3 research outputs found
Evaluasi Tools SIMANTAV dan Penilaian Kinerja Infrastruktur dan Keberlanjutan TPA Pilot Project : TPA Muna
Keberadaan sebuah TPA sampah dalam sistem pengelolaan sampah adalah penting dalam upaya mewujudkan lingkungan yang lebih nyaman, bersih dan sehat. Namun saat ini terdapat berbagai macam masalah dalam pengelolaan sampah di TPA sampah baik pada saat perencanaan, pelaksanaan konstruksi dan operasi dan pemeliharaan TPA sampah. Untuk mengetahui penerapan kebermanfaatan dan keberfungsian dari penerapan sistem informasi manajemen untuk pemantauan dan evaluasi infrastruktur Bidang Sanitasi khususnya TPA sampah dalam aplikasi SI-MANTAV, maka perlu dilihat keterkaitan dari implementasi SI-MANTAV dengan kondisi capaian kinerja aktual di lapangan baik pada Tahap Kesiapan Pelaksanaan, Tahap Pelaksanaan Konstruksi maupun Tahap Pasca Konstruksi untuk TPA Sampah. Hasil Penelitian yang telah dilakukan untuk Evaluasi kinerja SIMANTAV yang sudah dapat mewakili bagaimana gambaran kondisi lapangan tanpa harus meninjau langsung. Pada Evaluasi Indikator dan Parameter Tahap Pasca Konstruksi SIMANTAV dilakukan pada Indikator Relevansi, Efektivitas, Efisiensi, Dampak, dan Keberlanjutan dapat disimpulkan bahwa pembobotan perlu dilakukan untuk penilaian kinerja secara keseluruhan setiap parameter agar didapat kinerja keseluruhan secara merata. Evaluasi Kinerja Infrastruktur TPA Muna pada Hasil penilaian kinerja dari indikator dan parameter untuk pasca konstruksi “Pembangunan TPA Sampah Kabupaten Muna” ini termasuk pada kategori Infrastruktur Kurang Optimal, dengan total nilai 8,39. Indikator yang paling punya pengaruh atas hasil kinerja adalah Indikator Dampak. Pemda Muna yang mana adalah Dinas Lingkungan Hidup belum pernah melakukan pengujian kualitas IPL. Sedangkan untuk indikator keberlanjutan yang punya selisih >50% tidak sesuai dengan target capaian parameter yang paling tinggi, yaitu: Aspek Kelembagaan. Hal ini disebabkan pendampingan operator dan pengelola belum maksimal. Strategi pengelolaan yang diusulkan adalah Peningkatan anggaran dan perbaikan teknologi serta penambahan sarana dan prasarana di bidang persampahan Pemerintah Daerah Kabupaten Muna; Optimalkan pengelola UPTD sesuai tugas dan fungsinya; Penguatan monitoring dan evaluasi dengan pengujian kualitas lingkungan; Penguatan pendampingan kepada operator; Optimalkan untuk sosialisasi retribusi untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam bidang persampahan; Menjalankan SOP dan mengoptimalkan ketersediaan sarana dan prasarana; Komitmen kuat Pemda dalam mengelola TPA sangat besar harus didukung pembiayaan yang cukup; Penguatan pemahaman kepada penentu kebijakan tentang pentingnya untuk pengelolaan TPA sehingga sistem pengelolaan sesuai rencana (sanitary landfill)
Evaluation on Sustainability of Technological Dimension Biopore Absorption Hole Management for Soil Water Conservation in Semarang City
Biopore technology innovation is an easy and cheap technology that can be applied in any class of society. Biopore Absorption Hole (BAH) is a cylincric vertical hole with a relatively small diameter. Eventhough the diameter is not so big, it is still effective to absorb groundwater.The dimension of technology reflected how this BAH tecnology is applied to the Management of BAH within the society of Semarang City.In order to achieve maximum results, an evaluation toward the sustainability of the dimension of BAH Management technology in Semarang City needs to be performed.The objectives of this research are to:1) studying the status of technology dimension in maintaining BAH, 2) studying sensitive attributes having influence toward index value and the sustainability status of technology dimension in maintaining BAH, as well as 3) formulating the priorities for policies applicable to technology in maintaining BAH in Semarang.The research took place in three administrative villages (Srondol Wetan, Jatingaleh, and Bendan Ngisor) in the city of Semarang.Those three locations were chosen to represent upper, middle, and lower regions of Semarang as water absorption area.The analysis of status determining data and leveraging factor was conducted using RAP – biopore method, while the the making of policy priorities was performed by using Analitycal Hierarchy Process (AHP).Results suggest that the status of the sustainability of Semarang’s BAH Management technology dimension was on “less sustainable” status (25,01 – 50,00). The strategy of enhancing influential sensitive attributes to improve sustainability status was a great success in affecting the values and sustainability status
Evaluation on Sustainability of Technological Dimension Biopore Absorption Hole Management for Soil Water Conservation in Semarang City
Biopore technology innovation is an easy and cheap technology that can be applied in any class of society. Biopore Absorption Hole (BAH) is a cylincric vertical hole with a relatively small diameter. Eventhough the diameter is not so big, it is still effective to absorb groundwater.The dimension of technology reflected how this BAH tecnology is applied to the Management of BAH within the society of Semarang City.In order to achieve maximum results, an evaluation toward the sustainability of the dimension of BAH Management technology in Semarang City needs to be performed.The objectives of this research are to:1) studying the status of technology dimension in maintaining BAH, 2) studying sensitive attributes having influence toward index value and the sustainability status of technology dimension in maintaining BAH, as well as 3) formulating the priorities for policies applicable to technology in maintaining BAH in Semarang.The research took place in three administrative villages (Srondol Wetan, Jatingaleh, and Bendan Ngisor) in the city of Semarang.Those three locations were chosen to represent upper, middle, and lower regions of Semarang as water absorption area.The analysis of status determining data and leveraging factor was conducted using RAP – biopore method, while the the making of policy priorities was performed by using Analitycal Hierarchy Process (AHP).Results suggest that the status of the sustainability of Semarang’s BAH Management technology dimension was on “less sustainable” status (25,01 – 50,00). The strategy of enhancing influential sensitive attributes to improve sustainability status was a great success in affecting the values and sustainability status. Keywords :Biopore, RAP-Fish Modification, Sensitive Attribute, AHP, BAH Management
