181 research outputs found

    Aktivitas Antioksidan dan Antiglikasi dari Aktinobakteri Rizosfer dan Endofit Xylocarpus granatum.

    No full text
    BATUBARA dan YULIN LESTARI. Pemanfaatan bakteri endofit seperti aktinobakteri merupakan salah satu cara alternatif untuk memperoleh senyawa bioaktif yang sama dengan tumbuhan induknya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi senyawa dari aktinobakteri rizosfer dan endofit Xylocarpus granatum yang memunyai aktivitas antioksidan dan antiglikasi. Supernatan kultur aktinobakteri diekstraksi menggunakan etil asetat dengan nisbah 1:1 (v/v). Aktivitas antioksidan diuji menggunakan 2,2-difenil-1- pikrilhidrazil. Kromatografi lapis tipis bioautografi dan uji fitokimia digunakan untuk memprediksi senyawa aktif. Kemampuan antiglikasi ditetapkan berdasarkan penghambatan pembentukan advanced glycation end products. Sebanyak 15 isolat aktinobakteri telah diisolasi dari rizosfer, buah, dan daun X. granatum. Lima isolat dari rizosfer, dua isolat dari buah, dan tiga isolat dari daun telah diuji aktivitasnya sebagai antioksidan dan antiglikasi. Isolat XR2 memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai IC50 1719 mg/L. Sementara itu, aktivitas antiglikasi tertinggi dimililiki oleh isolat XR8 dengan nilai IC50 328 mg/L. Ekstrak etil asetat aktinobakteri rizosfer lebih berpotensi sebagai antioksidan dan antiglikasi dibandingkan aktinobakteri endofit

    Potensi Tanaman Rempah dan Obat Tradisional Indonesia Sebagai Sumber Bahan Pangan Fungsional

    Full text link
    Irmanida B, Prastya ME.  2020.  The potency of indonesian spices and traditional medicine plants as for the sources of fungtional foods ingredients. In: Herlinda S et al. (Eds.), Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-8 Tahun 2020, Palembang 20 Oktober 2020. pp. xx. Palembang: Penerbit & Percetakan Universitas Sriwijaya (UNSRI).As a public knowledge pertanining healthy lifestyle increases, the need for food that has health benefits also increases. This food is popular as a functional food, which is not only contains nutrients, but also has a physiological benefits to prevent or cure diseases. One of the sources of functional food ingredients in Indonesia are spices and medicinal plants which are known containing various types of phytochemical compounds. Numerous reports showed a health benefits of phytochemical compounds derived from spices and medicinal plants such as ginger (Zingiber officinale), turmeric (Curcuma domestica), cardamom (Amomum cardamomum), legetan warak (Adenostemma lavenia), the god’s crown (Phaleria macrocarpa), and lambo guava (Psidium guajava). The phytochemical compounds from those plants are recognized to prevent or cure various diseases including high blood pressure, cancer, diabetes, flu, coughs, sore throat, etc. Functional food products based on spices and medicinal from these 6 plants are usually in the form of jamu, instant healthy drinks, tea, juices, sweets, syrups, etc. Functional food based on Indonesian spices and medicinal plants has the potential to be developed because of its high demand, adequate production and a lot of research that has been conducted. Although the Indonesian government has made the regulations on special nutritious food, these regulations are considered insufficient. Therefore, the government needs to make a specific and comprehensive regulations on functional food in Indonesia, specifically those based on spices and medicinal plants

    Inhibitor tirosinase limbah kulit bawang merah (alium cepa l) sebagai bahan baku utama lulur ramah lingkungan

    Full text link
    Bawang merah merupakan hasil pertanian Indonesia yang melimpah. Pemanfaatannya hanya dagingnya saja sedangkan kulitnya tidak sehingga menjadi limbah yang mencemari lingkungan. Kulit bawang merah mengandung zat kuersetin yang berfungsi sebagai inhibitor tirosinase yang dapat membuat kulit menjadi lebih putih. Inovasi yang ditawarkan adalah memanfaatkan limbah kulit bawang merah menjadi produk lulur. Dalam hasil penelitian didapat rendemen ekstrak kasar sebesar 6.02% dengan kadar air 14.63%. uji flavonoid menunjukkan kulit bawang merah mengandung golongan senyawa tanin, fenol, dan flavonoid. IC50 ekstrak kasar kulit bawang merah pada substrat L-tirosin adalah 136.3146 μg/mL dan pada substrat L-DOPA adalah 378.5195 μg/mL. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan asam kojat dengan konsentrasi 40.6415 μg/mL pada L-tirosine dan 190.0006 μg/mL pada L-DOPA. Lulur dengan ekstrak kulit bawang merah telah dibuat dan dilakukan uji ketahanan. Pada suhu dingin, lulur bertahan hingga hari ke 60 sedangkan pada suhu ruang lulur juga bertahan hingga hari ke-60, kecuali lulur dengan pewangi lemon, hanya bertahan hingga hari ke 27.Dikt

    Aktivitas Antibakteri dan Antioksidan dari Aktinobakteri asal Jamu Bersalin Aceh.

    No full text
    Jamu bersalin merupakan ramuan tradisional dari beberapa tanaman obat yang digunakan untuk perawatan dan pemulihan selama masa nifas. Masa nifas beresiko terjadi perdarahan, infeksi, dan preeklamsia yang dapat mengakibatkan kematian ibu. Aktinobakteri dari tanaman obat memiliki berbagai kemampuan metabolit sekunder sebagai sumber potensial senyawa aktif. Tujuan penelitian ini untuk mengisolasi aktinobakteri asal jamu bersalin Aceh, dan menentukan aktivitas antibakteri dan antioksidan. Keragaman morfologi aktinobakteri asal jamu bersalin Aceh diobservasi berdasarkan karakter morfologi secara makroskopik dan mikroskopik. Penapisan aktivitas antibakteri dilakukan dengan uji antagonis langsung terhadap bakteri target EPEC K1.1 dan Bacillus pumilus. Isolat terpilih diidentifikasi secara molekuler berdasarkan gen 16S rRNA. Penentuan pola aktivitas antibakteri dilakukan untuk mengetahui waktu optimum produksi senyawa antibakteri dari aktinobakteri asal jamu bersalin Aceh. Isolat aktinobakteri terpilih dan jamu bersalin Aceh kemudian diekstraksi menggunakan pelarut etil asetat. Ekstrak etil asetat aktinobakteri dan jamu bersalin selanjutnya diuji aktivitas antibakteri, antioksidan, dan kandungan fitokimia. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode Kirby-Bauer, sedangkan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Keragaman aktinobakteri dari jamu bersalin Aceh memiliki berbagai macam warna miselium aerial, warna miselium substrat, dan tipe rantai spora. Hasil penelitian menunjukkan 15 isolat aktinobakteri berhasil diisolasi dari jamu bersalin Aceh. Karakteristik aktinobakteri asal jamu bersalin Aceh memiliki warna miselium aerial putih, putih keabuan dan abu-abu. Warna miselium substrat didominasi oleh warna kuning kecoklatan hingga coklat tua. Miselium aerial aktinobakteria asal jamu bersalin Aceh secara mikroskopik didominasi oleh tipe flexibilis (F) dan biverticillus spira (BIV S). Isolat aktinobakteri dari jamu bersalin Aceh memiliki kemampuan antibakteri yang beragam terhadap bakteri uji EPEC K1.1 dan B. pumilus. Isolat terbaik yang dipilih berdasarkan diameter zona hambat paling lebar dan waktu pertumbuhan isolat. Dua isolat aktinobakteri yang dipilih yaitu isolat JBA 8 dan JBA 11. Hasil homologi sekuen gen 16S rRNA menggunakan EzBioCloud menunjukkan bahwa isolat JBA 8 memiliki kesamaan (95.37%) dengan Cellulosimicrobium cellulans LMG 16121 (T) sedangkan isolat JBA 11 memiliki kesamaan (98.10%) dengan C. funkei ATCC BAA886 (T). Pola aktivitas antibakteri supernatan isolat JBA 8 dan JBA 11 menunjukkan aktivitas tertinggi pada hari ke-10 terhadap bakteri uji EPEC K1.1 dan B. pumilus. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etil asetat JBA 8, JBA 11, dan jamu bersalin Aceh memiliki kemampuan antibakteri mulai dari 25 μg/mL sampai dengan 1000 μg/mL. Ekstrak etil asetat JBA 8 memiliki kemampuan antibakteri lebih tinggi dibandingkan kontrol positif (polimixin B 1000 μg/mL) dan jamu bersalin Aceh terhadap EPEC K1.1. Ekstrak etil asetat ekstrak etil asetat JBA 8 dan JBA 11 memiliki aktivitas antioksidan dengan IC50 279.7 ppm dan IC50 470.5 ppm, sedangkan jamu bersalin Aceh memiliki aktivitas antioksidan dengan IC50 36.6 ppm. Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat JBA 8 dan JBA 11 mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan triterpenoid. Ekstrak etil asetat JBA 8 juga mengandung senyawa steroid. Ekstrak etil asetat jamu bersalin Aceh mengandung flavonoid, triterpenoid, dan kuinon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa isolat aktinobakteri asal jamu bersalin Aceh memiliki potensi sebagai sumber antibakteri dan antioksidan

    Pemurnian Rekombinan Eritropoietin Manusia (rhEPO) Menggunakan Kromatografi Afinitas Ni-NTA dan Co-Talon

    No full text
    Suitable and efficient techniques for purification of recombinant human erythropoietin (rhEPO) are required to obtain pure rhEPO which can be continued to preclinical trials step. One of these techniques is immobilized metal affinity chromatography (IMAC), which has advantages such as high selectivity, easy to elute, and simple procedure for column regeneration. At least, there are 2 kinds of commercial IMAC resin using nitriloacetic acid (NTA) matrix as chelating agent, namely nickel-based (Ni-NTA) and cobalt-based IMAC resin (Co-NTA), the latter is well known as Talon. This research studied the influence of metal ions Ni2+ and Co2+ in rhEPO purification. The results indicated that Ni- NTA had higher affinity in binding rhEPO protein compared with Co-Talon. Average total protein by Ni-NTA was 226.72 μg/mL and Co-Talon was 60.52 μg/mL, but the protein purity with Co-Talon was better than Ni-NTA. Base on protein yield that can be separated, Ni-NTA is more suitable to obtain high yield of rhEPO protein

    Autentikasi Kencur Menggunakan Kombinasi Sidik Jari Kckt Dan Kemometrika

    No full text
    Kaempferia galanga yang di Indonesia dikenal sebagai kencur umumnya digunakan dalam obat tradisional untuk mengobati berbagai penyakit. Produk kencur telah dijual komersial sebagai herbal kombinasi (jamu). Selain itu, kencur juga digunakan sebagai herbal tunggal (serbuk kencur) yang dikemas dalam bentuk kapsul atau sachet. K. rotunda (kunci pepet) dan K. pandurata (temu kunci) merupakan spesies yang berkerabat dekat dengan kencur yang tersedia di pasar tradisional Indonesia. Keduanya dimungkinkan sebagai bahan pemalsu bagi kencur. Harga kencur kering di pasar umumnya lebih tinggi dari kunci pepet kering dan temu kunci kering. Ketiganya memiliki warna rimpang yang sama namun berbeda ukuran dan bau. Identifikasi dan autentikasi kencur menjadi sangat sulit jika sudah dalam bentuk serbuk. Jika bahan baku kencur telah terpalsukan maka kualitas, efikasi, dan keamanan produk akhir kencur akan berubah. Oleh karena itu, diperlukan suatu langkah untuk menentukan atau mengonfirmasi identitas dan keaslian kencur yang dikenal dengan istilah autentikasi. Autentikasi dilakukan dengan adanya suatu metode analitik yang tepat untuk menguji kualitas bahan baku kencur untuk mencegah adanya pemalsuan dari spesies yang berkerabat dekat dengannya seperti kunci pepet dan temu kunci. Pemalsuan kencur dilakukan dengan mencampurkan serbuk kencur dengan kunci pepet atau temu kunci. Sistem KCKT terdiri dari kolom C18, program elusi gradien 20-80% metanol dan asam asetat 1% selama 0-60 menit dengan laju alir 1 mL/menit, dan diamati pada 254 nm. Analisis komponen utama (AKU) dan analisis diskriminan (AD) digunakan untuk membangun model identifikasi dan autentikasi sampel. Identifikasi dan autentikasi kencur dari kunci pepet dan temu kunci telah diperoleh dengan analisis sidik jari KCKT. Pada plot AKU, ketiganya dapat terklasifikasi dengan baik namun jika kencur dicampur dengan kunci pepet atau temu kunci tidak terklasifikasi dengan baik. AD dapat membedakan ketiga spesies dengan baik juga ketika dicampur sebagai kencur-kunci pepet dan kencur-temu kunci pada seluruh konsentrasi yang digunakan. Kencur-kunci pepet 5% memiliki sedikit perbedaan dengan 100% kencur. Validasi model AD menggunakan teknik validasi silang leave-one-out (LOOCV). Model memberikan hasil prediksi klasifikasi yang sangat memuaskan (100% terklasifikasi). Identifikasi dan autentikasi kencur dari kunci pepet dan temu kunci telah berhasil dengan metode sidik jari yang dikombinasikan dengan AD. Metode yang dikembangkan ini menghasilkan metode yang dapat dipercaya dan efisien untuk identifikasi dan autentikasi kencur dari kunci pepet dan temu kunci

    Hidrolisat Kolagen Kulit Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) sebagai anti penuaan

    No full text
    Ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) merupakan ikan yang banyak hidup di perairan Indonesia dan merupakan komoditas ekspor Indonesia, akan tetapi kulitnya belum banyak dimanfaatkan. Beberapa penelitian terdahulu telah dilakukan untuk mengekstraksi kolagen dari ikan sebagai sumber alternatif kolagen dari hewan darat terutama babi dan sapi serta pengujian aktivitasnya sebagai antioksidan. Akan tetapi belum ada penelitian yang mengkaji tentang aktivitas anti penuaan hidrolisat kolagen kulit tuna sirip kuning tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mempelajari aktivitas anti penuaan hidrolisat kolagen kulit tuna beserta fraksinya. Kolagen diekstraksi dari kulit ikan tuna sirip kuning dengan menggunakan enzim papain. Hidrolisat kolagen diperoleh melalui hidrolisis kolagen dengan enzim alkalase. Pemisahan peptida dilakukan dengan kromatografi filtrasi gel, sedangkan aktivitas anti penuaan hidrolisat beserta fraksi ditentukan melalui pengujian aktivitas antiglikasi, antioksidan, dan antitirosinase. Aktivitas antiglikasi ditentukan melalui reaksi kimia antara sampel uji dengan glukosa dan diukur dengan menggunakan fluorometer. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode penangkapan radikal DPPH, sedangkan aktivitas antitirosinase ditentukan dengan penghambatan enzim tirosinase terhadap substrat L-tirosin. Rendemen kolagen yang diperoleh sebesar 6.2% dari bobot basah kulit ikan. Hidrolisis kolagen menghasilkan hidrolisat dengan bobot molekul lebih kecil dari 16.95 kDa dan pemisahan peptida dengan kromatografi filtrasi gel menghasilkan 4 fraksi. Fraksi 4 memiliki aktivitas anti penuaan tertinggi (rendemen 23.40% dari bobot kering hidrolisat yang dipisahkan) dengan nilai IC50 untuk penghambatan radikal DPPH sebesar 56.83 ppm, penghambatan terhadap glikasi sebesar 24.45% pada konsentrasi 200 ppm, dan penghambatan enzim tirosinase sebesar 45.71% pada konsentrasi 400 ppm. Adapun aktivitas anti penuaan fraksi 4 ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kolagen dan hidrolisatnya yang belum difraksionasi, sehingga dapat disimpulkan bahwa fraksionasi meningkatkan aktivitas anti penuaan hidrolisat kolagen

    Potensi Cendawan yang Berasosiasi dengan Serangga Mati sebagai Anti Cendawan dan Antioksidan

    No full text
    Berbagai jenis cendawan telah banyak dimanfaatkan sebagai sumber anti cendawan dan antioksidan. Namun cendawan yang berasosiasi dengan serangga mati asal Indonesia belum banyak diteliti kemampuannya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan cendawan yang berasosiasi dengan serangga mati yang merupakan koleksi Divisi Mikologi, Biologi FMIPA IPB sebagai anti cendawan dan antioksidan. Sampel cendawan yang digunakan terdiri atas Aspergillus sclerotiorum TNGC1, Beauveria KRC2.6GL1, Fusarium proliferatum TNGC6, dan Trichoderma atroviridae KRC1.4GL1. Uji anti cendawan terhadap Fusarium oxysporum dilakukan menggunakan metode uji ganda. Hasil ekstraksi cendawan menggunakan metanol diukur kandungan total fenol dan aktivitas antioksidannya melalui uji penghambatan radikal 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). Nilai total fenol ditunjukkan sebagai nilai yang ekuivalen dengan jumlah asam galat (mg GAE/gram ekstrak sampel), sedangkan aktivitas antioksidannya dinyatakan sebagai kemampuannya untuk menghambat 50% (IC50) radikal bebas DPPH. Beauveria KRC2.6GL1 memiliki daya hambat paling tinggi terhadap F. oxysporum (67%), sebaliknya daya hambat paling rendah ditunjukkan oleh T. atroviridae KRC1.4GL1 (4%). Kandungan fenol paling tinggi dimiliki oleh A. sclerotiorum TNGC1, yaitu 11.03 mg GAE/gram ekstrak, dan kandungan fenol palng rendah pada F. proliferatum TNGC6 (4.97 mg GAE/gram ekstrak). IC50 terhadap radikal bebas DPPH paling tinggi diperoleh pada A. sclerotiorum TNGC1, yaitu 848.82 μg/mL dan paling rendah 4885.60 μg/mL yang dimiliki oleh Beauveria KRC2.6GL1

    Deteksi Tiga Zat Warna dalam Kayu Secang (Caesalpinia sappan) menggunakan Kombinasi Spektroskopi UV-Vis dan Kemometrika

    No full text
    Secang (Caesalpinia sappan) merupakan tanaman dari famili Caesalpinaceae. Di Indonesia secang digunakan sebagai pewarna alami pada minuman tradisional seperti bir pletok dan wedang uwuh. Di habitat alaminya secang tumbuh pada tipe tanah liat dan berbatu-batu dengan ketinggian rendah dan sedang. Pohon secang tidak toleran terhadap tanah basah sehingga kayu secang yang dihasilkan cenderung tidak berwarna meski telah mencapai umur panen. Secang dipasarkan dalam bentuk serutan kayu atau potongan kecil, dengan penyimpanan dalam waktu yang lama memungkinkan terjadinya perubahan warna secang akibat paparan udara, cahaya dan mikroorganisme. Kedua kondisi tersebut memungkinan terjadinya pemalsuan terhadap secang dengan penambahan zat warna sudan III, pewarna tekstil dan angkak agar diperoleh kualitas warna dan tampilan yang baik. Kendali mutu bahan baku dapat dilakukan dengan mengembangkan metode autentikasi menggunakan pendekatan multikomponen. Salah satu teknik analisis yang dapat digunakan adalah spektroskopi. Kombinasi spektroskopi UV-Vis dan kemometrika telah banyak digunakan untuk tujuan autentikasi. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan metode autentikasi secang dari sudan III, pewarna tekstil dan angkak dengan menggunakan kombinasi spektroskopi UV-Vis dan kemometrik. Optimasi kondisi ekstraksi dengan penetapan nisbah bahan:pelarut dan waktu ekstraksi dilakukan sebelum pengukuran sampel. Sampel teradulterasi diperoleh dengan menambahkan larutan pewarna sudan III, pewarna tekstil dan angkak masing-masing dengan dua variasi konsentrasi ke dalam sampel tunggal. Spektrum sampel tunggal dan teradulterasi diperoleh dengan pengukuran menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 200-800 nm. Data absorbans dan panjang gelombang hasil pengukuran diberi perlakuan pendahuluan berupa smoothing. Analisis komponen utama (AKU) dan analisis diskriminan (AD) digunakan untuk mengembangkan model autentikasi. Total keragaman data yang diperoleh menggunakan AKU untuk secang teradulterasi sudan III, pewarna tekstil dan angkak berturut-turut sebesar 94.78%, 91.96% dan 94.35%. Berdasarkan plot AKU tersebut, sampel yang diadulterasi dengan 3 jenis pewarna belum terpisah ke dalam kelasnya masing-masing. Oleh karena itu, untuk mengelompokkannya digunakan AD. Berdasarkan hasil AD, sampel dapat dipisahkan ke dalam kelasnya masing-masing. Kemampuan prediksi model autentikasi diuji dengan validasi silang LOOCV. Hasil validasi silang model auntentikasi secang dari sudan III, pewarna tekstil dan angkak berturut-turut sebesar 94.12%, 94.12% dan 92.16%. Hasil ini menunjukkan model yang dikembangkan memiliki kemampuan prediksi yang baik

    Sistem Informasi Jamu pada Serat Centhini, Buku Jampi dan Kitab Tibb.

    No full text
    Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati termasuk tumbuhan obat. Tumbuhan obat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan dasar dalam pembuatan jamu yang merupakan obat tradisional khas Indonesia. Jamu telah diturunkan dari nenek moyang hingga saat ini. Informasi budaya minum jamu di Indonesia telah tersimpan lama di dalam naskah kuno seperti Serat Centhini, Buku Jampi dan Kitab Tibb. Akan tetapi keberadaannya sering kali dilupakan oleh masyarakat. Hal itu karena ketidakmampuan masyarakat dalam membaca naskah tersebut yang masih ditulis dalam tulisan dan bahasa kuno. Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian sistem informasi mengenai pemanfaatan dan pembuatan jamu tradisional Indonesia. Berdasarkan informasi dari naskah kuno, sistem informasi ini harus mudah diakses sehingga dapat membantu masyarakat dalam menambah pengetahuan mengenai jamu. Kekayaan informasi akan hal ini diharapkan dapat mengubah gaya hidup masyarakat sehingga kembali beralih memilih jamu sebagai alternatif dalam menjaga kesehatan tubuh. Penelitian ini bertujuan yaitu untuk membangun suatu sistem informasi jamu dengan menggunakan metode prototyping pada Serat Centhini, Buku Jampi dan Kitab Tibb. Tahapan pertama pada penelitian ini adalah perencanaan, yang kedua yaitu perancangan sistem, sistem dirancang menggunakan metode terstruktur antara lain pembuatan Unified Modeling Language (UML), perancangan basis data meliputi pembuatan class diagram, Entity Relationship Diagram (ERD) dan rancangan tabel. Tahapan ketiga adalah prototipe sistem, pada tahapan ini dilakukan implementasi sistem berdasarkan hasil rancangan yang telah dibangun pada tahapan sebelumnya. Pada tahap ini juga dilakukan pengkodean dengan menggunakan bahasa pemograman PHP dan framework Codeigniter serta basis data My SQL. Tahapan keempat atau tahapan yang terakhir adalah tahapan komunikasi atau tahapan pengujian sistem, sistem divalidasi untuk mengetahui sistem tersebut valid atau tidak, dengan uji tes terhadap fungsionalitas sistem dengan menggunakan metode blackbox testing. Sistem informasi jamu telah berhasil dibuat dengan tujuh menu. Pada halaman utama terdapat menu beranda, menu naskah kuno, menu resep jamu, menu berita, menu pencarian, menu kritik saran dan menu login untuk admin. Admin dapat mengelola berita, naskah kuno, kritik saran dan resep jamu. Pada halaman user, pengguna dapat melihat berita tentang jamu, melihat resep obat yang berasal dari naskah kuno serta memberikan kritik saran tentang sistem yang dibuat. Berdasarkan dari pengujian, sistem ini sudah dibangun dengan benar. Dengan adanya sistem informasi tentang jamu tradisional Indonesia ini masyarakat dapat lebih mudah untuk memperoleh informasi tentang ramuan jamu yang ada pada naskah kuno Serat Centhini, Buku Jampi dan Kitab Tibb serta masyarakat dapat dengan mudah menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari
    corecore