1,720,964 research outputs found
Formulasi Pelapis Nanokomposit Berbahan Kitosan, Beeswax dan Nanopartikel ZnO serta Aplikasinya untuk Mempertahankan Mutu Benih Kedelai (Glycine Max)
Mutu dan umur simpan benih kedelai dikaitkan dengan kemampuan daya berkecambahnya ketika ditanam. Pelapisan dengan polimer merupakan salah satu metode alternatif yang dapat digunakan untuk menekan penurunan mutu benih selama penyimpanan. Kombinasi kitosan, beeswax dan nanopartikel seng oksida (NP-ZnO) memiliki potensi yang baik sebagai pelapis benih kedelai. Kitosan memiliki kemampuan membentuk gel dan permeabilitas terhadap gas yang baik meskipun ketahanan uap airnya buruk. Beeswax ditambahkan karena mampu menurunkan permeabilitas uap air dan gas serta menghasilkan pelapis dengan karakteristik yang lebih elastis. Sedangkan, penambahan NP-ZnO memberikan sifat fungsional dari aspek antimikroba serta perbaikan sifat fisik dan mekanis pelapis.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengkarakterisasi larutan dan film nanokomposit berbasis kitosan, beeswax dan NP-ZnO berdasarkan parameter fisik, mekanis, dan mikrobiologi serta mengkaji pengaruh aplikasi pelapis nanokomposit dalam mempertahankan mutu benih kedelai selama penyimpanan. Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu konsentrasi emulsi beeswax dengan taraf 0 dan 5% serta konsentrasi NP-ZnO dengan taraf 0, 1 dan 2%. Penentuan umur simpan benih kedelai dilakukan dengan metode penyimpanan yang dipercepat (Accelerated Shelf Life Testing, ASLT) pada tiga suhu kritis yaitu 45, 50 dan 55°C.
Pada penelitian ini larutan dan film nanokomposit dibuat dengan melarutkan NP-ZnO (0, 1 dan 2% b/b kitosan) ke dalam 100 mL akuades dan diikuti dengan penambahan 1 gram kitosan dan atau, ditambahkan dengan emulsi beeswax (0 dan 5% v/v total larutan). Pengujian larutan nanokomposit mengindikasikan bahwa semua formula mampu menghambat pertumbuhan kapang Aspergillus niger. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa penambahan emulsi beeswax dan NP-ZnO pada film berbasis kitosan secara signifikan mampu menurunkan nilai laju transmisi uap air dari 24.03 menjadi 10.38 g/m2 jam dan menurunkan nilai kuat tarik dari 8.30 menjadi 6.92 MPa.
Aplikasi pelapisan larutan film nanokomposit pada benih kedelai menunjukkan aksi perlindungan potensial terhadap penurunan mutu benih kedelai. Berdasarkan uji permeabilitas uap air benih, selisih berat awal dan akhir benih kontrol lebih besar dibandingkan selisih berat benih hasil pelapisan dengan nilai secara berurutan yaitu 0.448 dan 0.398 gram. Laju respirasi benih kedelai hasil pelapisan juga turun hingga 8-10% dibandingkan laju respirasi benih kontrol. Perhitungan umur simpan berdasarkan daya berkecambah benih kedelai pada suhu 45, 50 dan 55°C menunjukkan bahwa pelapisan mampu menghambat deteriorasi benih kedelai apabila dibandingkan dengan benih konvensional tanpa pelapisan
Daya Gabung Genotipe Jagung di Dua Lingkungan dan Prediksi Kandungan Minyaknya
Pemanfaatan lahan kering untuk perluasan areal pertanaman dan varietas
hibrida merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi
jagung. Kunci penting dalam pemuliaan jagung hibrida adalah pemilihan materi
genetik yang tepat sebagai tetua untuk memanfaatkan fenomena heterosis jagung.
Maka dari itu, analisis daya gabung dan pembentukan kelompok heterotik sangat
diperlukan sebagai langkah awal dalam perakitan hibrida jangka panjang. Selain
itu, program pemuliaan jagung mulai fokus mengembangkan varietas jagung
dengan kandungan minyak yang tinggi akibat tingginya permintaan industri
terhadap minyak jagung. Penelitian ini bertujuan menganalisis daya gabung dan
kelompok heterotik galur-galur jagung generasi S4 di lingkungan optimal dan
suboptimal serta memperoleh genotipe jagung dengan daya hasil dan kandungan
minyak yang tinggi pada kondisi optimal. Sebanyak 27 galur disilangkan dengan
minimal 2 dari 3 tester menghasilkan 51 genotipe hibrida jagung dan dievaluasi di
2 lingkungan menggunakan rancangan percobaan alpha lattice dengan dua
ulangan dan tujuh blok dalam ulangan. Evaluasi hibrida untuk lingkungan optimal
dilaksanakan pada bulan April-Oktober 2016 di Kebun Percobaan Cikabayan dan
Leuwikopo IPB, Bogor dan untuk lingkungan suboptimal dilaksanakan pada
bulan Juli-Oktober 2016 di Kebun Percobaan Bajeng, Gowa.
Galur-galur dengan nilai duga daya gabung umum komponen hasil yang
baik di gabungan 2 lingkungan adalah galur P83-3 untuk karakter rendemen hasil,
galur P9-4 untuk karakter panjang tongkol, bobot tongkol, dan hasil pipilan
kering, galur P80-2 untuk karakter jumlah biji per baris, jumlah baris biji,
diameter tongkol serta galur P90-1 untuk karakter bobot 1000 biji. Nilai duga
daya gabung umum tester yang baik untuk komponen hasil di gabungan 2
lingkungan adalah Nei9008 untuk karakter jumlah baris biji dan hasil pipilan
kering, Mr14 untuk karakter panjang tongkol, jumlah biji per baris, diameter
tongkol, dan bobot 1000 biji serta Mr4 untuk karakter bobot tongkol dan
rendemen hasil. Kombinasi persilangan yang memiliki nilai duga daya gabung
khusus komponen hasil tinggi di gabungan 2 lingkungan adalah P90-1 x Mr14
untuk karakter diameter tongkol, P83-3 x Nei9008 untuk karakter panjang
tongkol, jumlah biji per baris, bobot tongkol, dan bobot 1000 biji, P44-1 x
Nei9008 untuk karakter hasil pipilan kering, dan P44-1 x Mr4 untuk karakter
rendemen hasil.
Pembentukan kelompok heterotik menggunakan data dari 30 genotipe
hibrida jagung hasil persilangan 15 galur dan 2 tester (Mr14 dan Nei9008).
Usulan 2 kelompok heterotik pada penelitian ini berdasarkan nilai duga daya
gabung khusus karakter hasil pipilan kering (DGK_HPK) hibrida dari analisis
daya gabung 2 lingkungan. Sebanyak 7 galur (P19-2, P34-1, P42-4, P44-1, P80-2,
P83-1, dan P52-2) diklasifikasikan ke dalam kelompok heterotik A dan 8 galur
(B3-5, B5-1, P15-1, P90-1, P9-4, P2-3, P83-3, dan P14-5) berada di kelompok
heterotik B. Galur-galur yang termasuk di kelompok heterotik A berada dalam
kelompok yang sama dengan tester Mr14, sedangkan galur-galur di kelompok
heterotik B berada dalam kelompok yang sama dengan tester Nei9008.
Analisis kandungan minyak aktual pada penelitian ini menggunakan 30
genotipe yang dipilih berdasarkan rasio bobot embrio dan endosperm biji jagung.
Kandungan minyak 30 genotipe jagung di lingkungan optimal berkisar antara 3.77
– 5.46 %. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa tinggi tanaman dan tinggi
letak tongkol berkorelasi negatif dengan kandungan minyak, sedangkan bobot
embrio, bobot biji utuh, bobot endosperma, dan rasio luas embrio : endosperma
berkorelasi positif dengan kandungan minyak. Selanjutnya, kandungan minyak 51
genotipe jagung diduga dengan model yang diperoleh dari analisis regresi
stepwise yang tersusun dari karakter rasio luas embrio dan endosperma, bobot
endosperma, tinggi letak tongkol, panjang tongkol, jumlah baris biji, jumlah biji
per baris, diameter tongkol, dan penutupan kelobot. Sepuluh genotipe jagung
terbaik hasil seleksi simultan berdasarkan karakter kandungan minyak dan hasil
pipilan kering adalah T44, H51, NK33, H50, Bisi222, H45, Bima20, NK6326,
H42, dan T56
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
- …
