1,720,983 research outputs found
Ir.H.Djuanda : negarawan, administrator, dan teknokrat utama/ Penyun.: Awaloedin Djamin
xxviii, 410 hal.: ill.; 23 cm
Ir.H.Djuanda : negarawan, administrator, dan teknokrat utama/ Penyun.: Awaloedin Djamin
xxviii, 410 hal.: ill.; 23 cm
Ir.H.Djuanda : negarawan, administrator, dan teknokrat utama/ Penyun.: Awaloedin Djamin
xxviii, 410 hal.: ill.; 23 cm
Ir.H.Djuanda : negarawan, administrator, dan teknokrat utama/ Penyun.: Awaloedin Djamin
xxviii, 410 hal.: ill.; 23 cm
PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOGRAFI OESOPHAGUS MAAG DUODENUM (OMD) DENGAN KLINIS GASTRITIS DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA PROF. AWALOEDIN DJAMIN SEMARANG
Penelitian ini tentang prosedur pemeriksaan radiografi OMD di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Bhayangkara Prof. Awaloedin Djamin Semarang dilakukan karena adanya perbedaan dengan teori Lampignano dan Kendrick (2018) yaitu tentang teknik pemeriksaan dan posisi pasien yang digunakan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prosedur pemeriksaan radiografi OMD dengan klinis gastritis, alasan dilakukan pemeriksaan oesophagus pada pasien dengan klinis gastritis, dan alasan pemeriksaan OMD dengan klinis gastritis dilakukan dengan posisi pasien berdiri.Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pelaksanaan pengambilan data pada bulan Maret 2020 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Bhayangkara Prof. Awaloedin Djamin Semarang yang dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Dengan data dianalisa dalam interaktif model.Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan radiografi OMD dengan klinis gastritis di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Bhayangkara Prof. Awaloedin Djamin Semarang mencakup persiapan pasien, persiapan alat dan bahan, teknik pemeriksaan yang dimulai dari foto polos, pemasukan media kontras untuk pemeriksaan maag, proyeksi AP maag, proyeksi LPO maag, proyeksi LAO maag, pemasukan media kontras untuk pemeriksaan oesophagus, proyeksi AP oesophagus, proyeksi AP duodenum. Alasan dilakukan pemeriksaan oesophagus pada pasien dengan klinis gastritis karena untuk melihat apakah ada kelainan juga di oesophagus. Alasan pemeriksaan OMD dengan klinis gastritis dilakukan dengan posisi pasien berdiri karena dengan posisi berdiri pemeriksaan lebih mudah dan cepat dilakukan serta nyaman untuk pasien.Kata Kunci : OMD, gastriti
PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOGRAFI KNEE JOINT DENGAN KLINIS OSTEOARTHRITIS DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA PROF. AWALOEDIN DJAMIN SEMARANG
Procedure for knee joint radiographic examination with clinical osteoarthritis according to the theory of Long et al., 2016 is using AP weight bearing and Lateral (mediolateral) projections. Meanwhile, the knee joint radiographic examination procedure with clinical osteoarthritis in Radiology Installation Prof. Bhayangkara Hospital Awaloedin Djamin Semarang is carried out with the projected AP supine and lateral recumbent. This study aims to determine the knee joint radiographic examination procedures at the Radiology Installation of Prof. Bhayangkara Hospital Awaloedin Djamin Semarang and the reason for the use of supine and lateral recumbent AP projections in knee joint examination with clinical osteoarthritis.This type of research is qualitative research with a case study approach. Data was collected at Radiology Installation Prof. Bhayangkara Hospital Awaloedin Djamin Semarang with the method of direct observation, in-depth interviews with respondents and documentation. The data obtained were processed analyzed using open coding and then presented in the form of images, flow and quotes so that conclusions can be drawn.The results showed that the knee joint radiographic examination procedure with clinical osteoarthritis in the Radiology Installation of Bhayangkara Hospital Prof. Awaloedin Djamin Semarang covers patient preparation, instrument preparation, examination techniques that are carried out using supine AP projections and lateral recumbent. The reason for the supine and lateral recumbent AP projections on knee joint radiographic examination with clinical osteoarthritis is because the radiograph results have revealed narrowing of the joint gap, giving comfort to the patient and facilitating examination, besides the supine AP projections appearing bone structure, femoral and tibial alignment, intercondylar eminentia, osteophytes, subcondral sclerosis and finally cyst formation, whereas lateral recumbent projections appear femoropatellar joint and tibia joint
PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOGRAFI CALCANEUS PADA KLINIS SPUR DI INSTALASI RADIOLOGI RS BHAYANGKARA PROF. AWALOEDIN DJAMIN SEMARANG
Prosedur pemeriksaan radiografi calcaneus pada klinis spur di Instalasi Radiologi RS Bhayangkara Prof. Awaloedin Djamin Semarang hanya dilakukan dengan proyeksi mediolateral perbandingan. Hal tersebut berbeda dengan literatur yang menggunakan 2 proyeksi, yaitu axial (plantodorsal) dan lateral (mediolateral). Penelitian ini bertujuan mengetahui prosedur pemeriksaan radiografi calcaneus pada klinis spur, mengetahui alasan hanya menggunakan proyeksi mediolateral perbandingan, dan mengetahui informasi diagnostik yang didapatkan pada proyeksi mediolateral perbandingan dalam mendiagnosa spur. Jenis penelitian ini kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Waktu penelitian pada Februari-April 2022. Penelitian dilakukan dengan cara observasi, wawancara dengan radiografer, radiolog, dokter pengirim dan pasien. Data observasi diolah dan dianalisis menggunakan koding terbuka, data hasil wawancara diolah dan dianalisis serta disajikan dalam bentuk kuotasi sehingga dapat ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan radiografi calcaneus klinis spur di Instalasi Radiologi RS Bhayangkara Prof. Awaloedin Djamin Semarang hanya menggunakan proyeksi mediolateral perbandingan, persiapan pasien melepas alas kaki dan benda disekitar obyek, pasien duduk pada meja pemeriksaan dengan kedua knee pasien difleksikan, kedua calcaneus menempel pada pertengahan IR ukuran 24x30cm, beri softbag pada kedua knee, arahkan sinar vertikal tegak lurus, FFD 100 cm dengan titik bidik pada pertengahan IR diantara kedua calcaneus, faktor eksposi 57 kV 6.4 mAs menggunakan modalitas pesawat sinar-x konvensional. Alasan hanya menggunakan proyeksi mediolateral perbandingan yaitu keterbatasan sistem BPJS pasien rawat jalan hanya sekali foto dalam sehari serta untuk membandingkan kedua calcaneus. Proyeksi mediolateral perbandingan pada pemeriksaan radiografi calcaneus spur dinilai dapat menampakkan kelainan spur dan anatomi calcaneus seperti navicular, talonavicular joint, talus, talocalcaneal joint, tibiotalar joint dan calcaneus
Kedudukan Polri Dalam Sistem Ketatanegaraan:Isu-Isu Polri Dalam RUU Kamnas
Keberadaan RUU Kamnas tidak saja menimbulkan polemik di tengah-tengah masyarakat sipil, tetapi juga memunculkan isu-isu seputar status dan kedudukan Polri dalam sistem ketatanegaraan Negara Republik Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan untuk menjawab isu-isu Polri dalam polemik RUU Kamnas. Dengan menggunakan pendekatan sejarah Polri-TNI serta hukum nasional dan internasional, tulisan ini tidak secara emosional mempertahankan keberadaan Polri berada di bawah Presiden, tetapi dimaksudkan dalam rangka memberikan informasi dan data agar dapat dipahami secara obyektif berkenaan dengan polemik RUU Kamnas
PENGARUH PEMBERIAN LIRAGLUTIDE TERHADAP PERUBAHAN LINGKAR LENGAN ATAS Studi Observasional Analitik pada Anggota Polri di Rumah Sakit Bhayangkara Prof. Dr. Awaloedin Djamin Semarang
Lingkar lengan atas merupakan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit, menjadi parameter mengidentifikasi overweight dan obesitas. Obesitas yaitu akumulasi lemak berlebihan pada tubuh. Salah satu terapi farmakologi untuk obesitas menggunakan liraglutide sudah disetujui oleh FDA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian liraglutide terhadap perubahan lingkar lengan atas.
Penelitian yang dilakukan yaitu jenis observasional analitik dengan rancangan one group pre-post test design. Tempat dilakukannya penelitian ini adalah di Rumah Sakit Bhayangkara Prof. Dr. Awaloedin Djamin Semarang dengan kriteria inklusi responden adalah anggota Polri IMT>30 kg/m2 yang berjenis kelamin laki-laki sedangkan kriteria ekslusi responden pada penelitian ini adalah memiliki riwayat penyakit karsinoma medular tiroid. Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan metode uji statistik spss yaitu menggunakan uji t berpasangan.
Rata-rata ukuran lingkar lengan atas sebelum mengikuti program yaitu 38,077 ± 3,2564 dan sesudah mengikuti program adalah 37,803 ± 3,1443 dengan Asymp. Sig (2-tailed) p = 0,291 (p>0,05).
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh antara pemberian liraglutide terhadap obesitas yang dilihat dari ukuran lingkar lengan atas.
Kata Kunci: : Liraglutide, Lingkar Lengan Atas, Obesita
- …
