1,721,298 research outputs found
NYAI SUNIYAH CHOZIN DAN PERKEMBANGAN PESANTREN MAMBAUL HISAN DI METESEH TEMPURAN MAGELANG TAHUN 2004-2018
Skripsi ini berjudul “Nyai Suniyah Chozin dan Perkembangan Pesantren Mambaul Hisan di Meteseh Tempuran Magelang Tahun 2004-2018”. Nyai merupakan tokoh sentral di pondok pesantren sebagai pusat pembelajaran dan dakwah, nyai mempunyai peran yang substansial dalam mensosialisasikan ajaran agama dan pendidikan. Kesibukan Nyai Suniyah di luar pesantren tidak membuat pesantren tutup, usia Nyai Suniyah yang sudah tua juga tidak membuatnya berhenti berjuang, justru bersemangat untuk mengembangkan pendidikan anak-anak di pesantren hingga berdirinya Pendidikan formal di Mambaul Hisan.
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menambah wawasan mengenai perkembangan Pesantren Mambaul Hisan dalam naungan Nyai Suniyah melalui lembaga pendidikan formal RA, SD dan MTs yang didirikannya. Sebelumnya akan terdapat pertanyaan mengenai kondisi wilayah sekitar Pesabtren sebelum adanya pendidikan formal, biografi singkat mengenai Nyai Suniyah Chozin dan kontribusi Nyai Suniyah Chozin dalam pendirian lembaga pendidikan formal.
Teori yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Erving Goffman yakni teori peranan sosial. Penelitian mengenai peran Nyai Raden Suniyah Chozin dalam perkembangan pendidikan di Pondok Pesantren Mambaul Hisan dianalisis dengan menggunakan pendekatan sosiologi dan metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian sejarah.
Hasil penelitian ini bahwa Pondok Pesantren Mambaul Hisan didirikan oleh Kiai Raden Chozin dan istrinya Nyai Raden Suniyah Chozin pada tahun 1974 dengan nama Al Maksum. Nama Al-Maksum kemudian berganti nama menjadi Mambaul Hisan pada tahun 1985. Nyai Raden Suniyah Chozin melanjutkan estafet kepemimpinan pesantren pada tahun 1994 setelah Kiai Raden Chozin meninggal dunia. Ia lahir di Purworejo pada tanggal 20 Agustus 1943. Kondisi jumlah santri yang menurun menjadi perhatian Nyai Suniyah Chozin di tengah kesibukannya di dunia politik. Ia mempertahankan keberadaan pesantren dengan melakukan pengembangan terhadap pesantren, munculnya pendidikan formal di Mambaul Hisan menjadi salah satu upaya Nyai Suniyah dalam upaya mengembangkan pendidikan di Pesantren Mambaul Hisan.
Perkembangan yang dialami oleh Pesantren Mambaul Hisan salah satunya adalah berdirinya pendidikan formal yang terdiri dari Raudhatul Athfal (RA), Sekolah Dasar (SD) dan Masdrasah Tsanawiyah (MTs) Mambaul Hisan. Berjalannya pendidikan formal tersebut tidak lepas dari peran Nyai Raden Suniyah Chozin sebagai sesepuh di Pesantren Mambaul Hisan. Berdirinya pendidikan formal Mambaul Hisan memberikan dampak yang positif terhadap masyarakat maupun santri Pesantren Mambul Hisan
Analisis Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Membeli Telur Asin “Chozin” Dan “Rahayu” Di Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan
Telur asin adalah salah satu olahan telur yang sudah dikenal dan yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Salah satu tempat produksi telur asin yang ada di Babat adalah di warung Chozin dan di warung Rahayu. Warung Chozin yang terletak di Jl. Liposos RT.004/RW.013 Babat dan di warung Rahayu yang teletak di Jl. Raya Simpang Tiga nomor 100 Babat-Lamongan. Lokasi yang strategis juga menguntungkan karena dekat dengan area pasar, jalan raya dan tempatnya mudah untuk diakses oleh konsumen, sehingga penelitian ini diutamakan pada”Analisis Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Membeli Telur Asin Chozin Dan Rahayu Di Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan”. Pengambilan data dilakukan di warung Chozin yang terletak di Jl. Liposos RT.004/RW.013 Babat dan di warung Rahayu yang teletak di Jl. Raya Simpang Tiga nomor 100 Babat mulai 21 Januari sampai 21 Februari 2014. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengambilan keputusan konsumen dalam membeli telur asin Chozin dan Rahayu dan mengatahui pengaruh bauran pemasaran, lingkungan eksternal dan faktor-faktor lainnya terhadap keputusan konsumen dalam membeli telur asin Chozin dan Rahayu di Babat. Metode penelitian yang digunakan secara kuantitatif yang didukung dengan survey serta pengambilan data menggunakan kuisoner yang telah dibuat. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling, merupakan penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat dijadikan sampel jika dipandang cocok. Karakteristik konsumen telur asin “Chozin” dan “Rahayu” dalam membeli produk yang paling dominan dilihat dari usia konsumen > 40 tahun (56% dan 62%), jenis kelamin kelamin adalah perempuan (62% dan 56% ), tingkat pendidikan adalah SMA (46% dan 52% ), pekerjaan sebagai wiraswasta (42% dan 40%), penghasilan > Rp 2.000.000.00 (42% dan 48%) dengan frekuensi membeli sebanyak 3-5 kali per bulan (46% dan 42%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pengambilan keputusan dalam membeli telur asin di Chozin diawali adanya kepuasan dari pembeli sebelumnya (Y2), kebutuhan (Y1) dan keinginan (Y3). Sedangkan pengambilan keputusan dalam membeli telur asin di Rahayu ditunjukkan oleh adanya keinginan konsumen(Y3), kebutuhan (Y1) dan adanya kepuasan pembeli sebelumnya (Y3). Hasil analisis faktor pada warung Chozin menunjukkan bahwa faktor “produk telur asin”, “media promosi telur asin”, “tempat penjulan telur asin” dan “kelayakan harga telur asin” berpengaruh nyata terhadap keputusan pembelian. Sedangkan hasil analisis faktor pada warung Rahayu menunjukkan bahwa faktor, “produk telur asin” “kelayakan harga telur asin”, “tempat penjulan telur asin” dan “media promosi telur asin” berpengaruh nyata terhadap keputusan pembelian. Hasil dari analisis regresi berganda di warung Chozin menunjukkan bahwa “media promosi telur asin” dan “tempat penjulan telur asin” memberikan pengaruh yang signifikan sedangkan pekerjaan konsumen memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap keputusan pembelian. Hasil dari pengujian analisis regresi berganda di warung Rahayu menunjukkan bahwa “kelayakan harga telur asin” dan “tempat penjulan telur asin” memberikan pengaruh yang sangat signifikan, sedangkan harga barang substitusi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah pengambilan keputusan pembelian dalam membeli telur asin di Chozin diawali oleh konsumen yang merasa adanya kepuasan dari pembeli sebelumnya, kebutuhan konsumen dan keinginan konsumen. Sedangkan pengambilan keputusan di Rahayu ditunjukkan oleh keinginan konsumen, kebutuhan konsumen dan didasari oleh kepuasan dari pembeli sebelumnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli telur asin di Chozin adalah “media promosi telur asin”, “tempat penjulan telur asin” dan pekerjaan konsumen. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli telur asin di Rahayu adalah “kelayakan harga telur asin”, “tempat penjulan telur asin” dan harga barang substitusi
Analisis Kelayakan Finansial Dan Analisis Sensitivitas Pada Usaha Pembuatan Telur Asin “Chozin” Dan “Rahayu” Di Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan
Upaya memperoleh keuntungan yang besar dan berkelanjutan merupakan sasaran utama bagi semua kegiatan usaha termasuk di dalamnya usaha pembuatan telur asin, untuk mencapai sasaran tersebut perlu adanya langkah upaya, diantaranya diperlukan suatu analisis untuk mengetahui seberapa besar tingkat keberhasilan dari suatu usaha pembuatan telur asin, sehingga perlu dilakukan suatu penelitian tentang analisis kelayakan finansial dan analisis sensitivitas usaha pembuatan telur asin. Penelitian dilaksanakan tanggal 15 Maret 2014 sampai dengan 15 April 2014 di “Chozin” Jalan Liposos RT 04 RW 13 Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan dan “Rahayu” yang beralamat di Jalan Simpang Tiga no 24 Bedaan Babat Lamongan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui analisis kelayakan finansial dan sensitivitas pada usaha pembuatan telur asin. Kegunaan penelitian ini adalah sebagai salah satu bahan evaluasi usaha pembuatan telur asin “Chozin” dan “Rahayu” dengan menggunakan metode analisis kelayakan finansial dan analisis sensitivitas, sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan keputusan yang diambil guna pengembangan usaha pembuatan telur asin kedepannya dan sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian atau pengkajian lebih lanjut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus yaitu menilai kelayakan usaha apakah usaha tersebut layak dikembangkan atau tidak sehingga perlu adanya evaluasi. Hasil penelitian analisis kelayakan finansial pada usaha pembuatan telur asin “Chozin” dan “Rahayu” menunjukkan bahwa dari analisis biaya, diketahui bahwa telur itik sebagai bahan variabel memiliki persentase paling tinggi pada masing-masing produsen sebesar 97-98%. Hasil perhitungan NPV dengan menggunakan social discount rate 6% menunjukkan NPV pada “Chozin” sebesar Rp. 56.008.516,- sedangkan pada “Rahayu” sebesar Rp. 502.988.428,-. Kedua usaha pembuatan telur asin tersebut layak untuk dikembangkan karena nilai NPV lebih besar dari nol. Hasil perhitungan IRR menunjukkan 8,72% pada “Chozin” dan 10,98% pada “Rahayu”, dari hasil perhitungan IRR dengan menggunakan Social Opportunity Cost of Capital (SOCC) sebesar 6%, ini berarti IRR>SOCC, dengan demikian usaha pembuatan telur asin tersebut layak untuk dikembangkan. Hasil perhitungan BCR adalah 1,07 pada “Chozin” dan pada “Rahayu” sebesar 1,67, hasil tersebut menunjukkan bahwa pada kedua usaha pembuatan telur asin tersebut mengalami keuntungan dan layak untuk dikembangkan. PBP pada usaha pembuatan telur asin “Chozin” selama 5,03 tahun sedangkan pada “Rahayu” nilai PBP selama 3,49 tahun dengan demikian kedua usaha pembuatan telur asin layak untuk dikembangkan karena nilai PBP kurang dari umur ekonomis. Hasil analisis sensitivitas pada usaha pembuatan telur asin “Chozin” dengan kenaikan harga bahan baku telur itik sebesar 5% yaitu harga awal pembelian bahan baku telur itik yaitu Rp. 1.800,- menjadi Rp. 1.900,-. Kenaikan harga bahan baku telur itik 5% mengakibatkan usaha pembuatan telur asin tersebut mengalami kerugian dan tidak layak untuk dikembangkan karena nilai NPV yang dihasilkan lebih kecil daripada nol.Tingkat sensitivitas pada usaha pembuatan telur asin “Rahayu” diperoleh hasil bahwa setiap kenaikan harga bahan baku telur itik 8% dengan harga awal pembelian bahan baku telur itik yaitu Rp. 2.300,- menjadi Rp. 2.500,-. Kenaikan harga bahan baku telur itik 8% membuat NPV turun menjadi Rp. 282.651.269,- atau 48,81%, nilai IRR turun menjadi 14,39% atau 21,58%, BCR turun menjadi 1,38 atau 17,37% dan PBP terjadi penambahan waktu 9 bulan atau 17,88%. Meskipun terjadi kenaikan harga bahan baku telur itik sebesar 8% usaha pembuatan telur asin “Rahayu” masih layak untuk dikembangkan. Perbandingan penilaian analisis investasi menunjukkan bahwa usaha pembuatan telur asin “Rahayu” lebih layak daripada usaha pembuatan telur asin “Chozin” yaitu nilai NPV sebesar Rp. 502.988.428,-, 10,98% pada IRR, nilai BCR 1,67 dan 3,49 tahun pada PBP
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
- …
