1,721,013 research outputs found
PERBANYAKAN BIBIT BAMBU SECARA IN VITRO MELALUI MODIFIKASI MEDIUM DAN ZAT PENGATUR TUMBUH
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
EVALUASI KERAGAAN 15 VARIETAS KEDELAI (Glycine max L. Merril) PADA TANAH ULTISOL
Kebutuhan kedelai di masyarakat Indonesia mengalami kenaikan dari tahun
ketahun. Upaya untuk peningkatan produksi kedelai dapat dilakukan dengan cara perluasan
lahan. lahan Ultisol memiliki memiliki sebaran sebesar 45.794.000 ha atau sekitar 25 %
dari total luas daratan di Indonesia. Masalah budidaya tanaman kedelai pada tanah Ultisol
adalah pH rendah berkisar antara 3,1-5, kejenuhan basa <35%, kapasitas tukar kation
rendah, kandungan unsur hara rendah, serta adanya kejenuhan ion logam seperti Al dan Fe
yang tinggi. Maka dari itu diperlukan varietas kedelai yang memiliki daya hasil yang tinggi
di lahan Ultisol. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan dan hasil 15
varietas kedelai pada lahan Ultisol. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai
dengan Juni 2021 yang berlokasi di Perumahan Griya Mentari Residence, Pematang
Gubernur, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan
rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan satu faktor dan tiga ulangan, yang
terdiri atas 15 perlakuan yaitu Anjasmoro, Detam 1, Detam 2, Detam 3, Detam 4, Dena 1,
Dena 2, Dering 1, Detap 1, Derap 1, Dega 1, Gepak kuning, Grobogan, Devon 1 dan Deja
1. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 45 satuan percobaan yang terdiri
dari 3 sampel tanaman, sehingga terdapat 135 tanaman.
Hasil uji F 1 % menunjukkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh sangat nyata
terhadap semua variabel pertumbuhan dan hasil. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan
varietas kedelai pada tanah Ultisol dari segi pertumbuhan varietas Detam 2 dan Dering 1
memiliki pertumbuhan yang lebih baik. Varietas Detam 2, dengan pertumbuhan tinggi
tanaman 88,77 cm, jumlah daun, diameter batang 9,90 mm, jumlah cabang 7,50 cabang
total, dan jumlah cabang produktif 6,50 cabang. Pada varietas Dering 1 memiliki
pertumbuhan tinggi tanaman 84,53 cm, jumlah daun 54,33, diameter batang 10,88 mm,
jumlah cabang total 6,83 cabang, jumlah cabang produktif 6,66 cabang. Namun dari segi
komponen hasil varietas Detam 2 memiliki hasil yang lebih baik dengan jumlah polong
189 polong, jumlah polong isi 182 polong dan bobot biji per tanaman 36,68 gram. Pada
varietas Dering 1 tidak menunjukkan hasil yang tinggi dikarenakan memiliki bobot biji
yang rendah yaitu 12,00 gra
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN EDAMAME TERHADAP PEMBERIAN DOLOMIT DAN PUPUK NPK DI TANAH ULTISOL
Tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu komoditi
tanaman pangan yang banyak dimanfaatkan sebagai industri pangan maupun pakan oleh
masyarakat Indonesia. Edamame merupakan kedelai putih yang berasal dari Jepang dan
mulai dibudidayakan di Indonesia. Edamame biasa dikonsumsi dalam bentuk polong.
Edamame banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang menyadari pentingnya makanan sehat
yang aman dikonsumsi dan ramah lingkungan. Produksi kedelai di Indonesia masih
tergolong rendah. Rendahnya produksi edamame di Indonesia dapat disebabkan oleh
pemanfaatan lahan yang sedikit dan produktivitas yang rendah. Upaya yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan produksi kedelai edamame salah satunya dengan adanya
inovasi teknologi budidaya untuk mencapai produktivitas edamame yang menyesuaikan
dengan kondisi lahan yang ada salah satunya dengan pemberian dolomit dan pupuk NPK.
Penelitian ini dilaksanakan untuk mendapatkan dosis dolomit terbaik, dosis pupuk
NPK terbaik dan dosis kombinasi terbaik pada pertumbuhan dan hasil edamame di tanah
ultisol. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan
2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama berupa dosis dolomit dengan 4 taraf, yaitu:D0D0 = 0
x Aldd , D1= 0,5 x Aldd, D2= 1 x Aldd, D3= 1,5 x Aldd. Faktor yang kedua Pupuk NPK
yaitu dengan dosis rekomendasi ( Urea 100 kg/ha, SP36 150 kg/ha, KCl 150 kg/ha) : P0 =
Urea 0 kg/ha, SP36 0 kg/ha, KCl 0 kg/ha (0 g/polybag), P1 = Urea 50 kg/ha, SP36 75
kg/ha, KCl 75 kg/ha, P2 = Urea 100 kg/ha, SP36 150 kg/ha, KCl 150 kg/ha, P3 = Urea 150
kg/ha, SP36 225 kg/ha, KCl 225 kg/ha.
Dari penelitian ini belum didapatkan kombinasi antar perlakuan dolomit dan pupuk
NPK terbaik pada ultisol. Pemberian dolomit sampai dengan setara 2 x Al-dd belum
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil edamame pada ultisol kecuali jumlah cabang
produktif. Pemberian dolomit mampu meningkatkan berat polong bernas pertanaman dan
persentase polong bernas sedangkan pupuk NPK mampu meningkatkan pertumbuhan
tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga, jumlah cabang produktif dan bobot
berangkasan segar
MODEL PENGELOLAAN PENAMBANGAN EMAS SKALA KECIL (PESK) DI DESA SUKA MENANG KECAMATAN KARANG JAYA KABUPATEN MUSI RAWAS UTARA
Emas merupakan potensi tambang di Kabupaten Musi Rawas Utara dan sekarang
Penelitian ini dilaksanakan di lokasi pengolahan emas tanpa izin, Desa Sukamenang,
Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan pada
bulan Agustus sampai dengan Desember 2023 . Penelitian ini menggunakan pendekatan
survei dengan metode kuantitatif (kuesioner) dan kualitatif (wawancara) untuk mengkaji
karakteristik sosial ekonomi, pengetahuan, dan persepsi masyarakat terhadap aktivitas PESK
serta dampaknya. Analisis kadar merkuri dilakukan pada sampel air sumur dan rambut
responden sesuai standar USEPA dan Peraturan Menteri Kesehatan. Model sistem dinamis
digunakan untuk memprediksi dampak berbagai kebijakan PESK terhadap kesehatan dan
sosial ekonomi masyarakat, baik saat ini maupun di masa depan. Pemodelan dilakukan
melalui identifikasi faktor risiko, mitigasi, serta simulasi keterkaitan antar komponen sistem
menggunakan pendekatan system thinking dengan bantuan perangkat lunak Powersim.
Model pengelolaan PESK yang adaptif dilakukan dengan pendekatan partisipatif melalui
wawancara, FGD, dan survei pada 10 pemangku kepentingan, termasuk perwakilan
pemerintah, penambang, masyarakat sipil, dan akademisi,. Analisis dilakukan menggunakan
metode PROMETHEE untuk menyusun strategi, program, dan rencana aksi berbasis data
multikriteria secara holistik, mencakup aspek lingkungan fisik, sosial, ekonomi, dan
kesehatan.
ditambang secara ilegal melalui Penambangan Emas Skala Kecil (PESK) yang
pengolahannya menggunakan merkuri. Kegiatan ini dilakukan tanpa izin dan membuang
limbah ke sungai yang menjadi sumber air masyarakat, sehingga terjadi polusi lingkungan
dan mengancam kesehatan masyarakat. Penelitian ini diperlukan untuk mengkaji dampak
PESK dan merumuskan kebijakan pengelolaan yang tepat. Tujuan umum penelitian ini
adalah membuat model strategi pengelolaan penambangan emas skala kecil (PESK) tanpa
izin. Sedangkan tujuan umum tersebut dijabarkan menjadi tiga tujuan khusus yaitu (1)
Melakukan analisis dampak tambang emas rakyat skala kecil (PESK) tanpa izin terhadap
lingkungan dan kesehatan masyarakat, (2) Merancang Model Sistem Dinamik untuk
memprediksi berbagai pilihan kebijakan pengelolaan tambang emas rakyat skala kecil
(PESK) tanpa izin terhadap tingkat resiko kesehatan masyarakat saat ini dan dimasa yang
akan datang, dan (3) Menyusun ranking pilihan kebijakan dalam pengelolaan PESK tanpa
izin secara holistik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa PESK di Desa Sukamenang telah
menyebabkan pencemaran merkuri dengan 66,1% rambut responden terdeteksi mengandung
Hg di atas ambang batas 1 µg/g, sehingga membahayakan kesehatan pekerja dan masyarakat
sekitar. Upaya penanganan dapat dilakukan melalui zonasi pertambangan ramah lingkungan
dan pemberdayaan ekonomi alternatif bagi para penambang. Skenario terbaik adalah
penerapan skenario 70% alih pekerjaan yang efektif dalam menghilangkan kontaminasi
merkuri baik di sumur maupun pada rambut manusia serta menurunkan jumlah pekerja
PESK di permukiman. Skenario kebijakan terbaik adalah penutupan penambangan serta
pengolahan emas rakyat yang diiringi dengan pengalihan pekerjaan masyarakat dari
pengolah emas menjadi petani tanaman kelapa sawit. Skenario ini memperoleh nilai net flow
tertinggi sebesar 0,3250. Sebaliknya, skenario pengolahan emas yang tetap dilanjutkan
dengan perubahan teknologi dari merkuri ke non-merkuri dan skenario pengolahan emas
dengan sistem zonasi di luar Desa Sukamenang memiliki nilai net flow negatif, yang
menandakan bahwa keduanya skenario tersebut tidak dapat diaplikasika
PERTUMBUHAN EKSPLAN BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) PADA BEBERAPA KONSENTRASI SUKROSA DAN ARANG AKTIF
Produktivitas bawang putih mengalami penurunan dari tahun ke tahun yang disebabkan bibit yang digunakan berpotensi membawa penyakit. Kultur jaringan diharapkan dapat menyediakan bibit bawang putih yang relatif banyak, waktu yang relatif singkat, unggul, dan bebas patogen. Pada kultur bawang putih terdapat gejala pencoklatan akibat senyawa fenol yang dikeluarkan eksplan bawang putih dan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan eksplan bawang putih. Sukrosa berperan sebagai sumber energi pada media untuk eksplan dapat tumbuh dengan baik. Selain sumber energi sukrosa juga dapat berperan sebagai hardening eksplan. Arang aktif memiliki fungsi sebagai absorban dan diharapkan dapat menyerap senyawa fenol yang dikeluarkan oleh eksplan bawang putih. Selain sebagai absorban arang aktif juga dapat merangsang perakaran eksplan dan membuat media menjadi gelap sama seperti keadaan dilapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi sukrosa dan arang aktif yang optimum sehingga dapat memacu pertumbuhan eksplan bawang putih (Allium sativum L.) secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2013 sampai Maret 2014 di Laboratorium Agronomi Divisi Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi sukrosa yang terdiri atas 4 taraf, yaitu S1 = 30 g/L sukrosa, S2 = 60 g/L sukrosa, S3 = 90 g/L sukrosa, dan S4 = 120 g/L sukrosa. Faktor kedua adalah konsentrasi arang aktif yang terdiri atas 4 taraf, yaitu A0 = 0 g/L, A1 = 1 g/L, A2 = 2 g/L, dan A3 = 3 g/L, dari kedua faktor tersebut diperoleh 16 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 48 satuan percobaan dan setiap kombinasi perlakuan terdiri atas 3 sampel penelitian sehingga terdapat 144 botol kultur. Data hasil pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan uji F pada taraf 5% dan apabila terdapat berbedanya antar perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjut Polinomial Ortogonal untuk mendapatkan konsentasi sukrosa dan arang aktif yang optimum. Variabel pengamatan yang diamati meliputi saat tumbuh tunas, saat tumbuh akar, persentase tumbuh tunas setiap perlakuan, persentase tumbuh akar setiap perlakuan, jumlah tunas, jumlah akar, jumlah daun, berat basah total, berat total kalus, tinggi tunas, dan warna kalus.
Hasil penelitian menunjukkan pemberian sukrosa sampai dengan 120 g/L dan arang aktif sampai dengan 3 g/L mampu menginduksi pembentukan akar, tunas, dan kalus bawang putih secara in vitro. Interaksi 90 g/L sukorsa dan 120 g/L sukrosa dengan penambahan arang aktif pada 4 taraf masih menunjukkan peningkatan pada jumlah akar dan tinggi tunas. Konsentrasi 50,25 g/L sukorsa merupakan konsentrasi optimum dalam menghasilkan saat tumbuh tunas tercepat (3,5 hari setelah tanam). Pemberian arang aktif pada taraf 0 - 3 g/L menunjukkan penurunan jumlah daun namun dapat mencegah gejala pencoklatan pada eksplan bawang putih. Konsentrasi 2 g/L arang aktif pada 90 g/L sukrosa menghasilkan kalus terbaik dengan warna putih bening yang dapat diinduksi menjadi embriosomatik
KERAGAAN KARAKTER PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT PRE-NURSERY PADA MEDIA TANAM CAMPURAN KOMPOS KULIT KOPI DAN DOSIS PUPUK MAJEMUK
Pembibitan kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang menentukan produksi
kelapa sawit. Bibit yang berpenampilan prima dan sehat merupakan prasyarat bagi
keberhasilan budidaya kelapa sawit. Media yang baik untuk pembibitan kelapa sawit adalah
tanah bagian atas (topsoil) yang subur, gembur, dan kaya akan bahan organik. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi interaksi antara media tanam campuran subsoil dan kompos
kulit kopi dengan dosis pupuk majemuk terhadap keragaan pertumbuhan bibit kelapa sawit,
menentukan media tanam campuran subsoil dan kompos kulit kopi terbaik terhadap keragaan
pertumbuhan bibit kelapa sawit dan menentukan dosis pupuk majemuk terbaik terhadap
keragaan pertumbuhan bibit kelapa sawit tahap pre-nursery.
Penelitian di laksanakan pada bulan Januari 2023 sampai bulan Mei 2023. Lokasi
penelitian di lahan Pre-Nursery Pembibitan Kelapa Sawit, Kelurahan Kandang Limun,
Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu, dengan ketinggian tempat ± 10 mpdl.
Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 3 ulangan. Faktor
pertama yakni media tanam campuran subsoil dan kompos kulit kopi yang terdiri atas 4 jenis
campuran yaitu C1 (tanah SubSoil 100% kontrol), C2 (subsoil 75% : kulit kopi 25%), C3
(subsoil 50% : kulit kopi 50%) dan C4 (subsoil 25% : kulit kopi 75%). Faktor kedua yakni
dosis pupuk majemuk (NPK 17:8:9+3MgO) yang terdiri atas 3 dosis yaitu 1 g / 2 kg media
tanam, 2 g/ 2 kg media tanam, dan 3 g / 2 kg media tanam. Data hasil pengamatan dianalisis
secara statistik dengan uji F taraf 5%. Hasil analisis varians menunjukkan pengaruh nyata,
maka di uji lanjut dengan uji Lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan campuran media 50% Subsoil : 50%
kulit kopi dan pemberian dosis pupuk majemuk 2g/2kg media tanam menunjukkan interaksi
pada total luas daun. Penggunaan campuran media tanam 50% Subsoil : 50% kompos kulit
kopi memberikan pertumbuhan terbaik untuk keragaan tinggi tanaman 31,21 cm, diameter
batang 10,99 mm, jumlah daun 4,33 helai, total luas daun 84,36 cm
2
dan tingkat kehijauan
daun 52,1 (SPAD meter). Serta Pemberian dosis pupuk majemuk 2g/2kg media tanam
memberikan pertumbuhan terbaik untuk keragaan tingkat kehijauan daun
UJI KONSENTRASI ATONIK DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN STEK CABE JAWA
Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) merupakan salah satu tanaman obat dan
rempah yang memiliki nilai ekonomis tinggi karena memiliki banyak manfaat. Oleh karena
itu budidaya cabe jawa perlu dikembangakan untuk meningkatkan produktivitas perlu
dikembangakannya diantaranya dengan memperbaiki pembibitan tanaman cabe jawa
secara vegetatif dengan menggunakan konsentrasi zat pengatur tumbuh dan lama
perendaman. Penggunaan konsentrasi zat pengatur tumbuh dan lama perendaman perlu
dilakukan untuk meningkatkan persentase tumbuh tanaman cabe jawa. Penelitian ini
bertujuan menentukan interaksi pertumbuhan stek cabe jawa dengan pemberian beberapa
konsentrasi zat pengatur tumbuh dan lama perendaman, menentukan konsentrasi zat
pengatur tumbuh yang optimum untuk stek cabe jawa dan menentukan lama perendaman
yang terbaik untuk stek cabe jawa.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni 2022 hingga September 2022, di
Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu Medan Baru, Kandang Limun,
Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu pada Ketinggian 10 mdpl dengan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor perlakuan. Factor pertama
yaitu Konsentrasi zat pengatur tumbuh terdiri dari 0 mL/L air ( Kontrol), 1 mL/L air, 2
mL/L air, 3 mL/L air dan factor kedua lama perendaman yang terdiri dari tanpa
perendaman (dicelupkan saja 5 menit) dicelupkan saja, 30 menit, 60 menit, 90 menit.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat intraksi antara konsenrasi zat
pengatur tumbuh dan lama perendaman stek pada variabel tinggi tanaman 2 MST, tinggi
tanaman 6 MST, luas daun dan bobot kering aka
APLIKASI 2,4-D (2,4- Dichlorophenoxy acetic acid) DAN BAP (Benzyl amino purine) TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN KOTILEDON JERUK GERGA (Citrus reticulata) SECARA IN VITRO
Jeruk merupakan tanaman buah yang mempunyai kandungan vitamin C yang cukup
tinggi dan bermanfaat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan
konsentrasi dan interaksi yang optimal pada aplikasi 2,4-D dan BAP terhadap respon
pertumbuhan kalus Jeruk Gerga. penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2018
sampai bulan Juli 2019 di Laboratorium Agronomi Divisi Bioteknologi dan Kultur
Jaringan Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas
Bengkulu.
Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial, faktor pertama adalah
2,4-D terdiri dari 5 taraf yaitu 0 mg/l 2,4-D, 0.5 mg/l 2,4-D, 1.0 mg/l 2,4-D,1.5 mg/l 2,4-
D dan 2.0 mg/l 2,4-D. Faktor kedua adalah BAP terdiri dari 4 taraf yaitu 0 mg/l BAP,
1.0 mg/l BAP, 2.0 mg/l BAP dan 3.0 mg/l BAP. Dari kedua faktor dihasilkan 20
kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 60 satuan
percobaan setiap masing-masing kombinasi perlakuan berisi 1 eksplan kotiledon Jeruk
Gerga yang telah dikecambahkan terlebih dahulu. Data yang di peroleh dianalisis
menggunakan Uji Deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk histogram dan data kualitatif
di tampilkan dalam bentuk foto.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tidak terdapat interaksi antara 2,4-D
dengan BAP terhadap seluruh variabel eksplan Jeruk Gerga. Kombinasi 2,4-D dan BAP
menghasilkan saat muncul tunas 2 HST pada 1 mg/l BAP + 1 mg/l 2,4-D dan persentase
pertumbuhan tunas yaitu 85 %, jumlah tunas 2.7 per eksplan dihasilkan pada 3 mg/l
BAP + 0 mg/l 2,4-D dan kontrol. Konsentrasi 2 mg/l BAP + 0.5 mg/l 2,4-D
menghasilkan tinggi tunas 8,1 cm, konsentrasi 2 mg/l BAP + 0 mg/l 2,4-D menghasilkan
saat muncul akar 8,7 HST dengan persentase eksplan tumbuh akar yaitu 65
%.konsentrasi 2 mg/l BAP + 1.0 mg/l 2,4-D menghasilkan jumlah akar 11.3 per eksplan
dan panjang akar 3.6 cm pada pemberian 3 mg/l BAP + 0 mg/l 2,4-D. Konsentrasi 2
mg/l BAP + 1.5 mg/l 2,4-D menghasilkan saat muncul kalus yaitu 3.7 HST dengan
persentase eksplan terbentuk kalus 35 %, diameter kalus 2.27 cm pada pemberian 3 mg/l
BAP + 2 mg/l 2,4-D. Rerata saat muncul daun yaitu 2 HST pada 0 mg/l BAP + 1.5 mg/l
2,4-D, jumlah daun 7.7 helai pada 2 mg/l BAP + 0.5 mg/l 2,4-D. Bobot hasil kultur 1.2
g yaitu pada konsentrai 0 mg/l BAP + 1.5 mg/l dan 3 mg/l BAP + 2 mg/l 2,4-D.
Kuantitas kalus dengan skor 4 (kalus sedang) yaitu pada 3 mg/l BAP + 2 mg/l 2,4-D
dengan kalus bertekstur remah dengan warna kalus kekuningan
- …
