95 research outputs found

    hubungan pendampingan suami pada ibu bersalin serta dukungan tenaga kesehatan dengan keberhasilan inisisasi menyusu dini

    Get PDF
    Fitriana (S021308035). 2015. Hubungan Pendampingan Suami Pada Ibu Bersalin Serta Dukungan Tenaga Kesehatan Dengan Keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini. Tesis. Pembimbing I : Tamtomo Didik, Pembimbing II: Hanim Diffah, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. ABSTRAK Latar Belakang: Program Inisiasi Menyusu Dini sangat perlu dilakukan kepada bayi yang baru lahir untuk mencegah tingginya kematian neonatal. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah perilaku pencarian puting payudara ibu sesaat setelah bayi lahir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pendampingan suami pada ibu bersalin serta dukungan tenaga kesehatan dengan keberhasilan inisiasi menyusu dini. Subyek dan Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, jenis penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Total Sampling. Besar sampel yaitu 39 ibu bersalin di bidan praktek mandiri (BPM) Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Alat pengumpulan data dengan kuesioner dan lembar observasi. Teknik analisis data regresi logistik ganda. Hasil: Hubungan pendampingan suami dengan keberhasilan inisiasi menyusu dini (OR=3,46; CI95%= 1,44 – 6,00; P=0,014) dukungan tenaga kesehatan dengan keberhasilan inisiasi menyusu dini (OR=2,29; CI95%= 1,58 – 3,91; P=0,048) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pendampingan suami pada ibu bersalin serta dukungan tenaga kesehatan dengan keberhasilan inisiasi menyusu dini di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman. Kesimpulan: Pendampingan suami dan adanya dukungan tenaga kesehatan yang baik akan meningkatkan keberhasilan ibu pasca bersalin dalam melakukan inisiasi menyusu dini pada bayi yang dilahirkanya. Kata Kunci: pendampingan suami, dukungan tenaga kesehatan, inisiasi menyusu dini Fitriana(S021308035). 2014. Relationship Husband On Mother Maternity Assistance And Support Health Workers With Early Initiation of Breastfeeding Success. Thesis. Supervisor I: Tamtomo Didik, Supervisor II: Hanim Diffah, Department of Public Health Sciences, Graduate School, University of March, Surakarta. ABSTRAC

    Information Technology for Children-Friendly City through Corporate Social Responbility (CSR) PT. Telkom AND XL

    Get PDF
    Since 2006, the Indonesian government published its policy of Children-Friendly City (KLA-Kota Layak Anak) to expedite the effort to protect the children. The implementation of this policy is supported by the government institution, companies, society, and academics. Companies playa significant role in creating Children-Friendly City using the CSR program from, among others, PT. Telkom and XL with the internet from which the children can get information they need, despite its positive and negative impacts on their behavior. This is a descriptive qualitative research using focus group discussion (FGD) and interviews to collect the data. Telkom and XL through CSR exerts both positive and negative impacts. The positive impact is that it is easier for the children to get information they need, while the negative is that the children spend most of their time at the computer accessing information which is inappropriate for their age. It is family, the government, and the companies that have responsibility to guide and supervise the children to use IT safely.</jats:p

    Pengaruh Faktor Risiko terhadap Gangguan Muskuloskleletal pada Pekerja Wanita Batik Tulis di Kabupaten Sragen

    Get PDF
    Salah satu risiko bahaya kesehatan pada pekerja batik, khususnya batik tulis adalah sikap kerja duduk yang monoton dengan ukuran tinggi kursi (dingklik) setinggi 14,2 cm, sedangkan tinggi lekuk lutut duduk adalah 36,1 cm, menyebabkan posisi membungkuk saat bekerja. Ketidaksesuaian ukuran dimensi antropometri pekerja dengan sarana kerja, dapat berakibat timbulnya gangguan muskuloskeletal. Menurut Helander (1995), posisi membungkuk dalam waktu lama akan menyebabkan keluhan pada joint angle, yang berkaitan dengan gangguan muskuloskeletal. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang dapat menimbulkan gangguan muskuloskeletal dan produktivitas kerja, mendesain sarana kerja sesuai standar ergonomi, dan mengevaluasi efektifitas disain sarana kerja terhadap perubahan gangguan muskuloskeletal pada pekerja batik tulis. Studi tentang gangguan muskuloskeletal (MSDs) telah menjelaskan bahwa bagian otot yang sering dikeluhkan adalah otot rangka yang meliputi otot leher, bahu, lengan, tangan, jari, punggung, pinggang dan otot-otot bagian bawah. Keluhan sistem muskuloskeletal yang paling banyak dialami oleh pekerja adalah otot-otot bagian pinggang (low back pain = LBP). Selain itu juga ada laporan prevalensi gejala MSDs pada bahu (47,8%), punggung bagian bawah (45,2%), pergelangan tangan (38,2%), leher (35,2%) dan lutut (34,6%). Beberapa penyebab terjadinya gangguan pada sistem muskuloskeletal antara lain umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, kekuatan fisik, dan ukuran tubuh dapat menjadi penyebab terjadinya keluhan muskuloskeletal. Pada umumnya gangguan muskuloskeletal mulai dirasakan pada usia 25 - 35 tahun, dan akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya umur hingga 60 - 65 tahun. Secara fisiologis, jenis kelamin mempengaruhi tingkat gangguan muskuloskeletal karena kemampuan otot wanita 2/3 lebih rendah dibanding pria, sehingga daya tahan otot pria pun lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Kebiasaan Merokok berpengaruh terhadap meningkatnya gangguan otot. Semakin lama dan semakin tinggi frekuensi merokok, semakin tinggi pula tingkat gangguan muskuloskeletal yang dirasakan. Tingkat gangguan muskuloskeletal juga dipengaruhi oleh tingkat kesegaran tubuh, dimana tingkat kesegaran tubuh yang rendah mempunyai risiko terjadinya gangguan muskuloskeletal 7,1%, tingkat kesegaran tubuh sedang 3,2%, dan tingkat kesegaran tubuh tinggi hanya 0,8%. Selain itu faktor penyebab gangguan muskuloskeletal yang lain adalah kurang ergonomisnya sarana kerja, sehingga perlu pendesainan sarana kerja berdasarkan prinsip ergonomi, hal ini diperkuat dengan hasil penelitian bahwa wanita yang gemuk mempunyai risiko dua kali lipat dibanding wanita kurus. Penelitian ini menggunakan jenis eksperimental quasi dengan pendekatan intervensi preventif, dengan desain rancangan perlakuan ulang (one group pre and posttest design). Teknik sampling digunakan quota sampling, dengan kriteria inklusi. Jumlah sampel 50 orang wanita pekerja batik tulis. Dilakukan pengukuran gangguan muskuloskeletal sebelum dan sesudah menggunakan kursi ergonomis. Sebelum menggunakan kursi egonomis, pekerja menggunakan dingklik, kemudian pekerja diminta untuk memakai kursi ergonomis selama 2 bulan, selanjutnya dilakukan uji statistik perbedaan gangguan muskuloskeletal sebelum dan sesudah menggunakan kursi ergonomis menggunakan uji Wilcoxon test, McNemar test, dan Ancova test. Selain itu juga dilakukan uji statistik faktor-kator lain yang menyebabkan gangguan muskuloskeletal menggunakan Chi Square test. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan antara gangguan muskuloskeleltal sebelum dan sesudah menggunakan kursi ergonomis. Secara statistik, faktor umur dan masa kerja tidak berpengaruh baik sebelum maupun sesudah pekerja menggunakan kursi ergonomis. Sementara faktor indeks massa tubuh secara statistik berpengaruh. Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih lanjut pengaruh kursi ergonomis terhadap gangguan muskuloskeletal dengan mengendalikan variabel indeks massa tubuh dilakukan uji Ancova. Hasil uji Ancova menunjukkan nilai yang signifikan, namun mendekati 0,05. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya kursi ergonomis untuk menurunkan tingkat gangguan muskuloskeletal, sehinggapengusaha batik, sebaiknya menyediakan kursi yang ergonomis sesuai dengan ukuran antropometri pekerjanya

    The intakes of vitamin d and zinc and the menstrual periods of the high-school adolescent girls

    No full text
    ABSTRAKLatar belakang: Menstruasi adalah salah satu proses fisiologis dalam pertumbuhan dan perkembangan sistem reproduksi remaja putri yang membutuhkan asupan zat gizi yang memadai. Zinc digunakan sebagai kofaktor pada reseptor estrogen dan progestron sedangkan vitamin D belum diketahui fungsinya dalam mengatur siklus menstruasi. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara asupan vitamin D dan zinc dan durasi menstruasi pada remaja putri. Metode: Sebanyak 154 remaja putri  kelas X dan XI dari dua SMA di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah berpartisipasi dalam studi cross-sectional ini. Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi: usia 15-18 tahun dan tidak sedang menstruasi. Data antropometri dikumpulkan dengan pengukuran berat badan (kg) dan tinggi badan(m) sedangkan asupan vitamin D dan zinc diperoleh menggunakan kuesioner food recall 24 jam dalam 3 hari bergantian. Uji chi-square dan regresi logistik ganda digunakan untuk menganalisis variabel penelitian dengan nilai signifikansi &lt;0,05. Hasil: Semua remaja putri memiliki asupan vitamin D yang tidak adekuat dan 89% diantaranya memiliki asupan zinc yang tidak adekuat. Durasi menstruasi yang panjang terjadi pada 8,4 % remaja putri. Asupan vitamin D yang kurang (OR=4,57; 95% CI = 0,943-22,154; p=0,059) memperpanjang durasi menstruasi sedangkan dan asupan zinc yang kurang (OR=0,247; 95% CI=0,073-0,835; p=0,024) memperpendek durasi menstruasi, dibandingkan dengan asupan vitamin D dan zinc yang cukup pada remaja putri. Kesimpulan: Asupan vitamin D yang kurang meningkatkan durasi menstruasi tetapi asupan zinc yang kurang justru menurunkan durasi menstruasi remaja putri SMA di Kabupaten Sukoharjo. Edukasi gizi di perlukan untuk meningkatkan asupan mikronutrien untuk mempertahankan durasi menstruasi. KATA KUNCI : asupan vitamin D, asupan zinc, menstruasi, remaja putri.ABSTRACTBackground: Menstruation is one of the physiological processes on growth and development of the reproductive system in adolescent girls who need adequate nutrient intake. Zinc is used as a cofactor for estrogen and progestron receptors, while vitamin D has not been known to regulate the menstrual cycle. Insufficient food intake can interfere with the duration of menstruation. Objectives: To analyse the relationship between the intakes of vitamin D and zinc and the menstrual periods of the adolescent girls.Methods: A total of 154 tenth- and eleventh-grade girl students from two senior high schools in Sukoharjo Regency, Central Java participated in this cross-sectional study. They were chosen using purposive-sampling technique with the following inclusion criteria: age of 15-18 years and not menstruating. The anthropometric data were collected by the measurement of Body Weight(kg) and Body Height (m) while the data of vitamin D and zinc intakes were obtained using a 24-hour-food-recall questionnaire in 3 alternating days. Chi-square test and multiple logistic regression were used to analyse the research variables with the significance value of &lt; 0.05. Results: All adolescent girls had inadequate vitamin D intake and 89% of them had inadequate zinc intake. Long menstrual duration occurred in 8.4% of the adolescent girls. The deficient intake of vitamin D (OR = 4.57. 95% CI = 0.943-22.154; p = 0.059) lengthened the menstrual period whereas deficient zinc intake, (OR = 0.247. 95% CI = 0.073-0.835; p = 0.024) shortened it compared with adequate vitamin D and zinc intakes in adolescent girls.Conclusions: The deficient intake of vitamin D increases the menstrual duration, but the deficient intake of zinc actually lowers the menstrual period of high-school girls in Sukoharjo Regency. Nutritional education is needed to increase micro-nutrient intakes to maintain menstrual duration. KEYWORDS: adolescent girls, menstruation, vitamin D intake, zinc intake.Â

    Hubungan Pemberian ASI Eksklusif, Status Gizi, dan Kejadian Diare dengan Perkembangan Motorik pada 1000 Hari Pertama Kehidupan

    Get PDF
    Latar belakang. Pemberian ASI tidak eksklusif dapat menyebabkan risiko kesehatan pada bayi, yaitu penyimpangan perkembangan motorik, serta kejadian diare. Gerakan 1000 HPK, ditujukan untuk mencegah malnutrisi dari awal kehamilan sampai anak usia 2 tahun. Tujuan. Penelitian ini untuk menganalisis hubungan pemberian ASI ekslusif, status gizi, dan kejadian diare dengan perkembangan motorik pada 1000 HPK. Metode. Subjek penelitian adalah ibu yang memiliki anak baduta (>6-24) bulan. Variabel dependen adalah perkembangan motorik, sedangkan independen adalah ASI eksklusif, status gizi, dan kejadian diare. Metode penelitian adalah observasional analitik dengan desain cross sectional. Jumlah subjek 138 baduta, usia >6-24 bulan dipilih secara porposive sampling. Data ASI eksklusif didapat dari buku KIA/KMS, status gizi dengan pengukuran antropometri, kejadian diare didapat berdasarkan wawancara langsung, dan data perkembangan motorik dengan kuesioner KPSP, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi square dan Regresi Logistik. Hasil. Terdapat hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif selama periode 1000 HPK dengan perkembangan motorik baduta (>6-24) bulan (OR=0,45;IK95%=0,21-0,99;p=0.046). Tidak terdapat hubungan antara status gizi selama periode 1000 HPK dengan perkembangan motorik baduta (>6-24) bulan. Tidak terdapat hubungan antara kejadian diare selama periode 1000 HPK dengan perkembangan motorik baduta(>6-24) bulan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa baduta (>6-24) bulan yang tidak diberi ASI eksklusif selama periode 1000 HPK, berisiko 0,45 kali mengalami gangguan perkembangan motorik. Kesimpulan. Pemberian ASI eksklusif kepada baduta (>6-24) bulan selama periode 1000 HPK, memengaruhi perkembangan motorik

    Associations between Nutrition Knowledge, Vitamin C Intake, Nutritional Status, and Blood Pressure among Elderly with Hypertension in Klaten, Central Java, Indonesia

    Get PDF
    Objective: To analyze the correlation between nutrition knowledge, vitamin C intake, and nutritional status on blood pressure among elderly with hypertension. Methods: This was a cross-sectional study with purposive random sampling which was conducted from April to May 2017. This study included one hundred twenty-five elderly subjects with hypertension who met the inclusion criteria (17 males and 108 females), aged ≥60 years, who lived in the work area of Juwiring Public Health Center in Klaten district, Central Java, Indonesia. The data were analyzed statistically by using normality, correlation, and multiple linear regression tests. Results: The results of the correlation test showed that there was a correlation between nutrition knowledge (p=0.011), vitamin C intake (p=0.012), nutritional status (p=0.048), and blood pressure hypertension in elderly based on the results of multiple linear regression. All data were analyzed statistically using Spearman correlation test to examine the distributed data. A significant correlation was found between nutrition knowledge, vitamin C intake, and nutritional status (p<0.05) using multiple linear regression (p<0.05). A normality test using the Kolmogorov-Smirnov test resulted in normal residue with p-value 0.000. The results showed that the regression analysis could be used to predict the blood pressure. Conclusions: There was a correlation between nutrition knowledge and blood pressure of hypertension in elderly. There was a correlation between vitamin C intake and a blood pressure of hypertension in elderly. There was a correlation between nutritional status and a blood pressure of hypertension in elderly

    Micronutrient intake and fundal height determine birth weight

    Get PDF
    The birth weight (BW) are utilized as indicators of the healthy and term newborns. Factor that affects the weight of a newborn are micronutrient intake and fundal height. Folic acid and iron (Fe) were associated with newborn birth weight. Fundal height in centimeters (cm) is the same as the gestational age of the week, the fundal height that is not in accordance with the gestational age is leading to stunted fetal growth. The purpose of this study was to analyze the relationship between intake of folic acid, iron (Fe) and fundal height with newborn birth weight. This research method was an analytic observational using a cross-sectional approach. The sample in this study were 114 pregnant women living in Yogyakarta. Statistical test results proved a significant relationship between the intake of folic acid and iron (Fe) with the newborn birth weight (p &lt; 0.05). There was a significant relationship between the fundal height with the newborn birth weight (p &lt; 0.05). The concludes of this study, pregnant women with adequate folic acid intake, adequate iron intake and normal fundal height tended to give birth newborns with normal birth weight
    corecore