27 research outputs found
Microencapsulation of Fucoxanthin by Water-in-Oil-in-Water (W/O/W) Double Emulsion Solvent Evaporation Method: A Review
Fucoxanthin is a major xanthophyll present in brown seaweeds such as Sargassum binderi, S. duplicatum, Turbinaria turbinata, Padina australis, Undaria pinnatifida and Hijkia fusiformis. This carotenoid has a unique structure including oxygenic functional group such as, two hydroxy, keto, epoxy (5,6-monoepoxide), and an allenic bond. Fucoxanthin has some anticancer activities such as, exhibits inhibitory property on colon cancer cells and human hepatic carcinoma HepG2 cell line. This xanthophyll also induces apoptosis of human leukemia cancer HL-60 cells, human prostate cancer PC-3 cell, human lung cancer H1299 cell line etc. Unfortunately, the poor solubility of this carotenoid in water hinders it to be a drug candidate. Fucoxanthin is also a pigment that is sensitive to temperature and light. One of the possible ways to circumvent the problem with light and temperature is by microencapsulating it. Microencapsulation (ME) in biodegradable polymers, e.g. poly(D,L-lactic-co-glycolic acid) (PLGA) is a promising approach to protect any potential drug from rapid degradation. Solvent evaporation method is the most popular technique of preparing PLGA microsphere (MS) and this technique has been extensively studied in recent years for the preparation of MS. In the water-in-oil-in-water (w/o/w) double emulsion solvent evaporation method, stability of the primary emulsion (PE) is a critical factor. When the PE is unstable, encapsulation efficiency (EE) is low. Stability of PE can be enhanced by including emulsifying agent or stabilizers such as polyvinyl alcohol (PVA). The presence of a stabilizer/ emulsifier plays a significant role in influencing particle size (PS), external morphology of microsphere and colloidal stability
TEKNIK ISOLASI SENYAWA BIOAKTIF DARI KAPANG YANG BERASAL DARI LINGKUNGAN LAUT
Pada prinsipnya, teknik isolasi senyawa bioaktif dari kapang yang berasal dari laut mirip dengan teknik isolasi senyawa bioaktif dari invetebrata laut dan juga biota-biota yang ada di lingkungan darat. Namun ada beberapa hal yang berbeda, diantaranya cara isolasi dan pengkulturan terutama pada komposisi media pertumbuhannya, serta cara-cara pemanenannya. Sedangkan cara ekstraksi, fraksinasi, dan purifikasinya sampai mendapatkan suatu senyawa bioaktif yang murni adalah relatif sama. Untuk proses pemisahan dan purifikasi dapat digunakan alat Kromatografi Cair Kinerja Medium (KCKM) dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), serta disertai pengujian kemurnian dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Jika dari hasil analisis dengan KCKM atau KCKT memberikan hasil satu puncak (peak) yang tunggal, maka terhadap sampel tersebut dapat dilakukan analisis dengan alat MS, dan hasilnya dibandingkan dengan database untuk menguji apakah senyawa murni yang diperoleh adalah senyawa baru atau bukan. Selanjutnya dengan semua data analisis yang diperoleh dari sampel murni tersebut, yaitu data fisika dan hasil spektrofotometer UV, hasil IR (KBr), MS, NMR 1 dimensi (proton, karbon, dan DEPT), dan NMR 2 dimensi (1H-1H COSY, 13C-1H COSY, HMBC, HMQC, dan NOESY), maka dilanjutkan dengan penentuan struktur molekul (dikenal dengan elusidasi struktur)
TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN DAN APLIKASINYA DALAM EKSPLORASI MIKROBA LAUT
Teknologi DNA rekombinan merupakan teknik penggabungan DNA dari spesies yang berbeda sehingga akan diperoleh organisme baru dengan sifat-sifat yang diinginkan. Pada pengembangan bioteknologi kelautan dan perikanan, teknik DNA rekombinan ini dapat digunakan antara lain untuk melakukan eksplorasi potensi dan biodiversitas organisme laut, seperti mikroba laut. Mikroba laut yang sebelumnya hanya merupakan kekayaan alam laut yang potensial dan belum memberikan nilai tambah, maka dengan teknologi DNA rekombinan dapat ditingkatkan nilai tambahnya untuk menghasilkan produk yang sangat prospektif. Secara garis besar, teknologi DNA rekombinan (rekayasa genetika) melibatkan penyisipan informasi genetik baru ke dalam organisme, biasanya bakteri, untuk memberikan kemampuan baru. Metode ini tidak mengikuti rangkaian prosedur yang pasti. Pemilihan metode bergantung kepada gen mana yang akan dipindahkan dan jenis organisme mana yang akan menerima informasi genetik baru. Pilihan tersebut bergantung pada sampai sejauh mana keterlibatan pilihan pribadi ilmuwan yang bersangkutan
Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Penghasil Poli-B-Phidroksialkanoat (PHA) sebagai Bahan Baku Plastik Biodegradabel dan Deteksi Gen Penyandi Enzim PHA Sintase
Teknik Pemekatan, Purifikasi dan Karakterisasi Protein Rekombinan
Teknik Pemekatan, Purifikasi dan Karakterisasi Protein Rekombina
Kandungan Fukosantin dan Fenolik Total pada Rumput Laut Coklat Padina australis yang Dikeringkan dengan Sinar Matahari
Rumput laut cokelat Padina australis dikenal memiliki kandungan fukosantin dan fenolik total yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fukosantin dan fenolik total serta aktivitas antioksidan P. australis yang dikeringkan dengan sinar matahari. Rumput laut cokelat diambil dari Pantai Binuangeun, Lebak, Banten, Indonesia lalu dikeringkan selama 0, 1, 2, 3 dan 4 hari. Kandungan fukosantin dianalisis dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) sedangkan kandungan fenolik total diukur dengan menggunakan metode Folin-Ciocalteau. Uji antioksidan dilakukan dengan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kandungan fukosantin pada rumput laut P. australis semakin menurun seiring dengan bertambahnya waktu pengeringan sedangkan kandungan fenolik total pada hari ke 1, 2 dan 3 tidak menunjukkan perbedaan tetapi pada hari ke 4 kandungannya menurun tajam. Kandungan fukosantin dan fenolik total tersebut jauh di bawah kandungan fukosantin dan fenolik yang berasal dari rumput laut segar. Hasil uji DPPH memperlihatkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak rumput laut semakin menurun dengan bertambahnya waktu pengeringan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa fukosantin dan fenolik merupakan faktor yang menentukan aktivitas antioksidan
Extraction and Purification of Fucoxanthin from Sargassum sp. as Anti-acne
Fucoxanthin is a pigment of a carotenoid group in brown seaweed. Fucoxanthin has high biological activity, therefore, it is suitable for the antibacterial activity. Acne is a disease caused by bacterial activity. The purposes of this study were to obtain fucoxanthin active compounds of Sargassum sp. and to determine antibacterial activity of crude extract and fucoxanthin active fraction as anti-acne compounds at bacteria causing acne. Extraction of fucoxanthin used maceration method and its purification was carried out by silica gel column method. Antibacterial activity test used disk diffusion method. The yield of crude extraction and yield of active fraction of Sargassum sp. were 0.54% and 0.13% respectively. Fucoxanthin active fraction was identified at 0.53 Rf value. The total content of fucoxanthin was 0.47 mg/g. The functional groups of fucoxanthin active fraction consisted of alcohols, alkanes, methyl, alkenes, esters and aromatic alkenes. Fucoxanthin active fraction had anti-acne activity at 125, 250, 500 and 1,000 ug/disk against of Propionibacterium acnes and at 500 and 1,000 ug/disk against of Staphylococcus aureus.<br /><br /></jats:p
Karakterisasi Enzim Kitinase yang Diproduksi Oleh Isolat Bakteri Jb4 Dari Terasi
Penelitian karakterisasi enzim kitinase yang diproduksi oleh isolat bakteri JB4 dari terasi telah dilakukan. Karakterisasi enzim mencakup penentuan suhu dan pH optimum, stabilitas enzim, dan pengaruh adanya ion logam terhadap aktivitas enzim. Dari hasil penelitian ini diperoleh enzim kitinase mempunyai suhu optimum 40ºC dan pH optimumnya 8,0. Enzim ini memiliki kernampuan stabilitas panas pada suhu 40ºC. Kation monovalen NH+ dan Na+ dengan konsentrasi 1,0 mM diketahui dapat berfungsi sebagai aktivator bagi enzim kitinase isolat JB4. sebaliknya kation divalen Mg2+,Cu2+ Co2+, Zn2+ , Ba2+, Ca2+ dan kation trivalen Fe3+ dengan konsentrasi akhir 1,0 mM merupakan inhibitor bagi enzim kitinase dari isolat tersebut
Karakteristik dan Sifat Kinetika Enzim Kitinase dari Isolat Bakteri T5a1 Asal Terasi
ABSTRAK
Karakterisasi dan studi kinetika enzim kitinase dari isolat T5a1 asal terasi telah dilakukan. Karakterisasi ini mencakup penentuan suhu dan pH optimum, kestabilan enzim pada suhu optimumnya, dan pengaruh adanya ion logam terhadap aktivitas enzim. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa enzim kitinase T5a1 mempunyai suhu dan pH optimum masing-masing adalah 40oC dan 6,0. Enzim ini masih tetap stabil sampai dengan 160 menit inkubasi pada suhu 40oC. Kation Fe3+ dan Ca2+ dapat meningkatkan aktivitas enzim kitinase, sedangkan kation monovalin Mn2+, Mg2+, Cu2+, Co2+, Zn2+, Ba2+ NH4 +, K+, dan Na+ dengan konsentrasi akhir 1,0 mM dapat menurunkan aktvitas enzim kitinase dari isolat T5a1. Nilai Vmaks dan Km enzim kitinase T5a1 ini masing-masing adalah sebesar 0,0048 U/mL dan 1,037 mg/mL
Karakterisasi Enzim Kitinase yang Diproduksi Oleh Isolat Bakteri Jb4 Dari Terasi
Penelitian karakterisasi enzim kitinase yang diproduksi oleh isolat bakteri JB4 dari terasi telah dilakukan. Karakterisasi enzim mencakup penentuan suhu dan pH optimum, stabilitas enzim, dan pengaruh adanya ion logam terhadap aktivitas enzim. Dari hasil penelitian ini diperoleh enzim kitinase mempunyai suhu optimum 40ºC dan pH optimumnya 8,0. Enzim ini memiliki kernampuan stabilitas panas pada suhu 40ºC. Kation monovalen NH+ dan Na+ dengan konsentrasi 1,0 mM diketahui dapat berfungsi sebagai aktivator bagi enzim kitinase isolat JB4. sebaliknya kation divalen Mg2+,Cu2+ Co2+, Zn2+ , Ba2+, Ca2+ dan kation trivalen Fe3+ dengan konsentrasi akhir 1,0 mM merupakan inhibitor bagi enzim kitinase dari isolat tersebut.</jats:p
