179 research outputs found

    GAYA KEPEMIMPINAN Dr . ABD AZIZ, M.Ag

    No full text
     The leadership of a leader always colors the process of organizing the activities of every organization, including organizations in educational units based on the vision, mission, goals and objectives set. Even the success of an organization or its failure is largely determined by the leadership style that is displayed in the organization. A leader must have his own unique and distinctive traits, habits, character and personality so that his behavior and style distinguishes him from others. The essence of the situational leadership style is actually a combined style of various existing leadership styles. The argument used in the discussion of leadership styles is that there is no one leadership style that can be applied to all situations. In fact, the application of the leadership style will be effective, if it is in accordance with the situation at hand, the leadership styles discussed are the charismatic leadership style, the transactional style and the transformational style of the figure of Dr. Abd. Aziz Wahab M.Ag. Keywords: Leader, Leadership Styl

    TESISINDUKSI KETAHANAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) TERHADAP PENYAKIT BULAI MELALUI SEED TREATMENT SERTA PEWARISANNYA PADA GENERASI S1

    No full text
    Resistance to disease is an important trait in breeding influencing quality and ultimately the crop yield. The induction of systemic resistance could be performed to improve plant resistance to disease which is stimulating the plant defense system by using elicitor application. It involves the coordination and expression of a particular gene called SAR genes and characterized by the accumulation of certain compounds such as or jasmonate acid. The experiment consists of four steps. First step is preliminary experiment to select the best non pathogenic rhizobacteria as biological elicitor. Selection of their bacteria based on hypersensitive assesment, effect of rhizobacteria application to seed viability and diseses inhibition. The main experiment consist of three experiments. First, Selection of promising line. This experiment is aimed to obtain the best line that possess highest raising resistance and most responsive to treatment. This research utilized six F1 hybrids of maize i.e. C02, C05, C13, C19, C20, and SC-139 4D. Four elicitors were tested as treatment namely non pathogenic rhizobacteria Bio1 dan Bio2, Salicylic acid (Abio1) and Benzothiadiazole-S-Methy/BTH (Abio2) by seed treatment. As control was used Fungicides Dimethomorph+Metalaxyl. Experiment was conducted at open field using spreader as inoculum source. Treated seeds then were planted and observed until 42 days after planting. Resistance evaluation was done by comparing origine resistance with induced resistance. Resistant plant was self-pollinated to obtain S The result revealed C20 is the most responsive to four kinds of elicitor. Two of them, Bio1 and Abio1 were able to improve to be moderat resistant (MR) status while Bio2 and Abio2 gave resistant (R) status. The measurement and detection indicated that salicylic acid content tends to increase after inoculation by pathogen P. maydis comparing with control and PR-1 gene was detected respectively.The inheritance study also showed the increased resistance status could be inherited into populations S 1. Under supervision of Dr. Ir. Aziz Purwantoro, M.Sc. and Dr. Ir. Andi Khaeruni R., M.Si. 1 generation seed material. Second experiment is verification of induced resistance status. Investigation was conducted by physiological and molecular approach using salycilic acid content estimation and detection of PR-1 gene using PCR technique. Third is inheritance study in S1 generation from line that possess resistance raising. 1 generation and followed Mendelian inheritance pattern for the ratio 15:1

    Identifikasi Penanda Rapd Untuk Penentuan Jenis Kelamin Tanaman Salak (Salacca zalacca GART. VOSS.)

    No full text
    INTISARI Parjanto, S. Moeyopawiro, W.T. Artama, dan A. Purwantoro. 2006. Identifikasi penanda RAPD untuk penentuan jenis kelamin tanaman salak (Salacca zalacca GART. VOSS.) Berkala Ilmiah Biologi 5 (1): 57 - 63. Adanya penanda (marker) untuk penentuan jenis kelamin pada fase bibit (vegetatif) sangat diperlukan guna mendukung studi genetika dan kegiatan pemuliaan salak (Salacca zalacca). Tanaman salak bersifat berumah dua (individu jantan dan betina terpisah) dan mencapai umur reproduktif lambat (3-4 tahun). Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan penanda jenis kelamin secara molekular dengan teknik RAPD. DNA yang diekstraksi dari daun 5 tanaman salak jantan dan 5 salak betina (yang di tanam di Banguntapan, Yogyakarta) digunakan untuk analisis variasi susunan basa DNA tanaman salak jantan dan betina dengan teknik RAPD. Sebanyak 49 macam primer 10 mer (produksi Operon Technologies, California) digunakan untuk amplifikasi DNA salak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa satu primer, yaitu OPP-08 (dengan sekuen ACATCGCCCA), menghasilkan fragmen DNA 400 pb spesifik pada satu jenis kelamin. Pada tanaman jantan dihasilkan fragmen tersebut, sedangkan pada tanaman betina tidak dihasilkan. Diduga bahwa fragmen DNA 400 bp hasil amplifikasi dengan primer OPP-08 (OPP-08^) terkait dengan gen-gen penentu kelamin tanaman salak. Penanda RAPD (OPP-08^ tersebut dapat digunakan untuk penentuan jenis kelamin tanaman salak pada fase bibit (vegetatif). Kata kunci: RAPD, penanda molekular, jenis kelamin, sala

    PELESTARIAN PLASMA NUTFAH SALAK MELALUI KULTUR PUCUK

    No full text
    Perbanyakan secara vegetatif mengakibatkan makin berkurangnya kualitas tanaman induk serta jumlah yang sangat terbatas. Sedangkan perbanyakan secara generatif akan menimbulkan ketidakpastian dari jenis kelamin tanaman Salak yang diperbanyak tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut diatas maka kultur pucuk merupakan salah satu metode perbanyakan yang tepat untuk tanaman salak. Perbanyakan yang dilakukan melalui kultur pucuk ini juga bertujuan sebagai pelestarian plasma nutfah tanaman salak secara ex situ sehingga erosi genetik dapat dihindarkan guna kepentingan program pemuliaan tanaman selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi media yang sesuai untuk kultur pucuk tunas vegetatif. Media ½MS digunakan sebagai media dasar dengan penambahan kombinasi auksin dan sitokinin. Konsentrasi NAA (0,

    PERBAIKAN KARAKTER BUNGA KERTAS (Zinnia spp.) SEBAGAI SALAH SATU KOMODITAS BUNGA POTONG MELALUI INDUKSI POLIPLOIDISASI

    No full text
    Bunga kertas (Zinnia spp.) merupakan salah satu jenis tanaman hias tropik. Keindahan bunga kertas ini tidak kalah menawan bila dibandingkan dengan bunga krisan. Namun demikian keberadaan bunga kertas ini masih belum mendapat tempat dihati masyarakat. Penelitian in bertujuan untuk menciptakan bunga kertas sebagai tanaman hias yang lebih bemilai yaitu sebagai bunga pot ataupun sebagai bunga potong sehingga dapat menggeser kedudukan bunga krisan yang bukan tanaman hias tropik. Perbaikan sifat bunga kertas dilakukan dengan cara menginduksi tingkat poliploidinya dengan perendaman biji bunga kertas dalam larutan kolkisin 0,25% dan 0,75% selama 3 jam. Pengamatan dilakukan terhadap variabel tinggi ta08man, diameter batang, panjang tangkai bunga, diameter tangkai bunga, diameter bunga, panjang stomata dan lebar stomata. Analisis jumlah kromosom dan a08lisis DNA dilakukan untuk mengetahui pengaruh kolkisin terhadap komposisi genetik tanaman. Analisis komponen varian dilakukan untuk mengetahui pengaruh kolkisin terhadap keragaman fenotipe dan genotipe baik di dalam maupun antar populasi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertakuan kolkisin dengan konsentrasi 0,25% dan 0,75% tidak memberikan perubahan pada tingkat ploidinya. Namun demikian terjadi perubahan morfologi ta08man yang termutasi oIeh larutan kolkisin. Larutan kolkisin menghambat pertumbuhan tanaman bunga kertas. Pemberian kolkisin meningkatkan keragaman fenotipe dan genotipe dalam dan antar populasi 13naman dibanding tanama... yang tidak diberi pertakuan sehingga memberi peluang untuk dilakukannya seleksi pada populasinya.</p

    ANALISIS KARYOTIP PADA ILES-ILES

    No full text
    Manan merupakan salah satu bentuk polisakarida manosa dan glukosa yang banyak terdapat dalam kandungan iles-iles. Mannan dapat dipakai sebagai bahan baku industri maupun sebagai makanan kesehatan karena dapat menurunkan kolesterol dan tekanan darah tinggi serta sebagai penurun berat badan. Mengingat pentingnya tanaman tersebut maka perlu dilakukan eksplorasi maupun pemanfaatan tanaman iles-iles secara lebih optimal. Salah satu tahapan dalam pemberdayaan tanaman iles-iles adalah dengan melakukan karakterisasi tanaman baik secara fisik maupun kimia. Namun demikian penelitian secara genetis belum pernah dilakukan sehingga perlu dilakukan karakterisasi secara genetis dengan suatu pendekatan analisis karyotip. Penelitian dilakukan terhadap dua spesies iles-iles, yaitu Amorphophallus oncophylus dan A. campanulatus. Ujung akar dipakai sebagai sumber kromosom yang diperlakukan awal dengan air es untuk kemudian difiksasi dengan larutan Farmer dan pengecatan dilakukan dengan larutan aseto-orsein. Metode pemencetan (Squash Method) diterapkan dalam pembuatan preparat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A. oncophylus mempunyai jumlah kromosom yang berbeda dengan A. campanulatus, yaitu masing-masing mempunyai jumlah triploid 39 dan aneuploid ditrisomik 28. Struktur kromosom juga menunjukkan perbedaan yang jelas, yaitu 4M + 6SM+ 3ST untuk A. oncophylus, dan 6M + 4SM + 3 ST untuk A. campanulatus dengan kromosom nomor satu dan tujuh sebagai kromosom trisomik. Hubungan kekerabatan antar kedua spesies tersebut perlu diuji lebih lanjut mengingat adanya kedekatan berdasarkan sifat morfologi maupun genom penyusunnya
    corecore