56 research outputs found
Semiotics Study: A Meaning Analiysis Of The Lyrics Of The Song “Tablo Kasmaran” By Eutik Muchtar
TThis study aims to explore the deep meaning of the lyrics of the song “Tablo Kasmaran” by Eutik Muchtar, which is popular in Kliningan and Wayang Golek arts. Using a qualitative approach, this study utilizes Riffaterre's semiotic theory to explore the layers of meaning contained in the lyrics. The song “Tablo Kasmaran” is known for its outstanding musicality and evocative lyrics, making it an interesting object of research. Through this analysis, the author uncovers a hidden message, the song conveys a feeling of the heart that reminds one of waiting in solitude, of the emptiness that can only be filled by the one who is missed. Each stanza takes us on a deep emotional journey from longing, heartache, to the point of accepting that a loved one may not return. The findings of this research are expected to provide a deeper insight into the meaning and cultural values in Sundanese music, as well as a contribution to the study of local music semiotics.This study aims to explore the deep meaning of the lyrics of the song “Tablo Kasmaran” by Eutik Muchtar, which is popular in Kliningan and Wayang Golek arts. Using a qualitative approach, this study utilizes Riffaterre's semiotic theory to explore the layers of meaning contained in the lyrics. The song “Tablo Kasmaran” is known for its outstanding musicality and evocative lyrics, making it an interesting object of research. Through this analysis, the author uncovers a hidden message, the song conveys a feeling of the heart that reminds one of waiting in solitude, of the emptiness that can only be filled by the one who is missed. Each stanza takes us on a deep emotional journey from longing, heartache, to the point of accepting that a loved one may not return. The findings of this research are expected to provide a deeper insight into the meaning and cultural values in Sundanese music, as well as a contribution to the study of local music semiotics
KARAKTERISASI MINERAL-MINERAL AMPAS UNTUK PEMBUATAN MATERIAL GEOPOLIMER BANGUNAN
Karakterisasi terhadap tiga jenis mineral ampas yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan geopolimer telah dilakukan. Bahan baku yang dikarakterisasi terdiri dari residu bauksit (red mud) dan ampas pencucian bauksit (asal Tayan, Kalbar) serta abu layang PLTU (asal Asam-asam, Kalsel). Hasil karakterisasi menunjukkan ketiga jenis mineral ampas mengandung alumina (Al2O3) dan atau silikat (SiO2) relatif tinggi; ampas pencucian bauksit mengandung 32 % Al2O3 dan 40 % SiO2, residu bauksit 25 % Al2O3 dan 3 % SiO2, serta abu layang 10 % Al2O3 dan 42 % SiO2. Alumina dan silika merupakan komponen utama pembentuk material (aluminosilikat) geopolimer. Abu layang mengandung 10% alumina reaktif dan 42 % silika reaktif dan ampas pencucian bauksit mengandung sekitar 8 % silika reaktif. Alumina reaktif dan silika reaktif berpotensi membantu mempercepat pembentukan material geopolimer. Ampas pencucian bauksit mengandung fraksi kasar (-12 +60 mesh) sekitar 69 %, berpotensi sebagai grog. Residu bauksit dan abu layang berukuran butir halus (residu bauksit 80 % -200 mesh, abu layang -200 mesh), berpotensi sebagai pengisi rongga di antara grog sehingga menghasilkan produk berkekuatan tekan yang baik. Kandungan 6,35 % Na2O residu bauksit membantu mengurangi pemakaian larutan alkali sehingga mengurangi ongkos pembuatan bahan geopolimer. Hasil pemeriksaan toksisitas dan radioaktifitas menunjukkan residu bauksit, ampas pencucian bauksit dan abu layang aman dari sifat toksik dan radioaktifitas. Hasil karakterisasi secara keseluruhan menunjukkan bahwa secara teknis residu bauksit, ampas pen- cucian bauksit dan abu layang PLTU berpotensi menghasilkan material geopolimer yang memenuhi persyaratan untuk bangunan khususnya untuk bata dan mortar
EXTRACTION OF ALUMINA FROM BAUXITE RESIDUE FOR PREPARATION OF SYNTHETIC ZEOLITE WITH FERRUM CONCENTRATE AS BY PRODUCT
Extraction of alumina from bauxite West Kalimantan (containing 45% of Al2O3 and 16% of Fe2O3) has been conducted, it is produce a alumina and bauxite residue (red mud). The residues were still containing alumina about 20% and ferrum (Fe2O3) about 37%. On further, residues processed through baking or sintering with mixture of soda and lime (lime-soda sinter process) at temperature of 800°-1100°C. Sintering which dissolved on dilute solution of sodium carbonate, was produces a aluminum hydrate (2NaAlO2) and residue of dissolution. Dipresipitasi solution produces aluminum hydrate precipitate (Al (OH) 3) that can be utilized as a raw material of synthetic zeolite. Ferrum minerals on residues dissolution was concentrated with 1000 gauss magnetic separator that produces a ferrum concentrate as a side effect. The result showed that alumina about 75% to 85% could be extracted or recovered from residues of bauxite with 98.7% of Al2O3, and also it was produced a ferrum concentrate grades 66% of Fe2O3 (46 % Fe) with acquisition of 40% as a side product
BATU KAPUR DAN PENINGKATAN NILAI TAMBAH SERTA SPESIFIKASI UNTUK INDUSTRI
Potensi batu kapur di Indonesia sangat besar, dan penggunaan produktanya pun di Industri cukup banyak. Namun kenaikan harga BBM berturut-turut di Indonesia pada kurun waktu satu dekade terakhir telah memberikan pukulan berat bagi industri batu kapur domestik. Kapur tohor (CaO) dan kapur padam (Ca(OH)2) merupakan produkta konvensional batu kapur yang paling terpengaruh oleh kenaikan BBM karena dibuat melalui pembakaran batu kapur, sehingga berdampak pada penyediaan produk tersebut untuk industri yang semakin berkurang. Oleh karena itu diperlukan efisiensi pemakaian bahan bakar dalam industri kapur tohor, dan inovasi untuk menghasilkan produk baru bernilai tambah tinggi. Efisiensi pemakaian bahan bakar pada tungku tegak tradisional diantaranya dengan memperhatikan ukuran bongkah batu kapur yang masuk tungku, serta menambah ketinggian tungku. Inovasi untuk menghasilkan produk baru diantaranya pembuatan PCC (precipitated calcium carbonate). PCC saat ini telah digunakan secara luas di industri terutama sebagai bahan pengisi dan pelapis. Untuk penggunaan yang sama, saat ini juga telah berkembang batu kapur giling atau GCC (ground calcium carbonate) yang pembuatannya relatif mudah dan murah, namun pesaingnya cukup banyak. Saat ini inovasi penggunaan baru dari PCC masih terus berkembang, seperti PCC dengan kemurnian tinggi untuk aditif makanan, nano PCC untuk produk unggul, dan sebagainya. Semakin berkembangnya tuntutan kualitas terhadap produk-produk industri menuntut spesifikasi lebih ketat dari produk- produk berbasis batu kapur
PEMBUATAN BAHAN REFRAKTORI ALUMINA DARI RESIDU BAUKSIT
Penelitian ini dilakukan dalam rangka pemanfaatan residu bauksit, sehubungan sedang dibangunnya pabrik alumina di Kalimantan Barat oleh PT. Antam. Residu bauksit merupakan limbah yang dikeluarkan oleh pabrik alumina. Residu bauksit diekstraksi aluminanya melalui proses sinter soda-kapur dan pelarutan untuk mendapatkan alumina hidrat. Alumina hidrat yang dihasilkan dibuat garam aluminium, kemudian disintesis dengan asam silikat pada variasi perbandingan berat Al2O3/SiO2 90:10, 85:15, dan 80:20 untuk membentuk bahan refraktori berupa senyawa aluminosilikat. Bahan refraktori yang dihasilkan telah diuji dengan cara pancang seger (PCE) dan mikroskop pemindai elektron (SEM). Hasil uji PCE menunjukkan bahan refraktori yang dihasilkan termasuk kelas SK-34 yang mempunyai ketahanan terhadap suhu setara dengan suhu 1.763°C. Hasil SEM pada benda uji PCE menunjukkan tekstur kristal- kristal fasa mulit berbentuk jarum (needle-like mullite) dan butiran (granular mullite)
KONSEP PEMANFAATAN DAN PEMROSESAN MINERAL AMPAS, STUDI KASUS RENCANA PEMROSESAN AMPAS BAUKSIT KALIMANTAN BARAT
Semakin meningkat kapasitas produksi pertambangan di Indonesia, semakin banyak jumlah limbah atau mineral ampas (mineral tailing) yang dikeluarkan. Untuk itu perlu konsep pemikiran pemrosesan dan pemanfaatan mineral ampas melalui metode-metode yang lazim diterapkan dalam teknologi pemrosesan mineral. Keharusan daur ulang mineral ampas untuk mendapatkan nilai tambah sejalan dengan ekosistem industri dan Undang-Undang No.4 Tahun 2009 tentang mineral dan batubara. Pemrosesan dan pemanfaatan mineral ampas bergantung pada jenis ampas mineralnya, yaitu dimanfaatkan langsung, dimanfaatkan menjadi produk tertentu dengan nilai tambah relatif rendah, diambil mineral-mineral kelumitnya dengan teknologi tertentu, dan/atau diambil seluruh mineral-mineralnya menjadi bahan yang bermanfaat dan bila me- mungkinkan dengan prinsip tanpa ampas (zero waste). Pemrosesan mineral ampas bauksit dengan cara diambil kembali sisa aluminanya dan mineral besinya adalah satu konsep kasus yang dibahas
Pengelolaan belerang dengan teknik autoclaving serta hasil penerapannya dalam pabrik skala kecil
22 p. : il.; 21 cm
Hubungan Keagamaan Di Antara Umat Islam Dan Umat Nasrani Sepanjang Sejarah
Dalam keyakinan kaum Muslimin, semua agama yang berasal dari Allah dinamkan agama Islam. Termasuk yangditurunkan kepada Nabi MUsa a.s. dan Isa a.s. (Yahudi dan Nasrani). Sementara itu, Al-Qur\u27an dengan jelas menuding umat Yahudi dan Nasrani telah memalsukan kitab suci Taurat dan Injil yang ada di tangan mereka. Dan menaruh rasa dendam ada ketidak senangan yang amat mendalam terhadap kaum MUslimin . Al-Qur\u27an juga menyebutkan diantara kedua pemeluk agama tersebut, umat Nasranilah yang terdekat hubungannya dengan umaat Islam. Dan yang paling keras terhadap ISlam adalahYahudi. Gamabran Al-Qur\u27an tersebut bukanlah untuk menyuburkan benih kebencian, akan tetapi lebih bersifat memberi ingat, agar kaum MUslimin berhati-hati dalam menjaga hubungan baik dengan mereka. Misalnya melarang umat ISlam mengangkat mereka menjadi pemimpin dan menggambarkan sifat mereka yang suka merendahkan Islam, dan bereprilaku buruk serta menyatakan bahwa kitab suci Taurat dan Injil, yang semula berasal dari Allah telah diganti dan dirobah oleh tangan manusia
EKSTRAKSI ALUMINA DARI LAPUKAN TUFIT VULKANIK ASAL JAWA BARAT DENGAN ASAM KHLORIDA
Endapan tufit vulkanik cukup melimpah di Indonesia, karena Indonesia memiliki banyak gunung api. Ekstraksi alumina telah dicoba terhadap percontoh endapan lapukan tufit vulkanik yang berasal dari Jawa Barat. Ekstraksi dilakukan menggunakan asam klorida pada suhu kamar atmosferik, dan suhu mendidih atmosferik. Percobaan dilakukan terhadap percontoh tanpa pemanggangan dan dengan pemanggangan pada suhu 700°C selama satu jam. Parameter waktu pelarutan sebagai variabel dalam interval 0 sampai 2 jam. Parameter lain seperti rasio berat padatan terhadap pelarut, ukuran partikel, dan konsentrasi asam khlorida angkanya ditetapkan mengacu pada penelitian terdahulu dalam ekstraksi alumina dari lempung kaolinit yang memberikan hasil terbaik. Ekstraksi alumina dengan asam klorida pada percontoh tanpa dipanggang menunjukkan sebanyak 82,21% alumina dalam tufit dapat terekstraksi. Sebaliknya pada percontoh yang dipanggang, ekstraksi alumina menunjukkan penurunan, angka ekstraksi tertinggi pada kondisi yang sama hanya mencapai 27,50%. Perlakuan pemang- gangan terhadap percontoh tufit ternyata menurunkan alumina terekstraksinya sekitar 54,71%. Oleh karena itu, perlakuan dengan pemanggangan pada tufit vulkanik berpengaruh negatif pada hasil ekstraksi alumina dengan asam klorida
- …
