1,720,972 research outputs found

    Musik Suling Bambu di Siulak Kerinci: Seni dan Budaya dalam Kesinambungan dan Perubahan

    Full text link
    Musik Suling Bambu merupakan kesenian pertunjukan yang berkembang di Masyarakat Siulak Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Musik Suling Bambu berawal bermain individu sampai bermain bersama dan ditonton oleh masyarakat luas. Ia terus mengalami perkembangan. Perubahan tersebut terutama dalam bentuk pertunjukan. Penelitian ini di uraikan kenyataan di lapangan sesiaui dengan permasalahan perubahan, bentuk pertunjukan musik Suling Bambu masyarakat Siulak. Mendasari hal di atas, maka penelitian ini difokuskan pada rumusan masalah yang akan membahas (1) Bagaimana bentuk pertunjukan musik Suling Bambu masa lampau dan sekarang di masyarakat Siulak, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, (2) Bagaimana bentuk Struktur musik Suling Bambu di masyarakat Siulak, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, (3) Bagaimana fenomena musik Suling Bambu di masyarakat Siulak, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, tujuan penelitian untuk memahami dan menganalisis bentuk pertunjukan dan bentuk musik suling bambu dengan pendekatan musikologi dan didukung oleh pendekatan historis, sosiologi dan antropologis. Data yang diperoleh melalui (1) Observasi, (2) wawancara, (3) dokumentasi. Data tersebut dibedah dengan menggunakan teori perubahan dan teori analisis musik.Perubahan Musik Suling Bambu tidak lepas dari pengaruh perubahan sosial dalam masyarakat pendukungya. Perkembangan musik Suling Bambu terlihat dari perubahan dari bentuk pertunjukannya dari masa lampau sampai bentuk pertunjukan masa sekarang. Namun musik Suling Bambu hidup dinamis di tengah kehidupan masyarakat Siulak.Kata Kunci : Perkembangan, perubahan, bentuk pertunjukan musik, Suling Bamb

    Analysis of the Influence of Colonialism on Music in Jambi Province

    Full text link
    Propinsi Jambi merupakan salah satu bagian dari propinsi yang ada di Indonesia dan pernah diduduki oleh bangsa penjajah. Dampak penjajahan tersebut meninggalkan jejak-jejak yang masih tersisa hingga di Jambi, salah satu di antaranya bertemunya budaya musik yang berbeda. Musik yang berbeda itu menyatu dalam ruang baru, hingga memunculkan identitas yang baru pula akibat bertemunya dua unsur kebudayaan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kebudayaan musik Jambi yang ada saat ini dipengaruhi kolonial, hingga menemukan identitasnya sendiri. Metode yang digunakan untuk itu data kualitatif. Hasilnya musik jambi "krinok adalah hasil percampuran alat musik, namun musik dari aspek bunyi menjadi identitasnya.Kata Kunci: Musik ; Krinok; Viul, Kolonial.ABSTRACTJambi Province is a part of the province in Indonesia and was once occupied by the colonizers. The impact of this colonization left traces that still remained in Jambi, one of which was the meeting of different musical cultures. These different kinds of music unite in a new space, thus creating a new identity as a result of the meeting of two cultural elements. The purpose of this study is to analyze Jambi's musical culture which is currently influenced by colonialism so that it finds its own identity. The method used for that data is qualitative. The result is Jambi music "krinok" is the result of mixing musical instruments, but music from the sound aspect becomes its identity.Keywords: Music ; Krinok; Viul, Colonial

    KOMPOSISI, FUNGSI DAN NILAI DAMPIANG SURANTIAH

    Full text link
    ABSTRACT This study aims at seeing the composition, function, and value of dampiang that exists in Surantiah people, Pesisir Selatan. Surantiah people use dampiang as the accompaniment in the event of maanta marapulai (= escorting bridegroom). The tradition that performs dampang is known as the name ‘badampiang,’ and it has been practiced hereditarily by people. Dampiang composition will be analyzed by using Kusumawati’s view, that the elements of music composition involve rhythm, melody, harmony, form, and color. Dampiang function will be analyzed by using Alan P. Merriam’s view. The analysis of dampiang value will be conducted by using value proposed by Max Scheler.            This study concludes that dampiang is the lyric in the form of pantun that contains messages for the bridegroom. Dampiang composition is formed by flat rhythm and melody built by dampiang harmony. Dampiang has the function as emotional expression, cultural preservation, and societal integration. Dampiang in Surantiah people does not have the function of enjoyment. Dampiang has a value that reflects something believed and considered of by Surantiah people. Value contained in dampiang involves            This study is expected to be able to widen the studies about dampiang and other traditional arts. It is also expected to become the part of preservation and development forms of traditional art-culture

    Limpapeh Pada Baju Kuruang Basiba

    Full text link
    AbstractLimpapeh or Attacus atlas is a large butterfly with a wingspan wide, which has a reddish brown color and decorated with a bit of white color. Limpapeh usialy found in houses, buildings, on trees, leaves and flowers that blooming. For the people of Minangkabau, limpapeh is the designation for Minangkabau women who have grown up and will be the responsible for maintaining the lineage of the future, based on the maternal lineage will become residents in the house. The form of limpapeh in the creation of this Artwork is such a motif that is found on kuruang basiba clothes, kuruang bsiba clothes is basically a women Minangkabau clothes, that has a characteristic on the side of the shirt called siba and kikik. The presence of limpapeh wings shape on the chest, arms and subordinate makes the clothes more interesting.Keywords : Limpapeh, Clothes Kuruang Basiba Abstrak Limpapeh atau attacus atlas merupakan kupu-kupu besar dengan  bentangan sayap yang luas, yang memiliki warna coklat kemerahan dan dihiasi sedikit warna putih. Kebiasaan limpapeh hinggap pada rumah, bangunan, pepohonan, dedaunan dan bunga yang sedang bermekaran. Bagi masyarakat minangkabau limpapeh adalah sebutan untuk  perempuan Minangkabau yang sudah beranjak dewasa yang bertanggung jawab menjaga garis keturunan berikutnya, berdasarkan garis keturunan ibu yang akan menjadi penghuni dalam rumah gadang.  Bentuk limpapeh dalam penciptaan karya ini adalah sebagai motif dari baju kuruang basiba, baju kuruang basiba merupakan pakaian perempuan Minangkabau yang mempunyai ciri khas yaitu pada bagian samping baju  terdapatnyasiba dan kikik. Bentuk sayap limpapeh yang terdapat pada bagian dada, lengan dan bawahan baju serta bentuk limpapeh yang berbentuk utuh yang berterbangan sehingga membuat baju kuruang basiba, ini lebih menarikKata kunci : Limpapeh, Baju Kuruang Basib

    ESTETIKA TARI PIRING DALAM SALUANG DANGDUT DI NAGARI KUNCIR KABUPATEN SOLOK

    Full text link
    ABSTRACT             Piring dance in Kuncir village is a dance existed in Kuncir village, X Koto Diatas sub-district, Solok district, West Sumatra. Piring dance in Kuncir village can be danced by man or woman with the number of dancers is two until three dancers. The source of dance movement is related to human, nature and animal. Nowadays, the performance of Piring dance in Kuncir village has been performed together in the performance of Saluang Dangdut in Solok region. Factors that affected the aesthetics of Piring dance in the performance of Saluang Dangdut consisted of two factors namely internal factor including all artists’ creativities, choreography, local identity; and external factor. Reseach results revealed the form, social change and aesthetics found in the performance of Piring dance in Kuncir village and Piring dance in the performance of Saluang Dangdut. The aesthetic value of Piring dance in Kuncir village was reflected in the elements forming Piring dance in Kuncir village from the game played to the performance of Saluang Dangdut. Keywords: Aesthetics, Piring dance, Saluang Dangdut, Kuncir Villag

    LIMINALITY DALAM PENCIPTAAN MUSIK PROGRAMA

    Full text link
    ABSTRACT The music entitled “Liminality” is inspired by author’s anxiety toward a phenomenon of liminality between the idealism of classical music (western) and traditional music (eastern) that each of them has the strength on its composition technique and discipline. This musical creation represents the condition of liminality materialized into music composition.            This music composition is composed of three parts of orchestra style that consist of traditional idioms conveyed through the conventional method of western music. Pra Liminal describes a self-identity (tradition). Liminal describes ambiguity, and then Post Liminal is the achievement of a new identity that does not eliminate old identity. Keywords: Liminality, Pra Liminal, Liminal, Post Liminal, Traditional, Western Music

    PENERAPAN TEKNIK MEMAINKAN PIANIKA DALAM BENTUK ENSAMBEL PIANIKA PADA LAGU KAMPUANG NAN JAUAH DI MATO

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil penerapan teknik memainkan pianika dalam bentuk ensambel pianika pada lagu Kampuang Nan Jauah Di Mato di SDN 07 Teladan Bukittinggi. Secara metodologis penelitian ini berbentuk jenis kualitatif yang menggunakan pendekatan action research. Kualitatif dalam penelitian ini menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku siswa/i yang diamati. Pendekatan action research digunakan untuk penerapan tindakan pembelajaran yang diteliti dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahan masalah, dan mengamati tingkat keberhasilannya. Kemudian diberikan tindakan lanjutan bersifat penyempurnaan tindakan dan penyesuaian situasi, sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Penelitian ini juga didukung dengan metode penelitian lainnya; metode ceramah, metode demonstrasi, metode eksperimen, dan metode imitasi. Hasil yang diperoleh dari penerapan teknik memainkan pianika kepada peserta didik adalah peserta didik mampu mempraktekkan teknik penjarian pada pertunjukan ensambel pianika dengan lagu Kampuang Nan Jauah Di Mato dan pada kegiatan drumban

    Interpretasi Repertoar Danzas Espanolas Op.37, Concerto De Aranjuez, Aek Sekotak, dan Moliendo Café pada Pertunjukan Gitar (Interpretation of the Repertoire of Danzas Espanolas Op.37, Concerto De Aranjuez, Aek Sekotak, and Moliendo Café on Guitar performances)

    Full text link
    Artikel ini memuat tentang pertunjukan musik dan interpreatsi penyaji terhadap musik yang dipertunjukkan. Pertunjukan yang disajikan berasal dari berbagai era seperti romantik, modern, melayu dan popular yang dikemas kedalam sebuah pertunjukan solis gitar dengan menggunakan kaidah pertunjukan konvensional. Repertoar pertama dalam pertunjukan adalah repertoar era romantik yang berjudul Danzas Espanolas Op.37 dengan komposer Pantaleon Enrique Joaquen Granados atau yang lebih dikenal sebagai Enrique Granados. Repertor kedua adalah Concerto De Aranjuez dengan komposer Joaquin Radrigo Radrigo yang ditampilkan dalam format orkestra. Repertoar ketiga adalah Aek Sekotak merupakan lagu melayu daerah Provinsi Jambi yang diciptakan oleh NN (No Name). Moliendo Café disajikan sebagai repertoar terakhir yang merupakan komposisi musik ciptaan komposer Venezuela Jose Manzo Perroni pada tahun 1961. Masalah dalam artikel ini adalah terkait bagaimana penyaji gitar melakukan interpretasi terhadap karya yang dimainkan. Tujuan penulisan artkel ini adalah untuk menjabarkan interpretasi penyaji untuk mewujudkan sebuah pertunjukan yang baik. Hasil dalam artikel ini berupa interpretasi penyaji terhadap seluruh komposisi musik yang dimainkan dalam pertunjukan.Kata kunci: Pertunjukan; Gitar Klasik; Solis; Teknik; InterpretasiABSTRACTThis article contains about musical performances and the interpretation of the music presenters who are performed. The shows presented are from various eras such as romantic, modern, Malay and popular which are packaged in a solo guitar performance using conventional performances. The first repertoire in the show is a repertoire-era romance entitled Danzas Espanolas Op.37 with Pantaleon composer Enrique Joaquen Granados or better known as Enrique Granados. The second repertoire is the Concerto De Aranjuez with composer Joaquin Radrigo Radrigo performed in an orchestral format. The third repertoire is Aek Sekota, a Malay song from the Jambi Province, which was created by NN (No Name). Moliendo Café is presented as the last repertoire which is a musical composition created by Venezuelan composer Jose Manzo Perroni in 1961. The problem in this article is related to how guitar presenters interpret the works played. The purpose of writing this article is to describe the interpretation of the presenter to create a good show. The results in this article are in the form of the presenter's interpretation of all musical compositions played in the show.Keywords: Performance; Classical Guitar; Solis; Technique; Interpretatio

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore