1,015 research outputs found

    A Comparative Study of French, British, Dutch, and Russian External Supervisory Agencies of Investigators and Prosecutors within Integrated Criminal-Justice-System

    Full text link
    Criminal justice system consists of sub-systems that carry out different tasks and authorities. However, they have the same purpose to implement legal provisions against crimes. The sub-systems cover police, prosecutor, court, and correctional institution. However, in practice, especially in Indonesia, the relation of these sub-systems is not harmonious. It causes legal certainty becoming hard to achieve. One of the solutions is the establishment of supervisory institutions. Nevertheless, in Indonesia, the function of supervisory institution is still unbalanced. Police investigators and prosecutors are stationed at different institutions. The National Police Commission (Kompolnas –Komisi Kepolisian Nasional) and the Prosecutorial Commission (Komjak –Komisi Kejaksaan) are formed by Presidential Regulation, while the Judicial Commission as the Court supervisory institution is formed by the law. A comparison of France, The Netherlands, United Kingdom, and Russian reveals the fact that Police and Prosecutor are under the Ministry of Internal Affairs and the Ministry of Justice. Therefore, the coordination between investigators and prosecutors can be harmonious under one coordination. This study employed a comparison method to observe the supervisory institutions to minimize the practice of judicial corruption in the sub-system. There are two opportunities. The first is to strengthen the main tasks and authorities of Kompolnas and Komjak by changing the existed legislation or establishing new supervisory institution that covering all supervisory functions in the activities of investigation, prosecution, and examination (by the judge) in one legislation.AbstrakDalam sistem peradilan pidana, terdiri dari sub-sub sistem yang menjalan tugas dan kewenangan yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu melaksanakan ketentuan perundang-undangan untuk menanggulangi kejahatan. Sub system tersebut, diantaranya Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman dan Lembaga Pemasyarakatan. Namun praktik di Indonesia, bekerjanya sub-sub system tersebut tidak harmonis, sehingga kepastian hukum menjadi sesuatu yang langka. Salah satu faktor bekerja sub-sub system tersebut adalah adanya lembaga pengawasan, namun di Indonesia, lembaga pengawasan tersebut masih timpang. Penyidik polisi dan jaksa penuntut berada pada lembaga pengawasan yang berbeda, yaitu oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan Komisi Kejaksaan (Komjak) yang dibentuk dengan sebuah Peraturan Presiden, sedangkan untuk pengadilan diawasi oleh Komisi Yudisial yang dibentuk dengan Undang-Undang. Perbandingan yang didapat dari negara Perancis, Belanda, Inggris dan Rusia didapat fakta, bahwa Kepolisian dan Kejaksaan berada dibawah Menteri Dalam Negeri dan Kehakiman, sehingga koordinasi antara penyidik dan penuntut dapat harmonis karena berada dibawah satu koordinasi. Metode yang digunakan adalah melakukan perbandingan pada konteks lembaga pengawas dalam sub system peradilan pidana terpadu untuk meminimalisir praktik judicial corruption. Terdapat dua peluang, yaitu memperkuat tugas pokok dan kewenangan Kompolnas dan Komjak di perubahan perundang-undangan atau membentuk lembaga pengawasan baru dengan sebuah Undang-Undang dengan menggabungkan menjadi satu lembaga fungsi pengawasan pada kegiatan penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan (oleh hakim).DOI: https://doi.org/10.22304/pjih.v5n3.a7

    Pemeranan Tokoh Putri Sanggramawijaya dalam Pertunjukan Janji Kilisuci Karya Agus G Budianto

    Full text link
    Naskah Janji Kilisuci karya Agus G Budianto menceritakan tentang kisah seorang Putri Mahkota yang mendapatkan sebuah tekanan dari anggota keluarga dan masyarakat sekitar sampai pada akhirnya dia memilih untuk membunuh atau ingkar janji kepada Lembu Sura dengan cara menguburnya di dalam sumur. Akan tetapi dia memiliki alasan, yaitu karena Putri Sanggramawijaya tidak mengalami menstruasi seperti wanita pada umumnya dan hal tersebut hanya diketahui oleh dirinya serta orang yang mengasuhnya sejak masih bayi. Bentuk pertunjukan Janji Kilisuci adalah teater modern berbasis tradisi. memerankan tokoh Putri Sanggramawijaya dalam naskah yang mengandung sebuah gerakan emansipasi wanita, yaitu feminis eksistensialis menggunakan teori keaktoran Bertold Brecht dengan teknik alienasi. Pertunjukan ini ingin menyampaikan kepada penonton agar mengubah cara pandang atau stigma buruk tentang Putri Sanggramawijaya. Hasil dari proses memerankan tokoh Putri Sanggramawijaya adalah dapat menciptakan sebuah perbedaan karakter yang cukup signifikan dalam waktu singkat ketika menjadi tokoh dan keluar tokoh meskipun masih terdapat sebuah kekurangan. Kata Kunci : Pemeranan, Feminisme Eksistensialis, Teater Modern, Alienas

    Pemeranan tokoh Putri Sanggramawijaya dalam pertunjukan janji kilisuci karya Agus G Budianto

    No full text
    Naskah Janji Kilisuci karya Agus G Budianto menceritakan tentang kisah seorang Putri Mahkota yang mendapatkan sebuah tekanan dari anggota keluarga dan masyarakat sekitar sampai pada akhirnya dia memilih untuk membunuh atau ingkar janji kepada Lembu Sura dengan cara menguburnya di dalam sumur. Akan tetapi dia memiliki alasan, yaitu karena Putri Sanggramawijaya tidak mengalami menstruasi seperti wanita pada umumnya dan hal tersebut hanya diketahui oleh dirinya serta orang yang mengasuhnya sejak masih bayi. Bentuk pertunjukan Janji Kilisuci adalah teater modern berbasis tradisi. memerankan tokoh Putri Sanggramawijaya dalam naskah yang mengandung sebuah gerakan emansipasi wanita, yaitu feminis eksistensialis menggunakan teori keaktoran Bertold Brecht dengan teknik alienasi. Pertunjukan ini ingin menyampaikan kepada penonton agar mengubah cara pandang atau stigma buruk tentang Putri Sanggramawijaya. Hasil dari proses memerankan tokoh Putri Sanggramawijaya adalah dapat menciptakan sebuah perbedaan karakter yang cukup signifikan dalam waktu singkat ketika menjadi tokoh dan keluar tokoh meskipun masih terdapat sebuah kekurangan. Kata Kunci : Pemeranan, Feminisme Eksistensialis, Teater Modern, Alienas

    Penciptaan tata panggung pementasan naskah Janji Kilisuci karya Agus G Budianto

    No full text
    Tata panggung merupakan elemen penting dalam pertunjukan teater yang memvisualisasikan ruang, waktu, dan suasana dari naskah ke pementasan. Fungsi utama tata panggung adalah menyampaikan gagasan dan makna kepada penonton melalui interpretasi visual, yang kemudian dikenal dengan istilah skenografi. Skenografi adalah seni interdisiplin yang melibatkan berbagai profesi seperti sutradara, skenografer, desainer kostum, lighting designer, dan make up artist. Penelitian ini berfokus pada penciptaan tata panggung naskah Janji Kilisuci karya Agus G Budianto, yang mengisahkan tentang legenda Gunung Kelud. Naskah ini dipilih karena kompleksitas latarnya yang mampu menghantarkan peristiwa imajinasi penonton. Penciptaan tata panggung mencangkup penggunaan teknik set properti yang praktis, multifungsi, dan interaktif serta gunung yang dapat melebar dan meletus. Tujuan dari penelitian ini adalah memvisualisasikan gagasan penciptaan tata panggung dari naskah Janji Kilisuci ke atas panggung, sehingga tata panggung menjadi unsur penting dalam menghidupkan cerita dan meningkatkan pengalaman penonton

    Penciptaan Tata Panggung Pementasan Naskah Janji Kilisuci Karya Agus G Budianto

    Full text link
    Tata panggung merupakan elemen penting dalam pertunjukan teater yang memvisualisasikan ruang, waktu, dan suasana dari naskah ke pementasan. Fungsi utama tata panggung adalah menyampaikan gagasan dan makna kepada penonton melalui interpretasi visual, yang kemudian dikenal dengan istilah skenografi. Skenografi adalah seni interdisiplin yang melibatkan berbagai profesi seperti sutradara, skenografer, desainer kostum, lighting designer, dan make up artist. Penelitian ini berfokus pada penciptaan tata panggung naskah Janji Kilisuci karya Agus G Budianto, yang mengisahkan tentang legenda Gunung Kelud. Naskah ini dipilih karena kompleksitas latarnya yang mampu menghantarkan peristiwa imajinasi penonton. Penciptaan tata panggung mencangkup penggunaan teknik set properti yang praktis, multifungsi, dan interaktif serta gunung yang dapat melebar dan meletus. Tujuan dari penelitian ini adalah memvisualisasikan gagasan penciptaan tata panggung dari naskah Janji Kilisuci ke atas panggung, sehingga tata panggung menjadi unsur penting dalam menghidupkan cerita dan meningkatkan pengalaman penonton

    Kajian Hirarki Obyek Wisata untuk Peningkatan Pelayanan Kepariwisataan di Kota Banda Aceh

    No full text
    Muhammad Budianto, Kajian Hirarki Obyek Wisata Untuk Peningkatan Pelayanan Kepariwisataan Di Kota Banda Aceh. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis obyek wisata, kemudian menganalisis hirarki obyek wisata serta menentukan arahan strategi pengembangan obyek wisata. Penelitian ini juga dapat menjadi alternatif untuk memudahkan pemilihan jenis kegiatan wisata di Kota Banda Aceh. Metodologi yang digunakan adalah melalui pendekatan penentuan hirarki obyek wisata prioritas, dengan menggunakan model analisa Scallogram dan analisa SWOT, dengan batasan kajian Kota Banda Aceh. Analisis Scallogram yakni metode atau teknik pengukuran untuk memperoleh skala prioritas dari berbagai alternatif berdasarkan variabel/ faktor/ kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu. Dengan metode analisis Scallogram dapat ditentukan hirarki atau rangking/tingkatan obyek wisata di Kota Banda Aceh berdasarkan frekuensi dan jumlah wisatawan, jarak obyek wisata dari Ibukota Kota Banda Aceh, aksesibilitas (waktu tempuh, ongkos transportasi, jenis/kondisi jalan, alat angkutan) penataan, pengelolaan serta prasarana dan sarana pendukung. Teknik analisis SWOT pada dasarnya merupakan identifikasi berbagai faktor dan unsur penentu pembangunan suatu institusi secara sistematis untuk melakukan evaluasi kondisi lingkup kegiatan bersangkutan dan selanjutnya dapat pula digunakan untuk merumuskan strategi pembangunan institusi yang tepat sesuai dengan kondisi dan potensi yang dimilikinya Berdasarkan hasil penelitian diperoleh urutan hirarki : Mesjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami, PLTD Apung, Taman Ratu Safiatuddin, Museum Negeri Aceh, Taman Gunongan, Taman Putroe Phang, Taman Pinto Khop, Kuburan Kherkoff, Makam Sultan Iskandar Muda, Pantai Ulee Lheue, Kapal Tsunami Lampulo, Makam Kandang XXI, Makam Syiah Kuala dan Kuburan Masal. Untuk obyek wisata prioritas terdapat empat obyek wisata yaitu Mesjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami, PLTD Apung dan Taman Ratu Safiatuddin.96 HalamanTesis Magiste

    ‘YELLOW SYNDROME’ IN SCLERACTINIAN CORALS THROUGHOUT BINTAN DISTRICT, KEPULAUAN RIAU PROVINCE, INDONESIA

    Full text link
    Coral disease surveys were conducted in Bintan, Kepulauan Riau Province. The purpose was to identify the abundance of corals showing signs of Yellow Syndrome (YS) disease and to describe similar pathological signs to that of AYBD throughout Bintan District. Three belt transects (2 m x 50 m in size) were set up to determine the abundance of coral reef attacked by YS disease. Line intercept transects were used to determine the percentage of live corals in the surveyed areas. The survey showed that the YS disease syndrome attacked 8 different genera i.e. Acropora, Montipora, Porites, Pavona, Turbinaria, Favia, Platygyra, and Favites. The highest attack happened at Mapur Island (0.06 kol/m2) on Porites lutea, Turbinaria peltata, T. mesenterina, Acropora bruggemanni, and Pavona frondifera. The survey also indicated that there may have been at least two types of YS i.e. the first type caused by a boring and/or over-growing sponge species and the second type caused by a kind of pathogenic microbe. Regardless the causal agent of YS, the severity of YS attack on coral urged immediate action to be undertaken and should include initial microscopic and histology examinations. Based on this initial microscopic and histology examinations it was found out that YS bears a close resemblance to the Arabian Yellow Band Disease. This study, however, argued that the word “disease” may have been incorrectly used without identifying a specific causal agent.</jats:p
    corecore