1,720,956 research outputs found
Uji In Silico Potensi Proteolitik Enzim Papain dan Enzim Zingibain Terhadap Protein Pembentuk Katarak Kongenital dan Senilis
Katarak kongenital adalah kekeruhan lensa mata yang ditemukan sejak
lahir baik bersifat unilateral maupun bilateral. Angka kejadian bergantung pada
perkembangan sosial ekonomi suatu daerah, pada negara industri terdapat 1
hingga 6 kasus per 10.000 kelahiran hidup, dan 5 hingga 15 kasus per 10.000 di
wilayah termiskin dunia. Katarak senilis adalah kekeruhan lensa mata yang
disebabkan proses degenerasi dan ditemukan setelah usia 50 tahun. Katarak
senilis adalah katarak yang paling sering ditemukan. Diperkirakan, dari seluruh
kasus katarak, 90% nya adalah katarak senilis. Saat ini, operasi pengangkatan
lensa mata keruh dan penggantian dengan lensa mata intraokular sintetis
merupakan satu-satunya pengobatan katarak yang tersedia. Namun, operasi
katarak yang ada membutuhkan luka insisi yang relatif besar dan tidak bebas dari
kejadian_komplikasi.
Penelitian ini menggunakan uji in silico molecular docking untuk
mengetahui nilai binding energy dan model interaksi pengikatan antara enzim
papain dan zingibain terhadap protein pembentuk katarak yaitu protein P23T
crystalline γD dan protein β-amyloid. Penelitian dilakukan selama bulan Januari
2021 dengan menggunakan situs cluspro.bu.edu. Analisis data hasil docking
didasarkan dengan nilai binding energy. Molekul dengan nilai binding energy
terendah menunjukkan interaksi yang bersifat stabil dan berpotensi menjadi enzim
proteolitik protein pembentuk katarak.
Hasil docking antara enzim papain dengan protein P23T crystalline γD
menunjukkan 30 model interaksi pengikatan dengan model interaksi pengikatan 1
memiliki nilai binding energy terendah sebesar -730.4. Hasil docking antara enzim
papain dengan protein B-amyloid menunjukkan 18 model interaksi pengikatan
dengan model interaksi pengikatan 1 memiliki nilai binding energy terendah
sebesar -697.2. Hasil docking antara enzim zingibain dengan protein P23T
crystalline γD menunjukkan 30 model interaksi pengikatan dengan model
interaksi pengikatan 2 memiliki nilai binding energy terendah sebesar -890.5.
Hasil docking antara enzim zingibain dengan protein B-amyloid menunjukkan 11
model interaksi pengikatan dengan model interaksi pengikatan 0 memiliki nilai
binding energy terendah sebesar -873.5.
Diperoleh kesimpulan bahwa enzim zingibain yang berasal dari tanaman
Zingiber officinale memiliki kemampuan membentuk ikatan yang lebih stabil
terhadap protein P23T crystalline γD dan protein β-amyloid dibandingkan dengan
enzim papain yang berasal dari tanaman Carica papaya
Uji In Silico Potensi Proteolitik Enzim Papain dan Enzim Zingibain Terhadap Protein Pembentuk Katarak Kongenital dan Senilis
Validasi unggah file repositori_Ighfirlina Yaumil Akhda
Finalisasi unggah file repositori tanggal 23 Juni 2022_KurnadiKatarak kongenital adalah kekeruhan lensa mata yang ditemukan sejak
lahir baik bersifat unilateral maupun bilateral. Angka kejadian bergantung pada
perkembangan sosial ekonomi suatu daerah, pada negara industri terdapat 1
hingga 6 kasus per 10.000 kelahiran hidup, dan 5 hingga 15 kasus per 10.000 di
wilayah termiskin dunia. Katarak senilis adalah kekeruhan lensa mata yang
disebabkan proses degenerasi dan ditemukan setelah usia 50 tahun. Katarak
senilis adalah katarak yang paling sering ditemukan. Diperkirakan, dari seluruh
kasus katarak, 90% nya adalah katarak senilis. Saat ini, operasi pengangkatan
lensa mata keruh dan penggantian dengan lensa mata intraokular sintetis
merupakan satu-satunya pengobatan katarak yang tersedia. Namun, operasi
katarak yang ada membutuhkan luka insisi yang relatif besar dan tidak bebas dari
kejadian_komplikasi.
Penelitian ini menggunakan uji in silico molecular docking untuk
mengetahui nilai binding energy dan model interaksi pengikatan antara enzim
papain dan zingibain terhadap protein pembentuk katarak yaitu protein P23T
crystalline γD dan protein β-amyloid. Penelitian dilakukan selama bulan Januari
2021 dengan menggunakan situs cluspro.bu.edu. Analisis data hasil docking
didasarkan dengan nilai binding energy. Molekul dengan nilai binding energy
terendah menunjukkan interaksi yang bersifat stabil dan berpotensi menjadi enzim
proteolitik protein pembentuk katarak.
Hasil docking antara enzim papain dengan protein P23T crystalline γD
menunjukkan 30 model interaksi pengikatan dengan model interaksi pengikatan 1
memiliki nilai binding energy terendah sebesar -730.4. Hasil docking antara enzim
papain dengan protein B-amyloid menunjukkan 18 model interaksi pengikatan
dengan model interaksi pengikatan 1 memiliki nilai binding energy terendah
sebesar -697.2. Hasil docking antara enzim zingibain dengan protein P23T
crystalline γD menunjukkan 30 model interaksi pengikatan dengan model
interaksi pengikatan 2 memiliki nilai binding energy terendah sebesar -890.5.
Hasil docking antara enzim zingibain dengan protein B-amyloid menunjukkan 11
model interaksi pengikatan dengan model interaksi pengikatan 0 memiliki nilai
binding energy terendah sebesar -873.5.
Diperoleh kesimpulan bahwa enzim zingibain yang berasal dari tanaman
Zingiber officinale memiliki kemampuan membentuk ikatan yang lebih stabil
terhadap protein P23T crystalline γD dan protein β-amyloid dibandingkan dengan
enzim papain yang berasal dari tanaman Carica papaya.Dosen Pembimbing utama : Dr. dr.Nugraha Wahyu Cahyana, Sp.M
Dosen Pembimbing anggota : dr. Ayu Munawaroh Aziz M. Biome
In silico Test Proteolytic Potential of Papain and Zingibain Enzymes Against Protein Forming Congenital and Senilis Cataracts
Abstract
Phacoemulsification is cataract therapy’s gold standard with lowest complication rate and best visual outcome. However, phacoemulsification is expensive and difficult to use widely. Pathogenesis of cataract related to Crystalline P23T γD protein in congenital cataracts and β-amyloid protein in senile cataract. Papain enzymes and zingibain enzymes are cataract’s alternatives therapy with proteolytic effects that potentially lyse these proteins. Proteolytic injection with 30-gauge needle results in small, safe incision. Papain enzyme from Carica Papaya plant and zingibain enzyme from Zingiber Officinale plant which grows plentifully in Indonesia that becomes cheap source of proteolytic. This study’s purpose is to compare probability of binding energy based on Binding Interaction Model (BIM) between papain and zingibain enzymes against Crystalline P23T γD protein and β-amyloid protein with molecular docking. This research uses https://cluspro.bu.edu./login.php. BIM with lowest binding energy has most stable bond. Docking results show interaction probability between papain enzyme and Crystalline P23T γD protein has lowest binding energy of -730.4 kJ/mol at BIM 1. Probability of interaction between papain enzyme and β-amyloid protein has lowest binding energy of -697.2 kJ/mol at BIM 1. Probability of interaction between the enzyme zingibain and the crystalline P23T protein γD has lowest binding energy of -890.5 kJ/mol at BIM 2. Probability of interaction between the enzyme zingibain and the β-amyloid protein has lowest binding energy of -873.5 kJ/mol at BIM 0. It was concluded that the zingibain enzyme has the most stable probability of forming a stable bond to Crystalline P23T γD protein and β-amyloid protein.
Keyword:In silico, papain, zingibain, catarac
Uji In silico Potensi Proteolitik Enzim Papain dan Enzim Zingibain Terhadap Protein Pembentuk Katarak Kongenital dan Senilis
Fakoemulsifikasi adalah metode baku emas terapi katarak dengan angka komplikasi
terendah dan angka visual outcome terbaik. Namun, fakoemulsifikasi membutuhkan
biaya yang mahal sehingga sulit digunakan secara luas. Patogenesis katarak terkait
dengan pembentukan protein Crystalline P23T γD pada katarak kongenital dan protein
β-amyloid (Aβ) pada katarak senilis. Enzim papain dan enzim zingibain menjadi alternatif
terapi katarak dengan efek proteolitik yang berpotensi melisiskan protein tersebut.
Injeksi proteolitik dengan 30-gauge needle menyebabkan luka insisi yang kecil dan
bersifat aman. Enzim papain berasal dari tanaman Carica Papaya dan enzim zingibain
berasal dari tanaman Zingiber Officinale yang banyak tumbuh di Indonesia sehigga
menjadi sumber proteolitik yang murah. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan
probabilitas binding energy berdasarkan Model Interaksi Pengikatan (MIP) antara enzim
papain dan zingibain terhadap protein Crystalline P23T γD dan protein β-amyloid (Aβ)
dengan molecular docking. Penelitian ini menggunakan situs
https://cluspro.bu.edu./login.php. MIP dengan binding energy terendah memiliki ikatan
paling stabil. Hasil docking menunjukkan probabilitas interaksi antara enzim papain
dengan protein P23T crystalline γD memiliki nilai binding energy terendah sebesar -730.4
kJ/mol pada MIP 1. Probabilitas Interaksi antara enzim papain dengan protein β -amyloid
memiliki nilai binding energy terendah sebesar -697.2 kJ/mol pada MIP 1. Probabilitas
interaksi antara enzim zingibain dengan protein P23T crystalline γD memiliki nilai binding
energy terendah sebesar -890.5 kJ/mol pada MIP 2. Probabilitas Interaksi antara enzim
zingibain dengan protein β-amyloid memiliki nilai binding energy terendah sebesar -
873.5 kJ/mol pada MIP 0. Diperoleh kesimpulan bahwa enzim zingibain memiliki
probabilitas membentuk ikatan paling stabil terhadap protein P23T crystalline γD dan
protein β-amyloid
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
