1,720,955 research outputs found
DEGRADASI MAKNA GAGASAN FUNGSI PANTUN DAN TARIAN DALAM PROSESI PERKAWINAN BUDAYA MELAYU DELI
ABSTRAKSI
Penelitian ini berjudul: “Degradasi Makna Gagasan Fungsi Pantun dan Tarian pada Prosesi Perkawinan Budaya Melayu Deli”. Rumusan Masalah pada penelitian ini terdiri dari 1. Bagaimana Degradasi Makna Gagasan Fungsi Pantun dan Tarian Dalam Prosesi Perkawinan Melayu Deli? 2.Bagaimana Gagasan Fungsi Yang Terdapat Dalam Prosesi Perkawinan Budaya Melayu Deli? 3.Bagaimana Gagasan Fungsi Pantun Dalam Prosesi Perkawinan Budaya Melayu Deli? 4. Bagaimana Gagasan dan Fungsi Tarian Dalam Prosesi Perkawinan Budaya Melayu Deli? 5.Bagaimana Nilai-nilai Simbolisasi Pantun Tari Diinternalisasi Oleh Masyarakat Melayu Deli?
Penelitian ini merupakan penelitian metode sejarah, hal ini didasarkan kepada upaya pendeskripsian peristiwa masa lampau. penelitian ini juga menggunakan library-research (penelitian kepustakaan) berusaha mendapatkan informasi yang lengkap mengenai topik penelitian mengarahkan persoalan data dan analisisnya yang bersumber dari literatur kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, terjadi penurunan pemaknaan gagasan fungsi yang terkandung dalam pantun dan tarian. Pesan tidak tersampaikan dengan baik, karena pergeseran fungsi pantun dan tarian dari penyampain pesan simbolik menjadi hanya untuk hiburan. Begitu juga dengan prosesi yang rumit, lama, dan penambahan biaya menjadi salah satu alasan masyarakat melayu Deli mulai tidak menggunakan budaya tersebut. Dahulu pantun yang bersifat nasihat terkadang dibuat menjadi humoris, hal ini membuat sifat sakralitas pantun menjadi bergeser. Keterbukaan masyarakat melayu Deli menjadi menyesuaikan dengan selera pasar.
Kedua, dengan dilaksanakannya istiadat perkawinan Melayu, maka akan memberikan fungsi lebih jauh yaitu manusia Melayu akan berlanjut. Ia juga berfungsi untuk dengan gagasan mempertahankan kebudayaan Melayu di dunia ini. Maka upacara perkawinan adalah usaha menyatukan dua insan keturunan Adam dan Hawa, dalam sebuah rumah tangga. Tujuannya sangat mulia, yakni agar saling memberikan kasih sayang dancinta yang diabsahkan oleh agama dan adat sekaligus. Budaya ini juga menjadikan kekerabatan, baiksecara vertikal maupun horizontal. Struktur persaudaraan inilah yangmenjadikan manusia secara kelompok, menjadiharmonis.Fungsi institusi adat perkawinan lainnya adalah untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia.
Ketiga, gagasan fungsi pantun dalam prosesi perkawinan budaya ada melayu Deli adalah penerimaan masyarakat Melayu yang tulus dan ihklas terhadap tamu yang datang dengan melambangkan nilai-nilai spiritual dan kultural dunia Melayu. Pada umumnya ‘sampiran’
mengandung citra-citra dari alam sekeliling, sedangkan ‘isi’ mengandung citra-citra dari kehidupan manusia atau dari alam pikiran dan perasaannya, kedua-duanya bertalian seperti kumandang dan bunyi. Gagasan pantun dapat penyelesaian sesuatu cara pandang, pemahaman, pemikiran yang belum tersimpulkan. Gagasan selanjutnya adalah harapan, agar hubungan berkeluarga tetap bertambah erat dan kedua pengantin sebagai jembatan kedua keluarga harus menjunjung tinggi azas mufakat untuk menggapai masa depan berkeluarga.
Keempat, gagasan fungsi tarian dalam prosesi perkawinan budaya melayu Deli adalah gagasan religius dalam gerakannya.Ragam tari Inai mengandung kiasan dan arti yang diambil namanya dari nama- nama hewan yang berada disekitar masyarakat Melayu. Ragam Somba Pembuka, dimaksudkan sebagai permohonan keizinan kepada seluruh keluarga untuk melakukan persembahan tari Inai. Ragam kedua adalah Ragam Itik. Ragam ketiga disebut Ragam Burung. Menyajikan gerakan-gerakan burung pada saat terbang, hinggap, bertengger dan berjalan. Ragam keempat tari Inai yaitu Ragam Ular. Ragam kelima Ragam Pusing Guling. Kemudian ragam terakhir adalah Ragam Somba Penutup. Yaitu ragam penutup tari. Gagasan dari keseluruhan penyajian tari pesan moral yang dapat dijadikan pedoman bagi pengantin untuk mendirikan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah
Kelima,Nilai-nilai simbolisasi pantun dan tari diinternalisasi oleh masyarakat melayu deli adalah Nilai keterbukaan Budaya Melayu yang selalu disebut sebagai budaya bahari adalah kebudayaan yang sifatnya terbuka. Melalui keterbukaan inilah masyarakatnya menjadi mejemuk. Nilai adat lainnya adalah etika dan moral. Di dalam adat ini terkandung nilai saling memelihara hubungan antar individu maupun kelompok. Nilai ini mengajarkan dan menyadarkan agar hidup saling menjaga sopan dan santun baik pribadi maupun sosial. Semangat utama pantun adalah sebagai alat komunikasi, untuk menyampaikan nasihat, melakukan kritik sosial tanpa mencederai perasaan siapa pun, mengungkapkan rasa rindu antara bujang dengan dara, dan sebagai media dalam menyampaikan tunjuk ajar.Tarian mencerminkan ekspresi individu dalam konteks sosial lainnya, dengan cara komunikasi bukan lisan. Misalnya cara berbusana, mengikut kesopanan Melayu, menarikan tarian Melayu dengan norma-norma Melayu, perilaku di atas dan di luar panggung, menjaga moralitas peribadi dan perilaku.
Kata Kunci: Degradasi, Pantun, Tarian, dan Melayu Del
PROBLEMATIKA DAKWAH ISLAM DI DESA HUTA BARGOT DOLOK KABUPATEN MANDAILING NATAL
Dakwah akan berperan penting di tengah masyarakat sebagai penunjang dalam meningkatkan religiusitas dalam memahami agama. Problematika yang terlihat mengenai dakwah yang terjadi di masyarakat Hutabargot, diantaranya da’i tidak menguasai sepenuhnya pemahaman tentang materi yang ingin didakwahkan di masyarakat bukan dari materi yang selayaknya diperlukan masyarakat. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif untuk mengumpulkan data melalui wawancara dan menganalisisnya menggunakan pendekatan deskriptif analitik. Penelitian ini menunjukkan bahwa permasalahan dalam dakwah Islamiyah Di Desa Huta Bargot Dolok disebabkan oleh kurangnya pemahaman agama di kalangan masyarakat setempat serta dampak dari jenis pekerjaan yang dilakukan oleh mayoritas penduduk, seperti pekerja konstruksi dan petani atau perkebunan.Pendekatan yang diambil oleh para da\u27i untuk mengatasi permasalahan dalam dakwah Islamiyah di Desa Huta Bargot Dolok adalah melalui pelaksanaan dialog keagamaan antara pemerintah desa, tokoh agama dan masyarakat guna meningkatkan pemahaman agama dalam komunita
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Peran Mudir dalam Menanamkan Moderasi Beragama Demi Mencegah Tindak Terorisme di Lingkungan Pesantren Mustahafawiyah Mandailing Natal
Mudir is actually the highest leader in the Islamic boarding school and is an icon of the Islamic boarding school itself. The mudir must be at the forefront and be the spearhead of the Islamic boarding school's progress. Mudir must also play a role in preventing the flow of radicalism from spreading within the Musthafawiyah Islamic boarding school. And currently H. Mustafa Bakri Nasution is believed to be the mudir of the Musthafawiyah Islamic boarding school who has a very important role in maintaining the ideological traditions of the Musthafawiyah Islamic boarding school. The aim of this research is to see the role of H. Mustafa Bakri Nasution as the mudir of the Musthafawiyah Islamic boarding school in preventing radicalism from targeting its students, and how the mudir's efforts to implement the ideology of religious moderation within the Musthafawiyah Islamic boarding school environment. The purpose of this study is to see how the role of H. Mustafa Bakri Nasution as the head of the Musthafawiyah Islamic boarding school in preventing radicalism that targets his students, and how the head's efforts to implement religious moderation in the Musthafawiyah Islamic boarding school environment. This study uses a qualitative methodology by making students, educators and the head as data collection instruments and using descriptive as a technique for describing it. The results of this study indicate that the role of the head of the Musthafawiyah Islamic boarding school in preventing the entry of radicalism is by controlling the curriculum to comply with the Ministry of Education and Technology and controlling the quality of ustadz/ustadzah as educators at the Islamic boarding school. In addition, the head is selective about thoughts that come from outside, and collaborates with parties who contribute to bringing Islamic thought that develops in accordance with Islamic teachings that have become a traditional ideology in the Mustafawiyah Islamic boarding school environment
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
- …
