1,733,057 research outputs found

    PENDAMPINGAN PEMAHAMAN DAN PENGENALAN LABEL HALAL SEBAGAI UPAYA PEMAHAMAN MAKANAN HALAL DAN THOYYIBAH DALAM MEMPERKUAT KEIMANAN DAN KETAQWAAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN AL-HUSIANY KOTA BIMA

    Full text link
    Pengabdian ini bertujuan untuk menawarkan sebuah konsep pendampingan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman santri tentang label halal sebagai bagian dari pemahaman makanan halalan thoyyibah. Dengan pendekatan edukasi, pelatihan, kolaborasi dengan lembaga pemerintah dan agama, penyediaan sumber daya media, serta monitoring dan evaluasi, program ini bertujuan untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan santri dalam memilih makanan sesuai dengan ajaran Islam. Konsep ini mencakup berbagai kegiatan praktis seperti pemaparan materi verifikasi label halal, kolaborasi dengan pondok pesantren, produksi materi edukasi, dan evaluasi terhadap dampak program. Diharapkan bahwa dengan implementasi konsep ini, santri akan semakin teredukasi dan terbimbing dalam memilih makanan halal dan thoyyibah, sehingga memperkuat ikatan spiritual mereka dengan Allah SWT serta meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam kehidupan sehari-hari. Pendampingan ini menjadi program unggulan pada di Universitas Muhammadiyah Bima untuk memperkenalkan sekaligus melatih santri memahami label makanan halal ketika mereka membeli dan kengkonsumsi makanan. Target utama dari program pengabdian masyarakat ini adalah untuk membantu santri di pondok pesantren Al-Husainy Kota Bima untuk meningkatkan penguatan memahami makanan halal. Metode yang digunakan adalah melalui tiga tahapan utama, yaitu; pemaparan materi, pelatihan, dan evaluasi pemahaman santri. Hasil pengabdian menunjukan para santri sangat antusias mengingat selama ini belum ada focus program pembinaan pengabdian. Melalui program pengabdian ini menghasilkan pemahaman baru yang mudah, ringan menarik, dan menyenangkan serta mudah dipelajar

    RELASI AGAMA DAN BUDAYA DALAM HUBUNGAN SOSIAL MASYARAKAT ISLAM DI BIMA

    Full text link
    Posisi Bima sebagai sebuah daerah kota dengan warisan sejarah yang kaya dan identitas keagamaan yang kuat, menyediakan landasan yang unik untuk memahami bagaimana agama dan budaya saling terkait dalam membentuk struktur sosial. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus mengungkapkan dinamika hubungan sosial Masyarakat Islam di Bima dalam konteks relasi agama dan budaya.  Dinamika hubungan sosial masyarakat Islam di bima ini menunjukkan dua pola relasi, yaitu relasi agama dan budaya bima, sert , yaitu relasi agama dan budaya bima sebagai strategi menjaga kerukunan. Studi ini mengungkapkan bahwa dalam masyarakat Islam di Bima, agama dan budaya tidak dapat dipisahkan secara tegas. Keyakinan keagamaan membentuk norma-norma sosial dan etika masyarakat, sementara budaya lokal menginformasikan praktik-praktik keagamaan yang dijalankan oleh individu dan kelompok. Ditemukan bahwa ada hubungan yang kompleks antara tradisi adat, praktik keagamaan, dan identitas sosial. Masyarakat Islam di Bima mengintegrasikan unsur-unsur budaya lokal ke dalam ibadah mereka, menciptakan bentuk agama yang unik dan sangat lokal.  Dalam kedua relasi tersebut kohesi sosial yang paling kuat dalam hubungan intern umat Islam adalah relasi agama dan tradisi local budaya Bima dengan pendekatan paradigma atau pendekatan yang dialogis-integratif atau istilah lain dengan pendekatan negosiasi

    PENGUATAN KOMPETENSI PENGELOLA KOPERASI SYARIAH DI KOTA BIMA

    Full text link
    Pengabdian ini dimaksudkan untuk memberikan penguatan sumber daya pengelola koperasi syariah di Kota Bima yang difokuskan pada akad-akad operasional Koperasi Syariah. Metode pengabdian berbentuk workshop dengan langkah-langkah pre test, pembobotan, diskusi dan pelatihan, dan evaluasi. Hasil pengabdian menunjukan bahwa, pertama, aplikasi akad Syariah Koperasi Syariah di Kota Bima hanya terbatas pada beberapa akad. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti, keterbatasan dana, tidak amanahnya penerima manfaat akad, dan keterbatasan pemahaman pengelola terhadap akad Syariah. Kedua, pengelola Koperasi Syariah di Kota Bima sebagai peserta merasa terbantu dengan kegiatan ini karena tidak hanya dapat meningkatkan kompetensi melainkan juga menjawab keraguan operasional koperasi mereka

    SEJARAH DAN PEMIKIRAN KH. A. GANY MASYKUR DALAM MENGEMBANGKAN PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH DI BIMA

    No full text
    Penelitian bertujuan mengungkapkan sejarah dan pemikiran KH.A Gany Masykur seorang tokoh Muhammadiyah di daerah Bima dalam mengembangkan persyerikatan Muhammadiyah. Penelitian ini diarahkan untuk mengkaji bagaimana implementasi pemikiran KH. A. Gany Masykur dan persepsi para para kader Muhammadiyah di Bima. Penelitian ini dinilai penting untuk mengungkapkan kiprah KH. A. Gany Masykur dalam mengembangkan persyerikatan Muhammadiyah di Bima, mengingat beliau salah satu tokoh yang sangat berpengaruh di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebagai seorang tokoh terkemuka, eksistensi KH.A. Gany Masykur di daerah Bima masih dianggap sebagai simbol dalam pengambilan keputusan terutama dalam bidang pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Hal ini menjadi landasan untuk mengungkapkan kiprah beliau sehingga dapat dijadikan rujukan pemikiran oleh para generasi selanjutnya terutama bagi para kader Muhammadiyah di daerah Bima. Hasil penelitian menunjukan bahwa KH A.Gany Masykur memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan Persyarikatan Muhamamdiyah di Bima. Perkenalan KH. A. Gany Masykur dengan Muhamamdiyah pada tahun 1937 melalui Ruma Bicara (Abdul Hamid) dari Kerajaan Bima. Sisi lain, pemikirannya telah menjadikan rujukan para kader dalam mengembangkan persyarikatan Muhammadiyah di daerah Bima

    KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI BIMA DALAM BINGKAI BUDAYA PATRIARKI

    Full text link
    The important in this research is to solve the main factor of violent in household. The research will focus on the perspective of patriarchy culture in Bima. The style of research is field research, researcher be on the field directly, he interview the objects or stakeholders who ever known about the case of violent in household. The sample is taken by using purposive sampling method, and the technique of collect data are using observation, interview, documentation and study literature. Based on the result of research, the case of violent in household in Bima District are more than in Bima City. While the data at Bima City during 2014-2015 only 17% than data at Bima District. The case of violent in household which written at Religious Court are more effected by noting care about household. There are husbands who has not the permanent job, while their wife does not want to help her husband to get job, so they get more income. The violent in household at Bima sometime it be happen to wife or children. The important in this research is to solve the main factor of violent in household. The research will focus on the perspective of patriarchy culture in Bima. The style of research is field research, researcher be on the field directly, he interview the objects or stakeholders who ever known about the case of violent in household. The sample is taken by using purposive sampling method, and the technique of collect data are using observation, interview, documentation and study literature. Based on the result of research, the case of violent in household in Bima District are more than in Bima City. While the data at Bima City during 2014-2015 only 17% than data at Bima District. The case of violent in household which written at Religious Court are more effected by noting care about household. There are husbands who has not the permanent job, while their wife does not want to help her husband to get job, so they get more income. The violent in household at Bima sometime it be happen to wife or children.&nbsp

    PEMBELAJARAN BAHASA ARAB BERBASIS KEARIFAN BUDAYA LOKAL BIMA PADA MAHASISWA PBA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BIMA

    Full text link
    Pembelajaran bahasa Arab berbasis budaya lokal, merupakan pengalaman belajar yang mengintegrasikan budaya lokal bagian dari proses pembelajaran.  Judul penelitian ini yaitu pembelajaran bahasa Arab berbasis budaya lokal Bima pada mahasiswa PBA di universitas Muhammadiyah Bima. Metode penelitian jenis kualitatif, dengan teknik pengumpulan data secara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian yaitu; 1) Metode Gramatika-Terjemah digunakan pada materi tema Rimpu, Uma Lengge dan Ngaha aina ngoho. 2) Metode Langsung digunakan pada materi Muhadatsah, yang mana materi ini diajarkan secara langsung dengan pembahasan tema Istana Kerajaan Bima atau ASI Bima dan Makam Kerajaan Bima atau  Rade Raja Dana Traha. 3) Metode Audiolingual yaitu digunakan pada Matakuliah Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Arab yaitu mendengarkan rekaman tentang Doro Tambora. 4) Kemudian metode Eklektik digunakan ketika menyelesaikan tugas akhir semester dalam kegiatan yang bertemakan budaya Bima, dengan menggunakan beberapa metode yaitu Sam’iyah Syasawiyah dan Mubasyarah

    Bima Swarga

    Full text link
    Deskripsi karya : Dikisahkan Dewi Kunti berniat mengadakan upacara Dewa Yadnya, namun karena ada Pandu dan Dewi Madri yang belum diupacarai, maka Kunti meminta anaknya (Panca Pandawa) untuk menjemput roh Pandu dan Dewi Madri ke Yamaloka. Panca Pandawa saling berdebat, siapa yang bersedia pergi menjemput ayah dan ibunya. Akhirnya Sang Bima bersedia pergi. Dengan kekuatan dan kemampuan Angkus Perananya, Dewi Kuti, Yudistira, Arjuna, Nakula dan Sahadewa dimasukkan kedalam tubuhnya. Lalu berangkatlah Bima. Di Yamaloka, pasukan Cikrabala mempersiapkan pengadilan para roh. Bima yang baru tiba ikut diadili. Keributan pun terjadi. Cikrabala yang dikalahkan oleh Bima lalu melapor kepada Bhatara Yama. Terjadilah perkelahian, dan Bhatara Yama dapat dikalahkan. Karena kekalahan Bhatara Yama, Bima akhirnya diijinkan mencari roh orang tuanya di kawah. Bima mengobok-obok kawah Candra Dimuka. Semua roh dinaikkan, karena dia tidak menemukan orang tuanya. Bhatara Yama kembali menegur Bima dan membantu menemukan roh orang tuanya. Dihadapan Bima terhampar dua gumpalan roh. Bima dengan kemampuan Angkus Perananya, mengeluarkan Dewi Kunti dan saudaranya dari dalam tubuhnya. Dewi Kunti meminta kepada ank-anaknya untuk menghaturkan sembah guna membentuk kembali tubuh Pandu dan Madri. Awalnya Bima tak mau menyembah, namun Nakula membohongi Bima dengan mengatakan panjang jarinya tidak sama. Bima mengatupkan kedua tangannya, tanpa sadar telah melakukan sembah. Maka terbentuklah tubuh Pandu dan Madri, namun belum dapat bicara. Kembali Kunti mengutus Bima mencari Tirta Maha Pawitra kepada Bhatara Bhayu. Kehadiran Bima yang mendadak membuat Bhatara Bhayu marah dan lalu membunuh Bima. Sampai tiga kali Bima dibunuh, tetapi hidup kembali. Bhatara Bhayu akhirnya mengijinkan Bima mengambil Tirta Maha Pawitra yang dijaga oleh Naga Antaboga. Terjadi lagi perkelahian di dalam laut antara Naga dan Bima. Gelombang air laut menjadi kacau, kadang menghantam tubuh Bima dan Naga yang sedang berperang. Akhirnya Naga Antaboga dapat ditaklukkan, dan Tirta Maha Pawitra dapat diraihnya. Selanjutnya. akhir pementasan ini bukan saja menjadi tontonan, tapi juga menyampaikan tuntunan/pesan untuk dijadikan sebuah cerminan bagi seorang anak yang berbakti kepada orang tua (Suputra)

    RAGAM DISFUNGSI DALAM KELUARGA DI KOTA BIMA

    Full text link
    Keluarga merupakan unit terkecil dalam struktur sosial, selain itu keluarga juga merupakan tempat pertama menanamkan nilai-nilai religius, pendidikan, moral, sosial, transformasi pengetahuan lainnya yang lebih luas, selain itu juga keluarga menjadi tempat perlindungan baik ekonomi, fisik, maupun kesehatan. Akan tetapi, tidak sedikit gambaran keluarga ideal itu tidak kita jumpai dalam realitas kehidupan sehari-hari, hal ini disebabakan oleh berbagai hal, dan perubahan yang terjadi dilingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimanakah ragam dan factor disfungsi keluarga di Kota Bima. Dengan menggunakan jenis penelitian empiris, pendekatan kasus, dan data primer. Hasil Penelitian mengungkap, Pertama,  ragam disfungsi keluarga di Kota Bima, yakni adanya kekerasa fisik dan psikis, penelantaran istri dan anak, campur tangan pihak ketiga, suami penjudi, pemabuk, poligami ilegal, kesalahpahaman antar suami dan istri, kecemburuan salah satu pihak, perbedaan agama, kenakalan remaja. Kedua, secara umum faktor yang menjadi sebab yang mendasar terjadinya disfungsi dalam keluarga di Kota Bima adalah penelantaran istri maupun anak

    AKTUALISASI SASU’U SALEMBA DALAM PEMBAGIAN WARISAN MASYARAKAT BIMA

    Full text link
    Secara umum di Indonesia belum terbentuk unifikasi hukum waris. Terlihat dari pluralitas hukum waris yang digunakan oleh masyarakat tanpa adanya sanksi bila memakai salah satu hukum waris tersebut (hukum waris Islam, hukum waris Perdata dan hukum Waris Adat). Dari sisi teologi, masyarakat muslim berkeinginan membagi warisan sesuai dengan kaidah al-Quran dan Sunnah. Akan tetapi, karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan pembagian warisan secara Islam menyebabkan masyarakat membagi sesuai kehendak mereka. Lembaga peradilan yang menangani kewarisan hanya terbatas pada lingkup sengketa saja, tidak memberi edukasi bagaimana membagi warisan secara Islam. Masalah ini yang dihadapi masyarakat Bima saat ini dan entah sampai kapan akan berlanjut. Sasu’u Salemba dipahami sebagai metode pembagian warisan secara Islam dan dianggap telah dilaksanakan oleh masyarakat Bima. Padahal dalam kenyataannya bahwa pembagian warisan masyarakat Bima berdasarkan asas musyawarah mufakat. Dimana konteks tersebut menunjukkan bahwa jargon Sasu’u Salemba tinggal teori masa lalu bagi masyarakat Bima, bukan lagi dogma yang dipercaya sebagai bawaan agama yang harus dijalankan

    WAJAH ISLAM NUSANTARA PADA TRADISI PETA KAPANCA DALAM PERKAWINAN ADAT BIMA

    Full text link
    Penyelenggaraan peta kapanca dalam masyarakat Bima telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat. Hadirnya peta kapanca dalam perkawinan adat Bima, merupakan bagian dari respon masyarakat terhadap kebudayaan yang berbasis Islam. Bentuk-bentuk akulturasi Islam dengan budaya Bima atau dalam istilah lain disebut dengan pribumisasi Islam pada tradisi peta kapanca dapat dilihat pada; pertama, pembacaan shalawat dan do’a pada saat dimulainya prosesi boho oi mbaru atau mandi uap dengan bunga-bunga. Kedua, iringan hadrah pada saat prosesi kalondo wei. Ketiga, pembacaan kalam ilahi yang kemudian dilanjutkan dengan jiki kapanca yang berisi pembacaan maulid syaraful anam saat prosesi peta kapanca. Keempat, prosesi peta kapanca yang berjumlah ganjil, melambangkan bahwa Allah swt. menyukai sesuatu yang ganjil dan hiasan bunga-bunga telur yang berjumlah sembilan buluh sembilan buah, melambangkan asmaul husna. Proses pribumisasi Islam pada tradisi peta kapanca itulah yang kemudian membentuk pola atau corak Islam yang khas Bima yang merupakan wajah Islam Nusantara.Penyelenggaraan peta kapanca dalam masyarakat Bima telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat. Hadirnya peta kapanca dalam perkawinan adat Bima, merupakan bagian dari respon masyarakat terhadap kebudayaan yang berbasis Islam. Bentuk-bentuk akulturasi Islam dengan budaya Bima atau dalam istilah lain disebut dengan pribumisasi Islam pada tradisi peta kapanca dapat dilihat pada; pertama, pembacaan shalawat dan do’a pada saat dimulainya prosesi boho oi mbaru atau mandi uap dengan bunga-bunga. Kedua, iringan hadrah pada saat prosesi kalondo wei. Ketiga, pembacaan kalam ilahi yang kemudian dilanjutkan dengan jiki kapanca yang berisi pembacaan maulid syaraful anam saat prosesi peta kapanca. Keempat, prosesi peta kapanca yang berjumlah ganjil, melambangkan bahwa Allah swt. menyukai sesuatu yang ganjil dan hiasan bunga-bunga telur yang berjumlah sembilan buluh sembilan buah, melambangkan asmaul husna. Proses pribumisasi Islam pada tradisi peta kapanca itulah yang kemudian membentuk pola atau corak Islam yang khas Bima yang merupakan wajah Islam Nusantara
    corecore