1,720,972 research outputs found

    Paya Pinang Group Afd Job Training Report. IV Mabar Tebing Tinggi Paya Gardens

    No full text
    84 Hlm1. Bahwa dalam pemeliharaan kelapa sawit dalam perkebunan perlu beberapa kegiatan yaitu sanitasi tanaman, pengendalian gulma pada piringan dan gawangan serta pemupukan. Pada lahan yang miring, perlu dibuat teras tapak kuda pada piringan, pemupukan harus efektif dan efisien sehingga dilakukan 3 T yaitu : tepat waktu, tepat dosis, dan tepat sasaran. 2. Bibit yang digunakan untuk penanaman dipesan 6 bulan sebelum dilakukannya penanaman dilapangan. Dengan menggunakan system tanam PreNursery dan Main Nursery. 3. Cara pemancangan yang digunakan adalah dengan menentukan Utara-Selatan kompos (Theodolite), kemudian tentukan juga Timur- Barat. 4. Pemupukan dilakukan pada saat musim hujan yang bertujuan agar pupuk yang diberikan dapat meresap masuk kedalam tanah. 5. Pemanenan dilakukan dengan rotasi panen 14 hari pada masing-masing ancak. 6. Pada perusahaan manajemen mengenai tenaga kerja yang dilakukan sudah bagus dan teratur, yang mana manajamen tenaga kerja ini berisikan segala laporan mengenai keadaan tenaga kerja yang ada kebun tersebut. 7. Pencatatan manajemen tenaga kerja bertujuan untuk mengetahui keadaan karyawan dan memudahkan didalam melakukan pengawasan karena jumlah tenaga kerja lebih banyak jika dibandingkan dengan tenaga kerja staff

    Field Work Practice Report at PT. Nusantara Plantation III Labuhan Haji Plantation Unit

    No full text
    76 Hlm1. PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Labuhan Haji memiliki dua komoditi tanaman perkebunan yang diusahakan yaitu kelapa sawit dan karet dengan luas areal masing-masing yaitu 1.923,23 ha dan 1.179,90 ha. 2. Jadwal kegiatan materi dan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang telah disusun tidak seluruhnya terlaksana, dikarenakan menyesuaikan waktu dan kondisi yang ada di lapangan. 3. Mahasiswa Praktek Kerja Lapangan (PKL) mengikuti kegiatan observasi budidaya kelapa sawit baik di TU, Pemancangan, TBM, maupun TM. 4. Kegiatan drone areal menggunakan alat teknologi canggih berupa drone yang dapat membantu menekan efesiensi biaya, tenaga kerja dan waktu pekerjaan di perkebunan. 5. Simulasi K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) dilakukan untuk memberikan informasi dan mengedukasi masyarakat mengenai tanda- tanda bahaya api dan cara pengendaliannya. 6. Sosialilasi Kalibrasi Semprot dan Perhitungan Dosis dilakukan guna memahami ketentuan dan norma penyemprotan yang disesuaikan oleh perusahaan

    Field Work Practice Report at PT Umada Kebun Pernantian A

    No full text
    56 HlmDari seluruh rangkaian praktek kerja lapangan maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Praktek kerja lapangan merupakan pengaplikasian ilmu yang selama ini didapat dibangku kuliah. 2. Teori dengan praktek tidaklah selalu berdampingan maka dari itu setelah terjun kelapangan akan lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana proses terjadinya. 3. Bekerja dilapangan merupakan pekerjaan yang menguras banyak tenaga, maka itu dibutuhkan fisik dan mental yang kuat bagi yang ingin terjun kelapangan. 4. PT. UMADA merupakan salah satu perusahaan swasta terbaik di indonesia yang beroperasi disektor industri kelapa sawit. Saran, diharapkan pada setiap pekerjaan untuk lebih meningkatkan keamanan diri dan melengkapi alat pelindung diri (APD) untuk menunjang pekerjaan demi mencapai target dan tujuan perusahaan

    Marketing Analysis of Frankincense Gum in Lumban Dolok Village, Pahae Julu District, North Tapanuli Regency

    No full text
    100 HalamanGetah Kemenyan tidak pernah lepas dari adanya sistem perdagangan atau pemasaran, dimana suatu hasil pertanian atau produk mengalir dari petani atau produsen hinga sampai ketangan konsumen akhir. Oleh sebab itu, pedagang pengumpul maupun pedagang besar menetapkan harga sesuai dengan aktivitas sistem perdagangan yang dijalankan dan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Tujuan penelitian untuk mengetahui saluran pemasaran, margin pemasaran dan farmer’s Share, dan untuk mengetahui efisiensi pemasaran getah kemenyan di Desa Lumban Dolok Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara. Metode pengambilan sampel menggunakan metode Random Sampling untuk petani dan metode Sensus untuk pedagang. Sampel yang diambil sebanyak 37 yang terdiri dari 31 sampel petani dan 4 pedagang pengumpul dan 2 pedagang besar. Sampel petani Getah Kemenyan yaitu petani yang memiliki luas lahan antara 1- 4 Ha dan merupakan milik sendiri. Hasil penelitian memperlihatkan ada 2 (dua) pola saluran pemasaran getah kemenyan di Desa Lumban Dolok Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara yaitu saluran I terdiri dari petani menjual kepedagang pengumpul kemudian menjual kepedagang besar kemudian menjual kekonsumen, sedangkan saluran II terdiri dari petani ke pedagang besar sampai ke konsumen. Marjin pemasaran getah kemenyan pada saluran I sebesar Rp 50.000/Kg sedangkan marjin pemasaran pada saluran II sebesar Rp 30.000/Kg dan farmer’s Share pada saluran pemasaran I sebesar 0,8% dan saluran pemasaran II sebesar 0,9%. Nilai efisiensi saluran pemasaran I sebesar 0,3% dan saluran pemasaran II sebesar 0,4%. Artinya sebagian besar petani menjual getah kemenyan tersebut masih menggunakan saluran pemasaran yang pertama. Frankincense sap is never separated from the existence of a trading or marketing system, where an agricultural product or product flows from farmers or producers to the hands of the final consumer. Therefore, collector traders and wholesalers set prices according to the trading system activities that are carried out and aim to make a profit. The research objective was to determine marketing channels, marketing margins and farmer's share, and to determine marketing efficiency of incense sap in Lumban Dolok Village, Pahae Julu District, North Tapanuli Regency. The sampling method uses the Random Sampling method for farmers and the Census method for traders. 37 samples were taken consisting of 31 samples of farmers and 4 collectors and 2 wholesalers. The sample of Frankincense Gum farmers are farmers who have a land area of between 1-4 Ha and are their own. The results showed that there were 2 (two) marketing channel patterns for incense sap in Lumban Dolok Village, Pahae Julu District, North Tapanuli Regency, namely channel I consisting of farmers selling to collectors then selling to wholesalers then selling to consumers, while channel II consisted of farmers to wholesalers to to consumers. The marketing margin for incense sap on channel I is IDR 50,000/Kg while the marketing margin on channel II is IDR 30,000/Kg and the farmer's share on marketing channel I is 0,8% and marketing channel II is 0,9%. The efficiency value of marketing channel I is 0,3% and marketing channel II is 0,5%. This means that most of the farmers selling the incense sap are still using the first marketing channel

    Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea Mays L. Saccarhata Sturt) Terhadap Aplikasi POC Limbah Kubis-Kubisan (Brassicaceae) dan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit

    Full text link
    Rizky Kumala Dewi. 138210062. Respon Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Jagung Manis ( Zea Mays L Saccharata Sturt ) Terhadap Aplikasi Poc Limbah Kubis – Kubisan Dan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit. Dibawah Bimbingan Ibu Ir. Asmah Indrawati Mp Selaku Ketua Pembimbing Dan Bapak Ir. Rizal Azis Mp Selaku Anggota Pembimbing. Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanian desa martebing, kecamatan dolok masihul, kabupaten serdang bedagai dengan ketinggan tempat 12 m dari permukaan laut dengan topografi datar dan jenis tanah alluvial.penelitian ini dilaksanakan dari bulan april sampai ulan juni 2017. Tujuan penelitian ini untuk memgetahui pengaruh pemberian pupuk organic cair limbah kuis-kubisan dan kompos tandan kosong kelapa sawit sebagai media tumbuh tanaman terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompkok (RAK) factorial dengan factor yang diteliti yaitu : perlakuan poc kubisan (B ) yang terdiri dari B0 = tanpa POC kubisan, B1 = 125 cc/l air, B2 = 250 cc / l air , B3 = 375 cc/l air. Dan factor kompos tandan kosong kelapa sawit ( T ) yang terdiri dari T0= tanpa kompos tankos , T1 = 1 kg/plot T2 = 2 kg/plot, T3= 3 kg/plot. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang tongkol, dan diameter tongkol ( sampel ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan poc limbah kubisan hingga konsentrasi 375 cc/l air dapat meningkatkan tinggi tanaman , jumlah daun, panjang tongkol, dan berat tongkol. Tetapi tidak berpengaruh terhadap diameter tanaman jagung manis. Perlakuan pupuk kompos tandan kosong kelapa sawit hingga dosis 3 kg/plot berpengaruh nyata terhadap panjang tongkol dan berat tongkol jagung manis / sampel.Rizky Kumala Dewi. 138210062. Respon to growth and production of sweet corn corps ( Zea Mays L.Saccharata Sturt ) against the application of organic fertilizer liquid waste cubise and compost of empty palm bunches of palm oil. Research conducted in agriculture village Martebing, Dolok District Still Serdang Bedagai District with altitude 12 m suface sea. Purpose of thisresearch to know influence of organic fertilizer dissimilar liquid waste and empty bunch oil palm as a medium to grow crops to the growth and production of sweet corn. The research was carried out by using factorial randomized block design with the investigated fact that is the treathment of POC layers and the compost factor of empty palm oil bunches.The treathment POC cubic ( B ) is : B0 = No Treathment , B1= 125 cc/l water, B2= 250 cc/l water, B3= 375 cc/l water and Treathment Compost of empty palm oil (T) is : T0= No treathment, T1= 1 kg/plot, T2= 2 kg/plot,T3=3 kg/plot. Parameters observed were plant height , leaf number, stem diemeter, ear length, tuna weight. The result showed that the treathment of POC of cubic waste until the consentration of 375 cc/l water and compost of palm oil empty bunches with doses up to 3 kg / plot corn increase plant height, leaf number, ear length, and tuna weight

    Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Cabai Merah (Capsicum Annuum L) dengan Pemberian Biochar dari Kendaga dan Cangkang Biji Karet pada Berbagai Tanah di Lahan Bekas Penanaman Tanaman Hortikultura di Kabupaten Karo

    Full text link
    Seriusman Zai, Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Cabai Merah (Capsicum Annuumm L) Dengan Pemberian Biochar dari kendaga dan Cangkang biji karet pada berbagai Tanah di lahan bekas penanaman tanaman hortikultura di Kabupaten Karo. Dibimbing oleh Dr. Ir. Sumihar Hutapea. MS dan Ir. Rizal Azis, MP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi cabe merah (Capsicum Annuum L) dengan pemberian biochar dari kendaga dan Cangkang biji karet pada berbagai tanah di lahan di bekas penanaman tanaman hortikultura di Kabupaten Karo yang terbaik untuk pertumbuhan dan produksi tanaman cabai merah. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kasa Growth Centre Kopertis Wilayah I Sumateta Utara - Nangroe Aceh Darussalam mulai dari bulan Juni-Oktober 2016. Penelitian dilakukan dengan penanaman di polybag dengan berat 10 kg/polybag. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAK) dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama adalah Biochar Kendaga dan Cangkang Biji Karet yang terdiri dari 4 taraf dosis yaitu : B0 = (kontrol), B1 = (5 ton / Ha atau 25 g / polybag), B2 = (10 ton / Ha atau 50 g / polybag) B3 = (15 ton / ha atau 75 g / polybag). Faktor kedua yaitu berbagai tanah bekas pertanian hortikultura yang terdapat di Brastagi Kabupaten Karo Sumatera Utara yang intesif penggunaan pestisida dan pupuk yang terdiri dari 3 taraf yaitu : T0 = Tanah yang ada di lokasi penelitian Growth Centre Kopertis Wilayah 1 Sumut-Aceh, T1 = Tanah tercemar Pupuk dan pestisida anorganik dari Desa Guru Singa Kecamatan Brastagi, Kabupaten Karo, T2 = Tanah yang cemar pupuk dan pestisida anorganik dari Desa Sukanalu, Kecamatan Brastagi, Kabupaten Karo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tanah (T) berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman cabai merah, yaitu pada pengamatan parameter tinggi tanaman umur 4 - 8 MST, dan berpengaruh tidak nyata pada umur 2 dan 3 MST. Setelah itu, pengamatan parameter jumlah daun pada umur 3,4 dan 5 MST berpengaruh sangat nyata, dan berpengaruh nyata pada umur 6,7, dan 8 MST dan tidak nyata pada umur 2 MST. Selanjutnya untuk pengamatan diameter batang umur 2-8 MST berpengaruh sangat nyata. Pengamatan parameter cabang produktif pada pengamatan pertama, pengamatan kedua dan ketiga berpengaruh tidak nyata. Pengamatan parameter panen panen pertama, kedua, dan ketiga berpengaruh tidak nyata. Sedangkan untuk pengamatan parameter bobot buah panen pertama, kedua dan ketiga berpengaruh tidak nyata. Perlakuan biochar dari kendaga dan cangkang biji karet berpengaruh tidak nyata terhadap pada pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman cabai merah pada semua parameter pengamatan. Interaksi antara perlakuan tanah bekas dan biochar dari kendaga dan biji karet berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter pengamatan.Seriusman Zai, Growth Response and Production of Red Chili Plants (Capsicum Annuumm L) With the provision of Biochar from kendaga and rubber seed shells on various lands in the former planting of horticultural crops in Karo District. Guided by Dr. Ir. Sumihar Hutapea. MS and Ir. Rizal Azis, MP. This study aims to determine the growth and production response of red chilli (Capsicum Annuum L) with the provision of biochar from kendaga and rubber seed shells in various soil in the former land of horticulture cultivation in Karo Regency is best for the growth and production of red chilli plants. This research was conducted at Kasa Growth Center Kopertis Region I North Sumateta - Nangroe Aceh Darussalam from June to October 2016. Research was done by planting in polybag with 10 kg weight / polybag. This research was conducted by using Factorial Randomized Block Design (RAK) with 2 treatment factors. The first factor is Biochar Kendaga and Rubber Seed Rubber consisting of 4 dosage levels: B0 = (control), B1 = (5 ton / Ha or 25 g / polybag), B2 = (10 ton / Ha or 50 g / polybag) , B3 = (15 tons / ha or 75 g / polybag). The second factor is the various land used in horticultural agriculture found in brastagi regency karo north sumatera which intesif the use of pesticide and fertilizer which consist of 3 level which is: T0 = Land at research location Growth Center Kopertis Region 1 Sumut-Aceh, T1 = polluted land Fertilizer and inorganic pesticide from Guru Singa Village of Brastagi Subdistrict, Karo Regency, T2 = Soil contaminated with fertilizer and inorganic pesticide from Sukanalu Village, Brastagi Sub-district, Karo Regency. The results showed that Soil Treatment (T) had a significant effect on the growth of red chilli plant, that is observation of high plant parameter aged 4 - 8 MST, and had no significant effect on age 2 and 3 MST. After that, the observation of leaf number parameters at age 3,4 and 5 MST had very significant effect, significant at age 6,7, and 8 MST and not significant at age 2 MST. Furthermore, to observe the stem diameter of 2-8 MST have a very significant effect. Observation of productive branch parameters at first, second and third observation have no significant effect. Observation of first, second, and third crop harvest parameters was not significant. While for observation of the first, second and third harvest fruit bobot parameters have no significant effect. Biochar treatment from kendaga and rubber seed shells had no significant effect on vegetative growth and generative of red chilli plant on all observation parameters. The interaction between the used soil treatment and biochar from kendaga and rubber seed shells had no significant effect on all observation parameters

    Perbedaan Komunikasi Interpersonal Ditinjau dari Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram pada Remaja di Univeristas Medan Area

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan komunikasi interpersonal yang di tinjau dari intensitas penggunaan media sosial Instagram pada remaja di Universitas Medan Area. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara komunikasi interpersonal dengan intensitas penggunaan media sosial Instagram. Semakin berat intensitas penggunaan media sosial maka semakin baik komunikasi interpersonal, dan sebaliknya semakin ringan intensitas penggunaan media sosial maka semakin buruk komunikasi interpersonal. Populasi pada penelitian ini ialah mahasiswa Universitas Medan Area Kampus II Fakultas Psikologi stambuk 2016 dan 2017 yang berjumlah 106. Ditarik besaran sampel 65 mahasiswa yang mana sudah memenuhi syarat. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan dua skala, yaitu skala komunikasi interpersonal dan skala intensitas penggunaan media sosial Instagram untuk menentukan tinggi dan rendahnya penggunaan Instagram. Analisis data menggunakan Analisis Varians 1 Jalur sebesar F = 3.201 dengan p = 0.002 < 0.050 . Komunikasi interpersonal tinggi (mean empirik = 133.11) > (mean hipotetik = 102.5) dimana selisihnya melebihi bilangan (SD = 9.019). Dan telah diketahui dari hasil pengambilan data adalah adanya perbedaan komunikasi interpersonal yang ditinjau dari intensitas penggunaan media sosial Instagram.This study aims to determine differences in interpersonal communication in terms of the intensity of Instagram social media use in adolescents at the Medan Area University. The hypothesis of this research is that there is a significant difference between interpersonal communication and the intensity of Instagram social media use. The more intense the intensity of social media use, the better interpersonal communication, and conversely the lighter the intensity of social media use, the worse interpersonal communication will be. The population in this study were students of the Medan Area University Campus II Faculty of Psychology, 2016 and 2017 which amounted to 106. Drawn a sample size of 65 students who had fulfilled the requirements. The sampling technique uses simple random sampling. Data collection was carried out using two scales, namely the scale of interpersonal communication and the intensity scale of Instagram social media use to determine the height and low use of Instagram. Data analysis using Analysis of Variance 1 Path of F = 3,201 with p = 0.002 <0.050. Interpersonal communication is high (empirical mean = 133.11)> (the hypothetical mean = 102.5) where the difference exceeds the number (SD = 9,019). And it has been known from the results of data collection that there is a difference in interpersonal communication in terms of the intensity of Instagram social media usage

    Report of Field Work Practices in Oil Palm Plantation of PT. Socfin Indonesia (Socfindo) Aek Loba Plantation Division VIII Padang Pulo

    No full text
    67 HlmPembibitan di PT.Socfin Indonesia kebun Aek Loba Divisi VIII Padang Pulo menggunakan double stage yaitu pre-nursery dan main-nursery. Benih yang digunakan di kebun Aek Loba Divisi VIII Padang Pulo adalah bibit DxP (lamme) yang di produksi oleh PT.Socfin lndonesia Kebun Bangun Bandar (Bangun Bandar Seed Production). Kebutuhan bibit yang dibutuhkan untuk 1 Ha adalah 143 pokok. Tahap -tahap replanting yaitu persiapan lahan dan pengolahan tanah, pemuatan saluran drainase, penanaman tanaman penutup tanah, pemancangan, pembuatan lubang tanam, dan penanaman. Perawatan gulma pada TM dan TBM dilakukan dengan cara yang berbeda, pada TBM penyemprotan dilakukan dengan menggunakan knapsack, sedangkan pada TM penyemprotan dilakukan dengan menggunakan Micron herbi. Kegitan yang dilakukan pada pemeliharaan TBM antara lain penyisipan dan konsolidasi, pemupukan, rawat pasar rintis dan piringan, ablasi dan kastrasi, serta pengendalian orictes. Pada tanaman muda konsolodasi pokok doyong sangat diperlukan supaya tanaman dapat tumbuh tegak dan pertumbuhannya tidak terhambat

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore