1,721,008 research outputs found
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA SETTING KOOPERATIF BERDASARKAN TEOREMA BELAJAR BRUNER PADA PESERTA DIDIK KELAS VIII SMP NEGERI 1 BULUKUMBA
HASMIATI
SURADI TAHMIR
AWI DASSA
Abstract
The study aims producing Mathematics learning package of cooperative setting based on Bruner’s learning theorem on Circle learning material which is valid, practical and effective.
The Study is development research which focuses on the development of Mathematics learning package of cooperative setting based oj Bruner’s learning theorem on Circle learning material. The learning package which is produced in the study is a textbook, workbook, lesson plan, and the result of learning test on Circle material that the basic competence is to identify the element, circumference, and area of a circle. When developing the learning package, the instrument related to the learning package is also developed. The development model used in the study refers to Thiangarajan or 4-D model which consists of definition phase, design phase, development phase, and disseminaton phase.
The learning package produced in the study was valited by two experts that the evaluation was in the category of extremely valid, and could be used with minor revision. The tryout was conducted once in grade VIII2 at SMPN 1 Bulukumba. The result obtained from the tryout: (1) Mathematics learning package of cooperative setting based on Bruner’s learning theorem is practical; however, some suggestion are given from the observers to improve the practicality of the learning package, (2) Mathematics learning package of cooperative setting based on Bruner’s learning theorem on Circle learning material is already effective because it has met 3 out of 4 indicators of effectivieness, namely the classical mastery of the result of learning is in high category, and students’s response is in positive category. The conclusion of the study mathematics learning package of cooperative setting based on Bruner’s learning theorem on Chircle learning material has fulfilled the criteria of valid, practical, and effective
Meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui penerapan pembelajaran kooperatif berbasis humanistik pada siswa kelas X Sains SMA YP-PGRI 2 Makassar
RUSLAN
AWI DASSA
ABDUL HAKIM JUNAID
ABSTRAK
Peningkatan kualitas pendidikan tidak lepas dari upaya peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran peserta didik sehingga dapat berguna bagi bangsa dan negara ini. Berdasarkan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui kualitas proses dan hasil pembelajaran matematika dengan menggunakan pembelajaran kooperatif berbasis humanistik pada siswa kelas X Sains SMA YP-PGRI 2 Makassar (2) Meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui penerapan pembelajaran kooperatif berbasis humanistik pada siswa kelas X Sains SMA YP-PGRI 2 Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan secara bersiklus. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah (1) Lembar observasi (2) Tes hasil belajar (3) agenda harian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Pembelajaran matematika dengan penerapan model pembelajaran kooperatif berbasis humanistik pada siswa kelas X Sains SMA YP-PGRI 2 Makassar dari segi proses 100 % berhasil dan berkualitas sedangkan dari segi hasil 100% berhasil berdasarkan lembar pengamatan siswa yang dilakukan oleh observer (2) Pembelajaran matematika dengan penerapan model pembelajaran kooperatif berbasis humanistik pada pokok bahasan peluang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika dengan rata-rata 86,33 dan ketuntasan klasikal 96,67%.
Kata Kunci:kualitas pembelajaran, pembelajaran humanistik, peningkatan kualita
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Himpunan Berbasis Quantum pada Siswa Kelas VII SMPIT Albiruni Makassar. (Dibimbing oleh Suradi Tahmir dan Awi Dassa).
ABSTRAK
Mansyur. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Himpunan Berbasis Quantum pada Siswa Kelas VII SMPIT Albiruni Makassar. (Dibimbing oleh Suradi Tahmir dan Awi Dassa).
Pembelajaran matematika tidak hanya berorientasi pada materi ajar, tetapi berorientasi pada kompetensi siswa yang meliputi penguasaan bahan ajar, aktivitas siswa dan respon siswa dalam proses pembelajaran tersebut. Artinya siswa dapat menjadi subjek belajar yang aktif dalam membangun atau mengkonstruksi sendiri ataupun berkelompok terhadap materi himpunan yang dipelajari. Walaupun dalam hal ini ada beberapa perangkat pembelajaran sebelumnya yang digunakan oleh guru seperti buku cetak siswa dan rencana pelaksanaan pembelajaran, namun terkadang siswa masih belum mampu membedakan atau mengoperasikan dengan jelas yang mana yang merupakan irisan, gabungan, selisih dan komplement. Terlebih lagi Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu Albiruni merupakan sekolah full day yang proses pembelajarannya berlangsung cukup lama sehingga membutuhkan perangkat pembelajaran yang bagus untuk mendukung proses pembelajaran tersebut. Oleh sebab itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan perangkat pembelajaran himpunan yang berbasis quantum dalam matematika yang valid, praktis dan efektif.Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (developmental research). Untuk mengembangkan perangkat pembelajaran himpunan berbasis quantum yang valid, praktis, dan efektif. Perangkat pembelajaran yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kegiatan Siswa (LKS), Buku teks pelajaran, dan Tes Hasil Belajar (THB). Proses pengembangan perangkat pembelajaran menggunakan model 4-D dari Thiagarajan yang terdiri dari 4 tahapan yaitu: (1) tahap pendefinisian, (2) tahap perancangan, (3) tahap pengembangan, (4) tahap penyebaran. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan divalidasi oleh dua orang ahli dengan nilai rata-rata keseluruhan dari tiap aspek perangkat pembelajaran himpunan berbasis quantum yang dihasilkan (buku teks pelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar kegiatan siswa dan tes hasil belajar) dinyatakan valid dan layak untuk diujicobakan. Uji coba dilakukan pada Kelas VII Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu Albiruni Makassar dengan jumlah siswa sebanyak 26 orang. Dari hasil analisis keterlaksanaan perangkat menunjukkan bahwa keterlaksanaan perangkat pembelajaran himpunan berbasis quantum memenuhi kriteria praktis dan berada pada kategori sangat baik. Serta memenuhi kriteria efektif yaitu diperoleh respon siswa positif terhadap pembelajaran, aktifitas siswa berada pada kategori sangat aktif dan hasil belajar telah tuntas secara klasikal (84,7% siswa yang memperoleh nilai di atas 75 dari nilai ideal 100). Dengan demikian, perangkat pembelajaran himpunan berbasis quantum telah valid, praktis dan efektif
Profil Kesiapan Guru Matematika Dalam Menerapkan Pendekatan Scientific Menurut Kurikulum 2013 Di SMP Kecamatan Bulukumpa. (Dibimbing oleh Nurdin Arsyad dan Awi Dassa)
ABSTRAK
NURHIKMA. AR. Profil Kesiapan Guru Matematika Dalam Menerapkan Pendekatan Scientific Menurut Kurikulum 2013 Di SMP Kecamatan Bulukumpa. (Dibimbing oleh Nurdin Arsyad dan Awi Dassa)Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi sejauh mana kesiapan guru matematika SMP di Kecamatan Bulukumpa dalam mengimplementasikan pendekatan Scientific menurut kurikulum 2013. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dan instrumen pendukungnya adalah berupa lembar kuesioner, lembar observasi serta pedoman wawancara. Subjek penelitian terdiri dari 2 (dua) orang yang merupakan guru matematika SMP yang telah menerapkan kurikulum 2013. Data dianalisis dengan menggunakan analisis data model Miles dan Huberman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kesiapan subjek pertama ditinjau dari tiga aspek: (a) Subjek pertama dianggap belum memiliki kesiapan dalam aspek sikap untuk menerapkan pendektan Scientific menurut kurikulum 2013 karena subjek belum menunjukkan sikap positif dan masih kurangnya keinginan menerapkan pendekatan Scientific, (b) Subjek pertama dianggap belum memiliki kesiapan dalam aspek pengetahuan karena pemahaman subjek mengenai pendekatan Scientific masih dianggap kurang, (c) Subjek pertama dianggap belum memiliki kesiapan dalam aspek keteramapilan karena subjek belum mampu menunjukkan kemampunnya dalam menyusun perangkat pembelajaran menurut kurikulum 2013 dan subjek belum mampu mengimplementasikan pendekatan Scientific; (2) Kesiapan subjek kedua ditinjau dari tiga aspek: (a) Subjek kedua dianggap memiliki kesiapan dalam aspek sikap untuk menerapkan pendekatan Scientific menurut kurikulum 2013 karen mampu menunjukkn sikap positifnya terhadap pendekatan Scientific dan mempunyai keinginan yang besar untuk mengimplementasikan pendekatan Scientific, (b) Subjek kedua dianggp memiliki kesiapan dalam aspek pengetahun karena mampu menunjukkn pemahamannya mengeni pendekatan Scientific, (c) Subjek kedua dianggap memiliki kesiapan dalam aspek keterampilan karena mampu menyusun perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum 2013 dan mampu mengimplementasikn pendekatan Scientific dalam proses pembelajaran; (3) Faktor yang dianggap sebagai penyebab perbedaan kesiapan, (a) Faktor keluarga, (b) Penambahan materi ajar kelas VII, (c) Pengalaman mengajar, (d) Gender
Deskripsi Kemampuan Pengajuan Masalah Pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Ditinjau Dari Gaya Belajar Siswa Kelas X.3 Sma Negeri 1 Mattirosompe. (Dibimbing oleh Suradi Tahmir dan Awi Dassa).
ABSTRAK
SITTI RAHMAYANI, Deskripsi Kemampuan Pengajuan Masalah Pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Ditinjau Dari Gaya Belajar Siswa Kelas X.3 Sma Negeri 1 Mattirosompe. (Dibimbing oleh Suradi Tahmir dan Awi Dassa).
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui tes gaya belajar, tes pengajuan masalah sistem persamaan linear dua variabel dan wawancara terstruktur. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pengajuan masalah matematika berdasarkan gaya belajar yang dimiliki siswa.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (i) subjek yang bergaya belajar visual mampu mengoptimalkan gaya belajarnya dengan baik dan memahami informasi yang telah diberikan. Terbukti dari pertanyaan bervariasi yang diajukan subjek, Selain itu, ditinjau dari hubungan struktur sintaksis subjek mampu memvariasikan dengan menggunakan unsur tugas, unsur hubungan dan unsur pengandaian. (ii) subjek yang bergaya belajar auditorial dapat mengoptimalkan gaya belajarnya dengan baik dan dapaat memahami informasi dengan baik. Terbukti dengan pertanyaan yang bervariasi yang diajukan subjek. Selain itu, subjek tersebut dapat mengajukan pertanyaan yang bervariasi dan sudah dapat memunculkan data baru selain data yang ada pada informasi yang diberikan. (iii) subjek yang bergaya belajar kinestetik dapat memahami informasi dengan baik, dimana subjek Nurlinda dapat mengajukan pertanyaan yang bervariasi dan sudah dapat memunculkan data baru selain data yang ada pada informasi yang diberikan. Berbeda dengan subjek Sitti Farida, dalam mengajukan pertanyaan subjek belum dapat memunculkan data baru dan tidak memunculkan unsur pengandaian. (iv) ketiga gaya belajar tersebut yaitu; visual, auditorial dan kinestetik sudah mampu memahami informasi dengan baik dan dapat mengajukan masalah/soal berdasarkan informasi tersebut
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Analisis Tingkat Berpikir Siswa Berdasarkan Teori Van Hiele Pada Materi Pokok Dimensi Tiga Ditinjau Dari Gaya Kognitif Kelas X SMA Negeri 1 Kahu. (Dibimbing oleh Muhammad Darwis dan Awi Dassa).
ABSTRAK
JUMRIANI. 2014. Analisis Tingkat Berpikir Siswa Berdasarkan Teori Van Hiele Pada Materi Pokok Dimensi Tiga Ditinjau Dari Gaya Kognitif Kelas X SMA Negeri 1 Kahu. (Dibimbing oleh Muhammad Darwis dan Awi Dassa).Materi dimensi tiga merupakan materi geometri yang sangat sulit dipahami siswa karena bersifat abstrak dan minimnya keterampilan siswa dalam menggambar bangun-bangun dimensi tiga. Menurut teori Van Hiele, siswa akan melalui lima tingkat berpikir dalam mempelajari dan memahami geometri, yaitu tingkat 0 (visualisasi), tingkat 1 (analisis), tingkat 2 (deduksi informal), tingkat 3 (deduksi), dan tingkat 4 (rigor). Dalam menyelesaikan soal geometri masing-masing siswa berbeda dalam menyusun dan mengolah informasi yang mereka dapatkan disebabkan perbedaan gaya kognitifnya. Informasi mengenai tingkat berpikir siswa akan memberikan pengetahuan baru bagi guru untuk menentukan strategi dalam mengarahkan siswa menuju tingkat berpikir yang lebih tinggi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tingkat berpikir berdasarkan teori Van Hiele pada materi dimensi tiga siswa yang memiliki gaya kognitif field Independent (FI) dan field Dependent (FD). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah 4 orang siswa kelas X SMA Negeri 1 Kahu yang terdiri atas 2 orang subjek bergaya kognitif Field Independent dan 2 orang subjek bergaya kognitif Field Dependent. Instrumen dalam penelitian ini adalah GEFT (Group Embedded Figure Test), tes geometri dan pedoman wawancara. Pengumpulan data dilakukan melalui pemberian tes dan wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan analisis data model Miles dan Huberman.Hasil penelitian menunjukkan: (a) subjek yang bergaya kognitif Field Independent pertama (FI-1) berada pada tingkat deduksi informal sedangkan subjek yang bergaya kognitif Field Independent kedua (FI-2) berada pada tingkat deduksi, (b) subjek yang bergaya kognitif Field Dependent pertama (FD-1) dan subjek yang bergaya kognitif Field Dependent kedua (FD-2) berada pada tingkat analisis
- …
