1,205 research outputs found
PERFORMA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) HASIL SEX REVERSAL, GENETICALLY MALE DAN YY PADA FASE PENDEDERAN PERTAMA
Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji performa ikan nila hasil sex reversal (SRV), genetically male tilapia (GMT), dan YY pada fase pendederan pertama di akuarium. Benih ikan dipelihara selama 22 hari, dari umur 6 hari hingga 28 hari. Parameter yang diamati meliputi tingkat sintasan, persentase ikan jantan, laju pertumbuhan, dan biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat sintasan tidak berbeda (P>0,05) antar ketiga kelompok ikan dan kontrol (KN), berkisar antara 85,30%--86,20%. Persentase ikan jantan antara SRV (94,5% ± 1,32%) vs. GMT (93,8% ± 1,25%) dan GMT vs. YY (90,2% ± 1,83%) tidak berbeda (P>0,05), sedangkan antara SRV lebih tinggi daripada YY (P<0,05). Persentase ikan jantan pada ketiga kelompok ikan tersebut lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan KN (56,9% ± 3,62%). Pertumbuhan ikan YY dan GMT lebih cepat (P<0,05) dibandingkan dengan ikan SRV dan kontrol (KN). Bobot rata-rata ikan YY pada akhir penelitian mencapai 485 mg, ikan GMT 456 mg, ikan SRV 379 mg dan kontrol 342 mg. Produksi biomassa ikan YY, GMT, dan SRV masing-masing sebesar 41,3%; 32,9%; dan 10,3% lebih tinggi dibandingkan dengan KN. Dengan performa yang tinggi dan pertimbangan teknis di lapangan, benih GMT merupakan alternatif yang baik untuk dibudidayakan dalam rangka meningkatkan produksi ikan nila.The experiment was conducted to determine the performance of sex reversed (SRV), genetically male tilapia (GMT), and YY tilapia on first nursery phase in aquarium. Fry were reared for 22 days, from 6 to 28 days-old. Survival rate, percentage of male fish, growth rate and biomass were observed. The result of the study showed that survival rate among fish group and control were similar (P>0.05), ranged from 85.30%-86.20%. Percentage of male fish between SRV (94.5% ± 1.32%) versus GMT (93.8% ± 1.25%) and GMT versus YY (90.2% ± 1.83%) were also similar (P>0.05), while SRV is higher than YY (P<0.05). Percentage of male fish in the three fish groups was higher than that of control (56.9% ± 3.62%). Growth of YY fish and GMT were higher compared to SRV and control fish (KN). The mean weight of YY fish at the end of the experiment reached 476 mg, GMT fish 447 mg, SRV fish 379 mg and control 342 mg. Biomass of YY, GMT and SRV fish were respectively higher by 41.3%, 32.9%, and 10.3% compared to control. With high performance and technical consideration in farm, GMT fish can be a potential alternative to be cultured in fish farm in order to increase aquaculture production of nile tilapia
Identifikasi Ikan Nila Betina Fungsional YY Secara Molekuler dan Produksi Jantan YY.
Ikan nila jantan memiliki pertumbuhan lebih cepat daripada betina, sehingga
memberikan produksi yang besar >58%. Hal ini terjadi karena energi terfokuskan
pada pertumbuhan somatik. Tujuan penelitian ini adalah menguji akurasi metode
polymerase chain reaction (PCR) dalam identifikasi ikan nila betina YY, dan
produksi jantan YY. Induk ikan nila betina normal bergenotipe XX dikawinkan
dengan jantan normal XY. Keturunannya diberi perlakuan 17β-estradiol.
Kemudian jantan akan berubah menjadi betina secara fenotipe (sifat yang tampak
dari luar) dan diperoleh betina XY. Ikan betina XY dipelihara hingga matang
gonad, dan dikawinkan dengan jantan normal XY, keturunan dibagi menjadi dua
sub-populasi, yaitu tanpa perlakuan estradiol (uji progeni II) dan dengan
perlakuan estradiol (uji progeni III). DNA genomik diekstraksi dari sirip ekor ikan
betina berumur 3–5 bulan, dilanjutkan PCR dengan primer yang didesain dari gen
MDG. Setelah matang gonad, uji progeni II dilakukan untuk memperoleh induk
jantan YY, dan uji progeni III untuk mencari betina YY dengan menganalisis
keturunannya menggunakan metode histologi pewarnaan asetokarmin. Hasil
analisis PCR menunjukkan bahwa ikan betina YY memiliki pita DNA produk
PCR berukuran 200 bp dan 500 bp, sedangkan betina XX hanya ada pita DNA
berukuran 200 bp. Melalui uji progeni, diketahui bahwa induk betina YY
memiliki keturunan >90% jantan, sedangkan induk XY <90%. Secara total
diperoleh sebanyak 1 ekor ikan betina YY dari 6 ekor yang diperiksa. Sementara
untuk induk jantan YY diperoleh sebanyak 19 ekor. Dengan demikian, metode
PCR dengan marka MDG dapat digunakan untuk mengidentifikasi betina YY
secara lebih cepat
ALIH KELOLA YAYASAN XX OLEH Y FOUNDATION (YAYASAN YY)
2015Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui model peralihan alih kelola Yayasan XX ke Yayasan YY beserta konsekuensi hukum yang ditimbulkannya setelah alih kelola.\ud
Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Kopertis Wilayah IX Sulawesi, Yayasan YY (dulu Yayasan XX), Universitas ???X???, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kantor Notaris DR. Abdul Muis. S.H, M.H., Dinas Tata Ruang dan Bangunan Kota Makassar, Badan Perizinan dan Penanaman Modal Kota Makassar. Teknik pengumpulan data adalah observasi di lingkungan Universitas ???X???, wawancara/interview dengan responden, staf dan/atau pejabat terkait. Teknik pengolahan data yaitu menganalisis data yang diperoleh untuk selanjutnya dideskripsikan.\ud
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, alih kelola Yayasan XX oleh Yayasan YY pertama yaitu dilakukan dengan Perubahan Anggaran Dasar oleh Yayasan XX dan untuk selanjutnya dilakukan Penggabungan Yayasan. Yayasan XX menggabungkan diri ke Yayasan YY berdasarkan hasil rapat Pembina kedua Yayasan, dan selanjutnya setelah Penggabungan Yayasan XX karena hukum dinyatakan bubar tanpa proses likuidasi. Konsekuensi hukum setelah adanya Penggabungan, yaitu semua aktiva dan pasiva, usaha dan kegiatan serta segala hak dan kewajiban Yayasan XX demi hukum akan dilanjutkan oleh, dialihkan kepada diambil alih dan menjadi aktiva dan pasiva, usaha dan kegiatan serta hak dan kewajiban Yayasan YY. Dalam hal ini termasuk pengelolaan Universitas ???X??? sebagai usaha dan kegiatan Yayasan XX beralih menjadi hak dan kewajiban Yayasan YY
Sistem pengurusan kedai alatan komunikasi YY Photo Studio dan Teleshop
Pada masa kini, pendekatan menggunakan teknologi dalam bidang
ekonomi berkembang dengan pesat. Penjualan secara dalam talian telah
meningkatkan dan memudahkan proses perniagaan beserta dengan sistem pengurusan
yang cekap dan selamat. Sejajar dengan perkembangan teknologi semasa, Sistem
Pengurusan Kedai Alatan Komunikasi YY Photo Studio and Teleshop dibangunkan
yang mana ianya merupakan sistem berasaskan web yang membantu dalam
memperbaiki kualiti dan kecekapan sistem sedia-ada. Ini kerana penggunaan sistem
manual telah menyebabkan gerak-kerja di kedai menjadi lambat dan kurang cekap.
Sistem pengurusan inventori yang masih manual adakalanya menyebabkan proses
kemaskini barangan menjadi lambat dan masalah kehilangan data yang sentiasa
terjadi. Disamping itu, skop penjualan yang kecil menyebabkan hasil keuntungan
kedai kecil. Tambahan dengan jarak lokasi pelanggan yang jauh telah membataskan
pelanggan untuk membeli. Justeru itu, pembinaan sistem ini dapat mengatasi
masalah-masalah tersebut seterusnya membantu dalam menggalakkan penjualan di
kedai. Model proses perisian Prototaip telah dipilih kerana ianya mempunyai lima
fasa iaitu fasa perancangan, analisis, reka bentuk, pelaksanaan dan pengujian yang
mana model ini lebih fleksibel untuk digunakan berbanding model yang lain. Sistem
ini adalah berasaskan web yang dibina menggunakan bahasa aturcara Hypertext
Preprocessor (PHP) dan Structured Query Language (MySQL) sebagai perisian
pangkalan data. Hasil ujian menunjukkan bahawa sistem itu melepasi 19 daripada 20
kes ujian yang menyumbang 98% daripada semua kes ujian. Sebagai kesimpulan,
sistem ini berguna kerana ia membantu pengguna dan pentadbir kedai untuk
meningkatkan produktiviti perniagaan dan pengurusan berbanding dengan
penggunaan sistem manual yang kurang cekap dan cekap
D{ABT{ DAN ‘ADD AL-A<YY PADA MUSHAF KODE 07.146 KOLEKSI MUSEUM MPU TANTULAR DAN MUSHAF STANDAR INDONESIA: KAJIAN PERBANDINGAN
Penelitian ini berangkat dari ketertarikan penulis mengulik mushaf kuno setelah meilihat
katalog naskah kuno secara online yang hanya mencantumkan deskripsi secara umum. Setelah
penulis meninjau tempat penyimpanan mushaf kuno yang lokasi di Museum Mpu Tantular
Sidoarjo, penulis tertarik untuk meneliti aspek d}abt} dan penerapan ilmu ‘add al-a>yy pada suatu
mushaf. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap apakah penggunaan kaidah dabt penerapan
ilmu add al-ayy pada mushaf kuno terdahulu sama atau tidak dengan mushaf al-Qur’an yang
beredar di masa kini (Mushaf Standar Indonesia). Karena dengan mengetahui persamaan dan
perbedaan dari kedua mushaf tersebut, kita dapat memastikan bahwa mushaf kuno merupakan
komponen dasar dalam diberlakukannya standarisasi mushaf. Metode penelitian yang dipakai
adalah penelitian kepustakaan, dengan pendekatan deskriptif-analisis, dan analisis-komparatif.
Tehnik pengumpulan data yang digunakan yakni berupa wawancara, observasi, dan
dokumentasi.
Penelitian ini menghasilkan pada dua kesimpulan. Pertama, kaidah d}abt} yang digunakan
pada Mushaf Kode 07.146 koleksi Museum Mpu Tantular condong kepada riwayat Khali>l al
Fara>hid>i dan Abu> Daud. Mushaf ini memiliki ‘add al-a>yy sebanyak 6.228. Sedangkan Mushaf
Standar Indonesia, dalam penulisannya mengikuti kaidah Khali>l al-Fara>hidi> dan Abu> Daud
dengan adanya penyesuaian. Mushaf Standar memiliki ‘add al-a>yy sebanyak 6.236 yang dalam
ilmu ‘add al-ayy hitungan ini merupakan riwayat Ku>fi>.
Kata kunci: mushaf, add al-‘ayy, ayat, d}abt
Analisis Susepbilitas Magnetik Batuan Reservoir di Lapangan YY
Perbedaan maupun selisih nilai kemagnetan yang terdapat pada suatu daerah disebut juga dengan magneti kemagnetan bumi, dimana nilai yang dimiliki lebih tinggi dari pada nilai regionalnya. Dari hasil pengolahan dengan metode geomagnet transformasi susepbiliti batuan, anomali kemagnetan yang tadinya dipole dapat berubah menjadi monopole, namun mapping hasil project, arah konturnya dan nilai objek magnetik sangat berbeda. Kemudian apabila hasil pengolahan baik dari pengolahan data maka hasil yang akan akurat untuk mendeteksi suatu objek berupa batuan reservoir. Daerah penelitian teridentifikasi batuan ini menemukan batuan dilapangan YY tersebut, merupakan batuan Dolomite dan Limestone
PRODUKSI IKAN JANTAN SUPER HOMOGAMETIK (YY) PADA IKAN NILA, Oreochromis niloticus
Uji progeni terhadap 500 ekor induk nila jantan yang telah dihasilkan dari penelitian tahun sebelumnya, telah dilaksanakan di Loka Risei Pemuliaan dan teknologi budidaya perikanan air tawar, sukamandi dan Instalasi Riset Lingkungan budidaya Toksikologi, Cibalagung
Pengendalian Persediaan Bahan Baku Daging Sapi Menggunakan Metode Economic Order Quantity Pada Umkm Yy Kebab
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum adanya metode tertentu dalam
mengelola persediaan bahan baku di YY Kebab yang mengakibatkan tingginya biaya
pemesanan karena frekuensi pemesanan yang terlalu tinggi dan bahan baku yang tidak
terpakai secara optimal. Penelitian ini menggunakan metode EOQ (Economic Order
Quantity) yang nantinya akan memberikan gambaran kuantitas pemesanan optimal,
frekuensi pemesanan optimal, safety stock atau stok pengaman dan waktu terbaik untuk
melakukan pemesanan ulang bahan baku. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui
proses pengendalian persediaan bahan baku dengan metode aktual yang selama ini
dilakukan dan dampak penerapan metode Economic Order Quantity terhadap total biaya
persediaan bahan baku YY Kebab. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
teknik observasi dan wawancara, sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah
metode Economic Order Quantity dengan memperhitungkan TIC (Total Inventory Cost),
safety stock, frekuensi pemesanan kembali, dan ROP (Re-Order Point). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penggunaan metode Economic Order Quantity dapat menurunkan
total biaya persediaan dalam jumlah yang spesifik jika dibandingkan dengan metode aktual
yang selama ini dilakukan
Evaluation of management factors affecting the relative success of a Brook Trout eradication program using YY male fish and electrofishing suppression
Removal of non-native fish populations can be crucial to the conservation of native species, but often presents a complex challenge for managers. The goal of Trojan Y chromosome (TYC) programs is to skew the non-native sex ratio until only males remain, leading to eradication. We present results from a simulation model used to explore effects of alternative management approaches on an in-progress mechanical removal and TYC program to eradicate non-native Brook Trout. Simulation results indicated that stocking fingerling YY males (~137 mm) was more effective than stocking catchable-sized YY males (~230 mm), although questions about inter-cohort competition warrant further investigation. Increasing the proportion of mature fingerling YY males reduced treatment time by increasing the number of YY male spawners and increasing density-dependent mortality on young, mature wild Brook Trout. Maximizing the spatial distribution of YY male releases may be crucial to program success but is also dependent upon immediate dispersal movements. Principles derived from our results can be broadly applied to the management of other aquatic invaded systems using TYC programs to eradicate non-native species.The presentation of the authors' names and (or) special characters in the title of the pdf file of the accepted manuscript may differ slightly from what is displayed on the item page. The information in the pdf file of the accepted manuscript reflects the original submission by the author
Wheat gluten hydrolysate potently stimulates peptide-YY secretion and suppresses food intake in rats
The study was aimed to compare the satiating effect of various protein hydrolysates in rats and examine the underlying mechanism associated with the satiety hormones. Food intake and portal satiety hormone levels were measured in rats. Enteroendocrine cell-lines were employed to study the direct effect of protein hydrolysates on gut hormone secretions. The results showed that oral preload of wheat gluten hydrolysate (WGH) suppressed food intake greater and longer than other hydrolysates. The portal peptide-YY levels in WGH-treated rats at 2 h and 3 h were higher than those in control- and lactalbumin hydrolysate (LAH)-treated rats. In a distal enteroendocrine cell model, WGH more potently stimulated glucagon-like peptide-1 secretion than LAH, and the effect was largely enhanced by pepsin/pancreatin digestion of WGH. These results suggest WGH is potent in activating enteroendocrine cells to release satiety hormones leading to the prolonged suppression of food intake
- …
