6,350 research outputs found

    Perianal ultrasound (PAUS): visualization of sphincter muscles and comparison with digital-rectal examination (DRE) in females

    No full text
    Abstract Background The aim of this study was to determine the reproducibility and tolerance of perianal ultrasound (PAUS) and detect differences in sphincter muscles between various measuring positions and different maneuvers. PAUS was compared to digital-rectal examination (DRE) to see if sphincter contraction is visible and gradable in ultrasound volumes. Methods Fifty women underwent a medical history, DRU and PAUS by two uro-gynecologists in a prospective trial. PAUS volumes were measured via different parameters in different maneuvers. Examiners’ DRE impressions of sphincter tone were scaled with the DRESS-score. All patients completed a questionnaire. Results Thirty-five patients with complete PAUS and DRE were included in the study. Fifteen patients were excluded due to poor ultrasound volume quality or sphincter defects. Comparison of sphincter muscle thickness at different positions in PAUS showed significant differences between 6 and 12 o’clock positions (12 > 6 o’clock) and diameters (horizontal > vertical). No difference was found between the examiners. In comparison of rest and contraction only the vertical diameter changed. There was a negative but not significant correlation between PAUS measurements and DRESS-scores. Twenty-six patients completed the questionnaire that revealed women preferred PAUS over DRE. Conclusion PAUS is a reproducible and good tool to visualize the anal canal. It is comfortable for patients and easily handled by examiners. Sphincter muscle contraction is iso-volumetric. Vertical diameter changes during contraction leading the anal canal change its shape to oval due to external influence. PAUS is the ideal additional tool to visualize relevant structures that are palpable on DRE

    Kesuburan Perairan dan Potensi Makanan pada Habitat Hiu Paus (Rhincodon typus Smith, 1828) di Pesisir Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesuburan perairan dan ketersediaan makanan pada habitat hiu paus (Rhincodon typus) di perairan pesisir Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai Maret 2016 dengan mengukur karakteristik fisika dan kimia kualitas air dan pengambilan contoh pada komunitas plankton pada saat kemunculan hiu paus. Terdapat 26 individu hiu paus yang terdiri dari 22 jantan dan 4 betina, kisaran ukuran panjang hiu paus adalah antara 2 sampai 8,5 meter. Kondisi habitat memiliki karakteristik hangat dengan suhu permukaan laut berkisar antara 30 sampai 32°C. Nilai indeks TRIX adalah 4,0008 menunjukkan bahwa perairan pesisir pada kondisi eutrofik. Copepoda diduga merupakan makanan utama hiu paus, karena mendominasi potensi makanan

    Paus Fransiskus: Manusia pendoa

    No full text
    Jakartaxiv, 198 p.; 21 c

    Arti Persaudaraan Menurut Paus Fransiskus dan Gus Dur

    No full text
    In the midst of the weakening of fraternal relations between people, there are two important figures who write their ideas related to "brotherhood". These two figures are Pope Francis and Gus Dur. According to Pope Francis, brotherhood means treating all beings as brothers and sisters. The language used by Pope Francis is the call to be a neighbor to others. Meanwhile, according to Gus Dur, brotherhood means loving the different (plurality) in human life. Gus Dur strongly emphasizes the importance of tolerance and respect for differences between human beings, especially religions. In this article, the author wants to compare the thoughts of the two figures on the theme of "brotherhood". In addition, this paper also aims to contribute thoughts for everyone to increase the spirit of building brotherhood that is able to transcend existing boundaries.AbstrakDi tengah arus merenggangnya relasi persaudaraan antar manusia, ada dua tokoh penting yang menuliskan gagasannya berkaitan dengan “persaudaraan”. Kedua tokoh tersebut ialah Paus Fransiskus dan Gus Dur. Menurut Paus Fransiskus, persaudaraan berarti memperlakukan segenap makhluk sebagai saudara dan saudari. Bahasa yang digunakan oleh Paus Fransiskus ialah panggilan menjadi sesama bagi yang lain. Sementara itu menurut Gus Dur, persaudaraan berarti sikap menyayangi yang berbeda (pluralitas) dalam kehidupan umat manusia. Gus Dur sangat menekankan pentingnya toleransi dan sikap menghargai perbedaaan antar umat manusia, khususnya agama. Dalam artikel ini, penulis hendak membandingkan pemikiran kedua tokoh mengenai tema “persaudaraan”. Selain itu, tulisan ini juga hendak memberikan kontribusi pemikiran bagi setiap orang untuk meningkatkan semangat membangun persaudaraan yang mampu melampaui batas-batas yang ada

    Analisis Keberadaan Hiu Paus (Rhincodon typus) di Hubungkan Dengan Parameter Oseanografi Dalam Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua

    No full text
    Hiu paus (Rhincodon typus) merupakan spesies hiu penyaring makanan (filter feeder) yang terancam punah serta memiliki daerah distribusi hampir di seluruh dunia pada laut beriklim panas maupun hangat, Kehadiran spesies ini terdokumentasi dengan sangat baik dan selalu bertepatan dengan peristiwa produktivitas laut yang tinggi. Secara umum distribusi dan kelimpahan hiu paus dipengaruhi oleh beberapa proses oseanografi seperti kenaikan massa air (upwelling), arus pantai (coastal currents) dan fronts, yang meningkatkan produktivitas lingkungan sekitarnya. Analisis hubungan antara suatu spesies dengan kondisi lingkungan merupakan hal penting dalam suatu ekologi. Spesies laut sering berasosiasi dengan habitat biologi dan fisik tertentu sehingga membangun ketertarikan untuk memahami peranan kondisi lingkungan dalam mengarahkan pola distribusi dan kelimpahan. Penelitian ini dilakukan dalam 3 tahapan yang secara keseluruhan saling melengkapi satu dengan lainnya. Tahap Pertama: Menemukan Frekuensi Kehadiran hiu paus antara lain: waktu dan lokasi kehadiran hiu paus berdasarkan musim. Tahap Kedua: menganalisis kondisi parameter oseanografi meliputi: data suhu permukaan laut (SPL), klororfil -a, Tinggi Muka laut (TML), arus dan kedalaman (Bathymetri) yang diunduh dari satelit, selanjutnya dilakukan analisis hubungan antara faktor oseanografi dengan kehadiran hiu paus menggunakan Model Generalized Additive Models (GAM). Tahap Ketiga: mendapatkan Habitat Suistability Indeks (HSI) yang sesuai dengan kehadiran hiu paus di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Hasil penelitian kehadiran hiu paus berdasarkan musim, terlihat rata rata kehadiran pada musim peralihan I (Maret – Mei /barat –Timur) merupakan musim yang tertinggi sebanyak 7 Ind/hari dan terendah pada musim Peralihan II (September-November/Timur barat) sebanyak 4 Ind/hari. Frekuensi kehadiran hiu paus berdasarkan lokasi, terlihat bahwa hiu paus lebih sering hadir pada lokasi Sowa sebesar 68,84% dibandingkan dengan lokasi Kwatisore sebesar 31,16 %. Nilai Suhu Permukaan Laut (SPL)berada antara 30,3°C – 31,3°C, klorofil-a berada antara 0,39 - 0,86 mg l-1, kecepatan arus berada antara 0,46 - 0,65 m s-1, Tinggi Muka laut (TML) berada antara 0,63 – 1,00 cm dan kedalaman (bathymetri) berada antara 40-50 meter. Hubungan antara faktor oseanografi dengan kehadiran hiu paus dengan menggunakan Model predictor Generalized Additive model (GAM), menunjukkan bahwa parameter Suhu Permukaan Laut (SPL)dan klorofil-a paling besar rmempengaruhi kehadiran hiu paus. dimana memiliki nilai Akaikes Information Criteria (AIC) sebesar 427,24 % dan nilai Cumulatif Deviance Explained (CDE) sebesar 57.30%, diikuti oleh model predictor Bathymetri dan Tinggi Muka laut ( TML) dengan nilai Akaikes Information Criteria (AIC) sebesar 434.07% dan nilai Cumulatif Deviance Explained (CDE) sebesar 51,40% sementara model predictor arus merupakan model terakhir yang mempengaruhi kehadiran hiu paus dengan nilai Akaikes Information Criteria (AIC) sebesar 436,88% dan Cumulatif Deviance Explained (CDE) sebesar 51,40. Berdasarkan hasil analisis Habitat Suistability Indeks (HIS), menemukan sebagian besar kehadiran hiu paus berada pada kisaran Habitat Suistability Indeks (HSI) antara 0,4 sampai 0,

    Paus Bungkuk Dalam Karya Keramik Pada Konteks Hubungan Manusia Dan Alam

    No full text
    Paus bungkuk (Megaptera novaeangliae) memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Dipilih sebagai objek utama karena ukurannya yang besar dan kemampuannya mendukung siklus nutrisi melalui “whale pump” yang merangsang pertumbuhan fitoplankton penghasil sekitar 50% oksigen dunia. Namun, populasi paus ini terancam akibat perubahan iklim, menurunnya sumber makanan, dan resiko tabrakan kapal. Konsep karya memadukan keindahan visual paus dengan pesan konservasi lingkungan. Tujuannya adalah menciptakan karya seni keramik tiga dimensi yang estetis dan penuh makna ekologis. Proses penciptaan berlandaskan teori estetika dan ekokritisisme. Tahapannya meliputi konseptualisasi, eksplorasi, eksekusi, dan refleksi. Pada fase awal, penulis menelaah budaya, ekologi, serta ancaman terhadap paus. Eksplorasi melibatkan teknik cetak tekan, pinch, modelling, intaglio, dan slip trailing menggunakan tanah liat stoneware. Karya dibentuk, dikeringkan, dibakar biskuit, diberi glasir, lalu dibakar akhir pada suhu 1212°C. Refleksi dilakukan untuk mengevaluasi keberhasilan penyampaian pesan. Delapan karya berupa bentuk tiga dimensi, panel, dan instalasi berhasil menggambarkan relasi manusia dan paus. Simbolisme bentuk, warna, dan tekstur digunakan untuk membangun narasi ekologis. Keseluruhan karya menekankan pentingnya harmoni antara manusia dan alam laut

    PEMODELAN DAERAH POTENSIAL KEMUNCULAN HIU PAUS (Rhincodon typus) MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH DI PERAIRAN PROBOLINGGO, JAWA TIMUR

    No full text
    Perairan Probolinggo merupakan salah satu lokasi agregasi musiman hiu paus (Rhincodon typus) di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Hiu paus di perairan Probolinggo banyak dijumpai pada bulan Desember sampai Maret, meskipun kemunculan dapat terjadi sepanjang tahun di sekitar pantai utara Pulau Jawa. Hiu paus telah dimasukkan sebagai salah satu spesies yang mendapatkan perlindungan penuh oleh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pendugaan daerah kemunculan hiu paus di perairan pantai Probolinggo. Data kemunculan hiu paus bulan Januari sampai Maret 2016 diperoleh dari lembaga hiu paus Indonesia. Parameter oseanografi yang digunakan yaitu sea surface temperature (SST), dan konsentrasi klorofil-a (chl-a) diperoleh dari data penginderaan jauh, sedangkan kedalaman perairan berasal dari GEBCO (The General Bathymetryc Chart of the Oceans). Maximum entropy model digunakan untuk memprediksi habitat yang sesuai terhadap distribusi hiu paus dengan didasarkan pada parameter yang berpengaruh terhadap kemunculan hiu paus di perairan Probolinggo. Nilai area under curve (AUC) sebesar 0,997 menunjukkan bahwa model dapat memprediksi kesesuaian habitat hiu paus dengan sangat baik. Dari ketiga parameter yang diuji, kedalaman (71,0%) menunjukkan sebagai parameter yang paling berpengaruh terhadap kemunculan hiu paus di perairan Probolinggo, disusul oleh chl-a (15,7%) dan SST (13,3%). Hasil juga menunjukkan hiu paus banyak ditemukan pada kedalaman 9 – 14 meter dan chl-a 0,5 – 0,7 mg/m3 serta SST 29 – 30°C. Distribusi hiu paus yang diperoleh memberi peluang untuk mengidentifikasi spesifik area dengan tingkat akurasi kehadiran yang tinggi di sepanjang pantai Probolinggo; pengenalan spesifik area ini dapat dijadikan dugaan untuk membangun manajemen praktis yang efektif untuk meningkatkan perlindungan hiu paus. Probolinggo water is one of suitable sites of the whale sharks (Rhincodon typus) seasonal aggregation in Indonesia during the last years. Whale sharks in Probolinggo waters are common appear in December to March, although they can be seen years-around in the North Coast of Java Island. Whale sharks have been included as one of the full protected species of the world. This study aims to develop a model prediction of the whale sharks occurrence in Probolinggo coastal waters. The occurrence data of whale sharks from January to March 2016 was obtained from the whale sharks institute of Indonesia. The oceanographic parameters were used sea surface temperature (SST), and chlorophyll-a concentration (chl-a), obtained from remotely sensed data, while water depth derived from GEBCO (The General Bathymetryc Chart of the Oceans). Maximum entropy models are used to predict suitable habitats for the distribution of whale sharks based on the influential parameters on the appearance of whale sharks in Probolinggo waters. The value of the under-curve area (AUC) of 0.997 indicates that the model can predict the suitability of whale sharks habitat excellent. Of the three parameters tested, depth (71,0%) showed as the most parameters influenced the occurrence of whale sharks in this waters, followed by chl-a (15,7%) and SST (13,3%). Furthermore, the results showed that whale sharks were mostly found at depths of 9 – 14 meters, chl-a of 0,5–0,7 mg/m3and SST of 29 – 30°C. The distribution of whale sharks obtained provides an opportunity to identify the specific areas with high attendance accuracy along Probolinggo waters; the recognition of the specific area can be used as starting points to develop effective management practices to improvewhale sharks protection

    Toward an Integration of the Learning and Communication Perspectives in Computer-Supported Instructional Communication

    No full text
    Deiglmayr A, Paus E, McCall C, et al. Toward an Integration of the Learning and Communication Perspectives in Computer-Supported Instructional Communication. Journal of Media Psychology. 2013;25(4):180-189.Research on computer-supported instructional communication (CSIC) involves the study of interactions between instructors, learners, and system components in computer-based learning environments. At least two strands of research can be identified that are crucial for the understanding of CSIC: From the learning perspective, rooted in cognitive and educational psychology, CSIC is analyzed with regard to its potential for promoting specific cognitive processes, and thus ultimately for improving learning. From the communication perspective, rooted in social psychology and communication science, CSIC is analyzed with regard to conditions that affect its effectiveness and efficiency. CSIC researchers face the challenge of integrating the two traditionally separate research strands and their distinct methodological frameworks. In turn, new methods and findings emerging from an integrative application of research methods are leading to new conceptual challenges regarding the causal mechanisms mediating between the interindividual and the intraindividual levels in CSIC. We provide examples of CSIC research that demonstrate successful methodological integration, and introduce open conceptual challenges

    Kajian Kemunculan (Agregasi) Hiu Paus (Rhincodon Typus) Berdasarkan Faktor Lingkungan (Spl, Klorofil–A, Dan Arus Permukaan) Di Perairan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur

    No full text
    Hiu paus (Rhincodon typus Smith, 1828) merupakan spesies ikan epipelagis terbesar di dunia dengan warna abu-abu gelap dan tutul putih di hampir seluruh tubuhnya. Hiu ini mendiami perairan tropis dan subtropis dan melakukan kemunculan di beberapa lokasi di dunia. Kemunculan ini diyakini bertepatan dengan waktu subur perairan. Hiu initerdaftar dalamRed List IUCN dan Appendix II CITES dan CMS. Indonesiatelah menetapkan hiu paus sebagai jenis ikan yang dilindungi melalui KepMen No. 18/MENKP/2013, sehingga diperlukan studi lebih lanjut terkait keberadaan hiu ini. Salah satu lokasi kemunculan hiu paus di Indonesia ialah Kabupaten Probolinggo. Penelitian yang dilakukan terkait pengambilan data lokasi kemunculan dengan menggunakan GPS, yang kemudian diolah dalam Ms. Excel 2013 dan ArcGIS 10 serta pengamatan perilaku hiu paus di perairan Kabupaten Probolinggo. Data kemunculan kemudian dibagi setiap minggunya disesuaikan dengan data mingguan citra satelit. Pengolahan data faktor lingkungan (SPL, Klorofil-a dan Arus Permukaan)dilakukan sebagai penyebab kemunculan hiu paus di perairan Kabupaten Probolinggo.Data faktor lingkungan diperoleh dari citra satelit yang kemudian diolah dengan menggunakan Ms. Excel 2013, ArcGIS 10 dan Surfer 10. Kemunculan hiu paus terjadi hampir di setiap minggunya (Minggu 1, Minggu 5–Minggu 9), mulai dari perairan Kecamatan Dringu hingga perairan Kecamatan Paiton. Sebagian besar hiu paus di perairan tersebut melakukan surface feeding. Kondisi perairan Kabupaten Probolinggo pada Minggu Kemunculan Hiu Paus berada pada SPL antara 29,2–32,8°C dan konsentrasi Klorofil-a antara 0,4–2,4 mg/l, sedangkan pada Minggu Tanpa Kemunculan Hiu Paus, SPL antara 28,4–31,4°C dan Klorofil-a antara 0,3–2,4mg/l. Persebaran Arus Permukaan pada seluruh minggu antara 0–0,17 m/s dan menuju arah Timur. Kemunculan hiu paus di perairan Kabupaten Probolinggo disesuaikan dengan kondisi SPL sebagai pemicu migrasi (perilaku termoregulasi), Klorofil-a sebagai proxy dari organisme planktonik (pakan hiu paus) dan arus permukaan sebagai pendorong persebaran SPL dan Klorofil-a. Oleh karena kondisi tersebut, pada bulan Desember 2015, diperkirakan hiu paus berada di perairan pesisir sekitar Kabupaten Pasuruan hingga Kabupaten Probolinggo dan pada bulan April–Mei 2016, berada pada perairan pesisir sekitar Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Situbondo. Penentuan lokasi duga ini disesuaikan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan dan diperkuat dengan beberapa literatur terkait lainnya
    corecore