445 research outputs found

    KEDUDUKAN BHINEKA TUNGGAL IKA UNTUK MEMPERKUKUH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA DI MASA PANDEMI

    No full text
    Artikel ini bertujuan untuk memberi gambaran mengenai kedudukan Bhineka Tunggal Ika di Masa Pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan kajian studi pustaka. Informasi yang diambil berupa hal-hal yang berkaitan dengan konsep kebhinnekaan dan pandemi Covid-19. Penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan menelusuri sumber buku, jurnal, dan sumber internet yang relevan. Sebagai bangsa yang memegang teguh semboyan Bhinneka Tunggal Ika sudah sepatutnya bisa mengamalkan semboyan tersebut dalam berbagai hal situasi yang mengancam robohnya persatuan dan kesatuan bangsa. Kebajikan warga negara dalam bentuk mengamalkan dan mengetahui kedudukan Bhinneka Tunggal Ika di kalangan masyarakat dapat dicapai dengan pengetahuan dan kepedulian masyarakat itu sendiri. Kedudukan Bhinneka Tunggal Ika sangat berperan penting dalam memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Negara Republik Indonesia di masa pandemi seperti ini. Dengan menerapkan konsep Bhinneka Tunggal Ika dengan kebersamaan tanpa membeda-bedakan, diharapkan kita dapat bersama-sama melawan Covid-19 tanpa membedakan golongan ataupun latar belakang pekerjaan

    Bhinneka Tunggal Ika: Keanekaragaman Sukubangsa atau Kebudayaan?

    No full text
    In this article, the author presents his thoughts on cultural diversity as the motto of Indonesia nation, on the basis of the ideology of 'Unity in Diversity' (Bhinneka Tunggal Ika). The author has a notion that the meaning of bhinneka tunggal ika was emphasized as ethnics' diversity during New Order (Orde Baru) and Habibies rezim era. It represents the consequence of ethnical politics with plural society model used by the regimes. The fall down of the New Order regime, caused any social conflicts and national disintegration especially in a period of Habibie governance. To rebuild social solidarities and the Indonesian national integration, the author offers model of multiculturalism in comprehending bhinneka tunggal ika which emphasizing equal cultural diversity. The author stresses that the model of multiculturalism only possible exist and expand in societies which uphold principles of democracy, justice supremation of law, and also eradication of corruption and collusion

    Seismic sequence stratigraphy during the Cretaceous through the early Paleogene in the northern Scotian basin (Laurentian Subbasin) offshore Nova Scotia and Newfoundland, Canada:

    No full text
    This thesis uses seismic-sequence-stratigraphic analysis to show the stratigraphic development of the northern Nova Scotia passive margin (the Laurentian Subbasin) during the Cretaceous through Paleogene. It documents the interplay of several variables on margin evolution including changes in relative sea-level, sediment supply, and tectonic activity including thermoflexural subsidence and salt movement. Salt structures, basement-involved deformation, and sparse well control impede the interpretation of stratigraphic patterns in the study area. Despite these difficulties, I have identified eight candidate sequence boundaries using seismic-reflection terminations: (1) top-lap and truncation below a discontinuity, and (2) on-lap and down-lap above a discontinuity. Study of the sequence stratigraphy in the Laurentian Subbasin reveals two significant unconformities, the Jurassic-Cretaceous (Avalon) unconformity and the Cretaceous-Paleogene (KP) unconformity, and seven sequences: three Cretaceous sequences (Sequences 1, 2, and 3) and four Paleogene sequences (Sequences 4, 5, 6 and 7). Change in relative sea level and sediment-supply directions during the Cretaceous are not well documented. Salt tectonics and thermoflexural subsidence created the accommodation space for the Early Cretaceous sequences. System tracts controlled by relative sea-level change show that sediment supply was from the northwest and depocenters migrated from northeast to southeast during the Paleogene. Comparison of the Baltimore Canyon Trough with the Laurentian Subbasin shows that these basins in the passive margin of eastern North America have similarities and differences. The similarity includes the presence of clinoform geometries above the KP boundary indicating aggradational-progradational stratigraphic patterns. The differences include the major Jurassic-Cretaceous (JK) unconformity, the presence of salt structures, and the presence of Paleogene sequences. In the Scotian Basin, the JK unconformity is a major angular unconformity (Avalon unconformity) separating gently dipping Cretaceous rocks above from folded Jurassic rocks below. However, the JK unconformity in the Baltimore Canyon Trough generally is a paraconformity separating subparallel beds above and below the unconformity.M.S.Includes bibliographical references (p. 32-36)by Ika Sulistyaningru

    A propos de etxenika: y a-t-il en topnymie basque des traces du numéral archaïque ika?

    No full text
    Se analiza la formación de los números en euskera, que se cree que vienen de cinco fuentes diferentes. Actualmente "uno" en euskera se dice "bat", pero antiguamente se decía "ika". Los topónimos antiguos terminados por "-ika" son numerosos al sur de los Pirineos al contrario de lo que sucede en Iparralde. Se analiza el nombre "Etxenika" que aparece en varias casas en ZuberoaThe author analyzes the formation of numbers in Basque, which is believed to originate in five different sources. Currently "one" in Basque is "bat", but in ancient times it was "ika". Ancient toponimics ended in "ika" are numerous south of the Pyrinees, whereas the contrary happens in the French Basque Country. The author analyses the name "Etxenika" that appears in several houses in Zubero

    Hubungan Pengetahuan Sikap dan Tindakan Orang Tua Terhadap Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut Anak Sekolah Dasar di Panyabungan Mandailing Natal

    No full text
    Pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai kesehatan gigi dan mulut merupakan perilaku mengenai berbagai hal yang dilakukan untuk menjaga dan merawat rongga mulut agar tidak menjadi tempat berkembangbiak nya bakteri dan virus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengetahuan, sikap, dan Tindakan orang tua mengenai pemeliharaan gigi dan mulut serta hubungannya dengan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik dengan rancangan cross-sectional. Subjek penelitian ini sebanyak 106 orang yang dibagi menjadi 11 orang berusia 20-29 tahun, 53 orang berusia 30-39 tahun, 39 berusia 40-49 tahun dan 3 berusia <50 tahun. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara dengan mengunjungi rumah responden. Uji analisis yang digunakan adalah uji Chi Square dengan nilai kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan orang tua mengenai kesehatan gigi dan mulut di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal yang berkategori baik 42 responden (39,7%), 33 orang (31,1%) berkategori cukup, 31 orang (29,2%) berkategori kurang. Pada bagian sikap orang tua yang berkategori baik sebanyak 81 orang (76,4%), berkategori cukup 25 orang (23,6%). Sedangkan Tindakan orang tua yang berkategori baik 54 responden (50,9%), 21 orang (19,8%) berkategori cukup, 31 orang (29,2%) berkategori kurang. Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan orang mengenai kesehatan gigi dan mulut terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan p yaitu 0,210. Akan tetapi terdapat hubungan bermakna antara sikap dan tindakan orang tua terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal dengan nilai p yaitu 0,015 dan 0,000. Kesimpulan dari penelitian ini adalah anak yang memiliki gigi dan mulut yang tidak terpelihara disebabkan sikap tak acuh atau ketidakpedulian orang tua terhadap pemeliharaan gigi dan mulut anak yang didasarkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua menyebabkannya bersikap tak peduli sehingga menimbulkan tindakan yang kurang dimana menyebabkan gigi dan mulut anak tidak terpelihara, dalam hal ini kepedulian dalam diri anak juga diperlukan untuk lebih membangkitkan pengetahuan orang tua dan anak demi meningkatkan pemeliharaan rongga mulut yang disebabkan kurang edukasi dan menganggap sepele kesehatan gigi dan mulut sehingga menyebabkan gigi anak berlubang.132 HalamanSkripsi Sarjan

    Hubungan Pengetahuan Sikap dan Tindakan Orang Tua Terhadap Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut Anak Sekolah Dasar di Panyabungan Mandailing Natal

    No full text
    Pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai kesehatan gigi dan mulut merupakan perilaku mengenai berbagai hal yang dilakukan untuk menjaga dan merawat rongga mulut agar tidak menjadi tempat berkembangbiak nya bakteri dan virus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengetahuan, sikap, dan Tindakan orang tua mengenai pemeliharaan gigi dan mulut serta hubungannya dengan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik dengan rancangan cross-sectional. Subjek penelitian ini sebanyak 106 orang yang dibagi menjadi 11 orang berusia 20-29 tahun, 53 orang berusia 30-39 tahun, 39 berusia 40-49 tahun dan 3 berusia <50 tahun. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara dengan mengunjungi rumah responden. Uji analisis yang digunakan adalah uji Chi Square dengan nilai kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan orang tua mengenai kesehatan gigi dan mulut di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal yang berkategori baik 42 responden (39,7%), 33 orang (31,1%) berkategori cukup, 31 orang (29,2%) berkategori kurang. Pada bagian sikap orang tua yang berkategori baik sebanyak 81 orang (76,4%), berkategori cukup 25 orang (23,6%). Sedangkan Tindakan orang tua yang berkategori baik 54 responden (50,9%), 21 orang (19,8%) berkategori cukup, 31 orang (29,2%) berkategori kurang. Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan orang mengenai kesehatan gigi dan mulut terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan p yaitu 0,210. Akan tetapi terdapat hubungan bermakna antara sikap dan tindakan orang tua terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal dengan nilai p yaitu 0,015 dan 0,000. Kesimpulan dari penelitian ini adalah anak yang memiliki gigi dan mulut yang tidak terpelihara disebabkan sikap tak acuh atau ketidakpedulian orang tua terhadap pemeliharaan gigi dan mulut anak yang didasarkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua menyebabkannya bersikap tak peduli sehingga menimbulkan tindakan yang kurang dimana menyebabkan gigi dan mulut anak tidak terpelihara, dalam hal ini kepedulian dalam diri anak juga diperlukan untuk lebih membangkitkan pengetahuan orang tua dan anak demi meningkatkan pemeliharaan rongga mulut yang disebabkan kurang edukasi dan menganggap sepele kesehatan gigi dan mulut sehingga menyebabkan gigi anak berlubang.132 HalamanSkripsi Sarjan

    Relationship between The Habits of Parents or Guardians in Cleaning The Oral Cavity with Changes in Salivary pH in Stunted Children Aged 2-5 years in Medan Belawan District

    No full text
    Oral health is important in the life of every individual including children. The behavior patterns of stunted children in maintaining their oral health are still relatively low when compared to children with balanced nutrition. Stunting conditions can cause disrupted child development including developmental disorders in the oral cavity and stunted children are more susceptible to dental caries due to changes in salivary characteristics such as a decrease in flow rate and pH. The role of parents is needed in cleaning the child's oral cavity, therefore the purpose of this study was to determine the relationship between parental habits in cleaning the oral cavity of stunted children with changes in salivary pH with the bullet journal method. The type of research conducted was quasi-experimental with a pretest and posttest design. Data collection was carried out by filling out informed consent and questionnaires by parents and measuring salivary pH and filling out bullet journals which were carried out before and after providing education. The sample of children in this study were 30 stunted children aged 2-5 years with 15 boys and 15 girls. The research variables were tested with the Wilcoxon , t-test and Spearman tests. The results of this study showed a significant difference between the difference in parental knowledge before and after education (p = 0.000), a significant difference between parental behavior before and after education (p = 0.000) and a significant difference between salivary pH before and after education (p = 0.000). The results of the spearman correlation test showed a weak relationship between knowledge and salivary pH of stunted children obtained a value of (p = 0.388) and there was a moderate relationship between behavior and salivary pH of stunted children obtained a value of (p = 0.021).121 PagesSkripsi Sarjan

    Hubungan Waktu Erupsi Gigi Premolar Satu dan Dua Mandibula dengan Usia, Jenis Kelamin dan Indeks DMFT di Klinik Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak RSGM USU tahun 2019-2021

    No full text
    Hubungan Waktu Erupsi Gigi Premolar Satu dan Dua Mandibula dengan Usia, Jenis Kelamin dan Indeks DMFT di Klinik Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak RSGM USU tahun 2019-2021 xiii + 56 halaman Erupsi gigi adalah pergerakan gigi dari tempat perkembangannya di tulang alveolar menuju bidang oklusal di rongga mulut. Perkiraan waktu erupsi gigi merupakan pedoman perencaan kesehatan gigi anak termasuk mendiagnosis, mencegah, dan mengobati pada kedokteran gigi anak dan ortodontik. Rata-rata waktu erupsi gigi desidui dan permanen sudah ditentukan dalam berbagai pustaka yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengetahui rata-rata usia normal erupsi sebuah gigi, serta mengetahui usia anak yang ditandai dengan erupsi gigi tertentu. Dalam proses perkembangannya, tentu dapat terjadi berbagai kondisi yang tidak diharapkan di luar kontrol individu maupun dokter gigi sehingga menyebabkan adanya kelainan pada gigi, misalnya dari segi ukuran, warna, jumlah, bentuk, termasuk waktu erupsi. Abnormalitas waktu erupsi dapat berupa erupsi prematur, atau waktu erupsi yang terlambat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan erupsi gigi premolar satu dan dua mandibula dengan usia, jenis kelamin dan indeks DMFT. Jenis penelitian yang dilakukan yaitu penelitian deskriptif analitik dengan rencana penelitian cross sectional menggunakan lembar pemeriksaan lengkap perawatan gigi anak Klinik IKGA RSGM USU tahun 2019-2021. Metode pengambilan sampel adalah total sampling sehingga didapat total sampel sebanyak 755 lembaran pemeriksaan dan dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukkan data distribusi frekuensi dari beberapa karakteristik penelitian seperti jumlah data; jumlah pasien berdasarkan usia dan jenis kelamin; data gigi premolar satu dan dua mandibula yang belum dan sudah erupsi; dan data pengalaman karies anak berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kriteria perhitungan Indeks DMFT menurut WHO. Analisis statistik menggunakan aplikasi SPSS menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara erupsi gigi 34 dengan jenis kelamin (p value = 0,15), gigi 44 (p value = 0,010), gigi 35 (p value = 0,030), serta gigi 45 (p value = 0,009). Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara erupsi gigi 34 dengan Indeks DMFT (p value = 0,000), gigi 44 (p value = 0,000), gigi 35 (p value = 0,000), serta gigi 45 (p value = 0,000). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara erupsi gigi premolar satu dan dua mandibula dengan jenis kelamin. Terdapat hubungan antara erupsi gigi premolar satu dan dua mandibula dengan Indeks DMFT114 HalamanSkripsi Sarjan

    Relationship between The Habits of Parents or Guardians in Cleaning The Oral Cavity with Changes in Salivary pH in Stunted Children Aged 2-5 years in Medan Belawan District

    No full text
    Oral health is important in the life of every individual including children. The behavior patterns of stunted children in maintaining their oral health are still relatively low when compared to children with balanced nutrition. Stunting conditions can cause disrupted child development including developmental disorders in the oral cavity and stunted children are more susceptible to dental caries due to changes in salivary characteristics such as a decrease in flow rate and pH. The role of parents is needed in cleaning the child's oral cavity, therefore the purpose of this study was to determine the relationship between parental habits in cleaning the oral cavity of stunted children with changes in salivary pH with the bullet journal method. The type of research conducted was quasi-experimental with a pretest and posttest design. Data collection was carried out by filling out informed consent and questionnaires by parents and measuring salivary pH and filling out bullet journals which were carried out before and after providing education. The sample of children in this study were 30 stunted children aged 2-5 years with 15 boys and 15 girls. The research variables were tested with the Wilcoxon , t-test and Spearman tests. The results of this study showed a significant difference between the difference in parental knowledge before and after education (p = 0.000), a significant difference between parental behavior before and after education (p = 0.000) and a significant difference between salivary pH before and after education (p = 0.000). The results of the spearman correlation test showed a weak relationship between knowledge and salivary pH of stunted children obtained a value of (p = 0.388) and there was a moderate relationship between behavior and salivary pH of stunted children obtained a value of (p = 0.021).121 PagesSkripsi Sarjan

    Hubungan Pengetahuan Sikap dan Tindakan Orang Tua terhadap Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut Anak Sekolah Dasar di Panyabungan Mandailing Natal

    No full text
    Pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai kesehatan gigi dan mulut merupakan perilaku mengenai berbagai hal yang dilakukan untuk menjaga dan merawat rongga mulut agar tidak menjadi tempat berkembangbiak nya bakteri dan virus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengetahuan, sikap, dan Tindakan orang tua mengenai pemeliharaan gigi dan mulut serta hubungannya dengan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik dengan rancangan cross-sectional. Subjek penelitian ini sebanyak 106 orang yang dibagi menjadi 11 orang berusia 20-29 tahun, 53 orang berusia 30-39 tahun, 39 berusia 40-49 tahun dan 3 berusia <50 tahun. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara dengan mengunjungi rumah responden. Uji analisis yang digunakan adalah uji Chi Square dengan nilai kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan orang tua mengenai kesehatan gigi dan mulut di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal yang berkategori baik 42 responden (39,7%), 33 orang (31,1%) berkategori cukup, 31 orang (29,2%) berkategori kurang. Pada bagian sikap orang tua yang berkategori baik sebanyak 81 orang (76,4%), berkategori cukup 25 orang (23,6%). Sedangkan Tindakan orang tua yang berkategori baik 54 responden (50,9%), 21 orang (19,8%) berkategori cukup, 31 orang (29,2%) berkategori kurang. Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan orang mengenai kesehatan gigi dan mulut terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan p yaitu 0,210. Akan tetapi terdapat hubungan bermakna antara sikap dan tindakan orang tua terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal dengan nilai p yaitu 0,015 dan 0,000. Kesimpulan dari penelitian ini adalah anak yang memiliki gigi dan mulut yang tidak terpelihara disebabkan sikap tak acuh atau ketidakpedulian orang tua terhadap pemeliharaan gigi dan mulut anak yang didasarkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua menyebabkannya bersikap tak peduli sehingga menimbulkan tindakan yang kurang dimana menyebabkan gigi dan mulut anak tidak terpelihara, dalam hal ini kepedulian dalam diri anak juga diperlukan untuk lebih membangkitkan pengetahuan orang tua dan anak demi meningkatkan pemeliharaan rongga mulut yang disebabkan kurang edukasi dan menganggap sepele kesehatan gigi dan mulut sehingga menyebabkan gigi anak berlubang.132 HalamanSkripsi Sarjan
    corecore