1,720,997 research outputs found
Foundations of Kurikulum Merdeka development in elementary education (from a philosophical perspective)
The mismatch of philosophical foundations often causes the ineffectiveness of curriculum implementation. Ideally, the philosophical basis of a curriculum guides its implementation direction. This research examines the philosophical foundation for developing primary education curricula, particularly the Kurikulum Merdeka. The method employed Library Research by sourcing data from nationally and internationally indexed journals. This study is crucial to understanding the philosophical basis underlying the "Kurikulum Merdeka" in primary education. Findings reveal diverse approaches in the learning process, reinforcement of specific values, and a unique focus in preparing students for complex societal life. The Kurikulum Merdeka in basic education is based on various philosophical schools ranging from idealism, realism, pragmatism, existentialism, and perennialism to progressivism, reconstructivism, postmodernism, and humanism in education to create a learning environment that is diverse, responsive, and relevant for students' overall development. By applying these streams, the curriculum aims to create a responsive and holistic learning platform that caters to students' needs in this ever-evolving era.
Abstrak
Ketidakefektifan implementasi kurikulum sering kali disebabkan oleh ketidaksesuaian landasan filosofi yang digunakan. Landasan filosofi sebuah kurikulum memperjelas arah implementasinya. Penelitian ini bertujuan mengamati landasan filosofis yang digunakan dalam pengembangan kurikulum pendidikan dasar, khususnya Kurikulum Merdeka. Metode pada penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan pengambilan data dari jurnal yang terindeks nasional dan internasional yang memiliki kaitan dengan Kurikulum Merdeka. Penelitian ini penting untuk memahami dasar filosofis yang melandasi Kurikulum Merdeka pada pendidikan dasar. Hasilnya menunjukkan beragam pendekatan dalam proses pembelajaran, penguatan nilai-nilai khusus, dan fokus unik dalam mempersiapkan siswa menghadapi masyarakat yang kompleks. Kurikulum Merdeka pada pendidikan dasar didasarkan pada berbagai aliran filsafat mulai dari idealisme, realisme, pragmatisme, eksistensialisme, perenialisme, hingga progresivisme, rekonstruktivisme, postmodernisme, dan humanisme dalam pendidikan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang beragam, responsif, dan relevan bagi perkembangan siswa secara menyeluruh. Dengan menerapkan aliran-aliran ini, kurikulum tersebut bertujuan menciptakan platform pembelajaran yang responsif dan holistik bagi kebutuhan siswa di era yang terus berkembang.
Kata Kunci: Landasan filosofis; pengembangan kurikulum; pendididkan dasa
PENGARUH KARAKTER POSITIF SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI PENGUKURAN LUAS MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL TEACHING AND LEARNING
This research aims to (1) enhancing student,s positive character in Area Meassurement skills (2)white enhance students' skills in measuring area through the contextual teaching and learning approach (CTL), and (3) examine whether the contextual approach to the concept of area can improve students' learning outcomes. The method used is qualitative with a descriptive and inductive analysis approach as explained by Rahmat. The results of the study show that at the initial stage, teachers did not fully understand the CTL approach with an average document analysis score of 2, observations of student learning activities averaged 1.75, and student learning outcomes reached an average of 69, which did not meet the Minimum Completeness Criteria (KKM). After a series of interventions through the application of the CTL approach, the results of teacher document analysis increased to 3.75, observations of student learning activities reached an average of 3.73, and student learning outcomes increased significantly with an average of 87. This increase indicates that the CTL approach is effective in improving teacher understanding, student learning activity, and student learning outcomes on the concept of area measurement. With the achievement of significant improvement, this study was stopped at this stage
PENGARUH KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keterampilan pedagogik guru terhadap peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa di sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif bersama dengan studi kepustakaan. Peneliti akan menggunakan kepustakaan yang relevan untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dalam teori pencarian mereka. Sumber kepustakaan dapat berasal dari buku, jurnal, majalah, hasil penelitian, dan sumber lain yang relevan. Setelah membaca teks, analisis ini menafsirkan subjek penelitian. Pertama, penelitian menemukan bahwa guru yang bekerja pada bidang pendidikan dasar secara keseluruhan memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial, atau kompetensi kepribadian yang baik. Kedua, penelitian menemukan bahwa cara guru menggunakan media pembelajaran dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dalam bidang keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi siswa akan lebih baik jika profesionalisme guru ditingkatkan. Menurut penelitian, guru harus belajar bagaimana memotivasi siswa secara positif dan benar dan mengarahkan motivasi tersebut agar diterima dengan baik oleh siswa sehingga meningkatkan prestasi belajar mereka
KAJIAN PEDAGOGIK : TERHADAP DAMPAK LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK TERHADAP KETERAMPILAN BERFIKIR KREATIF SISWA DI SD NEGERI CIBITUNG 2
This article examines how the learning environment affects the application of project-based learning models and enhances students' creative thinking abilities at SD Negeri Cibitung 2. The research seeks to determine how elements of the learning environment, including school resources, peer interactions, and educator assistance, influence the success of project-based learning approaches in improving students' creative thinking abilities. This study employs a quantitative method, gathering data through surveys and observations. The results indicate that an enabling learning environment significantly aids in the execution of project-based learning models and enhances students' creative thinking abilities
Analysis of The Student's Ability to Interconnect Macro-Submicro-Symbolic Representation on Electrolyte Solution Concept
A comprehensive understanding of chemistry requires thinking using three levels of interconnected representation: macroscopic, submicroscopic, and symbolic. Electrolyte solutions are one of the concepts in chemistry that need to involve the interconnection of the three levels of chemical representation in studying them. This study aims to analyze the students' ability to interconnect the three levels of chemical representation in the electrolyte solutions concept. This research used a descriptive quantitative research design. The research instrument used The Multiple Representation of Electrolyte Test (MRET). The research data were analyzed descriptively based on the students' answer patterns. The results showed that the student's ability to interconnect the three levels of chemical representation in the electrolyte solutions concept is low. Students are only able to make interconnections between macroscopic and symbolic levels.</span
Representation of Agency Moral Consciousness as a Teacher: Phenomenology Study among Magister Student of Indonesia University of Education
Holistic philosophy in developing environmental education curricula
Environmental education is vital in a global environmental crisis. Climate change, environmental damage, and environmental degradation require a holistic approach to education to create meaningful knowledge and action. The holistic philosophy emphasizes an understanding of human life, the environment, and the importance of education in promoting environmental sustainability, thus encouraging global thinking and action on environmental issues while recognizing that all aspects of this subject must be considered in the broader environmental context. This article aims to learn the application of holistic philosophy in developing an environmental education curriculum, focusing on the role of a holistic approach in achieving better understanding and action. Research is carried out using the literature review method, with four main steps: providing research questions, making lists of libraries, adjusting periods, and making summaries of research so as not to be corrupted by various subjects and topics. At the end of the research on the entire component of the development of the curriculum of environmental education, through a holistic approach, it can be found that a holistic approach can be applied in curricular development to a deeper understanding, active involvement, and responsibility for environmental sustainability.
Abstrak
Pendidikan lingkungan hidup sangat penting dalam upaya menanggapi krisis lingkungan global. Perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan degradasi lingkungan membutuhkan pendekatan pendidikan holistik untuk menciptakan pengetahuan menjadi tindakan yang bermakna. Filosofi holistik menekankan pada pemahaman tentang kehidupan manusia, lingkungan, dan pentingnya pendidikan dalam mempromosikan kelestarian lingkungan, sehingga mampu mendorong pemikiran dan tindakan nyata terhadap isu-isu lingkungan, sambil mengakui bahwa semua aspek dari subjek ini harus dipertimbangkan dalam konteks lingkungan yang lebih luas. Tujuan artikel ini adalah mengetahui penerapan filosofi holistik dalam pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan hidup, dengan fokus pada peran pendekatan holistik dalam mencapai pemahaman dan tindakan yang lebih baik. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur, dengan empat langkah utama, yaitu menyediakan pertanyaan penelitian, membuat daftar pustaka, menyesuaikan jangka waktu, dan membuat ringkasan penelitian agar tidak dirusak oleh berbagai subjek dan topik. Pada akhir penelitian terhadap seluruh komponen pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan hidup, dapat diketahui bahwa pendekatan holistik dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam, keterlibatan aktif, dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.
Kata Kunci: filosofi holistik; pendidikan lingkungan hidup; pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan; pengembangan kurikulu
Implementation of Multicultural-Based Social Science Learning and the Influential Factors
The goal of this study was to learn about the implementation of multicultural-based social science learning for elementary school teacher education (PGSD) students at Universitas Langlangbuana, as well as the supporting and inhibiting factors that influence multicultural-based social science learning implementation.This is a qualitative study that intends to reveal numerous aspects about occurrences, phenomena, and social symptoms in elementary school teacher education students at Universitas Langlangbuana.The implementation of multicultural-based IPS learning and the supporting and inhibiting elements in the implementation of multicultural-based social science learning courses are the topic of this study. The implementation of multicultural-based social science learning as a means of preventing radicalism comprises three stages: planning, execution, and evaluation. Religious, ethnic, and cultural aspects, as well as support from friends and the surrounding community, all play a role in the implementation of multicultural-based social science learning. Meanwhile, internal and external issues are impeding the use of multicultural-based IPS learning. Internal issues include students and the lecture process in class, while external factors include the internet's impact, non-educational television shows such as brawls, and group tasks that are rarely completed with other students
PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS CANVA TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VI SD
This study aims to explore the impact of using Canva-based learning media on the learning motivation of fourth-grade elementary school students. Canva enables teachers and students to create engaging visual learning materials, enhancing comprehension and student engagement. The study employs a quantitative approach with an experimental design. Results show that using Canva significantly boosts students' learning motivation compared to conventional teaching methods. Additionally, Canva fosters social interaction, collaboration, and creativity among students. These findings suggest that Canva is an effective tool for creating engaging and meaningful learning experiences
MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN WARGA BELAJAR MENCAPAI KOMPETENSI KEAKSARAAN USAHA MANDIRI:Studi Pengembangan pada Kelompok Belajar di Desa Tugumukti Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah rendahnya kemampuan warga belajar dalam menguasai kompetensi keaksaraan usaha mandiri (KUM). Masalah tersebut antara lain disebabkan oleh rendahnya kualitas pembelajaran, terutama kurang tepatnya strategi pembelajaran yang selama ini dilaksanakan dengan tujuan program keaksaraan usaha mandiri . Kelemahan dalam proses pembelajaran KUM meliputi: 1) tutor cenderung masih menerapkan strategi pembelajaran yang konvensional, metode ceramah dan latihan calistung semata sebagai andalan dalam proses pembelajaran. 2) pelaksanaan pembelajaran KUM belum menyentuh pada ranah kebutuhan atau masalah warga belajar, 3) keputusan tentang pembelajaran lebih banyak dilakukan oleh tutor. 3) kewirausahaan atau jenis usaha yang dikembangkan melalui pendidikan keaksaraan masih terbatas pada aspek pengetahuan bukan pada pengalaman mendalam. 4) tindak lanjut kewirausahaan sebagai strategi keaksaraan, masih menghadapi kendala terutama pada aspek jaringan dan modal usaha, sehingga proses pembelajaran hanya sebatas memenuhi tuntutan pemberi subsidi saja.
Bertolak dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk : 1) memeperoleh gambaran tentang kondisi empiris pembelajaran pendidikan keaksaraan usaha mandiri (KUM) di lapangan; 2) mengembangkan rancangan model konseptual model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan warga belajar dalam mencapai kompetensi keaksaraan usaha mandiri; 3) mendeskripsikan hasil implementasi model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan warga belajar mencapai kompetensi keaksaraan usaha mandiri; dan 4) memperoleh gambaran efektivitas model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan warga belajar dalam mencapai kompetensi keaksaraan usaha mandiri.
Konsep dan teori yang dijadikan acuan dalam penelitian ini meliputi konsep belajar dan model pembelajaran, konsep pembelajaran berbasis masalah, konsep andragogi (pendidikan orang dewasa) dalam pendidikan keaksaraan dan konsep kompetensi keaksaraan usaha mandiri (KUM).
Secara metodologis penelitian ini menggunakan prosedur penelitian dan pengembangan (research and development), menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dan berlokasi di kelompok belajar pendidikan KUM Desa Tugumukti Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat, dengan desain ekperimen pre-test dan post-test yang diujicobakan pada kelompok tunggal (One-Group Pretest-Posttest Design), dan tidak menggunakan kelompok kontrol.
Hasil penelitian mendapat gambaran : Pertama, secara empirik pengelolaan pembelajaran pendidikan keaksaraan usaha mandiri selama ini belum dilaksanakan secara optimal, sehingga berakibat kemampuan warga belajar dalam mencapai kompetensi keaksaraan usaha mandiri masih rendah. Salah satu faktor penyebab rendahnya kompetensi warga belajar adalah model dan strategi pembelajaran yang belum relevan dengan tujuan program pendidikan keaksaraan usaha mandiri. Kedua, secara konseptual model pembelajaran berbasis masalah yang dikembangakan dengan berpijak pada landasan teori, landasan yuridis dan landasan empiris, meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ketiga, dengan dukungan berbagai pihak antara lain pengelola, tutor, warga belajar dan tokoh masyarakat yang ada, model pembelajaran berbasis masalah dapat diimplementasikan sesuai dengan harapan. Keempat, model pembelajaran yang dikembangkan setelah melalui implementasi menunjukkan hasil yang efektif dalam meningkatkan kemampuan warga belajar mencapai kompetensi keaksaraan usaha mandiri. Hal ini berarti bahwa implementasi model yang dikembangkan secara efektif mampu meningkatkan kemampuan warga belajar mencapai kompetensi keaksaraan usaha mandiri.Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah terbukti mampu meningkatkan kompetensi warga belajar pendidikan keaksaraan usaha mandiri (KUM). Hal ini memberi indikasi bahwa model tersebut dapat memberi masukan dan mendukung keberhasilan program pendidikan keaksaraan usaha mandiri yang dikembangkan selama in
- …
