1,720,981 research outputs found
PENGARUH PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK CHITOSAN DAN DOSIS PUPUK KANDANG TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN MANGGA (Mangiferaindica L.) KULTIVAR GEDONG GINCU
Pupuk Organik berbahan aktif chitosan pada tanaman berperan sebagai aktifator,regulator, stimulator, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, memobilisasi danmeningkatkan ketersediaan unsur-unsur hara, dan meningkatkan laju fotosintesis dandistribusi fotosintat. Sedangkan pemberian bahan organik yang berasal dari kotoran hewan(pupuk kandang) pada perkebunan buah mangga gedong gincu disamping sebagai sumberhara penting bagi tanah dan tanaman, juga dapat meningkatkan kesuburan tanah baik fisik,kimia maupun biologis, dan sebagai pemantap agregat tanah,Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupukorganik berbahan aktif chitosan dan dosis pupuk kandang kambing terhadap produktivitastanaman mangga (Mangifera indica L.) kultivar Gedong Gincu. Penelitian dilaksanakan diKebun Produksi buah mangga Gedong Gincu milik Gapoktan Samimulya Kecamatan SedongKabupaten Cirebon yang dilaksanakan pada bulan Desember 2013 sampai dengan Juni2014Metode Penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan RancanganAcak Kelompok (RAK). Penelitian ini terdiri dari dua faktor yaitu faktor penggunaan pupukorganik berbahan aktif Chitosan dan faktor dosis pupuk kandang . Pupuk organic berbahanaktif chitosan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pupuk organic Chi Farm,sedangkan pupuk kandang yang digunakan adalah kotoran kambing. Faktor penggunaanpupuk organik Chitosan (P) terdiri dari dua taraf yaitu P0= penggunaan pupuk organikberbahan aktif Chitosan, dan P1= tanpa penggunaan pupuk organik Chitosan. Sedangkanfaktor kedua yaitu Faktor dosis pupuk kandang (K) terdiri dari tiga taraf yaitu:K1= tanpapenggunaan pupuk kandang, K2= 25 kg/pohon dan K3= 50 kg/pohon. Variabel yang diamatiyaitu jumlah buah pentil/pohon (butir), jumlah buah muda/pohon (butir), jumlah produksibuah/pohon (kg)Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi penggunaan pupukorganik Chitosan (P) dengan perlakuan Dosis Pupuk Kandang (K) berpengaruh terhadapjumlah buah pentil per pohon, jumlah buah muda per pohon dan jumlah produksi per pohon.Perlakuan penggunaan pupuk organik Chitosan (P0) dan penggunaan Dosis Pupuk Kandang50 kg/pohon ( K3 ) memberikan hasil yang paling tinggi pada jumlah buah pentil/pohon yaitu195,25 butir, jumlah buah muda/pohon yaitu 137,92 butir dan hasil produksi buah/pohonyaitu 31,08 kg mangga per poho
PENGARUH PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK CHITOSAN DAN DOSIS PUPUK KANDANG TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN MANGGA (Mangiferaindica L.) KULTIVAR GEDONG GINCU
Pupuk Organik berbahan aktif chitosan pada tanaman berperan sebagai aktifator,regulator, stimulator, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, memobilisasi danmeningkatkan ketersediaan unsur-unsur hara, dan meningkatkan laju fotosintesis dandistribusi fotosintat. Sedangkan pemberian bahan organik yang berasal dari kotoran hewan(pupuk kandang) pada perkebunan buah mangga gedong gincu disamping sebagai sumberhara penting bagi tanah dan tanaman, juga dapat meningkatkan kesuburan tanah baik fisik,kimia maupun biologis, dan sebagai pemantap agregat tanah,Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupukorganik berbahan aktif chitosan dan dosis pupuk kandang kambing terhadap produktivitastanaman mangga (Mangifera indica L.) kultivar Gedong Gincu. Penelitian dilaksanakan diKebun Produksi buah mangga Gedong Gincu milik Gapoktan Samimulya Kecamatan SedongKabupaten Cirebon yang dilaksanakan pada bulan Desember 2013 sampai dengan Juni2014Metode Penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan RancanganAcak Kelompok (RAK). Penelitian ini terdiri dari dua faktor yaitu faktor penggunaan pupukorganik berbahan aktif Chitosan dan faktor dosis pupuk kandang . Pupuk organic berbahanaktif chitosan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pupuk organic Chi Farm,sedangkan pupuk kandang yang digunakan adalah kotoran kambing. Faktor penggunaanpupuk organik Chitosan (P) terdiri dari dua taraf yaitu P0= penggunaan pupuk organikberbahan aktif Chitosan, dan P1= tanpa penggunaan pupuk organik Chitosan. Sedangkanfaktor kedua yaitu Faktor dosis pupuk kandang (K) terdiri dari tiga taraf yaitu:K1= tanpapenggunaan pupuk kandang, K2= 25 kg/pohon dan K3= 50 kg/pohon. Variabel yang diamatiyaitu jumlah buah pentil/pohon (butir), jumlah buah muda/pohon (butir), jumlah produksibuah/pohon (kg)Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi penggunaan pupukorganik Chitosan (P) dengan perlakuan Dosis Pupuk Kandang (K) berpengaruh terhadapjumlah buah pentil per pohon, jumlah buah muda per pohon dan jumlah produksi per pohon.Perlakuan penggunaan pupuk organik Chitosan (P0) dan penggunaan Dosis Pupuk Kandang50 kg/pohon ( K3 ) memberikan hasil yang paling tinggi pada jumlah buah pentil/pohon yaitu195,25 butir, jumlah buah muda/pohon yaitu 137,92 butir dan hasil produksi buah/pohonyaitu 31,08 kg mangga per poho
KAJIAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI TANAMAN PERKEBUNAN SKALA KECIL DI KABUPATEN CIREBON PROVINSI JAWA BARAT
Kabupaten Cirebon memiliki potensi dalam pengembangan agroindustri, terutama pada sector tanaman perkebunan, karena Kabupaten Cirebon memiliki sumber daya alam yang mendukung, yaitu kondisi agroklimat yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman perkebunan sperti kelapa, melinjo, dan nilam. Peningkatan luas areal dan produksi tanaman perkebunan di Kabupaten Cirebon masih sedikit yang diolah lebih lanjut. Hasil tanaman perkebunan yang diperdagangkan para petani rata-rata masih terbatas pada tingkat on farm agribusiness dengan nilai tambah (value added) bagi petani yang masih kecil yang mengakibatkan pendapatan petani blum memadai. Masalah-masalah yang nampak dalam pengembangan agroindustri tanaman perkebunan skala kecil di Kabupaten Cirebon adalah kantong-kantong produksi tanaman perkebunan tersebar di seluruh wilayah dengan jenis komoditas yang beraneka ragam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komoditas unggulan tanaman perkebunan, menentukan kawasan andalan, dan menentukan strategi pengembangan agroindustri tanaman perkebunan skala kecil yang sesuai dengan kondisi Kabupaten Cirebon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode survey, melalui pengumpulan data berupa data primer dan data sekunder yang diperoleh secara langsung melalui survey lapangan (observasi), pengisian kuesioner, wawancara, dan studi pustaka dari laporan penelitian dan catatan dinas terkait. Metode analisis data untuk menentukan komoditas unggulan, kawasan andalan dan strategi pengembangan menggunakan teknik keputusan berjenjang yang dikenal Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas unggulan yang berpotensi untuk dikembang-kan dalam pengembangan agroindustri tanaman perkebunan skala kecil di Kabupaten Cirebon adalam komoditas Nilam, sedangkan kawasan yang berpontensi paling tinggi sebagai pusat pengembangan agroindustri komoditas nilam (komoditas unggulan terpilih) adalah Kecamatan Dukuh Puntang, dan kecamatan alternatif lain secara brturut-turut adalah Sumber, Beber, dan Asata Japura. Hasil analisis strategi pengembangan menunjukkan bahwa faktor kelembagaan merupakan faktor yang paling berperan dalam pengembangan agroindustri minyak nilam skala kecil di Kabupaten Cirebon, diikuti SDM, sosial budaya, kebijakan pemerintah dan permodalan. Untuk pelaku (actor) yang paling berperan adalah BUMN/S dan Kelompok Tani/KUB, dan tujuan yang diproritaskan dalam pengembangan agroindustri minyak nilam skala kecil di Kabupaten Cirebon adalah meningkatkan pendapatan petani
KAJIAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI TANAMAN PERKEBUNAN SKALA KECIL DI KABUPATEN CIREBON PROVINSI JAWA BARAT
Kabupaten Cirebon memiliki potensi dalam pengembangan agroindustri, terutama pada sector tanaman perkebunan, karena Kabupaten Cirebon memiliki sumber daya alam yang mendukung, yaitu kondisi agroklimat yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman perkebunan sperti kelapa, melinjo, dan nilam.           Peningkatan luas areal dan produksi tanaman perkebunan di Kabupaten Cirebon masih sedikit yang diolah lebih lanjut. Hasil tanaman perkebunan yang diperdagangkan para petani rata-rata masih terbatas pada tingkat on farm agribusiness dengan nilai tambah (value added) bagi petani yang masih kecil yang mengakibatkan pendapatan petani blum memadai.           Masalah-masalah yang nampak dalam pengembangan agroindustri tanaman perkebunan skala kecil di Kabupaten Cirebon adalah kantong-kantong produksi tanaman perkebunan tersebar di seluruh wilayah dengan jenis komoditas yang beraneka ragam.           Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komoditas unggulan tanaman perkebunan, menentukan kawasan andalan, dan menentukan strategi pengembangan agroindustri tanaman perkebunan skala kecil yang sesuai dengan kondisi Kabupaten Cirebon.           Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode survey, melalui pengumpulan data berupa data primer dan data sekunder yang diperoleh secara langsung melalui survey lapangan (observasi), pengisian kuesioner, wawancara, dan studi pustaka dari laporan penelitian dan catatan dinas terkait. Metode analisis data untuk menentukan komoditas unggulan, kawasan andalan dan strategi pengembangan menggunakan teknik keputusan berjenjang yang dikenal Analytical Hierarchy Process (AHP).           Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas unggulan yang berpotensi untuk dikembang-kan dalam pengembangan agroindustri tanaman perkebunan skala kecil di Kabupaten Cirebon adalam komoditas Nilam, sedangkan kawasan yang berpontensi paling tinggi sebagai pusat pengembangan agroindustri komoditas nilam (komoditas unggulan terpilih) adalah Kecamatan Dukuh Puntang, dan kecamatan alternatif lain secara brturut-turut adalah Sumber, Beber, dan Asata Japura.           Hasil analisis strategi pengembangan menunjukkan bahwa faktor kelembagaan merupakan faktor yang paling berperan dalam pengembangan agroindustri minyak nilam skala kecil di Kabupaten Cirebon, diikuti SDM, sosial budaya, kebijakan pemerintah dan permodalan. Untuk pelaku (actor) yang paling berperan adalah BUMN/S dan Kelompok Tani/KUB, dan tujuan yang diproritaskan dalam pengembangan agroindustri minyak nilam skala kecil di Kabupaten Cirebon adalah meningkatkan pendapatan petani
METODE PEMBERIAN DAN DOSIS KAPUR TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF DAN HASIL KACANG MERAH
Wijaya dan Dodi Budirokhman, 2014. METHOD OF GIVED AND DOSE OF LIMING ON VEGETATIVE GROWTH AND YIELD OF SSNEP BEAN ( Phaseolus lunatus . L ). In many areas Kuningan locally grown beans . Average production in the region is still low at less than 5 tons per hectare . Estimated low yields , because in general agricultural land in the region is still brass acidic ( pH :5,0 - 5 , 5 ) . The use of lime, one way to increase production. This experiment aims to look at the method and dosage of lime, in order to increase the production of snep bean . The experiments were conducted in the village cageur ( 542 m asl ) , Sub District Darma , District Kuningan , soil type latosol kecolatan , pH : 5.2 . Using a randomized block design with factorial models .The treatment are: A. Method of lime gived model: A.1 : plated on each mixed beds and flat on the ground surface , A2 . Mixed in each plant hole . B. Dose use of lime : B1 . Without given lime ( 0 tonnes / ha ) , B2 : 1 ton / ha , B3 : 2 tons / ha ; B4 : 3 tonnes / ha and B5 : 4 tons / ha . Used replication 4 times. The results indicate that 1 . Method of lime for each hole is more effective in increasing the pH value of the soil , and the effect is more efficient in the role of the plant to utilize the results of the uptake . 2 . Giving plants per hole at a dose of 3 and 4 tonnes per hectare can provide improved fresh seed production by 64.42 % and 81.58 % and 74.85 % of dry seeds and 94.79 % compared with controlKey word: Phaseolus lunatus. L,liming, yield
METODE PEMBERIAN DAN DOSIS KAPUR TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF DAN HASIL KACANG MERAH
Wijaya dan Dodi Budirokhman, 2014. METHOD OF GIVED AND DOSE OF LIMING ON VEGETATIVE GROWTH AND YIELD OF SSNEP BEAN ( Phaseolus lunatus . L ). In many areas Kuningan locally grown beans . Average production in the region is still low at less than 5 tons per hectare . Estimated low yields , because in general agricultural land in the region is still brass acidic ( pH :5,0 - 5 , 5 ) . The use of lime, one way to increase production. This experiment aims to look at the method and dosage of lime, in order to increase the production of snep bean . The experiments were conducted in the village cageur ( 542 m asl ) , Sub District Darma , District Kuningan , soil type latosol kecolatan , pH : 5.2 . Using a randomized block design with factorial models .The treatment are: A. Method of lime gived model: A.1 : plated on each mixed beds and flat on the ground surface , A2 . Mixed in each plant hole . B. Dose use of lime : B1 . Without given lime ( 0 tonnes / ha ) , B2 : 1 ton / ha , B3 : 2 tons / ha ; B4 : 3 tonnes / ha and B5 : 4 tons / ha . Used replication 4 times. The results indicate that 1 . Method of lime for each hole is more effective in increasing the pH value of the soil , and the effect is more efficient in the role of the plant to utilize the results of the uptake . 2 . Giving plants per hole at a dose of 3 and 4 tonnes per hectare can provide improved fresh seed production by 64.42 % and 81.58 % and 74.85 % of dry seeds and 94.79 % compared with controlKey word: Phaseolus lunatus. L,liming, yield
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
