3 research outputs found
Identifikasi dan Pemetaan Kue Khas Mojokerto
ABSTRACT Palasari, Devi. 2016. Identifikasi dan Pemetaan Kue Khas Mojokerto. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes., (II) Laili Hidayati, S.Pd., M.Si.Kata Kunci : Pemetaan, Kue Khas, Mojokerto Mojokerto memiliki kue khas yang sangat terkenal yaitu Onde-Onde. Namun dibalik nama besar Mojokerto sebagai kota Onde-Onde, sebenarnya kue khas Mojokerto tidak hanya Onde-Onde. Dinas Pariwisata dan PKK Kota maupun Kabupaten Mojokerto belum mengidentifikasi dan memetakan kue khas di Mojokerto yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu destinasi atau tujuan wisata kuliner. Hal tersebut kemudian berdampak pada minimnya pengetahuan masyarakat mengenai berbagai macam kue khas di Mojokerto. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi berbagai macam kue khas, bahan baku, proses pengolahan kue khas Mojokerto, dan memetakan kue khas yang tersebar di berbagai wilayah Mojokerto.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Sumber data primer diperoleh melalui observasi, wawancara langsung dengan informan. Sumber data sekunder diperoleh melalui foto dan dokumentasi. Informan untuk wawancara pada penelitian ini adalah 9 pengrajin atau pembuat kue khas Mojokerto, 2 pengusaha kue khas Mojokerto dan Dinas PKK Mojokerto. Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan, diperoleh kesimpulan bahwa : (1) Kue khas Mojokerto teridentifikasi dalam dua jenis yaitu kue basah dan kue kering, Kue basah terdiri dari Onde-Onde, Jenang Waluh, Lepet Jagung, dan Jenang Jagung. Kue kering terdiri dari Opak Ladu, Banjar, dan Sagon Ketan, sedangkan Rambak merupakan camilan khas Mojokerto; (2) Mayoritas bahan baku pokok kue khas Mojokerto adalah beras ketan, jagung, dan waluh karena bahan tersebut merupakan potensi alam yang terdapat di Mojokerto; (3) Proses pengolahan kue khas Mojokerto terdiri dari berbagai macam yaitu menguleni, merebus, mengukus, memanggang dan menggoreng; (4) Pemetaan kue khas Mojokerto terbagi pada 10 kecamatan yaitu Kecamatan Magersari, Jetis, Kemlagi, Dawar, Gedeg, Pungging, Bangsal, Mojoanyar, Mojosari dan Gondang
Revitalisasi Pasar Palasari
Pasar Tradisional Palasari merupakan pasar yang terbilang unik karena komoditas penjualan utamanya yang berupa buku. Pasar ini sendiri sudah berdiri cukup lama, namun setelah mengalami pandemi dan digitalisasi yang membuat turunnya minat masyarakat terhadap buku fisik dan berbelanja secara fisik, fungsi lahannya menjadi kurang optimal karena penurunan vitalitas Pasar Palasari, diikuti oleh penurunan jumlah pengunjung dan penyewa kios pasar membuat masyarakat seakan lupa akan adanya Pasar Tradisional Palasari ini. Permasalahan ini juga ditambah dengan aksesibilitas dan sirkulasi Pasar Tradisional Palasari yang tergolong buruk dan minim exposure untuk pengamat dari luar. Pada rancangan kali ini, penulis berusaha untuk menyelesaikan permasalahan turunnya vitalitas Pasar Palasari lewat Revitalisasi yang dibantu oleh Force Based Framework untuk melihat kebutuhan dan merespon dari context, culture, dan needs pada kawasan Pasar Tradisional Palasari. Diiringi juga dengan melihat dan menjadikan aspek-aspek dari dimensi manusia, panca indra, dan skala sebagai acuan untuk membantu rancangan menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut.
=================================================================================================================================
Palasari Traditional Market is a unique market because its main sales commodity is books. This market itself has been established for quite a long time, but after experiencing a pandemic and digitalization which made a decline in public interest in physical books and physical shopping, the function of the land became less optimum because of the decline in the vitality of the Palasari Market, followed by a decrease in the number of visitors and tenants of market stalls making people seem to forget the existence of the Palasari Traditional Market. This problem is also coupled with the accessibility and circulation of the Palasari Traditional Market which is relatively poor and has minimal exposure to outside observers. In this design, the author tries to solve the problem of the decline in the vitality of Palasari Market through revitalization assisted by the Force Based Framework to see the needs and respond to the context, culture, and needs of the Palasari Traditional Market area. Accompanied by seeing and making aspects of the human dimension, five senses, and scale as a reference to help the design solve the problems in Palasari Traditional Market
Tinjauan inkulturasi pada interior Gereja Katolik Hati Kudus Yesus (Palasari) Jembrana-Bali
Gereja Hati Kudus Yesus adalah gereja Katolik tertua di Jembrana-Bali. Gereja ini didirikan pada 15 September 1940 oleh Pastur Simon Buis, SDV. Pada gereja terjadi inkulturasi antara arsitektur budaya gereja Katolik (Eropa) dan Bali baik secara fisik maupun non fisik. Penelitian ini dilakukan untuk meninjau wujud inkulturasi dan juga tahapan inkulturasi yang diterapkan pada gereja Hati Kudus Yesus. Dari hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa inkulturasi pada interior gereja Katolik Hati Kudus Yesus (Palasari) Jembrana-Bali mencapai tahap terjemahan 71% dan tahap asimilasi 29%
