1,720,990 research outputs found

    TRANSISI Wayang, Relief, dan Animasi

    Full text link
    Saat ini transisi video masih standar sesuai platform software bawaan produksi Barat. Daya saing pertelevisian/ perfilman Indonesia dapat ditingkatkan dengan elemen lokal yang tidak dimiliki oleh Barat. Ketersediaan teknik transisi video berbasis seni pertunjukan tradisi khas Indonesia merupakan kebutuhan bagi pada editor video, filmmaker (sineas), dan dosen atau mahasiswa televisi dan film. Untuk itu, bahasan ini ingin mengungkap transisi antaradegan yang terdapat dalam pertunjukan wayang kulit untuk dijadikan referensi bagi pengembangan transisi editing video. Selain itu, juga dibahas transisi dalam seni tradisi yang lain seperti relief dan prasi lontar. Transisi gunungan dalam wayang kulit memiliki benang merah dengan pembatas adegan dalam relief candi berupa pohon, ornamen, atau pohon sorga. Implementasi transisi dalam film animasi menjadi penutup bahasan buku ini, dan diharapkan menjadi inspirasi pembaca untuk mengembangkan transisi antaradegan khas Indonesia

    BATU NISAN ITU BERNAMA “IDENTITAS” Problem “Refleksivitas” dalam Pemikiran filsafat “Post-Modernisme” terhadap masyarakat multikultural

    No full text
    Post-Modern merupakan fenomena baru yang berkembang di dunia belahan barat. Sekelompok filosuf Perancis yang terlibat dalam upaya menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran, makna dan subyektivitas: Foucault, Derrida, lyotard, Lacan dan Deleuze. Kaum Post-Strukturalis dan akhir-akhir ini sering disebut sebagai pemikir post-modernis mengajukan gugatan dan menentang pandangan dunia universal yang menyeluruh, tunggal dan mencakup; baik yang bercorak politik, religius maupun sosial seperti marxisme, kristianitas, kapitalisme, demokrasi liberal, humanisme, islam, fiminisme dan sains modern. Kaum post-modern juga mempertanyakan gagasan tentang kemajuan (progress) serta keunggulan masa kini atas masa lampau. Mereka tidak mengakui adanya batas yang tegas antara ilmu alam, humaniora, ilmu sosial, seni dan sastra, antara budaya dan kehidupan, fiksi dan teori, citra dan realitas. Mereka juga menolak gaya ‘discourse’ akademis yang konvensional (pemikiran modern). Penilaian yang negatif ini berasal dari kesalahan memposisikan pemikiran tradisi filsafat Barat secara umum. Pertama, pemikiran pukul-rata dan dimasukan ke dalam satu kotak dengan sesuatu yang jamak disebut “post-modernisme”. Kedua yaitu Dengan menyamaratakan dekonstruksi dengan post-modernisme, orang-orang cenderung memberikan label nihilis, relativis dan anarkis terhadap dekonstruksi. Ruang Fleksibilitas: mediasi musikal dalam konsep post-modernitas merupakan ruang inter-refleksitas terhadap masyarakat multikultur. Apabila di dalam konsep modern dalam mediasi kesenian terikat oleh konvensi-konvensi yang beku maka di dalam pemikiran pos-modern secara konsepsi kembali ke konteknya walau dalam situasi yang berbeda oleh pranata sosial masyarakat Kunci: modern, dekontruksi, post-modern, ruang fleksibelita

    Artefak Budaya Jawa Dalam Sistem Kebudayaan Nusantara

    No full text
    Culture represent the overall of idea system, action and result are masterpiece of human being in life society. Form and content of culture, according to anthropologist at least has three forms (1) ideas, (2) activities and (3) artifacts. The form of culture are interactive each other. The most abstract system (ideas) looks like stay in the top of system to arrange social system activity more concrete, while the activities in social system yield the material culture (artifact). To ask about Nusantara fine arts, it will not release the Nusantara artifact culture result. Nusantara artifact culture in Java societies represent the expression of Java culture according to the philosophy and the culture system of values its self. Keyword: culture, philosophy

    Estetika Sanggit II

    Full text link
    Merupakan karya ilmiah berupa karya materi kuliah, dengan judul Estetika Sanggit II karya dari Prof. Dr Dharsono, M.Sn

    SENI LUKIS INDONESIA Problem Refleksivitas Dalam Pemikiran Filsafat Post-ModernismeTerhadap Masyarakat Multikultural

    No full text
    Perjalanan seni lukis sejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi. Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran berhasil itu, sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif, dengan munculnya seni konsep (conseptual art): “Instalasi Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/97. Bersama itu pula seni lukis konvensi dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi. Seniman dihadapkan dalam dua pilihan: pertama, tetap sebagai seniman idealis yang mencoba mempertahankan nilai, dengan mempertahankan seni sebagai terapi batin, sehingga mampu menjadi monometalitas zaman, seni senafas dengan zamannya, seni sebagai satu potret kehidupan. Kedua, masuk dalam blantika seni lukis Indonsia, yang cukup menggiurkan. Apabila seniman modern mencoba menceritakan dirinya lewat ekspresi pribadinya, dengan mengungkapkan atau mengekspresikan pengalaman estetiknya dalam simbol-simbol ekspresi yang penuh realitas makna. Maka paradigma seni dalam fenomena kini (kontemporer) menawarkan berbagai gagasan yang ia racik dalam multi media, multi-idea dan bahkan multi tafsir, menghasilkan realitas wacana Kata kunci: pencarian identitas, dekontruksi dan sentuhan tradis

    Estetika Sanggit I

    Full text link
    Merupakan karya ilmiah berupa karya materi kuliah, dengan judul Estetika Sanggit I karya dari Prof. Dr Dharsono, M.Sn

    Mbabar Kaendahan (Estetika) Nusantara

    Full text link
    Merupakan karya ilmiah berupa karya materi kuliah, dengan judul Mbabar Kaendahan (Estetika) Nusantara karya dari Prof. Dr Dharsono, M.Sn

    Garudeya Catur Liman

    Full text link
    Merupakan karya seni batik berupa motif batik yang mengambil inspirasi dari burung garuda. Dua burung garuda terbang berhadapan-hadapan

    SANGGIT Ngudi Kasampurnan

    Full text link
    SANGGIT dalam buku bunga rampai ini membahas tiga ranah, yaitu: 1) Citta Wacana, berisi pertukaran pemikiran atau gagasan tentang sanggit/kreativitas; 2) Adisristi, berisi percikan pengalaman artistic dari kegiatan berkreasi; dan 3) Listuhayu, berisi keindahan-keindahan yang ditemukan pada karya seni hasil dari kreativitas. Cakupan bahasannya hampir di seluruh cabang seni dan desain, di antaranya: seni lukis, seni grafis, desain interior, desain komunikasi visual, arsitektur, kriya, batik, tenun, keris, film, televisi, fotografi, musik, teater, dan karawitan, yang ditulis oleh 41 orang profesor/dosen/peneliti/seniman Indonesia. Sanggit yang digali dari bumi Nusantara ini menjadi langkah awal untuk merumuskan pengetahuan tentang kreativitas yang khas Indonesia untuk dunia

    Reinterpretasi : Motif Pucuak Rabuang pada Media Teko

    Full text link
    AbstractThe creation of ceramic craft motifs of pucuak rabuang motif is a reinterpretation of the philosophy of the Minangkabau tradition "nan bak pucuak rabuang, ketek baguno gadang tapakai†(like a small, useful little bamboo shoot). Through this tradition, it became a source of inspiration for the creators in the creation of ceramic craft art. The motive of pucuak rabuang is a motive with aesthetic and philosophical values, so it needs to be presented again in the art of ceramic craft. The author revealed the philosophical form and meaning of the pucuak rabuang motive through teapot media. The motif of pucuak rabuang is also found in the gadang house and the sarong head, the bottom of the sarong at the end of the scarf or clothing. The motif of pucuak rabuang is useful for the lives of Minangkabau people. With the motive of pucuak rabuang through sociological analysis and an aesthetic approach, it can be said that the presence of the Minangkabau motif of pucuak rabuang has aesthetic value and also expresses various meanings and customs functions as one of the identities of the Minangkabau people.Keyword : Reinterpretation, Motive Pucuak Rabuang,Teapot Abstrak Penciptaan seni kriya keramik motif pucuakrabuang ialah reinterpretasi kembali filosofi adat istiadat Minangkabau “nanbak pucuak rabuang, ketek baguno gadang tapakai (bagaikan pucuk rebung, kecil berguna besar terpakai). Melalui adat istiadat ini menjadi sumber inspirasi pengkarya dalam penciptaan seni kriya keramik.Motif pucuak rabuang merupakan motif dengan nilai estetis dan filosofis, sehingga perlu dihadirkan kembali dalam karya seni kriya keramik.Pengkarya mengungkap kembali bentuk dan makna filosofi pada motif pucuakrabuangmelalui media teko.Motif pucuak rabuang juga terdapat di rumah gadang dan kepala kain sarung, bagian bawah sarung pada ujung selendang atau sandang.Motif pucuak rabuangberguna bagi kehidupan masyarakat Minangkabau.Dengan adanya motif pucuakrabuangmelalui analisis sosiologis dan pendekatan estestis dapat dikatakan bahwa kehadiran motif pucuak rabuang Minangkabau memiliki nilai estetis juga mengisyarakan berbagai makna dan fungsi-fungsi adat istiadat sebagai salah satu identitas masyarakat Minangkabau.Kata kunci: Reinterpretasi, Motif Pucuak Rabuang, Tek
    corecore