1,721,069 research outputs found

    Perencanaan Pengembangan Wilayah Berbasis Perkebunan Karet Rakyat (Studi Kasus Dua Kecamatan di Kabupaten Cianjur).

    No full text
    The area of planting rubber plantation in Cianjur is the largest area when compared to private estates or plantations. Smallholder rubber plantation conditions differ from state-owned plantations or large private estates. In general, the productivity of smallholder rubber is still relatively low when compared to the productivity of the state and private plantations. This, among other things, caused most of the rubber plant growers still use planting materials from seed (seedling) without good maintenance, and the high proportion of the area that had old rubber plant, damaged or unproductive. Although the growth of rubber plantation area is still positive, although slow is 1.58% / year, while state and private plantations are equally decreased 0.15% / year. Therefore, the foundation of the development will be more rubber on the plantation.Luas areal tanam perkebunan karet rakyat di Kabupaten Cianjur merupakan areal yang terbesar jika dibandingkan dengan perkebunan swasta atau perkebunan nasional. Kondisi perkebunan karet rakyat berbeda dengan perkebunan milik negara atau perkebunan besar swasta. Secara umum produktivitas karet rakyat masih relatif rendah bila dibandingkan dengan produktivitas perkebunan besar negara maupun swasta. Hal ini, antara lain, disebabkan sebagian besar tanaman karet petani masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan tingginya proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif. Meskipun pertumbuhan areal perkebunan karet rakyat masih positif walaupun lambat yaitu 1,58%/tahun, sedangkan areal perkebunan negara dan swasta sama-sama menurun 0,15%/tahun. Oleh karena itu, tumpuan pengembangan karet akan lebih banyak pada perkebunan rakyat

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Pengembangan Modul Visualisasi Perubahan Stok Karbon pada Perangkat Lunak REDD Abacus

    No full text
    Carbon emission reduction from forest deforestation and degradation becomes a problem focus in the attempt to cope with climate changes. Deforestation was estimated to release carbon in the order of 1-2 billion tons per year in 1990, about 15-25% of greenhouse effect gases in the whole world. From those data, it is urgently needed to monitor carbon stock changes. Visualization is a common technique used to monitor the condition. REDD Abacus, developed by ICRAF, provides carbon stock changes information, but it lacks visualization. This research presents a development of carbon stock changes visualization module to supplement the REDD Abacus. This module can visualize carbon stock changes in a region in one period of changes. It is developed with uDig platform. The module can generate visualization map in 2 formats, i.e., vector and raster. Processing with pixel calculation is executed when the user needs the map result in raster format, taking 3-4 seconds. Processing with spatial query is executed when the user needs the map result in vector format, taking 10-15 minutes

    Kajian Daya Dukung Jalan dan Prioritas Penanganannya di Perbatasan Kota Depok dengan Kota Administrasi Jakarta Selatan

    No full text
    Jalan merupakan salah satu bagian dari pelayanan publik yang tak terpisahkan dari kewajiban negara untuk mensejahterakan rakyatnya dan sudah menjadi tugas pemerintah daerah menyusun kebijakan publik sesuai dengan kehendak publik sehingga penyelenggaraan pelayanan publik yang berkualitas dapat tercapai tak terkecuali di daerah perbatasan. Kota Depok sebagai daerah penyangga dan pendukung aktivitas perekonomian yang berbatasan langsung dengan Kota Administrasi Jakarta Selatan menjadikannya sebagai daerah yang sangat strategis untuk permukiman yang kemudian berdampak kepada tingginya arus migrasi yang masuk ke Kota Depok. Sebanyak 87.70% penduduk Kota Depok bekerja di DKI Jakarta dan 69.46% penglaju tersebut menggunakan kendaraan pribadi. Besarnya jumlah penglaju tersebut membutuhkan kualitas jalan yang baik dengan tentunya memperhatikan pula daya dukung dari jalan itu sendiri. Daya dukung jalan yang sudah terlampaui dan tidak mendapatkan penanganan dari pemerintah daerah akan berdampak pada terhambatnya pergerakan barang/jasa. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan perencanaan prioritas penanganan jalan khususnya di perbatasan Kota Depok dengan Kota Administrasi Jakarta Selatan dengan harapan penanganan yang dilakukan dapat lebih efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kondisi jalan di perbatasan Kota Depok dengan Kota Administrasi Jakarta Selatan; (2) menganalisis daya dukung jalan di perbatasan Kota Depok dengan Kota Administrasi Jakarta Selatan; dan (3) menyusun arahan prioritas penanganan jalan dalam rangka peningkatan kualitas jalan di perbatasan Kota Depok dengan Kota Administrasi Jakarta Selatan. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, analisis Customer Satisfaction Index (CSI), analisis Level of Service (LoS) dan sintesis logika spasial infrastruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi jalan di Kota Administrasi Jakarta Selatan, tiga jalan dalam kondisi sedang (Jalan Srengseng Sawah, Jalan Moh. Kahfi I dan Jalan Moh, Kahfi 2) dan satu jalan dalam kondisi rusak ringan (Jalan Lenteng Agung Raya), sedangkan untuk jalan di Kota Depok, dua jalan dalam kondisi rusak ringan (Jalan Kukusan Raya dan Jalan Tanah Baru) dan satu jalan dalam kondisi sedang (Jalan Raya Margonda). Kondisi perlengkapan jalan dan fasilitas pendukung di Kota Administrasi Jakarta Selatan (96%) lebih baik dibandingkan dengan ruas jalan di Kota Depok (86%). Tingkat kepuasan masyarakat terhadap jalan dalam kategori kurang puas dan cukup puas, secara keseluruhan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kondisi jalan di perbatasan memiliki nilai 52.10% untuk Kota Depok dan 54.52% untuk Kota Administrasi Jakarta Selatan dengan arti cukup puas. Daya dukung jalan di perbatasan berada dalam kategori cukup aman (Jalan Moh. Kahfi I dan Jalan Moh. Kahfi II di Kota Administrasi Jakarta Selatan serta Jalan Kukusan Raya di Kota Depok) hingga telah terlampaui (Jalan Tanah Baru di Kota Depok dan Jalan Lenteng Agung Raya di Kota Administrasi Jakarta Selatan). Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan sebelumnya dan dengan melihat dokumen rencana tata ruang wilayah masing-masing pemerintah daerah, maka ditentukanlah prioritas penanganan jalan, untuk jalan di Kota Depok yaitu prioritas 1 pada Jalan Raya Margonda, prioritas 2 pada Jalan Tanah Baru dan prioritas 3 pada Jalan Kukusan Raya, sedangkan untuk jalan di Jakarta Selatan yaitu prioritas 1 untuk Jalan Lenteng Agung Raya, prioritas 2 untuk Jalan Srengseng Sawah, prioritas 3 untuk Jalan Moh. Kahfi I dan Jalan Moh. Kahfi II. Adapun jenis penanganan yang dapat dilakukan berupa penanganan terkait konstruksi jalan dan non konstruksi jalan. Implementasi kerja sama antar daerah dapat dilakukan dalam penyusunan rencana pembangunan dan proses pengelolaan. Diharapkan dengan dilaksanakannya penanganan jalan sesuai dengan prioritasnya akan memperlancar pergerakan/mobilitas masuk keluar manusia, barang maupun jasa sehingga akan berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi wilayah. Kota Depok sebagai kota penyangga DKI Jakarta akan berperan maksimal jika didukung oleh prasarana infrastruktur jalan yang baik

    Optimasi alokasi lahan perkebunan menggunakan pendekatan multi kriteria spasial berbasis metode kontinyu

    No full text
    The proficient planning of land resource becomes a major issue for rural development in Indonesia. It endorses to estimate the capacity of land employing evaluation method. Land evaluation is carried out to estimate the suitability of land for a particular usage. However, conventional Boolean which is generally used for assessing land suitability ignores the continuous nature of soil landscape variation that can misclassify of a current site. The research objective is to apply fuzzy theory of land suitability evaluation for plantation commodity. By means of multi-criteria decision making (MCDM), the fuzzification conducted by weighing of numerous criteria using Analytical Hierarchy Process. Improving spatial allocation model will have influential meaning for a management of land. Land allocation in rural region requires the compromise between ecological condition, socio-economic development, and infrastructure availability. Using compromise programming (CP) and fuzzy set approach within a geographical information systems (GIS) environment, numerous decision criteria have been developed. Decision criteria consist of road accessibility, market distance, electrical energy, settlement distance, commodity preference of people, and land suitability. Suitable land allocation for plantation commodity is 28,650 hectares which consists of 2,702 hectares dry land forest, 21,937 hectares of dry land farming, 3,992 hectares of shrubs, and 18 hectares of open land

    Studi Komparasi Metode Penetapan Prioritas Perlindungan Lahan Sawah dan Implikasinya terhadap Usulan Revisi Perencanaan Ruang Kabupaten Pandeglang.

    No full text
    Kondisi lahan pertanian khususnya padi terancam oleh konversi lahan yang banyak terjadi untuk mengakomodasi kebutuhan perumahan, industri dan jasa. Penurunan luas sawah berdampak sangat nyata terhadap penurunan produksi padi sebagai bahan makanan utama di Indonesia. Penetapan prioritas perlindungan sawah merupakan salah satu cara untuk meminimalisir konversi lahan pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan dua metode dalam penetapan prioritas perlindungan sawah; memilih metode untuk penetapan prioritas perlindungan sawah; dan menganalisis implikasi metode terhadap usulan perencanaan ruang di Kabupaten Pandeglang. Hasil penelitian ini adalah metode penetapan prioritas perlindungan sawah yang dapat dikembangkan di Kabupaten Pandeglang yaitu metode rasional dan metode analisis multikriteria. Kedua, metode yang lebih baik digunakan adalah metode rasional apabila dilihat menggunakan indikator penilaian luas sawah yang dilindungi, neraca kemandirian pangan dan kemudahan dalam pengimplementasian. Hasil terakhir yaitu implikasi terhadap usulan revisi perencanaan pola ruang adalah petani akan lebih banyak dilindungi, ketahanan pangan akan lebih terjamin, dan pemerintah akan lebih mudah dalam menerapkan perencanaan ruang di Kabupaten Pandeglang

    Potensi Konsolidasi Pengelolaan Lahan Padi Sawah Di Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor

    No full text
    Investigasi potensi konsolidasi pengelolaan lahan penting dilakukan dalam kaitan produktivitas lahan melalui penataan kembali penguasaan, pengelolaan, dan penggunaan tanah. Citra Ikonos mempunyai kemampuan mengidentifikasi obyek secara detil dan sistem informasi geografis mempunyai banyak fasilitas untuk analisis spasial. Penelitian ini bertujuan untuk investigasi kemampuan citra untuk melihat penggunaan lahan pertanian dan melihat bentuk serta ukuran lahan sawah, mengetahui rotasi tanam dan status kepemilikan mesin traktor, dan penggunaan teknik analisis spasial untuk melihat potensi konsolidasi lahan. Peta penggunaan lahan pertanian 2015 dibuat dengan memanfaatkan citra Ikonos 2010 dan peta petakan lahan pertanian 2013 memiliki akurasi 88%. Lahan sawah melalui citra Ikonos menunjukkan bentuk petakan lahan sawah yang tidak seragam dan ukuran petakan cenderung kecil. Rotasi tanam di Desa Ciburuy ditemukan 21 jenis dan yang dominan adalah rotasi padi-padi. Alat mekanik yang digunakan dalam pengelolaan lahan sawah adalah traktor dengan jenis hand tractor sedangkan pengelolaan lainnya bersifat tradisional. Mesin traktor yang digunakan untuk pengelolaan lahan sawah umumnya disewa. Berdasarkan data wawancara petani pemilik dan penggarap diperoleh 73% menyatakan tidak setuju konsolidasi yang berarti potensi konsolidasi pengelolaan rendah. Konsep konsolidasi pengelolaan lahan dibentuk berdasarkan asumsi luas optimum kerja mesin traktor. Berdasarkan konsep ini maka luasan ideal untuk konsolidasi pengelolaan adalah kurang dari 3000 m2 dan 3000-3500 m2. Secara spasial pola konsolidasi yang dihasilkan tidak memiliki bentuk yang seragam. Jika dilakukan konsolidasi lahan maka efisiensi pengelolaan lahan adalah Rp 6.200.000,00 dengan luas lahan 12,57 ha. Persentase efisiensi sebesar 36% dan petakan lahan sawah mengalami pengurangan sebesar 189 petak lahan sawah. Efisiensi biaya rata-rata tiap petani penggarap atau pemilik sebesar Rp 386.207,00 dan biaya minimum Rp 66.667,00 untuk pengelolaan lahan dalam satu musim tanam. Jika seluruh lahan sawah Desa Ciburuy dikonsolidasikan maka efisensi beban pengelolaan sebesar Rp 36.000.000,00 setara 50% dari biaya keseluruhan

    Analisis Spasial Konversi Lahan Sawah Menuju Ketahanan Beras Domestik di Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor

    No full text
    Bogor regency has high of population growth, economy, and infrastructure so that the need for residential land is also high. Land conversion to settlements is irreversible (not-return) and has long-term impact. Conversion of paddy fields to settlements has impact to food security. The aim of this research is to: analyze the distibution of paddy fields based on slope and road distance, analyze socioeconomic of paddy fields farmer and determine the adequacy of domestic rice and the potential threat of domestic rice security due to. The techniques used are the analysis of images to find out characteristics of land cover/use and see the distribution of paddy fields by slope and distance of the road, determine the socioeconomic characteristics of paddy field farmers through interviews, logistic regression to determine factors affecting land conversion, calculation of the balance of the rice, and overlay to find out rice security threat. The type of land use in sub-district Ciampea dominated by dryland, mixed farming, and rice fields. The existence of paddy fields and farming are dominant at southern regions and a small portion is at the northern area. The result of regression analysis logistics binary obtained that the variable of broad rice fields ( X5 ) has the most influential factor.The equation is (Y) =-49.769 + 8.193X5. Based on the level of rice security threat, 9 villages belong to categorized of medium and 4 villages belong to high category, while based on level of potential rice fields conversion 8 villages belong to categorize of low, 2 villages belong to medium category and 3 villages belong to high category. The balance of rice in the sub-district Ciampea is deficit, because almost entire village belong to deficit status and only one village has surplus status. This condition has threaten the availability of rice while the level of potential rice fields conversion dominanted by low category and has failed to fullfil domestic food security in sub-district Ciampea, as it’s dominant villages belong to medium category

    Pemetaan Petakan Lahan Sawah, Status Penguasaan dan Pendapatan Petani di Dusun 1 Desa Cimanuk, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang

    No full text
    Kabupaten Pandeglang merupakan salah satu sentra produksi padi di Provinsi Banten dengan luas areal persawahan sebesar 54.540 ha terdiri dari sawah irigasi seluas 22.491 ha dan sawah tadah hujan seluas 32.049 ha. Tujuan penelitian ini yaitu memetakan petakan lahan sawah, mengidentifikasi status penguasaan dan pola persebarannya, serta menganalisis hubungan antara luas lahan dan status penguasaan dengan keuntungan petani di Dusun 1 Desa Cimanuk, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Informasi mengenai penggunaan lahan berbasis petakan, batas petakan dan penguasaan lahan hingga pola persebarannya diperoleh melalui pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dengan menggunakan satelit resolusi tinggi yaitu citra Ikonos. Pola spasial persebaran penguasaan lahan sawah dilakukan dengan analisis tetangga terdekat (Average Nearest Neighbor) dan analisis usahatani menggunakan perhitungan R/C ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dusun 1 Desa Cimanuk memiliki 3.636 petakan lahan sawah. Petakan terkecil sebesar 0,002 ha dan petakan terbesar 0,205 ha dengan luas ratarata 0,034 ha. Identifikasi objek lahan sawah lebih mudah dilakukan di lahan datar dibandingkan dengan lahan sawah di daerah berteras. Nilai akurasi interpretasi petakan sebesar 96,72%. Pola spasial lahan sawah di Dusun 1 Desa Cimanuk yaitu mengelompok (clustered) dengan nilai R 0,09. Luas lahan dan status penguasan sangat berpengaruh pada hasil produksi pertanian. Usahatani di Dusun 1 Desa Cimanuk secara umum menguntungkan (R/C ratio >1). Namun lahan sawah yang diolah oleh petani pemilik lebih menguntungkan (R/C ratio 3,71) daripada lahan sawah yang diolah oleh petani penggarap (R/C ratio 2,34). Petani pemilik pada luas lahan >1,0 - ≤1,5 ha memiliki nilai R/C ratio (4,17) dan petani pada luas lahan >2,0 ha memiliki nilai R/C ratio (4,74). Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa luas lahan dan status penguasaan lahan berkorelasi secara nyata dan positif terhadap nilai R/C ratio
    corecore