1,720,953 research outputs found
MUSEUM BATIK PEKALONGAN
Indonesia memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang merupakan warisan dari nenek moyang yang harus kita jaga dan lestarikan. Keanekaragaman seni dan budaya yang dimiliki merupakan cirri kepribadian bangsa yang membedakan dengan bangsa lainnya di dunia. Salah satu seni budaya asi Indonesia adalah kerajinan batik yang selain memiliki nilai ekonomis yang tinggi, juga memiliki nilai histories dan filosofis sebagai salah satu aset seni budaya nasional yang patut dijaga dan dilestarikan.
Dapat dikatakan bahwa batik merupakan salah satu perkembangan seni budaya, khususnya di Jawa Tengah, yang dimaksud perkembangan disini ialah cara membuat kain batik, sedangkan motifnya merupakan perkembangan dari paduan berbagai pengaruh dari kebudayaan lain (Hamzuri, 1981).
Berbagai perkembangan batik semakin menambah keaneka ragaman kerajinan batik serta dapat dijadikan sebaga komoditi ekspor yang berkualitas ke mancanegara. Tetapi hal tersebut menjadi salah satu indikasi yang mengancam keberadaan dan kelangsungan hidup batik tradisional.
Hal ini dipengaruhi oleh beberapa sebab yaitu :
Semakin berkurangnya konsumen batik tradisional, yang juga menyebabkan berkurangnya pemasaran
Kemajuan teknologi di bidang industri tekstil, sehingga mampu menghasilkan produksi tekstil bukan batik dengan motif seperti batik.
Proses pembuatan batik tradisional yang membutuhkan waktu cukup lama dan harga jual yang lumayan tinggi
Kurangnya perhatian generasi muda terhadap batik saat ini, baik sebagai komoditi maupun sebagai seni budaya
Kurangnya apresiasi masyarakat dalam upaya melestarikan batik tradisional
Dalam usaha pelestarian kerajinan batik perlu dilakukan upaya peningkatan apresiasi masyarakat melalui suatu fasilitas yang mampu memadukan berbagai teknik pameran yang informative dan atraktif, serta kegiatan pendukung lainnya seperti pelatihan pembuatan batik, studi mengenai pembatikan, pusat informasi batik, art shop dan sebagainya.
Ada banyak daerah di Jawa Tengah yang memproduksi kain batik, diantaranya adalah batik Pekalongan. Pekalongan yang dikenal dengan slogan “Pekalongan Kota Batik” merupakan salah satu pusat kerajinan batik di Jawa Tengah, dimana sebagian besar masyarakat mengandalkan kerajinan batik sebagai sumber mata pencaharian, yaitu dengan menjadi pengrajin, pengusaha, ataupun pedagang batik. Kegiatan batik di Pekalongan telah dikerjakan oleh masyarakat lama sejak zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Batik Pekalongan tumbuh dan berkembang menjadi salah satu batik pesisir yang terkenal mempunyai corak dan warna-warni yang kaya dank has. Cirri khas tersebut menjadikan batik Pekalongan semakin dikenl dimana-mana dan bahkan seluruh Indonesia dan dunia.
Kebanggaan akan kekayaan seni budaya yang dimiliki oleh Kota Pekalongan, semakin memotivasi untuk mewujudkan slogan “Pekalongan Kota Batik” serta sebagai upaya melestarikan seni budaya batik, maka muncul pemikiran untuk membangun sebuah Museum Batik.
Dengan keberadaan Museum Batik di Pekalongan diharapkan kelak dapat mencapai tujuan antara lain :
Pendidikan dan pelatihan kerajinan batik tulis kepada para senjiman dan generasi penerus
Menampilkan secara visual proses dan perkembangan batik sehingga didapat penghayatan terhadap produk batik dari masa ke masa
Upaya pelestarian kerajinan batik pekalongan dapat menanamkan rasa bangga terhadap tingginya seni batik para leluhur
1.2 TUJUAN DAN SASARAN
Tujuan
Memperoleh suatu landasan perencanaan dan perancangan Museum Batik Pekalongan sebagai wadah untuk memelihara dan melestarikan kerajinan batik serta mengembangkan objek wisata budaya di kota Pekalongan.
Sasaran
Menyusun dan merumuskan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) dengan judul Museum Batik Pekalongan.
1.3 MANFAAT
Secara Subjektif
Memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh Tugas Akhir sebagai ketentuan kelulusan S1 pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang serta digunakan sebagai landasan program perencanaan dan perancangan arsitektur yang akan dilanjutkan dalam bentuk grafis.
Secara Objektif
Kontribusi bagi pengembangan pariwisata di kota Pekalongan dalam memanfaatkan potensi yang dimiliki melalui pengadaan objek wisata budaya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan sebagai salah satu upaya pemeliharaan dan pelestarian kerajinan batik.
Juga sebagai masukan bagi pihak yang membutuhkan data mengenai bidang yang bersangkutan dan tambahan pengetahuan dan wawasan bagi mahasiswa, khususnya dalam hal perencanaan dan perancangan Museum Batik.
1.4 LINGKUP PEMBAHASAN
Pembahasan mencakup hal-hal yang berkaitan dengan pengertian Museum Batik sebagai wadah untuk memelihara dan melestarikan kerajinan batik serta mengembangkan objek wisata budaya di kota Pekalongan.
Pengertian yang dimaksud dalam hal ini adalah yang berkaitan dengan disiplin ilmu arsitektur dan ditekankan pada aspek-aspek perencanaan dan perancangan Museum Batik.
Perwujudan yang dilakukan adalah perencanaan dan perancangan Museum Batik dengan mengacu pada Museum Batik Yogyakarta dan Museum Tekstil Jakarta sebagai studi banding.
1.5 METODE PEMBAHASAN
Metode pembahasan yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah metode penulisan deskriptif, yaitu memberikan gambaran segala permasalahan dan keadaan yang ada, kemudian dianalisis dari sudut pandang ilmu yang relevan untuk mendapatkan suatu criteria desain dan dasar perancangan.
Langkah-langkah pengambilan data dilakukan dengan :
Studi literature, dengan mempelajari buku-buku, brosur-brosur, situs internet yang berkaitan dengan teori, konsep atau standar perencanaan yang digunakan dalam penyusunan program
Observasi lapangan, melakukan pengamatan langsung terhadap objek dan studi banding serta instansi-instansi yang memiliki potensi dan relevansi yang mendukung judul.
Wawancara, mengajukan pertanyaan secara langsung dengan pihak-pihak terkait dan kometen dengan topic permasalahan.
1.6 SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) dilakukan dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Menguraikan latar belakang, tujuan dan sasaran, manfaat, lingkup pembahasan, metode pembahasan, sistematika pembahasan dan alur pikir.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Menguraikan tinjauan umum yang berhubungan dengan perencanaan dan perancangan Museum Batik antara lain tinjauan museum, koleksi, pameran, dan tinjauan tentang batik.
BAB III TINJAUAN MUSEUM BATIK PEKALONGAN
Menguraikan tentanng tinjauan Kota Pekalongan secara umum baik fisik dan non fisik serta uraian potensi pariwisata dan kerajinan batik di Pekalongan.
BAB IV KESIMPULAN, BATASAN, DAN ANGGAPAN
Mengungkapkan tentang kesimpulan, batasan, dan anggapan dari uraian pada bab-bab sebelumnya dalam perencanaan dan perancangan Museum Batik Pekalongan.
BAB V PENDEKATAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
Menguraikan analisa dari pelaku dan jenis kegiatan, materi koleksi, kebutuhan ruang, studi kapasitas dan besaran ruang. Juga menguraikan dasar-dasar penekatan aspek fungsional. Kontekstual, teknis, kinerja, dan arsitektural.
BAB VI KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
Membahas mengenai program perancangan yang meliputi program ruang dan lokasi tapak terpilih dan konsep perancangan bangunan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
Author Under Sail The Imagination of Jack London, 1893-1902
In Author Under Sail, Jay Williams offers the first complete literary biography of Jack London as a professional writer engaged in the labor of writing. It examines the authorial imagination in London's work, the use of imagination in both his fiction and nonfiction, and the ways he defined imagination in the creative process in his business dealings with his publishers, editors, and agents. In this first volume of a two-volume biography, Williams traverses the years 1893 to 1902, from London's "Story of a Typhoon" to The People of the Abyss. The Jack London who emerges in the pages of Author Under Sail is a writer whose partnership with publishers, most notably his productive alliance with George Brett of Macmillan, was one of the most formative in American literary history. London pioneered many author models during the heyday of realism and naturalism, blurring the boundaries of these popular genres by focusing on absorption and theatricality and the representation of the seen and unseen. London created an impassioned, sincere, and extremely personal realism unlike that of other American writers of the time. Author Under Sail is a literary tour de force that reveals the full range of London as writer, creative citizen, and entrepreneur at the same time it sheds light on the maverick side of machine-age literature.Intro -- Title Page -- Copyright Page -- Dedication -- Contents -- Acknowledgments -- Introduction -- 1. Spirit Truth -- 2. From Absorption to Theatricality and Back Again -- 3. "I Will Build a New Present" -- 4. Sons as Authors -- 5. Fathers as Publishers -- 6. The Daughter as Author -- 7. Lovers as Authors -- 8. At Sea with the Family -- 9. Yellow News, Yellow Stories -- 10. The Return Home -- Notes -- Bibliography -- Index -- About Jay WilliamsIn Author Under Sail, Jay Williams offers the first complete literary biography of Jack London as a professional writer engaged in the labor of writing. It examines the authorial imagination in London's work, the use of imagination in both his fiction and nonfiction, and the ways he defined imagination in the creative process in his business dealings with his publishers, editors, and agents. In this first volume of a two-volume biography, Williams traverses the years 1893 to 1902, from London's "Story of a Typhoon" to The People of the Abyss. The Jack London who emerges in the pages of Author Under Sail is a writer whose partnership with publishers, most notably his productive alliance with George Brett of Macmillan, was one of the most formative in American literary history. London pioneered many author models during the heyday of realism and naturalism, blurring the boundaries of these popular genres by focusing on absorption and theatricality and the representation of the seen and unseen. London created an impassioned, sincere, and extremely personal realism unlike that of other American writers of the time. Author Under Sail is a literary tour de force that reveals the full range of London as writer, creative citizen, and entrepreneur at the same time it sheds light on the maverick side of machine-age literature.Description based on publisher supplied metadata and other sources.Electronic reproduction. Ann Arbor, Michigan : ProQuest Ebook Central, YYYY. Available via World Wide Web. Access may be limited to ProQuest Ebook Central affiliated libraries
- …
