1,720,978 research outputs found
Analisis Pertumbuhan dan Produksi Tanaman pada Sistem Tumpangsari Tomat-Kecipir
Tumpangsari adalah salah satu bentuk pertanaman ganda dalam rangka
meningkatkan produktivitas lahan. Pada sistem pertanaman tumpangsari,
keberadaan tajuk tanaman utama yang lebih tinggi mengurangi tingkat radiasi yang
diterima oleh tanaman sela di bawahnya. Perubahan intensitas cahaya karena
adanya naungan tersebut mengakibatkan tanaman tidak dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik. Penelitian ini dilaksanakan dengan menempatkan kecipir
sebagai tanaman utama dan tomat sebagai tanaman sela. Beberapa genotipe tomat
ditanam pada dua populasi tanaman kecipir.
Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis respon pertumbuhan, perubahan
fisiologis dan mengevaluasi respon produksi dari beberapa genotipe tomat,
mengevaluasi pertumbuhan dan produksi kecipir serta menghitung nisbah
kesetaraan lahan (NKL). Penelitian dilaksanakan pada Desember 2017-Juni 2018
di Kebun Percobaan Cikabayan IPB, Bogor, Indonesia. Percobaan disusun
menggunakan rancangan acak kelompok yang diulang tiga kali dengan
membandingkan tiga genotipe tomat monokultur, kecipir monokultur (populasi
rendah dan tinggi) dan tumpangsari (tiga genotipe tomat pada dua populasi kecipir).
Hasil penelitian menunjukan bahwa tumpangsari meningkatkan laju
fotosintesis, kondukstansi stomata, kandungan klorofil, karotenoid, kandungan
total nitrogen, gula dan pati pada tanaman tomat. Pertumbuhan tiga genotipe tomat
yakni Tora, F70030081-12-16-3 dan Apel Belgia tidak menunjukkan perbedaan
antara perlakuan monokultur dan tumpangsari. Tumpangsari memperlambat umur
berbunga ketiga genotipe tomat, menurunkan jumlah buah genotipe F70030081-
12-16-3 dan Apel Belgia, memberikan pengaruh yang nyata terhadap kelunakan
buah, total asam titrasi pada semua genotipe, dan vitamin C selain Tora. Hasil
penelitian juga menunjukkan bahwa tanaman kecipir memiliki pertumbuhan sama
baiknya antara monokultur dengan tumpangsari, bahkan tumpang sari
meningkatkan jumlah polong per tanaman. Genotipe tomat memiliki pertumbuhan
lebih baik pada tumpangsari daripada monokultur. Hal tersebut menunjukan bahwa
tumpangsari dengan kecipir memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan
tomat. NKL bernilai lebih dari satu, menunjukan pola tanam tumpangsari lebih
efesien dan produktif dibandingkan monokultur. Implikasi penelitian ini adalah
populasi kecipir menentukan tingkat produktivitas lahan ketiga genotipe tomat yang
dibudidayakan. Dengan demikian, budidaya tomat dengan kecipir dapat dilakukan
secara tumpangsari
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Strategi Kebijakan Pengembangan Pekarangan bagi Keberlanjutan Pangan Lokal di Distrik Arguni Bawah, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.
Pemanfaatan lahan untuk kebun dan kegiatan usaha pertanian
dikembangkan oleh berbagai suku di Indonesia dengan cara yang beragam.
Pemanfaatan produksi tumbuhan dan tanaman di Papua untuk dikonsumsi sebagai
bahan pangan cenderung masih bersifat subsisten. Di sisi lain, diketahui bahwa
keanekaragaman tumbuhan di Papua yang sangat berlimpah di alam belum
dimanfaatkan secara maksimal karena masih banyak yang belum sepenuhnya
diketahui kegunaan dan manfaatnya secara luas. Di samping itu, terjadi
peningkatan aktivitas masyarakat di Papua yang tinggi terhadap pemanfaatan
hutan dan lahan, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk berbagai
kebutuhan. Pengembangan pekarangan pada pemukiman yang menetap
(settlement) dapat menjadi solusi guna mengurangi kegiatan perladangan
berpindah di dalam kawasan hutan.
Pekarangan adalah lahan terbuka yang terdapat di sekitar rumah tempat
tinggal dan dikelola oleh masyarakat secara turun-temurun yang diwariskan
berdasarkan garis keturunan serta diakui di dalam lembaga adat. Pekarangan
mengandung perspektif kepemilikan lahan yang erat kaitannya dengan distribusi
tanaman yang memiliki nilai manfaat secara ekonomi serta dengan sengaja
ditanam dan dikembangkan oleh masyarakat lokal. Keanekaragaman hayati
tumbuhan dan potensinya yang digunakan selama ini oleh masyarakat tradisional
dengan kearifan lokal belum terlalu banyak dikaji secara mendalam pada
penelitian-penelitian terdahulu di tanah Papua. Sedangkan pangan dan masalah
ketahanan pangan merupakan isu pokok yang selalu menjadi masalah di Indonesia
ketika kemandirian pangan belum dikelola dengan baik. Pengelolaan lahan
pekarangan masyarakat di tanah Papua dengan keragaman suku dan budaya
masih banyak yang belum dikaji secara mendalam termasuk dengan tanamantanaman
yang dibudidayakan di lahan pekarangan oleh masyarakat setempat.
Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis nilai keberlanjutan
berdasarkan persepsi masyarakat terhadap aspek ekologi, sosial budaya dan
spiritual, (2) mengkaji komposisi tanaman pekarangan berdasarkan struktur,
fungsi dan manfaat bagi masyarakat, dan (3) merumuskan prioritas kebijakan
pengelolaan pekarangan di Distrik Arguni, Bawah Kabupaten Kaimana, Provinsi
Papua Barat.
Penelitian ini dilaksanakan di Distrik Arguni Bawah, Kabupaten Kaimana
Provinsi Papua Barat. Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah seluruh
masyarakat kampung di wilayah Distrik Arguni Bawah berjumlah 15 kampung.
Sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 pekarangan yang masing-masing
kampung terdiri atas 3 pekarangan/ kampung, dan secara geografis dibedakan
menjadi pekarangan kampung dekat pantai, di bagian tengah dan paling jauh dari
pesisir pantai. Pengolahan data untuk penilaian keberlanjutan dilakukan dengan
metode Community Sustainability Assessment (CSA). Metode pengolahan data
analisis vegetasi tanaman pekarangan dilakukan dengan teknik tabulasi analisis
statistik deskriptif dengan program microsoft excel 2007. Sedangkan untuk
menentukan strategi digunakan metode analytical hierarchy process (AHP)
dengan program Expert choise 11.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kampung Jawera mempunyai nilai
keberlanjutan tertinggi yaitu: 1035 hal ini berarti progres kampung Jawera sangat
baik menuju keberlanjutan sehingga dapat dijadikan kampung percontohan
sebagai indikator bagi penilaian keberlanjutan masyarakat. Secara umum, aspek
sosial dan spiritual menampilkan penilaian yang cukup baik dibandingkan dengan
aspek ekologis. Luas ukuran pekarangan yang dominan ditemukan dari 45 sampel
tersebut berukuran besar (400m2< pekarangan besar ≤1000m2) sebanyak 25
pekarangan (55.6%). Sedangkan ukuran pekarangan sedang (120m2< pekarangan
sedang ≤400m2) berjumlah 12 pekarangan (26.7%) dan pekarangan dengan
ukuran luas sangat besar (>1000m2) yaitu 8 pekarangan (17.8%). Selanjutnya
dihitung indeks nilai penting (INP) dan summed dominance ratio (SDR) untuk
melihat tanaman yang dominan ditemukan.
Jenis tanaman yang memiliki nilai kerapatan dan SDR tertinggi di 45
pekarangan masyarakat ada 7 jenis tanaman dari 5 fungsi tanaman yaitu: (1)
tanaman penghasil pati berupa keladi (strata I) dan pisang (strata IV), (2) tanaman
sayuran berupa sayur gedi (strata II) dan bayam (strata I), (3) tanaman penghasil
buah pisang (strata IV), (4) tanaman hias berupa keladi hias (strata I) dan (5)
tanaman kegunaan lainnya berupa kelapa dan pinang (strata V). Komoditi
tanaman keladi banyak ditemukan di 4 kampung yaitu: Waromi, Sumun, Serara
dan Ukiara. Tanaman penghasil sayuran ditemukan di 3 kampung Kufuriai, Ruara
dan Wermenu. Sedangkan untuk tanaman penghasil buah ditemukan di kampung
Tenusan, Jawera, dan Nagura. Tanaman penghasil minyak dan fungsi lainnya
ditemukan di kampung Urisa dan Inary yaitu kelapa dan pinang. Tanaman hias
hanya ditemukan terbanyak di kampung Wanoma.
Nilai keanekeragaman hayati dihitung berdasarkan indeks Shanon-winner
(H´) berkisar antar 1.8-2.5. Artinya, bahwa keanekaragaman hayati tanaman
spesies pekarangan pada sampel populasi tanaman pekarangan diinterpretasikan
bernilai sedang.
Alternatif kebijakan yang terpilih dengan cara memilih dan menetapkan
antar aktor, kriteria, faktor dan alternatif pilihan. Alternatif kebijakan yang
muncul dalam AHP yaitu: strategi pemasaran dengan bobot (0.359) dimana
pemerintah sebagai penentu pemangku kepentingan dapat memainkan peran
dalam mengelola pekarangan agar berkelanjutan. Kriteria sosial budaya dengan
bobot (0.413) menjadi penting dalam pengambil keputusan. Kegiatan utama untuk
mendorong pengembangan pekarangan agar berkelanjutan adalah membangun
kemandirian pangan dengan bobot (0.441)
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Studi Percampuran Genotipe Padi Sawah Terhadap Hasil Dan Kejadian Hama Utama
Dalam upaya merespon tingginya kebutuhan beras seiring dengan laju peningkatan jumlah penduduk yang tinggi di Indonesia, peningkatan produktivitas padi secara nasional harus terus dilakukan. Namun demikian, upaya peningkatan produktivitas padi dihadapkan pada beberapa faktor pembatas diantaranya adalah keterbatasan dalam potensi hasil suatu varietas dan adanya serangan organisme pengganggu tanaman. Kedua faktor tersebut hingga saat ini masih menjadi kendala utama yang membayangi keberhasilan peningkatan produktivitas padi di Indonesia. Oleh sebab itu, dengan kondisi lingkungan yang beragam, percampuran genotipe padi (Oryza sativa L.) dapat dipertimbangkan sebagai pilihan yang lebih ekonomis dibandingkan dengan penanaman genotipe tunggal untuk mengontrol kejadian hama dan mempertahankan hasil gabah. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mendapatkan informasi keragaman genetik genotipe padi yang dibentuk dari penanaman genotipe campuran terhadap keragaan hasil, komponen hasil, stabilitas hasil, keberadaan serangga hama utama (penggerek batang dan wereng coklat) dan musuh alami. Sedangkan tujuan khususnya adalah :1) untuk mengetahui interaksi genotipe x lingkungan, hasil dan stabilitas hasil dari beberapa genotipe padi tipe baru di berbagai lingkungan uji, 2) untuk mendapatkan metode percampuran genotipe padi yang terbaik terhadap keberadaan hama utama dan musuh alami, 3) untuk menguji pengaruh keberadaan hama dan dua metode percampuran terhadap hasil dan komponen hasil, 4) untuk mengetahui daya campur, keragaan karakter agronomi dan stabilitas hasil dari percampuran dua komponen genotipe padi. Materi genetik yang digunakan pada penelitian meliputi lima genotipe padi, yaitu IPB 117-F-4-1-1 yang dipilih berdasarkan hasil analisis stabilitas beberapa padi harapan tipe baru di enam lingkungan uji, genotipe IPB 4S, IR64, Inpari 11, dan Inpari 13. Percampuran genotipe padi dengan dua metode percampuran yaitu campuran benih (seed mix) dan campuran baris (row mix) dilakukan pada kelima genotipe padi selama dua musim tanam. Kejadian hama dan musuh alami serta keragaan karakter agronomi dan hasil diamati dan dibandingkan dengan rerata hasil dari genotipe padi tunggal penyusun campuran selama musim tanam tersebut. Percampuran benih (seed mix) dengan menggunakan dua komponen genotipe padi dilakukan untuk mengetahui daya gabung dari kelima genotipe padi yang digunakan dalam penelitian ini. Selanjutnya pengamatan keragaan karakter agronomi dan daya campur hasil dari percampuran dua komponen genotipe padi tersebut dilakukan di tiga lingkungan uji. Hasil analisis stabilitas hasil pada beberapa genotipe harapan padi tipe baru menunjukkan bahwa terdapatnya interaksi yang sangat nyata antara genotipe dan lingkungan yang mengindikasikan adanya genotipe padi tertentu yang sesuai untuk lingkungan spesifik. Berdasarkan analisis stabilitas dan keragaan agronominya, IPB 117-F-4-1-1 merupakan genotipe padi yang terpilih untuk dimasukkan dalam penelitian percampuran genotipe padi karena genotipe padi tersebut memiliki arsitektur tanaman yang lebih kokoh dan vigornya yang baik sehingga diharapkan mempunyai kemampuan kompetitif dan keragaan agronomi yang lebih baik dalam percampuran genotipe padi. Berdasarkan dua metode percampuran (seed mix dan row mix) dengan menggunakan lima komponen genotipe padi pada dua musim tanam menunjukkan bahwa peningkatan hasil padi terdapat pada musim tanam kedua dibandingkan dengan rata-rata hasil komponen genotipe dalam bentuk tegakan tunggal (monokultur). Campuran seed mix menunjukkan rata-rata hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan row mix pada musim tanam kedua yang ditunjukkan oleh laju peningkatan hasil relatif yang lebih besar, yaitu sebesar 7,26% pada seed mix dan 4,63% pada row mix. Karakter panjang malai dan bobot seribu butir merupakan karakter komponen hasil yang konsisten menunjukkan efek positif pada campuran seed mix dan row mix di kedua musim tanam. Keragaman genotipe tanaman padi melalui percampuran seed mix pada musim tanam pertama dapat menurunkan kejadian hama dengan persentase penurunan relatif untuk penggerek batang dan wereng coklat masing-masing adalah sebesar 46, 55% dan 29,83%, sedangkan pada campuran row mix, persentase penurunan kedua hama lebih tinggi dibandingkan dengan seed mix, yaitu 100% untuk hama penggerek batang dan 47,37% untuk wereng coklat. Seed mix secara konsisten berpengaruh baik terhadap penurunan hama wereng coklat didalam campuran yang ditunjukkan oleh penurunan relatifnya sebesar 6,61% pada musim tanam kedua, sedangkan pada tipe row mix secara konsisten memberikan dampak yang konsisten terhadap penurunan penggerek batang dengan persentase penurunan relatifnya dalam campuran adalah 1,4%. Peningkatan kelimpahan musuh alami di lapang ditemukan pada percampuran seed mix yang ditunjukkan dengan persentase peningkatan populasinya dalam campuran tersebut selama dua musim tanam. Percampuran benih dengan dua komponen genotipe padi, menunjukkan genotipe IPB 4S + Inpari 11 mempunyai rerata hasil lebih tinggi dari rerata genotipe penyusunnya dan dari semua genotipe yang diuji. Berdasarkan analisis daya campur umum ada beberapa genotipe tunggal dapat meningkatkan hasil gabah dalam campuran dibandingkan dengan genotipe tunggal lainnya. Berdasarkan pengaruh interaksi lingkungan dengan GMA menunjukkan bahwa peningkatan hasil gabah dalam campuran berbeda diberbagai lingkungan. Rerata di semua lingkungan, campuran memiliki hasil lebih tinggi 10,98% dibandingkan rerata hasil komponen genotipe tunggalnya. Genotipe Inpari 11 memiliki nilai daya campur umum yang lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe padi lainnya. Efek daya campur khusus yang paling tinggi untuk hasil gabah adalah interaksi positif antara Inpari 11 dan IR64. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian menggunakan pendekatan percampuran genotipe memberikan peluang untuk menurunkan kejadian hama sambil tetap mempertahankan bahkan meningkatkan hasil gabah dibandingkan dengan rerata hasil genotipe tunggalnya
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
- …
