJA). Dalam rangka meminimalisasi dampak KJA terhadap kerusakan lingkungan, terutama eutrofikasi, pengelolaan KJA harus menerapkan prinsip-prinsip perikanan berkelanjutan. Pada penelitian dilakukan survei untuk mengetahui tingkat kesesuaian pengelolaan KJA dengan prinsip-prinsip keberlanjutan melalui pendekatan deskriptif-kuantitatif. Kajian tersebut dilakukan menggunakan pendekatan metode status Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH) yang dimodifikasi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka, observasi langsung, pengukuran langsung, serta wawancara. Data kemudian digunakan untuk proses skoring dengan skala likert (1=buruk, 2= sedang, 3 = baik). Data hasil skoring kemudian dianalisis dengan melalui aplikasi RAPFISH versi 32-bit pada Ms. Excel. Hasil analisis data menunjukkan bahwa KJA di Danau Rawa Pening kurang berkelanjutan (indeks keberlanjutan 90%; 2) tingkat kesalahan dalam proses skoring pada tiap atribut adalah kecil; 3) ragam pada skoring atribut adalah kecil; 4) proses analisis yang dilakukan akan menghasilkan nilai yang konsisten meskipun dilakukan berulang kali; dan 5) tingkat kesalahan dalam memasukan data adalah kecil. Analisis leverage menunjukkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi status keberlanjutan KJA adalah rasio N : P (nilai leverage 4.129). Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa KJA di Danau Rawa Pening kurang berkelanjutan. Cara pengelolaan yang lebih ramah lingkungan perlu diupayakan

    Pemaparan Pb dan Respon Biomarker Antioksidan pada Inang Pala (Myristica fragrans) dan Benalu Dendrophthoe vitellina (F.Muell.) Tiegh di Pulau Ambon.

    Full text link
    Benalu (Dendrophthoe vitellina (F.Muell.) Tiegh. merupakan tumbuhan hemiparasit yang hidup pada inang pala. Benalu mengandung klorofil, karotenoid, flavonoid, fenolik dan asam askorbat yang dipengaruhi oleh cekaman oksidatif akibat adanya Pb dapat digunakan sebagai biomarker. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis akumulasi kadar Pb, klorofil, karotenoid, flavonoid, asam askorbat, fenolik dan antioksidan pada daun pala dan benalu serta mengkaji responnya terhadap Pb sebagai biomarker Pb. Sampel daun diambil dari 2 lokasi yaitu pada daerah hutan dan dekat jalan. Pengukuran Pb dilakukan menggunakan AAS, klorofil dan karotenoid menggunakan DMSO, flavonoid menggunakan metode AlCl3, fenolik diukur dengan spektrofotometri menggunakan reagen Folin Ciocalteu, asam askorbat menggunakan menggunakan spektrofotometri dan aktivitas antioksidan diuji dengan mengukur nilai IC50 dengan metode 1,1-difenil-2- pikrilhidrazil (DPPH). Hasil analisis kadar Pb, klorofil, karotenoid, flavonoid, asam askorbat, fenolik dan antioksidan pada setiap lokasi dengan uji DMRT menunjukkan hasil yang signifikan (pMistletoe (Dendrophthoe vitellina (F.Muell.) Tiegh is a hemiparasitic plant that lives on nutmeg hosts. Mistletoe contains chlorophyll, carotenoid, flavonoids, phenolic and ascorbic acid, which are affected by oxidative stress due to Pb, which can be used as biomarkers. This study aimed to analyze accumulated levels of Pb, chlorophyll, carotenoids, flavonoids, ascorbic acid, phenolics and antioxidants in nutmeg and parasite leaves and studied their response to Pb as a Pb biomarker. Leaf samples were taken from 2 locations in forest and roadside. Pb measurements were carried out using AAS, chlorophyll and carotenoids using DMSO, flavonoids using the AlCl3 method, phenolics were measured spectrophotometrically using Folin Ciocalteu reagent, ascorbic acid was used spectrophotometry, and antioxidant activity was tested by measuring the IC50 value using the 1,1-diphenyl-2- picrylhydrazyl (DPPH) method. Analysis of levels of Pb, chlorophyll, carotenoids, flavonoids, ascorbic acid, phenolics and antioxidants at each location with the DMRT test showed significant results (

    Effects of EM4 Probiotics on Aquaponic Systems on Growth, and Mortality of Guppy Fish, and Growth of Mint Plant

    Full text link
    Kualitas air merupakan faktor penting dalam pemeliharaan tanaman maupun ikan. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas air khususnya pada sistem akuaponik yaitu menggunakan probiotik. Probiotik EM4 Perikanan dan Tambak memiliki banyak kegunaan, seperti dalam meningkatkan bakteri pengurai bahan organik, menekan pertumbuhan patogen penyakit, dan menstimulasi enzim pencernaan demi menjaga kualitas lingkungan kolam dan tambak. Ikan guppy memiliki bentuk sirip ekor dan pola warna tubuh yang terkait dengan jenis kelamin, dimana jantan memiliki morfologi yang lebih baik dibandingkan betina, sehingga ikan guppy jantan lebih diminati oleh masyarakat. Tanaman mint merupakan tanaman yang mudah dibudidayakan, memiliki nilai ekonomis yang baik, karena dapat dikonsumsi, dan dapat dikembangkan menggunakan metode hidroponik ataupun akuaponik. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis probiotik EM4 Perikanan dan Tambak terhadap perubahan parameter kualitas air, pertumbuhan dan mortalitas ikan guppy, serta pertumbuhan tanaman mint pada aplikasi akuaponik sederhana. Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimental berupa pemberian perlakuan kontrol tanpa probiotik, pemberian 1 ml probiotik EM4 Perikanan dan Tambak yang telah dicampur 100 ml air dengan dosis 1 ml, 2 ml, dan 4 ml. parameter yang diuji meliputi kualitas air (pH, Suhu, TDS, DO), pertumbuhan dan mortalitas ikan, serta pertumbuhan tanaman. Penelitian dilaksanakan selama 4 minggu. Data diinterpretasikan dalam bentuk diagram menggunakan IBM SPSS Statistic version 25, dan analisis data hasil penelitian menggunakan program IBM SPSS Statistic version 25. Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian probiotik EM 4 Perikanan dan Tambak dengan dosis berbeda yang diuji, tidak memberi dampak yang signifikan pada pertumbuhan dan mortalitas ikan, dan pertumbuhan tanaman mint.Water quality is an important factor in the maintenance of plants and fish. One of the efforts to improve water quality, especially in aquaponic systems, is using probiotics. Probiotics EM4 in Fisheries and Ponds have many uses, such as increasing bacteria that decompose organic matter, suppressing the growth of disease pathogens, and stimulating digestive enzymes to maintain the quality of the pond and pond environment. Guppies have a tail fin shape and body-colorpatterns that are related to gender, where males have a better morphology than females, so male guppies are more in demand by the public. Mint is a plant that is easy to cultivate, has good economic value, because it can be consumed, and can be developed using hydroponic or aquaponic methods. This study aims to determine the effect of EM4 fish and pond probiotic dose on changes in water quality parameters, growth and mortality of guppies, and growth of mint plants in simple aquaponics applications. This research method used an experimental method in the form of giving control treatment without probiotics, giving 1 ml of EM4 fish and pond probiotics which had been mixed with 100 ml of water with doses of 1 ml, 2 ml, and 4 ml. The parameters tested included water quality (pH, temperature, TDS, DO), fish growth and mortality, and plant growth. The study was carried out for 4 weeks. The data is interpreted in the form of diagrams using IBM SPSS Statistics version 25, and analysis of research data using the IBM SPSS Statistics version 25 program. This study concludes that the administration of EM 4 fish and pond probiotics with different doses tested did not have a significant impact on fish growth and mortality, and mint plant growt

    KIT IPA AquapartBox: Media Pembelajaran IPA Materi Zat dan Model Partikel Kelas VII

    Full text link
    KIT (Komponen Instrumen Terpadu) merupakan media pembelajaran yang terdiri dari kumpulan alat peraga atau set alat praktikum. KIT dikembangkan dengan metode penelitian pengembangan model ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Berdasarkan analisis kebutuhan, 85% peserta didik tidak pernah melakukan praktikum dan KIT belum pernah digunakan di SMP Kristen Satya Wacana. Berdasarkan analisis, berpotensi untuk dilakukan pengembangan media pembelajaran KIT IPA. KIT AquapartBox didesain untuk meningkatkan pemahaman peserta didik pada materi zat dan model partikel. Media tersebut mengintegrasikan kepedulian lingkungan melalui pemisahan zat untuk memperoleh air bersih. Pada tahap pengembangan, KIT AquapartBox dan perangkat pembelajaran divalidasi dan uji coba. Validator terdiri dari satu dosen biologi, dosen fisika, dan guru IPA. Validator memberi saran yang menjadi dasar revisi produk. KIT AquapartBox dan perangkat pembelajaran kemudian diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Pada tahap ini peserta didik diberikan pre-test dan post-test. Nilai pretes yang diperoleh yaitu 80,14 dan nilai posttest yang diperoleh 87,6. Kedua nilai tersebut dimasukan kedalam rumus untuk menghitung N-Gain, N-Gain yang diperoleh yaitu 0,38. Selanjutnya dilakukan evaluasi akhir untuk mengetahui respon pengguna yaitu guru dan peserta didik. Kesimpulannya, KIT telah berhasil dikembangkan dengan metode ADDIE dan memperoleh N-gain di tingkat sedang.KIT (Komponen Instrumen Terpadu) is a learning medium that consists of a collection of teaching aids or a set of practical tools. KIT was developed using the ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, and Evaluation) model development research method. Based on the needs analysis, 85% of students have never done practicum and KIT has never been used at Satya Wacana Christian Middle School. Based on the analysis, there is potential for developing science KIT learning media. The AquapartBox KIT is designed to increase students' understanding of substances and particle models. This media integrates environmental concerns through the separation of substances to obtain clean water. At the development stage, the AquapartBox KIT and learning tools were validated and tested. The validators consist of a biology lecturer, a physics lecturer and a science teacher. Validators provide suggestions that become the basis for product revisions. The AquapartBox KIT and learning tools are then implemented in learning activities. At this stage students are given a pre-test and post-test. The pretest score obtained was 80.14 and the posttest score obtained was 87.6. These two values are entered into the formula to calculate N Gain, the N-Gain obtained is 0.38. Next, a final evaluation is carried out to determine the response of users, namely teachers and students. In conclusion, KIT was been successfully developed using the ADDIE method and obtained N-gain at a moderate level

    EFFECTIVENESS OF TOMATO (SOLANUM LYCOPERSICUM) NANOHERBAL AS ANTIHYPERGLYCEMIA IN STREPTOZOTOCIN INDUCED DIABETIC RAT

    Full text link
    Diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi di saat insulin yang diproduksi oleh tubuh tidak bisa digunakan secara efektif maupun organ pankreas mengalami masalah dimana insulin tidak dapat diproduksi sebagaimana mestinya. Kebaruan penelitian ini karena meneliti tentang efektivitas nanoherbal tomat (solanum lycopersicum) sebagai antihiperglikemia pada tikus diabetes yang terinduksi streptozotocin. Penelitian ini bertujuan untuk secara sistematis menganalisis dan meninjau hewan dan penelitian pada tikus putih yang diinduksi STZ.  Metode pencarian elektronik dilakukan dengan mencari MEDLINE melalui platform PubMed, Web of Science, Embase melalui platform Ovid, CINAHL, dan Scopus. Penulis juga akan mencari literatur kelabu seperti makalah konferensi, laporan teknis, tesis, dan disertasi di Google Scholar, Google, OpenGrey, ProQuest Disertasi Tesis, dan British Library Ethos. Penulis mencari setiap database hingga November 2021 menggunakan kata kunci MeSH. Istilah pencarian dibagi menjadi tiga komponen, yaitu komponen populasi yang meliputi kata-kata “hewanâ€, “model hewanâ€, “studi praklinisâ€, “hewan percobaanâ€, “hewan percobaanâ€, “hewan laboratorium, †"tikus", "kelinci", "tikus diabetes", "model penyakit hewan". Komponen intervensi dengan kata-kata “Solanum Lycopersicum†“tomat,†dan “nano herbal,†Akhirnya, istilah komponen penyakit akan menjadi "diabetes mellitus, tipe 2," "diabetes mellitus tidak tergantung insulin," "NIDDM," "gangguan metabolisme glukosa," "penyakit metabolik," "hiperlipidemia," "hiperglikemia," "insulin resistensi," dan "intoleransi glukosa." Hasilnya menunjukkan bahwa Efektifitas Nanoherbal tomat (Solanum Lycopersicum) sebagai Antihiperglikemia pada tikus diabetes yang terinduksi Streptozotocin. Kesimpulan penelitiannya ada bukti praklinis bahwa Solanum Lycopersicum efektif dalam menurunkan gula darah tinggi.Kata kunci: Diabetes; Streptozotocin; Tomat.AbstractDiabetes is a chronic disease that occurs when the insulin produced by the body cannot be used effectively or the pancreas has problems where insulin cannot be produced properly. The novelty of this study is that it examines the effectiveness of tomato nanoherbal (Solanum lycopersicum) as an antihyperglycemic agent in streptozotocin-induced diabetic rats. This review aims to systematically analyze and review animals and studies in STZ-induced white mice. An electronic search was carried out by searching for MEDLINE through the PubMed platform, Web of Science, Embase through the Ovid, CINAHL, and Scopus platforms. Authors will also search for gray literature such as conference papers, technical reports, theses, and dissertations on Google Scholar, Google, Open Grey, ProQuest Dissertations Theses, and British Library Ethos. The author searched each database until November 2021 using the keyword MeSH. The search term is divided into three components, namely a population component which includes the words “animalâ€, “animal modelâ€, “preclinical studyâ€, “experimental animalâ€, “experimental animalâ€, “laboratory animal,†“ratâ€, “rabbit ", "diabetic mice", "animal disease models". The intervention component with the words “Solanum Lycopersicum†“tomato,†and “nano herbal,†Finally, the disease component term would be “diabetes mellitus, type 2,†“non-insulin dependent diabetes mellitus,†“NIDDM,†“metabolic disorder. glucose," "metabolic disease," "hyperlipidemia," "hyperglycemia," "insulin resistance," and "glucose intolerance." The results showed that the effectiveness of Tomato (Solanum Lycopersicum) Nanoherbal as Antihyperglycemia in Streptozotocin-induced diabetic rat. The conclusion of the study is that there is preclinical evidence that Solanum Lycopersicum is effective in lowering high blood sugar

    KEMAMPUAN MUSIKALITAS SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN KETERAMPILAN SOSIAL

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen kepekaan musikalitas sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan peran musik dalam pendidikan serta peningkatan keterampilan sosial pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan terhadap 381 siswa kelas 3, 4, dan 5 sekolah dasar di Jakarta dan Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepekaan musikalitas siswa dapat diukur melalui instrumen kepekaan terhadap musik dan kemampuan ini memiliki korelasi yang signifikan dengan skor kecerdasan sosial. Kata kunci: penghargaan diri, musik pendidikan, penilaian kemampuan musikalita

    KEMAMPUAN MUSIKALITAS SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN KETERAMPILAN SOSIAL

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen kepekaan musikalitas sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan peran musik dalam pendidikan serta peningkatan keterampilan sosial pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan terhadap 381 siswa kelas 3, 4, dan 5 sekolah dasar di Jakarta dan Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepekaan musikalitas siswa dapat diukur melalui instrumen kepekaan terhadap musik dan kemampuan ini memiliki korelasi yang signifikan dengan skor kecerdasan sosial.Kata kunci:      penghargaan diri, musik pendidikan, penilaian kemampuan musikalita
    corecore