1,722,135 research outputs found
Tabligh Ustaz Dede Dendi di masyarakat adat Banten : Studi dramaturgi tabligh Ustaz Dede Dendi di masyarakat adat Lebak Lame Desa Cijengkol Kec. Cilograng Kabupaten Lebak
Ustaz Dede Dendi lahir di Lebak Lame 31 Desember 1995 Ustaz Dede Dendi merupakan da’i asal Banten sekaligus sosok ustaz yang sangat disegani oleh masyarakat bahkan keseganan dan ke Ilmuan Ustaz Dede Dendi sampai dipercayai menjadi pengajar di Pondok Pesantren Al-Ihsan Cibiru Hilir.
Fokus penelitian ini terbagi kedalam tiga bagian, yaitu pertama mengenai bagaimana front stage (panggung depan) tabligh Ustaz Dede Dendi di masyarakat Adat Banten. Kedua mengenai bagaimana back stage (penggung belakang) tabligh Ustaz Dede Dendi di masyarakat Adat Banten. Ketiga bagaimana penampilan Ustaz Dede Dendi di masyarakat Adat Banten.
Landasan pemikiran dari penelitian mengunakan teori “dramaturgi” yang di gagas oleh Erving Goffman dalam bukunya “The Presentation of Self In Everyday Life.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang akan menjelaskan temuan penelitian. Data yang didapatkan melalui wawancara dan observasi yang menghasilkan sajian data dalam bentuk kalimat dan kata-kata. Setelah data dikumpulkan, kemudian dianalisis kembali untuk memastikan bahwa interprestasi peneliti tentang masalah dan fenomena yang diteliti lebih kuat.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa tabligh Ustaz Dede Dendi di masyarakat Adat Banten terdapat tiga aspek, yaitu Front stage (panggung depan), Back stage (panggung belakang) dan Penampilan. Front satge pada dimenasi setting lebih terlihat dari aksesoris yang ia kenakan yaitu cincin batu akik dan peci songkok waton. Kemudian Front personal Ustaz Dede Dendi memiliki karismatik yang mendukung perannya sebagai penceramah. Selanjutnya Back satage sebagai ruang pribadi terdapat bahwa beliau tidak menampilkan sosok seorang penceramah dalam artian dapat menyelesaikan kapan beliau menjadi mubaligh dan kapan beliau menjadi masyarakat biasa. Kemudian Back stage sebagai area untuk persiapan sebelum tampil Ustaz Dede Dendi memiliki ritual persiapan sebelum manggung yaitu air gamir dan air kelapa yang dipercaya dapat membantu menetralkan suara dan membuat suara lebih merdu. Secara keseluruhan Penampilan yang beliau kenakan menyesuaikan dengan kultur budaya masyarakat Adat Banten sehingga pesan tabligh yang disampaikan sangat diterima oleh masyarakat Adat Banten
Two Thousand Years in Dendi, Northern Benin:Archaeology, History and Memory
In Two Thousand Years in Dendi, Northern Benin an international team examines a little-known part of the Niger River valley, West Africa, over the longue durée. This area, known as Dendi, has often been portrayed as the crossroads of major West African medieval empires but this understanding has been based on a small number of very patchy historical sources. Working from the ground up, from the archaeological sites, standing remains, oral traditions and craft industries of Dendi, Haour and her team offer the first in-depth account of the area. Contributors are: Paul Adderley, Mardjoua Barpougouni, Victor Brunfaut, Louis Champion, Annalisa Christie, Barbara Eichhorn, Anne Filippini, Dorian Fuller, Olivier Gosselain, David Kay, Nadia Khalaf, Nestor Labiyi, Raoul Laibi, Richard Lee, Veerle Linseele, Alexandre Livingstone Smith, Carlos Magnavita, Sonja Magnavita, Didier N'Dah, Nicolas Nikis, Sam Nixon, Franck N’Po Takpara, Jean-François Pinet, Ronika Power, Caroline Robion-Brunner, Lucie Smolderen, Abubakar Sule Sani, Romuald Tchibozo, Jennifer Wexler, Wim Wouters
Gaya retorika Ustaz Dede Dendi dalam berdakwah
Islam yang merupakan agama dakwah, berperan dalam menyebarkan kebenaran dan mengundang individu yang belum memeluknya untuk mempercayai ajarannya. Dakwah disampaikan oleh orang yang memiliki ilmu keislaman lebih, maka banyak sekali pendakwah-pendakwah yang memiliki ciri khasnya masing-masing mulai dari bahasa, style, dan juga gaya yang berbeda. Setiap da'i memiliki pesan dan pandangan agama yang serupa, namun, perbedaan dalam menyampaikan pesan tersebut dapat menjadi hal yang menarik bagi mad’u, sehingga perlu adanya pemahaman mengenai retorika yang digunakan. Berdasarkan konteks di atas, permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini terkait pada bagaimana gaya retorika ustaz Dede Dendi dalam berdakwah berdasarkan gaya bahasa, gaya suara, dan gaya gerak tubuh.
Penelitian ini dikaji dengan teori retorika Aristoteles yang termasuk pada satu tahapan penyusunan pidato yaitu style (Elocutio) yang dikombinasikan dengan konsep Gorys Keraf yang terdiri dari gaya bahasa, gaya suara, dan gaya gerak tubuh Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh melalui dokumentasi foto dan rekaman suara dan juga diperoleh melalui wawancara informan secara langsung.
Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya bahasa yang digunakan ustaz Dede Dendi adalah gaya bahasa yang bervariasi baik gaya bahasa berdasarkan pilihan kata, nada, dan struktur kalimat. Ustaz Dede Dendi menempatkan penggunaan gaya bahasa dengan baik dan menyesuaikan dengan bobot kepentingan pesan yang disampaikan. Gaya suara yang digunakan oleh ustaz Dede Dendi dalam berdakwah adalah pitch (tekanan) dan jeda untuk memberikan pemahaman secara mendalam terkait isi dalam dakwahnya, ditambah gerak tubuh dengan sikap badan yang santai dan pakaian yang rapih dan sopan, ekspresi wajah dan gerakan tangan digunakan terlihat sangat jelas dan menyesuaikan isi pesan seperti senyum, mengerutkan alis, mata yang tajam, menggerakkan tangan, menguncupkan jari sehingga ceramahnya dapat lebih mudah dimengerti dan dipahami
[Exchange Lecture] ID 492 Immersive Design - Mr. Dendi Permadi
Exchange Lecture ID 492 Immersive Design dibawakan oleh Mr. Dendi Permadi selaku Dosen dari Fakultas Multimedia Kreatif, Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA), Multimedia University (MMU)
Tipografi: Sebuah Pengantar Dendi Sudiana
Sering dinyatakan bahwa “era milenium baru merupakan era masyarakat tanpa kertas” (paperless society) dan akhir dominasi grafika lama. Adakah yang lestari? Pada awalnya adalah kata, kemudian t ulisan, lalu tipografi. Demikianlah, pekerjaan penerbitan buku, surat kabar dan sebaran lainnya, baik melalui media cetak nyata maupun mayatara (cyberspace
Pollen abundances in Lake Dendi sediments
Northern Africa's past hydroclimate is characterized by a prolonged humid period known as the African Humid Period (AHP), giving origin to the "Green Sahara" and supporting human settlements into areas that are now desert. The spatial and temporal extent of climate change associated with the AHP is, however, subject to ongoing debate. Uncertainties arise from the complex nature of the African climate, which is controlled by the strength and interactions of different monsoonal systems, resulting in meridional shifts in rainfall belts and zonal movements of the Congo Air Boundary (CAB), associated with changes in dominant moisture sources. Here, we examine a ~12,500-year record of hydroclimate variability from Lake Dendi, East Africa, based on a combination of plant-wax-specific hydrogen (δD) and carbon (δ13C) isotopes. In addition, pollen data from the same sediment core are used to investigate the response of the local vegetation to changing climate conditions. Our δD record indicates high precipitation during the peak AHP (from ca. 10 to 8 ka BP) followed by a gradual transition towards a drier late Holocene climate. Likewise, vegetation cover changed from predominant grassland towards an arid montane forest dominated by Juniperus and Podocarpus trees accompanied by a general reduction of understory grasses. This trend is corroborated by δ13C values pointing to an increased contribution of C3 plants during the mid- to late Holocene. Peak aridity occurred around 2 ka BP, followed by a return to a generally wetter climate (indicated by higher Podocarpus and lower Juniperus pollen values) possibly linked to enhanced Indian Ocean Monsoon strength. Starting at around 1 ka BP, increased anthropogenic activity, i.e. deforestation and agriculture is indicated by the pollen data, in agreement with intensified human impact recorded for the region. The magnitude of δD change (ca. 40‰) between peak wet conditions and late Holocene aridity is in line with other regional δD records of East Africa. The timing and pace of aridification parallels those of African and Indian monsoon records indicating a gradual response to local insolation change. Our new record combining plant-wax δD and δ13C values with pollen highlights the sensitive responses of the local vegetation to precipitation changes in the Ethiopian highlands. Our results also stress that information on local vegetation structure is important when interpreting hydroclimate change
Les fantômes du Dendi
Une vieille navette couverte de purin, un sachet plastique troué contenant quelques fuseaux, un morceau de pagnes ayant servi d’épouvantail, des cendres, des fragments de parois en ciment… Autant d’éléments matériels associés à une ancienne filière technique dans le Dendi (Nord Bénin) : filage du coton, tissage et teinture à l’indigo. C’est à partir d’eux que nous nous efforçons, depuis 2011, d’approcher des techniques aujourd’hui disparues. Quoique celles-ci aient occupé une place économique et sociale de première importance jusqu’au milieu du 20ème siècle, elles ont graduellement perdu en visibilité, jusqu’à ne plus exister qu’à l’état de restes. Dans cet article, nous examinerons les différents statuts des éléments évoqués et les potentialités qu’ils offrent pour appréhender et reconstituer le monde social des acteurs techniques. Nous insisterons tout particulièrement sur les bricolages méthodologiques que nécessite l’exploration d’activités « fantômes » et la façon dont ceux-ci ouvrent la voie à de nouveaux champs de réflexion en anthropologie et en histoire.An old shuttle covered with manure, a perforated plastic bag containing several spindles, a piece of cloth used as a scarecrow, ashes, cement fragments of walls... All these artefacts are associated with a former textile sector in Dendi (North Benin): cotton spinning, weaving, and indigo dyeing. Starting from them, we try since 2011 to explore these techniques which are now extinct. Although they held a prominent social and economical position until the mid-20th century, they have since then become gradually less visible, until existing solely under the state of remains. In this article, we will examine the different status of the mentioned elements and the potentials they offer for understanding and reconstructing the social world of technical actors. We will place particular emphasis on the methodological tinkering required for exploring "ghost" activities and the way in which they open to new reflections in anthropology and history
Dramaturgi Tabligh Ustaz Dede Dendi di Masyarakat Adat Banten
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui front stage (panggung depan), back stage (penggung belakang), dan penampilan Ustaz Dede Dendi di masyarakat Adat Banten. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif pendekatan wawancara dan observasi dengan Teori Dramatugi oleh Goffman, yang menjelaskan perilaku interaksi yang menampilkan diri sendiri dalam 3 aspek: Front Stage (panggung depan) Back Stage (panggung belakang) dan Penampilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Front stage mencakup setting, yang terlihat dari aksesoris seperti cincin batu akik dan peci songkok waton, serta front personal, di mana karismanya mendukung peran sebagai penceramah. Back stage terbagi menjadi dua: sebagai ruang pribadi, di mana beliau dapat membedakan peran sebagai mubaligh dan masyarakat biasa, serta sebagai area persiapan, di mana ia menjalani ritual dengan air gamir dan air kelapa untuk menetralkan suara. Penampilan Ustaz Dede Dendi disesuaikan dengan budaya masyarakat Adat Banten, sehingga pesan tablighnya diterima dengan baik
Kredibilitas Ustaz Dede Dendi sebagai dai di pengajian pesantren: Studi deskriptif pengajian di Pondok Pesantren Al-Ihsan Cibiru Hilir Cileunyi Kabupaten Bandung)
Ustaz Dede Dendi merupakan kelahiran Banten tahun 1995 yang saat ini menjadi salah satu dai muda, dosen dan dewan guru di Pondok Pesantren Al-Ihsan.
Ustaz Dede Dendi memiliki kredibilitas sebagai dai dan guru, kredibilitas ini dilihat
dari keahlian yang kuasai, pengetahuan yang dimiliki dan publik speaking yang
baik. Oleh karena itu penulis akhirnya memilih untuk memperdalam analisis lebih
jauh lagi mengenai kredibilitas Ustaz Dede sebagai dai di pengajian Pesantren.
Fokus penelitian ini terbagi kedalam tiga bagian, yaitu pertama mengenai
bagaimana keahlian Ustaz Dede Dendi sebagai seorang dai di pengajian Pesantren.
Kedua mengenai bagaimana pengetahuan Ustaz Dede Dendi sebagai seorang dai di
pengajian Pesantren. Ketiga bagaimana publik speaking Ustaz Dede Dendi sebagai
seorang dai di pengajian Pesantren.
Landasan pemikiran dari penelitian menggunakan teori “kredibilitas
komunikaor” yang di gagas oleh Jalaludin Rakhmat guna mendapatkan data
penelitian yang objektif dan menyeluruh. Kemudian teori ini juga dikuatkan dengan
“teori kredibilitas sumber” (source or credibility) yang di kemukakan oleh Onong
Uchjana Effendy.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang akan menjelaskan
temuan penelitian. Data yang didapatkan melalui wawancara dan observasi yang
menghasilkan sajian data dalam bentuk kalimat dan kata-kata. Setelah data
dikumpulkan, kemudian dianalisis kembali untuk memastikan bahwa interpretasi
peneliti tentang masalah dan fenomena yang diteliti lebih kuat.
Hasil dan pembahasan dari penelitian ini bisa disumpulkan. Pertama,
keahlian Ustaz Dede Dendi mencakup penguasaan materi, penyampaian, dan
kelayakan sebagai dai, didukung oleh pendidikan yang relevan dengan profesinya.
Kedua, pengetahuan agama Ustaz Dede Dendi didasarkan pada penyerapan fakta,
pengalaman pribadi, pengamatan lingkungan dan selalu kritis menganai kebenaran
materi sebelum menyampaikannya serta mampu beradaptasi dengan santri dari
berbagai latar belakang. Ketiga, Ustaz Dede Dendi memiliki kemampuan public
speaking yang baik, mencakup pembicara, pesan, dan pendengar. Selain itu beliau
juga selalu mengamalkan apa yang disampaikan, menjadi panutan bagi santri, dan
mampu menyesuaikan bahasa dengan latar belakang santri, sehingga pesan yang
disampaikan dapat diterima dan mudah dipahami. Ustaz Dede Dendi juga memiliki
beberapa karya seperti jurnal dan buku yang telah diterbitkan
- …
