875,495 research outputs found
Spesies Padi Liar (Oryzaspp.) Sebagai Sumber Gen Ketahanan Cekaman Abiotik Dan Biotik Pada Padi Budi Daya
ABSTRACTWild rice species could be used for improvement of rice varieties because they have a good character for resistance to biotic and abiotic stresses. Some of Indonesian wild rice species are Oryza meyeriana, O. granulata, O. longiglumis, O. officinalis, O. ridleyi, O. rufipogon and O. schlechteri. IRRI has a collection of 2,500 accesions of wild rice and 18 species were collected in ICABIOGRAD, Bogor. Some species of wild rice are known to have resistance genes to biotic and abiotic stresses. A number ofaccessions of O. officinalis contained resistance gene to brown planthopper, blast disease, bacterial leaf blight (BLB) and sheath rot. One of the species that has resistance to pests and diseases is O. minuta. The resistance to tungro virus occurs in O. punctata. Tolerance to drought, Al and Fe toxicities occurs in wild rice species of O. sativa genome AA group. Resistance genes from wild rice species can be inserted into cultivated rice through conventional techniques in combination with biotechnology, while gene transfer and gene detection from wild rice to cultivated rice can be done through cross breeding, molecular markers, backcrossing and embryo rescue. The success of introgression of resistance genes from wild rice species to cultivated rice will increase genetic diversity of rice. As an example O. minuta has been implemented in introgression of BLB resistance gene on IR64. Introgression of O. nivara gene in IRRI had improved some superior rice varieties in Indonesia, namely IR30, IR32, IR34, IR36 and IR38, which were tolerant to brown planthopper, dwarf virus and bacterial leaf blight. Oryza rufipogon wich has BLB and blast resistance gene has been used for improvement of new varieties Inpari Blas and Inpari HDB which were released in 2013.Keywords: Oryza spp., varietal improvement, resistance genes, biotic stresses, abiotic stressesAbstrakSpesies padi liar dapat dimanfaatkan dalam perakitan varietas unggul karena memiliki gen ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Spesies padi liar yang ada di Indonesia adalah Oryza meyeriana, O. granulata, O. longiglumis, O. officinalis, O. ridleyi, O. rufipogon, dan O. schlechteri. IRRI memiliki koleksi 2.500 aksesi padi liar dan 18 spesies dikoleksi di BB Biogen. Sejumlah aksesi O. officinalis memiliki gen ketahanan terhadap wereng coklat, penyakit blas, hawar daun bakteri (HDB), dan busuk pelepah. Salah satu spesies yang memiliki ketahanan terhadap hama-penyakit tersebut adalah O. minuta. Ketahanan terhadap virus tungro terdapat pada O. punctata. Toleransi terhadap kekeringan, keracunan Al, dan Fe terdapat pada spesies padi liar kelompok O. sativa genom AA. Gen ketahanan dari spesies padi liar dapat dimasukkan (introgresi) ke dalam padi budi daya melalui teknik konvensional yang dikombinasikan dengan bioteknologi, sementara transfer gen dapat melalui persilangan, marka molekuler, silang balik, dan penyelamatan embrio. Keberhasilan introgresi gen ketahanan dari spesies padi liar ke padi budi daya akan meningkatkan keragaman genetik tanaman. Spesies padi liar O. minuta telah dimanfaatkan dalam introgresi gen ketahanan HDB pada varietas IR64. Introgresi gen asal O. nivara di IRRI menambah varietas unggul di Indonesia, yaitu IR30, IR32, IR34, IR36, dan IR38, yang toleran terhadap wereng coklat, virus kerdil rumput, dan HDB. Spesies padi liar O. rufipogon yang memiliki gen ketahanan HDB dan blas telah digunakan dalam pembentukan varietas unggul baru Inpari HDB dan Inpari Blas yang dilepas pada 2013
PENGUNGKAPAN MODALITAS CAN DAN COULD PADA PENERJEMAHAN BAHASA INGGRIS KE DALAM BAHASA INDONESIA
This paper is aimed to disclose the modality elements of English that are translated into Indonesia language based on the meaning derived from its context, such as the difference between the units and part of speech; the equivalence of the modality elements of primary modifier verb can and secondary modifier verb could translated from English to Indonesian language, and also the probability of the translation of primary modifier verb can and secondary modifier verb could translated from English to Indonesian language. The source of the data is The Naked Face novel and its translation version, Muka Telanjang. It was found that 54 sentences contain can and could. It was also found 57 modifier verbs can and could that consist of 18 primary modifier verbs can and 39 modifier verbs could. In addition, there were also units shifting from (could) to phrase (bisa saja), part of speech shifting such as modifier verb (I can’t) into adjective (tidak pandai), equivalence from (can) and (could) into some vocabularies of Indonesian language and also translation equivalence probability of modality can and could into some vocabularies in Indonesian language with their respective frequencies. ABSTRAKPenyusunan makalah ini bertujuan untuk mengungkapkan unsur modalitas bahasa Inggris yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan makna yang diperoleh dari konteksnya. Misalnya, perbedaan unit dan kelas kata; kesepadanan unsur modalitas verba pewatas primer can dan verba pewatas sekunder could yang diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia; serta probabilitas penerjemahan unsur modalitas bahasa Inggris verba perwatas primer can serta verba pewatas sekunder could yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sumber data dalam makalah ini diambil dari novel The Naked Faced serta terjemahannya Muka Telanjang. Dari proses penelitian yang dilakukan, ditemukan 54 kalimat yang mengandung modalitas can dan could. Ditemukan pula 57 verba pewatas pewatas can dan could yang terdiri dari 18 verba pewatas primer can dan 39 verba pewatas sekunder could. Selain itu, terdapat pergeseran unit seperti dari kata (could) menjadi frasa (bisa saja) serta terdapat pergeseran kelas kata, seperti dari verba pewatas (I can’t) menjadi adjektiva (tidak pandai); terdapat kesepadanan dari (can) dan (could) ke dalam beberapa kosakata bahasa Indonesia; serta terdapat probabillitas kesepadanan penerjemahan modalitas can dan could menjadi beberapa kosakata bahasa Indonesia dengan frekuensinya masing-masing
Gambaran Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Tradisional Ramuan Menggunakan Jamu Tersaintifikasi (Studi Kasus di BKTM Makassar dan Puskesmas A Karanganyar)
Health Services using jamu as the results of Saintifikasi Jamu (SJ) program is new. B2P2TOOT is the organizer of SJ training. The last Decree of National Commission for Saintifikasi Jamu (Komnas SJ) was signed in 2013 and valid for 1 year. Until now there is still no new formation of Komnas SJ. The implementation of jamu as result SJ program in health service facility is rare. Therefore description of the implementation of health services use jamu become important to be examined. This was a qualitative study using case study design. Study was conducted in the Puskesmas A Karanganyar, BKTM Makassar, and B2P2TOOT as the organizer of the SJ training. The location was selected purposively. The study was done in 2015. The factors that were examined in the form of human resources, budget, availability of herbs, and support regulations in the implementation of services. The primary data was taken by in-depth interviews. Secondary data were annual reports, decree and regulations. The respondents were all officers involved in the SJ services such as doctor, pharmacy, nurses and the management. The data had been analyzed with content analysis techniques. The main problem of implementation SJ was the need for a penal provision. Monitoring and evaluation of the program SJ had not been done intensively. SJ training was useful in the conduct of the health services using jamu, but hindered by the limited number of trained personnel, availability of budget, which ultimately affected the availability of herbs. The regulation which protects the commissioning services is urged. The regulation about Komnas SJ is also needed, therefore, the implementation of SJ program can be conducted well. Moreover, monitoring and evaluation of services using jamu program SJ and follow up is required. Research results from SJ program need to be published in order to be applied by the SJ network. Some regulations that protect SJ network is important as well so that they can do services by research based optimally.AbstrakPelayanan kesehatan jamu menggunakan hasil program Saintifikasi Jamu (SJ) merupakan hal yang masih baru. Saat ini penyelenggara pelatihan SJ adalah Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT). SK Komisi Nasional Saintifikasi Jamu (Komnas SJ) terakhir adalah tahun tahun 2013 dan berlaku selama satu tahun. Hingga kini belum ada lagi pembentukan Komnas SJ, sehingga program ini terkesan jalan di tempat. Penelitian pelaksanaan pelayanan jamu hasil program SJ di fasilitas pelayanan kesehatan masih belum banyak dilakukan, bahkan data mengenai fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan jamu pun belum tercatat dengan baik. Oleh sebab itu perlu dikaji gambaran pelaksanaan pelayanan kesehatan menggunakan jamu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilakukan di Puskesmas A Karanganyar dan BKTM Makassar, serta B2P2TOOT sebagai penyelenggara pelatihan program SJ. Lokasi dipilih secara purposive, yaitu penunjukan puskesmas oleh Dinkes Karanganyar, sedang BKTM karena merupakan institusi milik Kemenkes. Penelitian dilakukan pada tahun 2015. Faktor yang diteliti berupa sumber daya manusia, anggaran, ketersediaan bahan jamu, serta dukungan regulasi yang mengatur pelaksanaan pelayanan. Data diambil dengan cara wawancara mendalam kepada responden, dan data sekunder berupa laporan tahunan, SK dan peraturan yang berlaku. Responden adalah semua petugas yang terlibat dalam pelaksanaan pelayanan SJ meliputi dokter, apoteker, perawat dan bagian manajemen. Data dianalisa dengan teknik analisa konten. Masalah utama pelaksanaan program SJ adalah perlunya payung hukum penyelenggaraan program. Monitoring dan evaluasi program SJ belum intensif. Pelatihan SJ bermanfaat dalam melaksanakan pelayanan kesehatan jamu, namun terkendala dengan terbatasnya SDM yang terlatih, tidak tersedia anggaran rutin, yang akhirnya mempengaruhi ketersediaan jamu. Regulasi yang melindungi pelaksana pelayanan juga belum ada. Perlu dipikirkan aturan tentang Komnas SJ agar pelaksanaan program SJ bisa dijalankan dengan baik. Perlu ada pembinaan dan monitoring pelaksanaan pelayanan program SJ serta tindak lanjut yang diperlukan. Hasil penelitian jamu perlu disebarluaskan sehingga dapat diaplikasikan oleh jejaring SJ. Regulasi yang diperlukan sebagai payung hukum agar jejaring SJ dapat melakukan penelitian berbasis pelayanan dengan optimal
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA AAPTAMINOID DARI Aaptos aaptos DAN POTENSI PEMANFAATANNYA UNTUK PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI Vibrio harveyi
Sponge Aaptos aaptos diketahui mengandung senyawa turunan aaptaminoid yang dapat digunakan sebagai sumber antibakterial alami tanpa efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa bioaktif dari ekstrak butanol Aaptos aaptos yang efektif menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi dan mengevaluasi kemampuan senyawa bioaktif dalam pencegahan infeksi V. harveyi. Ekstraksi metabolit sekunder menggunakan metode maserasi, sementara isolasi dan identifikasi senyawa aaptaminoid dengan metode kolom kromatografi dan spektroskopi. Uji aktivitas antibakterial menggunakan metode difusi agar dengan paper disc. Evaluasi kemampuan senyawa aktif dalam pencegahan vibriosis menggunakan metode eksperimental dengan empat perlakuan dengan masing-masing perlakuan menggunakan hewan uji Litopenaeus vannamei sebanyak 10 ekor/akuarium. Dosis senyawa aktif yang digunakan yaitu; A) 0 µg/g berat badan (bb); B) 0,67 µg/g bb; C) 25 µg/g bb; dan D) 50 µg/g bb. Penyuntikan 100 µL senyawa aktif pada masing-masing dosis tersebut dilakukan pada awal penelitian dan setelah 14 hari pemeliharaan, udang diuji tantang dengan V. harveyi pada kepadatan 107 CFU/mL Pemeliharaan udang dilanjutkan selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan morfologi udang berupa telson, rostrum, tubuh, pereopoda, dan pleopoda memerah sebagai tanda-tanda udang terinfeksi mulai diamati pada 23 jam pasca penginfeksian. Udang pada perlakuan C dan D mulai pulih dari infeksi pada hari keempat yang ditandai oleh telson, rostrum, tubuh, pereopoda, dan pleopoda yang normal. Selain itu, perlakuan D juga menunjukkan nilai sintasan udang tertinggi (50%), sementara perlakuan C memberikan sintasan sebesar 25%. Sebaliknya pada perlakuan B dan A (kontrol) udang sudah mengalami kematian 100% sebelum 24 jam pasca penginfeksian. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa senyawa aaptaminoid pada dosis e” 25 µg/g bb dapat dikembangkan sebagai sumber alternatif untuk pencegahan vibriosis.Aaptos aaptos contains aaptaminoid widely known as a natural antibacterial without any side effect. This recent research aimed to extract bioactive compounds from butanol extract of Aaptos aaptos and determined its efficacy to inhibit the growth and prevent the infection of Vibrio harveyi. The extraction of secondary metabolites used maceration method, while isolation and identification of aaptaminoid used column chromatography and spectroscopy methods. The antibacterial test against V. harveyi used agar diffusion method using paper disc. The evaluation of the active compound during the vibrio challenge test used an experimental method with four treatments. Each treatment used whiteleg shrimp, Litopenaeus vannamei of 10 ind./aquarium. Dosages of the active compound used were A) 0 µg/g bb, B) 0.67 µg/g bb, C) 25 µg/g bb, and D) 50 µg/g bb. The injection of 100 µL of each bioactive compound was carried out at the initial experiment and on day 14 after challenged with V. harveyi at the density of 107 CFU/mL. The shrimps was reared for an additional seven days. The findings showed that the infection on shrimps started on 23 hours post-injection of V. harveyi indicated by the reddish color of rostrum, body, pereopods, pleopods, and telson. The shrimps in treatment C and D were able to recover from the infection started on the day-4 post-infection exhibited by the back to the normal condition of rostrum, body, pereopods, pleopods, and telson. The highest survival rate post-infection was obtained by shrimp in treatment D (50%) followed by treatment C (25 %). In turn, shrimps on treatment A and B had 100% mortality within 24 hours post-infection. This research concludes that aaptaminoid can be developed as an antibacterial agent for vibriosis prevention with an optimal dosage of e” 25 µg/g bb
PENGARUH JENIS PUPUK DASAR DAN SUSULAN TERHADAP PRODUKSI DAN MUTU TEMBAKAU CERUTU BESUKI
Penelitian pemupukan tembakau cerutu besuki telah dilakukan di Desa Mangaran, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember (30 m dpi) untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk dasar dan pupuk susulan terhadap produksi dan mutu. Tembakau ditanam pada awal musim kemarau (disebut besnota), yaitu minggu ke 1 bulan Juli 2000. Lahan percobaan berjcnis tanah Aluvial dengan tekstur liat berkadar 44% liat, 20% debu, dan 46% pasir, 0.67% C-organik, 0.14% N total, 10.64 cmol/kg P tersedia, 0.45 cmol/kg K, 7.30 cmol/kg Ca, dan pH 6.62. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok faktorial, dengan 3 ulangan Faktor petama adalah perlakuan pupuk dasar (jenis pupuk NPK dan SP36 + urea), sedangkan faktor kedua adalah perlakuan jenis pupuk susulan (urea, CN, CN+CPN, CN+PN, dan CSN). Ukuran petak percobaan 10 m x 7 m , jarak tanam (110 cm i 90 cm) x 35 cm, dengan populasi 200 tanaman per petak dan varietas 11382 Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk dasar NPK tidak berbeda pengaruhnya dibanding dengan pupuk SP36+ urea terhadap hasil, ukuran, ketcbalan daun posisi KAK dan TNG, persentase daun pembalut-pembungkus dan kadar unsur hara daun. Namun perlakuan pupuk NPK menghasilkan daun KOS 3 lebih tipis, daya bakar daun KOS 1 dan KAK 3 yang lebih lama, nisbah K20/CaO yang lebih tinggi. Pupuk susulan CN i CPN dan CN + PN memberikan hasil dan kadar N daun yang lebih tinggi daripada perlakuan yang lain. Pupuk susulan tidak berpengaruh terhadap ukuran daun, ketebalan daun, daya bakar, persentase daun pembalul-pembungkus, kadar P2Oj. K20, dan CaO daun. Berdasarkan analisis kualitas semua pupuk altematif yang dicoba- kan, baik sebagai pupuk dasar maupun pupuk susulan, pupuk-pupuk tersebut dapat digunakan pada tembakau cerutu besuki. Selanjutnya, perlu dilakukan sosialisasi penggunaan pupuk altematif tersebut kepada petani.Kata kunci: pupuk, produksi, mutu, Nicotiana tabacum, tembakau cerutuABSTRACTEffect ofbasalfetilizers and side dressingfetilizer on the production and quality of besuki cigar tobaccoThe expeiment was conducted in Mangaran, Jenggawah Distict, Jember (at the altitude of 30 m). The objective was to study the effect of basal fetilizers and side dressing fetilizer on the production and quality of besuki cigar tobacco. Tobacco was planted in early dry season, in irst week of July 2000 (named as besnota tobacco). The soil was alluvial with clay texture (44% clay, 20% silt, and 46% sand). Other characteristics of the soil was 0.67% C-organic, 0.14% total-N, 10.64 cmol/kg available P, 0.45 cmol/kg available K, 7.30 cmol/kg Ca, and pH 6.62. The treatment consisted of two factors, i.e. basal dressing (NPK compound fetilizer and SP36 + urea) and side dressing (urea, CN, CN + CPN, CN + PN, and CSN). The treatments were arranged in a factoially randomized block design with 3 replications. Planting space was double row (110 cm + 90cm) x 35 cm, 200 plants per plot. Tobacco vaiety was H382. The results of the experiment showed that the effect of NPK fetilizer was not significantly different from SP36 + urea, on the yield, leaf size, thickness of KAK and TNG leaf positions, wrapper + binder precentagc and chemical content of the leaves. However, the tobacco crop received NPK fetilizer had positive characteistics, i.e. thinner leaves (KOS 3), longer buning duration (KOS 1 and KAK 3), higher K20/CaO ratio than SP36 + urea (reatment. CN + CPN and CN + PN as side dressing treatments gave yield and N content higher than other treatments. Side dressing treatments did not affect the leaf size, thickness, buning duration, wrappcr+binder percentage. P2Oj. KjO, and CaO, content of the leaves. However, based on the quality analysis the fertilizers tested either as basal dressing or as side dressing can be used as an altenative for besuki cigar tobacco fetilization. Futhermore, the use of these altenative fetilizers need to be socialized to the tobacco farmers.Keywords: Cigar tobacco, fetilizer, production, quality, Nicotiana tabacu
ANALISIS JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN PANGAN SEPANJANG RANTAI PASOK UDANG BUDIDAYA
Udang merupakan komoditas unggulan ekspor Indonesia yang memerlukan bahan baku yang berkualitas dan aman. Untuk mendapatkan bahan baku udang yang sesuai, seluruh anggota rantai pasok harus menerapkan persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan sesuai Kepmen KP Nomor: 52A/KEPMEN-KP/2013. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penerapan persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan sepanjang rantai pasok bahan baku udang untuk unit pengolahan ikan (UPI) di Jakarta Utara. Dua UPI telah dipilih menjadi responden untuk dirunut ke hulu mengenai pemenuhan persyaratan dimaksud. Pengumpulan data dilakukan melalui survei, observasi dan wawancara kepada UPI, pengumpul/pemasok, pembudidaya dan pembenih. Analisis kesenjangan dan uji korelasi berganda digunakan untuk menilai kesesuaian penerapan persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan. Hasil identifikasi menunjukkan masih terdapat kesenjangan penerapan yang dilakukan oleh pembudidaya dan pengumpul/pemasok dengan standar yang ada. Tingkat kesesuaian pada pembudidaya 58% (kurang sesuai) dan pemasok 48% (tidak sesuai). Apresiasi UPI terhadap mutu dan keamanan hasil perikanan masih belum memadai, diduga karena permintaan di pasar global sangat tinggi sedangkan pasokannya tidak sesuai. Penerbitan sertifikat yang terpisah-pisah di antara rantai pasok diduga menjadi salah satu penyebab. Diperlukan perubahan strategi kebijakan dalam pelaksanaan sistem sertifikasi udang budidaya untuk ekspor yang terintegrasi dalam satu sertifikat.Shrimp is Indonesia's leading export commodity that requires quality and safe raw materials. To get appropriate shrimp raw materials, all members of the supply chain must apply the quality assurance and safety requirements of fishery products in accordance with Ministerial Decree KP Number: 52A/KEPMEN-KP/2013. This study aimed to evaluate the implementation of quality assurance and safety requirements for fishery products along the supply chain of cultured shrimp raw material suppliers for fish processing units (UPI) in North Jakarta. Two UPIs have been selected as respondents whose suppliers were evaluated regarding the fulfillment of the specified requirements. Data collection was carried out through surveys, observations, and interviews with UPI, collectors/suppliers, farmers, and breeders. Gap analysis and multiple correlation tests were used to assess the appropriateness of the implementation of quality assurance and fishery product safety requirements. The results show that gaps existed between the implementation of the requirement by farmers and suppliers compared with existing standards. The implementation level for farmers is 58% (less according) and the supplier 48% (not according). It was observed that UPI's appreciation of the quality and safety of fishery products was inadequate, allegedly because demand in the global market is very high while the supply does not meet the demand. Issuance of separate quality and safety certificates along the supply chain are believed to be one of the causes. There is a need to change the policy strategy in implementing the shrimp culture certification system for export which can be integrated into one certificate
PERTUMBUHAN, KELANGSUNGAN HIDUP, DAN PERFORMA PRODUKSI UDANG GALAH, Macrobrachium rosenbergii HASIL SELEKSI PADA TIGA SEGMEN BUDIDAYA
Pertumbuhan lambat dan maturasi dini merupakan permasalahan serius pada budidaya udang galah karena berdampak pada penurunan produktivitas budidayanya. Seleksi secara simultan pada karakter panjang standar (PS) dan level maturasi (LM) calon induk udang galah betina telah dilakukan dengan tujuan mendapatkan udang galah generasi ketiga (G-3) dengan performa tumbuh cepat dan maturasi lambat. Evaluasi performa benih populasi seleksi (PSL) dan kontrol (PKT), dilakukan pada tiga fase budidaya udang galah, yaitu fase pemeliharaan larva, pendederan, dan pembesaran. Fase pembenihan diperoleh indeks perkembangan larva (IPL) dan kelangsungan hidup (KH) yang lebih baik pada populasi PSL (9,63 ± 0,91 dan 59,43 ± 9,2%), dibandingkan pada PKT (8,73 ± 0,72 dan 39,64 ± 8,4%). Fase pendederan diperoleh PS, bobot badan (BB) dan KH sebesar 19,98 ± 2,95 mm; 0,22 ± 0,10 g; dan 87,27 ± 6,70% untuk PSL, lebih baik dibandingkan pada PKT; (18,70 ± 2,72 mm; 0,20 ± 0,09 g; dan 74,55 ± 5,4%). Fase pembesaran, PSL juga menunjukkan keunggulan, dengan PS, BB, dan KH sebesar 68,65 ± 8,11 mm; 15,82 ± 5,67 g; dan 70,5 ± 1,33% lebih tinggi dibandingkan PKT; 66,97 ± 9,72 mm dan 14,73 ± 6,86 g; dan 62,8 ± 18,44%. Level maturitas induk betina pada PSL juga lebih rendah (1,45 ± 0,77) dibandingkan pada PKT (1,52 ± 0,94). Data yang diperoleh menunjukkan bahwa seleksi individu secara simultan pada karakter PS dan LM efektif meningkatkan performa pertumbuhan dan produktivitas udang galah.Slow growth and early maturation are serious challenges in the giant freshwater prawn (GFP) farming. The simultaneous selection based on standard length (SL) and maturation level (ML) characters of the female giant prawns was carried out to produce the GFP strain (3th generation) which had higher productivity. The evaluation of the selection seed (PSL) and the control (PKT) populations was carried out in three phases of the GFP farming, namely the hatchery phase (larval rearing), the nursery, and the grow-out. In the hatchery phase, the larval development index and survival (SR) of the PSL were higher (9.63 ± 0.91 and 59.43 ± 9.2%) than that of the PKT (73 ± 0.72 and 39.64 ± 8.4%). In the nursery phase, PS, body weight (BW) and SR of the PSL were 19.98 ± 2.95 mm; 0.22 ± 0.10 g; 87.27 ± 6.70%. They were higher than that of the PKT, there were 18.70 ± 2.72 mm; 0.22 ± 0.09 g; and 74.55 ± 5.4%. In the grow-out phase, the performance of the PSL on PS, BW, and SR were also better, 68.65 ± 8.11 mm; 15.82 ± 5.67 g; 70.5 ± 1.33% than that of PKT, 66.97 ± 9.72 mm and 14.73 ± 6.86 g; 62.8 ± 18.44%. The maturity level of female prawns in PSL was also lower (1.45 ± 0.77) than that of PKT (1.52 ± 0.94). Based on these data, it can be concluded that simultaneous individual selection on PS and ML characters is effective to improve the growth performance and productivity of the GFP
POTENSI BEBERAPA MIKROBA PEMACU PERTUMBUHAN TANAMAN SEBAGAI BAHAN AKTIF PUPUK DAN PESTISIDA HAYATI
Consumer demands on safe agricultural products have made the shifting of the production system to be more environmental friendly. An attempt to reduce or totally substitute chemical fertilizers and pesticides on agricultural production process was through the utilization of potential microbes. The purpose of the study was to provide information on potential microbial species that can be used as active ingredients of biofertilizers and biopesticides. The mechanisms of action have been studied, both directly and indirectly, in protecting the plant from pest and disease attacks. Several of these microbes also functioned as decomposer that might improve soil characteristic and nutrient availability for the crops. The Indonesian Agency for Agricultural Research and Development for has released formulated biopesticides and bio fertilizers with the active ingredients isolated from agricultural production centers. The application of these biopesticides and biofertilizers have been effectively controlled important diseases in horticultural crops, i.e. Bio Nutri-V could suppress white rust disease (Puccinia horina Henn) 32.15% in chrysanthemum and increased 25% and 34% harvestable products in chrysanthemum and potato, respectively, compared with synthetic fungicide. The utilization of biopesticides and biofertilizers is expected to improve the competitiveness of national agricultural commodities by utilizing natural resources to support highly competitive and sustainable agricultural industries.Keywords: Microbes, biofertilizer, biopesticide, vegetable, ornamentals, horticulture. AbstrakTuntutan konsumen terhadap keamanan produk pertanian menuntut pula perlunya proses produksi dilakukan secara ramah lingkungan. Salah satu upaya untuk mengurangi atau mensubstitusi penggunaan pupuk dan pestisida kimia sintetik ialah memanfaatkan mikroba. Makalah ini membahas spesies mikroba yang berpotensi dan dapat dijadikan sebagai bahan aktif pupuk dan pestisida hayati. Berbagai spesies mikroba dari kelompok cendawan dan bakteri telah berhasil diisolasi dan dievaluasi keefektifannya sebagai bahan aktif pupuk dan pestisida hayati yang efektif. Mikroba pemacu pertumbuhan tanaman dengan mekanisme langsung maupun tidak langsung mampu menginduksi pertumbuhan tanaman dan beberapa mikroba juga berfungsi sebagai dekomposer, sehingga membantu penyediaan unsur hara bagi tanaman. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan beberapa formulasi pupuk hayati dan biopestisida dengan bahan aktif mikrobe yang diisolasi dari sentra produksi pertanian. Aplikasi pupuk dan pestisida hayati tersebut efektif mengendalikan penyakit penting tanaman hias, seperti Bio Nutri- V dapat menekan perkembangan penyakit karat putih (Puccinia horina Henn) pada krisan 32,2% dan mempertahankan hasil panen kentang dan krisan masing-masing 25% dan 34% dibandingkan dengan aplikasi fungisida kimia sintetik. Pengembangan pupuk dan pestisida hayati yang dihasilkan diharapkan dapat meningkatkan daya saing komoditas pertanian melalui sistem produksi ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya alam secara optimal guna mendukung industri pertanian berdaya saing dan berkelanjutan.Kata kunci: Mikroba, pupuk hayati, biopestisida, sayuran, tanaman hias, hortikultura
For the Win : How Game Thinking Can Revolutionize Your Business
Millions flock to their computers, consoles, mobile phones, tablets, and social networks each day to play World of Warcraft, Farmville, Scrabble, and countless other games, generating billions in sales each year. The careful and skillful construction of these games is built on decades of research into human motivation and psychology: A well-designed game goes right to the motivational heart of the human psyche.\ud
\ud
In For the Win, authors Kevin Werbach and Dan Hunter argue persuasively that gamemakers need not be the only ones benefiting from game design. Werbach and Hunter are lawyers and World of Warcraft players who created the world’s first course on gamification at the Wharton School of the University of Pennsylvania. In their book, they reveal how game thinking—addressing problems like a game designer—can motivate employees and customers and create engaging experiences that can transform your business.\ud
\ud
For the Win reveals how a wide range of companies are successfully using game thinking. It also offers an explanation of when gamifying makes the most sense and a 6-step framework for using games for marketing, productivity enhancement, innovation, employee motivation, customer engagement, and more.\ud
\ud
In this informative guide, Werbach and Hunter reveal how game thinking can yield winning solutions to real-world business problems. Let the games begin
PERILAKU SOSIAL BERINVESTASI DAN PROSPEK PENGEMBANGAN PERIKANAN RAKYAT DI WPP 714
Tulisan ini mempelajari perikanan rakyat pada WPP 714 yang berlokasi di Kota Kendari dan di Kota Tual. Data tentang nelayan perikanan rakyat yang digunakan merupakan data hasil survey yang dikumpulkan pada Bulan Mei 2015 dan bulan Oktober 2015. Basis analisis adalah kelompok alat tangkap Pancing, Jaring dan Perangkap. Jumlah responden pada setiap pengambilan data per lokasi masing-masing 100 responden. Hasil analisis menunjukkan: investasi nelayan perikanan rakyat merupakan induced investment karena memanfaatkan dana sendiri. Pada lokasi tertentu telah memaanfaatkan jasa bank dan pedagang. Armada perikanan rakyat pada dua lokasi itu mampu mensubtitusi peran perikanan komersial, jika berbagai infrastruktur (autonomous investment) seperti: Pabrik Es, Cold Storage, pasokan listrik serta sarana transportasi distribusi ikan, pasokan BBM disiapkan oleh pemerintah. Keberhasilan membangun dan memfungsikan infrastruktur dapat mempercepat transformasi armada perikanan rakyat menuju perikanan komersial. Tulisan ini merekomendasikan transformasi armada perikanan rakyat menjadi armada komersial harus segera dilakukan dengan mengganti PTM dan PMT menjadi armada KM dengan tonase kapal >=20 GT. Transformasi harus dikuti dengan pelatihan manajerial bisnis dan didukung oleh skema pembiayaan yang mudah diakses dengan bunga rendah.This paper studied about artisanal fisheries in Fisheries Management Area of Indonesian Republic (FMAs) 714 located in Kendari City and Tual City. Data in this paper are obtained from survey conducted in May and October 2015. The analysis is based on the group of fishing equipments: line, net, and trap. Total numbers of respondents are 100 on each location. It is found that the fishing investment of artisanal fisheries can be called as induced investment, because it used a personal funding. In some particular locations they used bank and merchant services. Artisanal fishing vessel on both locations are able to substitute the role of commercial fisheries. This could only occur with the presence of various infrastructures (autonomous investement) such as ice factory, cold storage, electrical supply, fish transportation and distribution equipment, and fuel supply fasilities, prepared by the government. The other things are prepared and accessible of the capital support scheme. The success in building and functioning infrastructures mentioned above could accelerate transformation of the artisanal fisheries towards commercial fisheries. This paper recommends the transformation to be immediately implemented by substituting non powered fishing vessels and out board fishing vessels to inboard powered fishing vessels with tonnage >=20 GT. This transformation should be followed by business managerial training and be supported by accessible funding scheme with low interest
- …
