3 research outputs found

    Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Kejenuhan Kerja pada Perawat Instalasi Rawat Inap di RSD MArdi Waluyo Blitar

    No full text
    ABSTRAK   Widodo, David Sugeng. 2009. Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Kejenuhan Kerja pada Perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M.Si. (II) Hetti Rahmawati, S.Psi, M.Si.   Kata kunci: dukungan sosial, kejenuhan kerja, perawat   Kualitas karyawan merupakan satu hal penting karena kemajuan di bidang industri ditentukan oleh kualitas karyawannya. Satu persoalan yang muncul berkaitan dengan individu dalam menghadapi tuntutan peningkatan profesionalisme adalah stres. Permasalahan akan timbul apabila stres terjadi dalam jangka waktu yang lama dengan intensitas yang tinggi akan mengakibatkan individu mengalami kejenuhan kerja atau biasa disebut dengan burnout. Kejenuhan kerja banyak dijumpai pada jenis pekerjaan layanan sosial karena keterlibatan emosional yang cukup besar, situasi yang dapat meningkatkan tensi emosi, dan kewaspadaan yang tinggi sebagai bentuk tanggungjawabnya. Munculnya kejenuhan kerja dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi tingkat kejenuhan kerja adalah dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan dukungan sosial pada perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar. 2) mendeskripsikan kejenuhan kerja pada perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar. 3) mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan kejenuhan kerja pada perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar. Hipotesis penelitian ini adalah "ada hubungan yang negatif antara dukungan sosial dengan kejenuhan kerja pada perawat Instalasi Rawat Inap di RSD Mardi Waluyo Blitar." Variabel bebas dalam penelitian ini adalah dukungan sosial, sedangkan variabel terikatnya adalah kejenuhan kerja. Penelitian dilakukan dengan rancangan deskripsi korelasional dengan subyek penelitian sebanyak 60 orang perawat Instalasi Rawat Inap Dr. Mardi Waluyo Blitar. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala dukungan sosial dan skala kejenuhan kerja. Skala dukungan sosial memiliki nilai validitas yang berkisar antara 0,262-0,623 dengan reliabilitas 0,859. Skala kejenuhan kerja memiliki nilai validitas yang berkisar antara 0,273-0,738 dengan reliabilitas 0,933. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik korelasi product moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan: 1) 23,33% perawat mendapatkan dukungan sosial tinggi, 61,67% perawat mendapatkan dukungan sosial sedang, dan 15% perawat mendapatkan dukungan sosial rendah. 2) 18,33% perawat mengalami kejenuhan kerja tinggi, 61,67% perawat mengalami kejenuhan kerja sedang, dan 20% perawat mengalami kejenuhan kerja rendah. 3) ada hubungan yang negatif antara dukungan sosial dengan kejenuhan kerja (r = -0,452; nilai p = 0,000; taraf signifikansi < 0,05). Dari hasil penelitian disarankan agar peneliti selanjutnya yang berminat untuk meneliti topik yang sama hendaknya mempertimbangkan faktor-faktor lain yang belum sempat terungkap dalam penelitian ini, khususnya faktor internal

    Management design of madidihang (Thunnus albacares) fisheries in Indonesia Economic Exclusive Zone (IEEZ) of Indian Ocean at Southern Coast of East Java

    No full text
    Yellowfin tuna (Thunnus albacares) are among the largest, most specialized and commercially important of all pelagic fish. They are in great demand throughout the world market due to their excellent meat quality. Yellowfin tuna is a cosmopolitan species distributed mainly in the tropical and subtropical oceanic waters, including in water of Indoneisia Economic Exclusive Zone (IEEZ) of Indian Ocean. Total catches of yellowfin tuna have been increasing more or less permanently in Indian ocean where this catches have been quite stable or slowly declining during recent years in their trends and absolute levels. Therefore stock status of yellowfin tuna in Indian Ocean on southern water of East Java currently has been predicted undergoing overfishing or close to overfishing which is very alarming from sustainability context. A research has been done on yellowfin tuna fisheries sustainability of artisanal fisheries based on ecology, economy, technology, social and institutional dimension. Primarily data were collected from logbook of sekoci boat at Sendang Biru Malang regency from 2003 to 2010. Secondary data were obtained from fishermen of sekoci boat who has yellowfin tuna fishing in fish aggregating devise (FADs) its distribution on equator area 9-12° S and 110-115° East longititude. Data were analyzed using RAPFISH (multidimensional scaling/MDS, leverage analysis, monte carlo analysis), and comparison pairwise analysis to asses multidimensional sustainability of yellowfin tuna fisheries. Research result showed that Rapfish index for ecological sustainability is 78.78%, whereas economical, technological, respectively social and institutional sustainability were: 72.60%, 72.56%, 39.44% and 39.57% . Multidimensional sustainability status assessment using pairwise comparison analysis showed sustainability index 69.39 %, or fairly sustainable. The conclusion of this research is the sustainability of yellowfin tuna fisheries in Indian Ocean of Indonesia Economic Exclusive Zone (IEEZ) will be established while social and institution dimensions is attended and improved by government. If the social and institution dimensions are immediately improved then the yellowfin tuna fisheries of artisanal fisheries at EEZI can take place in suitainable.Indonesia memiliki wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) di Samudera Hindia yang menjadi alur ruaya Madidihang, dengan wilayah pengelolaan kode 71 (FAO 2007). Madidihang di perairan Samudera Hindia habitatnya terdapat di lapisan campuran (mixed layer) dan termoklin, yaitu pada kedalaman 200-250 m (Bertrand et al. 2002). Berdasarkan alur wilayah pengelolaan perikanan (WPP) Indonesia, wilayah tersebut, diantaranya berada di WPP 573. Namun demikian, status potensinya (stock) pada saat ini diperkirakan telah mengalami overfishing atau mendekati overfishing (IOTC 2011). Perkiraan ini didasarkan kepada hasil tangkapan dunia di wilayah tersebut, selama periode tahun 2003‐2006, yaitu dengan rataan 464 000 ton sementara Maximum Sustainable Yield (MSY) diestimasi sekitar 300 000 ton, sehingga di masa akan datang keberlanjutannya sangat mengkhawatirkan (ISSF 2011). Guna kepentingan konservasi dan keberlanjutan, dalam konteks global pengelolaannya di atur oleh suatu organisasi perikanan regional, yaitu Indian Organization Tuna Commision (IOTC). IOTC, pada tahun 2012 akan mengatur dan membagi kuota jumlah tangkapan yang diperbolehkan (Total Allowable Catch, TAC) untuk masing-masing negara anggota, termasuk Indonesia (IOTC 2011). Ketentuan lain yang harus dipatuhi oleh Indonesia adalah ketetapan, pemberlakuan langkah dan tindakan yang berkaitan dengan penggunaan alat tangkap, metode penangkapan, jumlah upaya tangkap, musim penangkapan, musim tidak menangkap, moratorium, serta pembatasan ukuran ikan yang di tangkap. Apabila aturan ini tidak dipatuhi maka dianggap melakukan kegiatan penangkapan yang illegal, yang akan berdampak dalam pemasaran hasil (ekspor)

    Introduction to Microsoft Sway as a Social Science Learning Media

    Get PDF
    Education in social studies (IPS) has developed significantly in recent years. Technological breakthroughs have provided new opportunities to enhance the learning experience in these subjects. One interesting tool is Microsoft Sway, a digital presentation platform that offers flexibility and creativity in designing learning materials. This article is about the introduction of Microsoft Sway as a learning medium in Social Sciences (IPS) subjects. In this article the author will discuss the advantages, challenges, potential use and utilization of Microsoft Sway as a social studies learning medium. This approach will combine a literature review and practical guidance to illustrate the potential of Microsoft Sway in a social studies learning context
    corecore