3 research outputs found
Optimasi Waktu dan Biaya Proyek Pembangunan Bendungan Bagong Paket 1 dengan Metode Time Cost Trade Off
Proyek Pembangunan Bendungan Bagong Paket 1 merupakan salah satu proyek yang mengalami keterlambatan penyelesain proyek karena faktor cuaca hujan deras terus menerus. Hujan deras yang turun secara menerus ini menyebabkan beberapa aktivitas pekerjaan tidak dapat dilaksanakan sehingga proyek mengalami keterlambatan. Dalam pelaksanaannya, proyek Pembangunan Bendungan Bagong Paket 1 ini pada bulan Agustus mempunyai target capaian penyelesaian 8,48%. Namun, pada realitanya, proyek baru mencapai 6,95% yang menunjukkan bahwa proyek mengalami keterlambatan jadwal. Padahal, pembangunan Bendungan Bagong pada proyek ini bertujuan untuk mereduksi banjir Kota Trenggalek secara signifikan. Selain itu, Bendungan Bagong ini masuk dalam daftar Proyek Stategis Nasional (PSN) untuk menambah jumlah tampungan air dalam rangka mendukung program ketahanan pangan dan air. Oleh karena itu, perlu dilakukan percepatan jadwal pelaksanaan atau optimasi waktu pelaksanaan proyek agar biaya yang dikeluarkan tidak terus meningkat seiring dengan keterlambatan jadwal. Tugas akhir ini akan dilakukan untuk mengetahui durasi dan biaya percepatan yang optimum pada proyek Pembangunan Bendungan Bagong Paket 1 dengan menggunakan metode Time Cost Trade Off. Dalam melakukan sebuah percepatan terhadap durasi penyelesaian proyek, perlu dilakukan penekanan waktu aktivitas, diusahakan agar biaya yang ditimbulkan seminimal mungkin. Penekanan dilakukan pada aktivitas yang berada dalam lintasan kritis dan mempunyai cost slope terendah. Langkah-langkah yang diperlukan dalam melakukan percepatan ini adalah identifikasi aktivitas sisa pekerjaan, penyusunan network diagram serta lintasan kritis, menentukan crash duration dan crash cost, menghitung cost slope, dan melakukan tahap iterasi. Tugas akhir ini menghasilkan durasi percepatan paling optimum dengan durasi akhir 678 hari dan biaya Rp 835.252.140.947. Hasil ini didapat pada iterasi ke delapan, dimana pada iterasi ke sembilan, biaya total proyek hasil itersi menunjukkan adanya kenaikan biaya hingga pada iterasi ke sepuluh, sehingga diambil hasil optimum pada iterasi ke delapan.
===============================================================================================================================
The construction of the Package 1 Bagong Dam project is one of the projects that experienced delays in project completion due to the continuous heavy rain. The heavy rain that fell continuously caused several work activities to be unable to be done and the project was delayed. In its implementation, the construction of the package 1 Bagong Dam project in August has a target of 8.48% completion. However, the project has only reached 6.95% which indicates that the project is experiencing a delay in its schedule. In fact, the construction of the Bagong Dam in this project aims to significantly reduce Trenggalek City flooding. In addition, the Bagong Dam is included in the list of National Strategic Projects (PSN) to increase the number of water reservoirs to support food and water security programs. Therefore, it is necessary to accelerate the implementation schedule or optimize the project time so that the costs do not continue to increase along with the delay in the schedule. This final project will be carried out to find out the optimal duration and acceleration costs the construction of the Package 1 Bagong Dam project using the Time Cost Trade Off method. In accelerating the duration of project completion, it is necessary to emphasize the time of activity, trying to minimize the costs incurred. Emphasis is placed on activities that are in the critical path and have the lowest cost slope. The steps required in carrying out this acceleration are identifying the remaining work activities, preparing network diagrams and critical paths, determining the crash duration and crash costs, calculating the cost slope, and carrying out the iteration phase. This final project produces the most optimal acceleration duration with a final duration of 678 days and a cost of IDR 835.252.140.947. These results were obtained in the eighth iteration, where in the ninth iteration, the total cost of the iteration project showed an increase in costs untill the tenth iteration, so that the optimum results were taken in the eighth iteration
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Ketahanan Jalan Tol di Indonesia terhadap Bencana Tanah Longsor
Lokasi Indonesia secara geografis, yang merupakan pertemuan antar lempeng yang membuat Indonesia memiliki sabuk vulkanik. Kondisi ini membuat Indonesia rentan terhadap bencana alam seperti letusan gunung berapi, banjir, gempa bumi, dan tanah longsor. Bencana alam umumnya menimbulkan kerusakan yang cukup besar terhadap kondisi fisik bangunan dan infrastruktur. Pemanasan global dan perubahan iklim menyebabkan semakin besarnya intensitas dan jenis bencana alam, seperti banjir, gempa bumi, kekeringan, angin puting beliung. Dalam upaya mengurangi dampak kerusakan yang diakibatkan oleh tanah longsor terhadap infrastruktur jalan tol, dibutuhkan penerapan konsep resilience sebagai bentuk kesiapsiagaan penanggulangan bencana. Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti, serta organisasi nasional dan internasional, telah menekankan resilience (ketahanan) daripada pemulihan Resiliensi memastikan bahwa sistem dapat bertahan menahan bencana baik yang diperkirakan maupun tidak dengan menerima kerusakan seminimal mungkin. Belum banyak penelitian mengenai resiliensi di Indonesia khususnya pada Infrastruktur yang terkhusus untuk jalan tol. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, faktor yang mempengaruhi ketahanan akan diteliti melalui penyebaran kuesioner kemudian akan dialakukan analisis faktor. Dengan melibatkan responden yang ahli pada bidangnya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sudut pandang yang lebih komprehensif dan representatif. Dari variabel yang dianalisis menggunakan EFA didapatkan 4 faktor utama ketahanan yaitu faktor human resources, faktor management and data resources, faktor response resources dan faktor desain jalan tol. Faktor human resources terdiri dari 3 variabel, faktor management and data resources terdiri dari 6 variabel, faktor response resources terdiri dari 4 variabel dan faktor desain jalan tol terdiri dari 2 variabel. Dimana faktor yang paling mempengaruhi adalah faktor human resources.
==========================================================================================================================
Geographically, Indonesia is located at the convergence of tectonic plates, which creates a volcanic belt across the region. This condition makes Indonesia highly susceptible to natural disasters such as volcanic eruptions, floods, earthquakes, and landslides. Natural disasters generally cause significant damage to the physical condition of buildings and infrastructure. Global warming and climate change are increasing the intensity and variety of natural disasters, such as floods, earthquakes, droughts, and tornadoes. To reduce the impact of landslide damage on toll road infrastructure, the application of the resilience concept is required as a form of disaster preparedness. In recent years, researchers and both national and international organizations have emphasized resilience over recovery. Resilience ensures that systems can withstand both anticipated and unanticipated disasters while sustaining minimal damage. There has been limited research on resilience in Indonesia, particularly in infrastructure focused on toll roads. Therefore, in this study, the factors influencing resilience will be investigated through the distribution of questionnaires, followed by factor analysis. By involving respondents who are experts in their fields, this research is expected to provide a more comprehensive and representative perspective. The aim is to identify the indicators that influence the resilience of toll roads to landslides. The factors will be analyzed using Exploratory Factor Analysis (EFA) to determine the factors influencing the resilience of toll roads. The variables analyzed using Exploratory Factor Analysis (EFA), and four main resilience factors were identified: human resources, management and data resources, response resources, and toll road design. The human resources factor consists of 3 variables, the management and data resources factor consists of 6 variables, the response resources factor consists of 4 variables, and the toll road design factor consists of 2 variables. The most influential factor is human resource
Optimasi Waktu dan Biaya Proyek Pembangunan Bendungan Bagong Paket 1 dengan Metode Time Cost Trade Off
Proyek Pembangunan Bendungan Bagong Paket 1 merupakan salah satu proyek yang mengalami keterlambatan penyelesain proyek karena faktor cuaca hujan deras terus menerus. Padahal, pembangunan Bendungan Bagong pada proyek ini bertujuan untuk mereduksi banjir Kota Trenggalek secara signifikan. Selain itu, Bendungan Bagong ini masuk dalam daftar Proyek Stategis Nasional (PSN) untuk menambah jumlah tampungan air dalam rangka mendukung program ketahanan pangan dan air. Oleh karena itu, perlu dilakukan percepatan jadwal pelaksanaan atau optimasi waktu pelaksana-an proyek agar biaya yang dikeluarkan tidak terus meningkat seiring dengan keterlambatan jadwal. Penelitian akan dilaku-kan untuk mengetahui durasi dan biaya percepatan yang opti-mum pada proyek Pembangunan Bendungan Bagong Paket 1 dengan menggunakan metode Time Cost Trade Off. Dalam mela-kukan sebuah percepatan terhadap durasi penyelesaian proyek, perlu dilakukan penekanan waktu aktivitas, diusahakan agar biaya yang ditimbulkan seminimal mungkin. Penekanan dilaku-kan pada aktivitas yang berada dalam lintasan kritis dan mempunyai cost slope terendah. Langkah-langkah yang diper-lukan dalam melakukan percepatan ini adalah identifikasi aktivitas sisa pekerjaan, penyusunan network diagram serta lin-tasan kritis, menentukan crash duration dan crash cost, meng-hitung cost slope, dan melakukan tahap iterasi. Penelitian ini menghasilkan durasi percepatan paling optimum dengan durasi akhir 678 hari dan biaya Rp835.252.140.947,00. Hasil ini dida-pat pada iterasi ke delapan, dimana pada iterasi ke sembilan, biaya total proyek hasil itersi menunjukkan adanya kenaikan biaya hingga pada iterasi ke sepuluh, sehingga diambil hasil optimum pada iterasi ke delapan
