2 research outputs found

    AKTIVITAS PEREMPUAN DI LUAR RUMAH PERSPEKTIF KISAH AL-QUR’AN (KAJIAN ANALISIS KONTEKSTUAL)

    No full text
    ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Aktivitas Perempuan di Luar Rumah Perspektif Kisah Al-Qur’an (Kajian Analisis Kontekstual)”. Ayat yang dikaji adalah Surat Al-Qashshâsh: 23 yang mengisahkan pertemuan Musa As. dengan dua perempuan di suatu kota bernama Madyan, dan mendapati keduanya sedang menggembalakan ternak ayah mereka. Perkataan perempuan di akhir ayat mengandung isyarat alasan mereka bekerja di luar rumah adalah keterpaksaan disebabkan ayahnya seorang yang sedang lanjut usia. Hal ini tentu saja sangat kontras dengan apa yang terjadi pada realita perempuan zaman sekarang, dimana faktor terdesak tidak lagi menjadi tolak ukur penentu perempuan memasuki dunia kerja. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan mengkaji masalah tersebut dengan menelusuri pendapat mufassir terkait surat ayat yang Berkaitan dengan Aktivitas Perempuan di Luar Rumah. Adapun rumusan masalah dibatasi pada bagaimana penafsiran ulama tafsir terkait ayat yang berkaitan dengan Aktivitas Perempuan di Luar Rumah dan bagaimana relevansi aktivitas perempuan di luar rumah perspektif kisah Al-Qur‟an dengan realitas sosial perempuan zaman sekarang. Penelitian ini menggunakan metode tahlili dengan jenis penelitian library research, dan menganalisis data yang sudah dikumpulkan baik data primer maupun sekunder. Adapun hasil penelitian ini, Pertama, penafsiran ulama terkait kisah tersebut diantaranya memberi minum binatang ternak adalah pekerjaan pria, dan wanita tidak bekerja di luar rumah kecuali terpaksa. Kedua, relevansi kisah dalam ayat dengan realitas sosial perempuan adalah, dalam keberadaan perempuan yang berkarir sebagai pemenuhan atas kebutuhan hidup dirinya lantaran tidak ada yang membiayai dan mencukupi nafkahnya tidak dapat dielakkan. Dan jika bekerjanya perempuan itu atas faktor darurat terlebih dahulu baru kemudian diperbolehkan bekerja (sebagaimana kisah surat Al-Qashshâsh), penulis berpendapat tentu hal itu tidak lagi dapat diterapkan pada masa sekarang karena perbedaan konteks

    Indonesian tafsir: Development of definitions and shifting functions of tafsir

    No full text
    Tafsir, in its dynamics, does not only function as a medium for studying Allah\u27s verses. There has been a shift in the function of interpretation to become a field for cultivating the interests of individuals, groups and even state governments. This shift in function occurs because tafsir has experienced a development in meaning; previously, tafsir had to be written by someone who met the requirements of a mufassir, but this was not strictly adhered to by tafsir writers from Indonesia. Through this article, various interests in various Indonesian interpretations are discussed, starting from the strengthening of ideology, politics by the government, highlighting communities, even interpretations being used as a means to criticize government policies, and so on. There are various forms of tafsir studied, ranging from the Al-Qur\u27an Encyclopedia, local language tafsir, to government-published translations of the Qur\u27an. Thus, interpretations that emerge from the Indonesian context are not only viewed as normative interpretations, but also as interpretations of interests or ideological interpretations
    corecore