26 research outputs found

    Perhitungan Parameter Fisis Sistem Ekstraktor Siklotron 13 Mev Untuk Pet

    Get PDF
    PERHITUNGAN PARAMETER FISIS SISTEM EKSTRAKTOR SIKLOTRON 13 MeV UNTUK PET. Telah dilakukanperhitungan parameter fisis sistem ekstraktor siklotron 13 MEV untuk PET. Untuk medan magnet rata-rata 1,275 T,maka posisi ekstraktor sekitar 40,4 cm dari pusat siklotron. Untuk tegangan dee 40 kV dan sudut dee 400, diperolehperolehan energi setiap putaran sebesar 159 keV, jumlah putaran 81 dan jarak antara putaran 5 mm. Parameterjarak ini sangat diperlukan untuk menentukan lebar ukuran foil ekstraktor. Hasil perhitungan deposisi energi padafoil menunjukkan bahwa untuk arus berkas proton 20 μA, dan tampang lintang berkas 0.9 cm2, diperoleh umur foilsekitar 56 detik

    Penentuan Massa Tererosi Untuk Berbagai Material Katoda Ignitor

    Get PDF
    PENENTUAN MASSA TEREROSI UNTUK BERBAGAI MATERIAL KATODA IGNITOR. Sistem elektroda ignitor yang berfungsi menginisiasi lucutan plasma terdiri dari dua buah elektroda ignitor yang dilengkapi dengan satu unit sistem catudaya lucutan ignitor (Ignitor Discharge Power Supply) dengan 2 trafo flyback, dimana inti ferit flyback masing-masing berdiameter 1,3 cm dan 1,5 cm sehingga diperoleh arus spot plasma yang berbeda untuk kedua sistem elektroda ignitor. Arus spot plasma tergantung pada jenis material katoda. Semakin besar arus menuju katoda maka semakin besar spot plasma yang dihasilkan sehingga semakin besar pula material katoda yang tererosi. Dalam penelitian ini dilakukan uji fungsi sistem elektroda ignitor, dan dari hasil uji fungsi dapat ditentukan besarnya massa dan partikel material katoda ignitor yang tererosi untuk menentukan umur katoda akibat hilangnya bahan di permukaan katoda setelah terbentuk spot plasma. Hasil pengujian spot plasma pada permukaan katoda ignitor menggunakan material Mg, diperoleh arus spot plasma 13 A dan lebar pulsa 38 µdet, sedangkan untuk material Ag, Al, Cd dan Cu masing-masing diperoleh arus spot plasma 14,32 A, 12,34 A, 12,56 A dan 10,58 A lebar pulsa 22 µdet, 39 µdet, 38 µdet, dan 34 µdet. Material katoda yang paling baik untuk sistem elektroda ignitor adalah magnesium karena mempunyai laju erosi γ paling rendah (11,7 µg/C) sehingga tidak mudah tererosi dan rusak. Dari hasil pengujian spot plasma diperoleh massa katoda tererosi untuk material Mg yang paling rendah yaitu 5,78 nano gram dan katoda akan berkurang sepanjang 11,75 μm, sedangkan massa katoda tererosi paling tinggi adalah Cd (laju erosi 43,9 µg/C) sebesar 20,95 nano gram, dimana katoda akan berkurang sepanjang 85,67 μ

    Mechanical and Optical Properties of Thin Film Titanium Nitride (TiN) Resulting from Deposition DC Sputtering

    No full text
    Titanium nitride (TiN) thin film was successfully grown on the surface of stainless steel 304 (SS 304) and preparate glass using the direct current sputtering method. The fabrication was done at high voltage 2.5 kV, sputtering current 40 mA, and deposition time 1 hour. The characterization was carried out using a Micro Hardness Tester and UV-Vis Spectrophotometer. Based on mechanical properties, the hardness results of deposition on SS 304 obtained vickers hardness value of 153.59 HVN and thin film thickness was preparate glass 172.61 nm. Whereas optical properties, from testing the transmittance of thin films TiN measured at a wavelength range of 300 nm - 800 nm, the thin film TiN optical gap energy is 3.51 eV

    Deposition of Cu-doped PbS thin films with low resistivity using DC sputtering

    No full text
    Investigation of the electrical resistivity of Cu-doped PbS thin films has been carried out. The films were prepared using a DC sputtering technique. The doping was achieved by introducing the Cu dopant plate material directly on the surface of the PbS sputtering target plate. SEM-EDX data shows the Cu concentration in the PbS film to be proportional to the Cu plate diameter. The XRD pattern indicates the film is in crystalline cubic form. The Hall effect measurement shows that Cu doping yields an increase in the carrier concentration to 3.55 × 1019 cm−3 and a significant decrease in electrical resistivity. The lowest resistivity obtained was 0.13 Ωcm for a Cu concentration of 18.5%. Preferential orientation of (1 1 1) and (2 0 0) occurs during deposition. Keywords: Thin films, Lead sulfide, Sputtering, Resistivity, Semiconductor, Infrare

    Morphological, mechanical and antibacterial properties of Ti–Cu–N thin films deposited by sputtering DC

    No full text
    The problems associated with Stainless Steel 316 L (SS 316 L) orthopedic implants, when implanted in the human body, are infection, local inflammation, and the possibility of bacterial growth. In this study, SS 316 L was coated with copper-doped Titanium Nitride (Ti–Cu–N) using the DC Sputtering technique. This Ti–Cu–N film improved the antibacterial performance and mechanical properties of SS 316 L. The Ti–Cu–N films were deposited using reactive DC sputtering with an 80%:20% argon to nitrogen ratio. The source voltage and current were kept constant at 10 kV and 10 mA, respectively. X-Ray Diffraction (XRD) showed that the phases formed were TiN and Cu with FCC crystal structure. Results show that the surfaces of samples containing 44.34 wt% and 54.97 wt% Cu had antibacterial effectiveness against Staphylococcus aureus (S. Aureus). The highest hardness value of a Ti–Cu–N layer was 212.032 Vickers Hardness Number (VHN), which was an improvement of 36.63% on the raw material (155.18 VHN). Surface morphology analysis using SEM-EDS was performed on the samples before and after the antibacterial test to investigate the antibacterial mechanism of the surfaces of SS 316 L containing Ti–Cu–N against S. Aureus

    Pembentukan Permukaan Porous Lapisan Tipis Ti-Cu-N pada Permukaan Stainless Steel 316L Menggunakan Metode Anodisasi

    Get PDF
    Stainless steel 316L (SS 316) banyak digunakan untuk aplikasi biomedis dan aplikasi alat kesehatan, termasuk implant tulang. Kurangnya biokompatibilitas terhadap organ tubuh membatasi penggunaan stainless steel sebagai implant tulang. Pada penelitian ini dilakukan modifikasi permukaan SS 316L terlapis tembaga Titanium Nitirde (Ti-Cu-N) menggunakan taknik anodisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan permukaan porous logam SS 316L. Permukaan porous tersebut akan di gunakan sebagai matriks untuk pelapisan Hydroxyapatite pada penelitian selanjutnya. Anodisasi dilakukan dengan tegangan 190 V dan arus 450 mA pada larutan NaOH. Morfologi permukaan dan komposisi unsur dikarakterisasi menggunakan Scanning Electron Microscope dan Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDS). Sifat mekanik diuji menggunakan Microhardness Tester Vickers MMT-X7. Morfologi permukaan menunjukkan bahwa permukaan sampel S2 (anodisasi SS 316L dengan lapisan Ti-Cu-N doping Cu 7,5 mm) terbentuk porous paling baik dibandingkan sampel lainya. Hasil EDS sampel S2 menunjukkan adanya unsur Oksigen sebesar 11,9 wt%. Keberadaan oksigen mengindikasikan proses anodisasi terjadi pada permukaan sampel. Uji keras Vickers menunjukkan kekerasan tertinggi terjadi pada sampel S2 dengan nilai 298,93 VHN meningkat 41,1 % dari sampel raw. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan pentingnya optimalisasi pada perlakuan anodisasi permukaan untuk SS 316L dalam hal pembentukan porous dan peningkatan kekerasan

    Analisis Uji Fungsi Sistem Elektrode Ignitor Untuk Sumber Elektron Katode Plasma

    Get PDF
    ANALISIS UJI FUNGSI SISTEM ELEKTRODE IGNITOR UNTUK SUMBER ELEKTRON KATODE PLASMA. Sistem elektrode sumber elektron katode plasma adalah suatu sistem yang berfungsi untuk menghasilkan plasma pulsa di dalam bejana generator plasma secara terkendali. Sistem elektrode terdiri dari sistem elektrode ignitor yang menginisiasi lucutan plasma dan sistem elektrode pembentuk plasma. Sistem elektrode ignitor yang dirancang tersusun dari bahan kuningan dan di depannya diberi penyambung dari bahan magnesium, bahan isolator terbuat dari teflon karena mempunyai nilai resitivitas elektrik yang tinggi (>1018 Ω cm), dan anode dibuat dari bahan SS 304 non magnetik. Bahan magnesium digunakan sebagai katode, karena magnesium mempunyai sifat fisis laju erosi paling rendah (11,7 μg/C) dan energi kohesif yang rendah sekitar 1,51 eV/atom. Dengan demikian semakin besar arus menuju katode akan semakin besar pula lucutan spot plasma yang dihasilkan. Hasil uji fungsi sistem elektrode ignitor diperoleh arus spot plasma 10,58 A dengan lebar pulsa 39 μs. Spesifikasi katode yang digunakan pada sistem elektrode ignitor berbentuk silinder dengan diameter 6 mm dan panjang 20 mm. Untuk frekuensi pengulangan spot plasma 10 Hz, katode akan tererosi dan berkurang sepanjang 17,64 μm, sedangkan untuk katode tererosi membentuk kerucut, maka katode akan berkurang sepanjang 26,46 μm untuk waktu pengujian sumber elektron katode plasma selama 5 jam. Bentuk erosi dari katode dipengaruhi oleh arus spot plasma, lebar pulsa serta kevakuman bejana plasma

    PENGARUH DOSIS ION NITROGEN PADA KETAHANAN KOROSI, STRUKTUR MIKRO DAN STRUKTUR FASE BIOMATERIAL STAINLESS STEEL AUSTENITIK 316L

    Get PDF
    ABSTRAK PENGARUH DOSIS ION NITROGEN PADA KETAHANAN KOROSI, STRUKTUR MIKRO DAN STRUKTUR FASE BIOMATERIAL STAINLESS STEEL AUSTENITIK 316L. Keberhasilan pemanfaatan biomaterial untuk piranti cangkok ortopedik ditentukan oleh sifat-sifat mekanik, stabilitas kimia dan biokompatibilitas dalam jaringan dan cairan tubuh. Ketahanan korosi adalah salah satu sifat utama biomaterial untuk menentukan keberhasilan cangkok ortopedik dalam jaringan tubuh. Terlepasnya partikel-partikel dari piranti cangkok ortopedik berbahan metal ke sekitar sel atau jaringan dapat mengakibatkan peradangan, reaksi alergi, toksisitas dan karsinogen. Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan perbaikan sifat-sifat permukaan biomaterial stainless steel austenitik 316L dengan teknik implantasi ion nitrogen dan nitridasi ion. Implantasi ion nitrogen dilakukan pada energi ion 60 keV dengan variasi dosis ion 2 ´ 1016 ion/cm2, 5 ´ 1016 ion/cm2, 1 ´ 1017 ion/cm2 dan 2 ´ 1017 ion/cm2. Ketahanan korosi cuplikan stainless steel austenitik 316L dalam larutan Hanks dilakukan dengan menggunakan potensiostat PGS-201T, dan ketahanan korosi optimum cuplikan diperoleh pada dosis ion 5 ´ 1016 ion/cm2 dan terjadi peningkatan ketahanan korosi dengan faktor 2,1 jika dibandingkan dengan cuplikan tanpa implantasi ion nitrogen. Peningkatan ketahanan korosi cuplikan tersebut karena terbentuknya nitrida besi x-Fe2N dan e-Fe3N pada permukaan cuplikan. Selanjutnya cuplikan stainless steel austentik 316L dengan ketahanan korosi optimum tersebut dinitridasi ion pada suhu nitrodasi 350 ºC dan waktu nitridasi 4 jam. Berdasarkan uji korosi cuplikan yang dihasilkan dengan nitridasi ion diperoleh peningkatan  ketahanan korosi dengan faktor 2,96 jika dibandingkan dengan cuplikan sebelum implantasi ion. Peningkatan ketahanan korosi cuplikan tersebut diakibatkan karena terbentuknya  nitrida besi x-Fe2N dan g¢-Fe4N yang memiliki sifat ketahanan korosi yang baik
    corecore