1,721,074 research outputs found
Kajian Durabilitas Mortar Engineered Cementitious Composites (ECC) Berdasarkan Tinjauan Kuat Tekan
Komposisi campuran beton banyak divariasikan dengan penambahan material-material lain yang disebut pozzolan seperti abu terbang (Fly Ash), abu sekam padi, Silica Fume untuk mereduksi penggunaan semen, meningkatkan kekuatan, serta memperbaiki karakteristik beton. Umumnya ketahanan beton sangat dipengaruhi oleh lingkungan korosif khususnya jika dibangun di daerah pantai, bangunan dermaga, dan bangunan lainnya. Lingkungan asam yang mengandung unsur kimia akan merusak beton secara perlahan-lahan sehingga beton menjadi keropos.
Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan ketahanan beton terhadap lingkungan korosif, dalam penelitian ini dibahas mengenai penggunaan Engineered Cementitious Composites (ECC) untuk meningkatkan durabilitas dari beton serta memanfaatkan limbah sebagai material cementitious pada ECC sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Pada penelitian ini, ditinjau kuat tekan dari silinder 200 x 100 yang berbasis High Volume Fly Ash dan Abu Sekam Padi akibat rendaman larutan Klorida (HCl).
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian eksperimental di laboratorium yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari silinder mortar terhadap kuat tekan. Pada penelitian ini digunakan superplasticizer untuk meningkatkan workability dari campuran komposit sehingga didapatkan kondisi self compacting composites (SCC). Adapun persentase abu sekam padi yang digunakan yaitu variasi 0%, 5%, 10% dan 15% dari berat semen dan variasi fly ash pada tiap variasi abu sekam padi masing-masing sebesar 0%, 40% dan 50% dari berat semen. Pengujian kuat tekan dilakukan dengan benda uji silinder berukuran 10 cm x 20 cm pada umur 1, 3, dan 5 bulan perendaman HCl.
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa silinder mortar ECC menghasilkan kuat tekan optimum pada variasi fly ash 40%, abu sekam padi 0% dan yaitu sebesar 44,59 MPa. Dari hasil penelitian ini, dapat diambil kesimpulan bahwa silinder mortar ECC dapat meningkatkan kuat tekan dan tahan terhadap serangan asam larutan HCl.134 HalamanSkripsi Sarjan
Pengaruh Penggunaan Abu Daun Jagung Terhadap Kuat Tekan Beton
Beton merupakan salah satu material yang cukup berperan dan paling sering digunakan dalam sektor bangunan dan konstruksi di Indonesia. Semen sebagai salah satu bahan penyusun beton dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan, mulai dari pengambilan bahan bakunya, proses produksi hingga polusi abu yang ditimbulkan. Oleh karena itu dibutuhkan bahan alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti semen yaitu dengan memanfaatkan limbah organik, seperti limbah daun jagung, mengingat daun jagung berpotensial menimbulkan limbah organik pada lahan pertanian yang masih sangat kurang pengolahannya. Pada penelitian ini, diharapkan jumlah penggunaan semen pada beton dapat dikurangi dengan menginvestigasi potensial abu daun jagung (ADJ) sebagai bahan pengganti semen secara persentase dan pengaruhnya terhadap kuat tekan beton. Selain itu, untuk mendukung beton yang ramah lingkungan, maka dalam penelitian ini juga menggunakan semen yang kurang dari 500 kg/m3.
Metode penelitian yang digunakan adalah kajian eksperimental di laboratorium. Pada penelitian ini dilakukan 8 (delapan) variasi persentase ADJ, yaitu 0% (kontrol); 2,5%; 5%; 7,5%; 10%; 12,5%; 15% dan 17,5% dari berat semen awal dengan jumlah benda uji setiap variasi persentase berjumlah 3. Pengujian kuat tekan beton dilakukan ketika beton mencapai umur 7 hari, 14 hari dan 28 hari.
Berdasarkan hasil penelitian, kuat tekan beton dengan ADJ sebesar 2,5%, 5% dan 7,5% selalu mengalami peningkatan dan memberikan nilai kuat tekan yang lebih besar daripada kuat tekan beton normal (kontrol). Variasi ADJ yang paling optimum yaitu yang memberikan kuat tekan beton yang paling besar berada pada beton ADJ dengan persentase ADJ sebesar 7,5% yang diuji pada umur 7 hari, 14 hari dan 28 hari, masing-masing sebesar 20,171 ; 24,212 dan 30,923 . Atau mengalami peningkatan kuat tekan sebesar 9,92%; 11,34% dan 10,18% untuk masing-masing umur pengujian 7 hari, 14 hari dan 28 hari, dibandingkan terhadap kuat tekan beton normal. Berdasarkan hasil uji tekan ini, ADJ dapat digunakan sebagai material alternatif pengganti semen secara parsial.149 HalamanSkripsi Sarjan
Evaluasi Kuat Tekan Polypropylene Engineered Cementitious Composites yang Berbasis Moderate Volume Fly Ash dan Abu Sekam Padi
Enggineered Cementitious Composites (ECC) merupakan material komposit yang tersusun atas semen, pasir, air, zat additive, material cementitious dan tidak menggunakan agregat kasar (kerikil). Dalam peningkatan penerapannya pada perkuatan struktur, maka kedalam ECC ditambahkan fiber (Fiber Reinforcement Enginereed Cementitious Composites (FR-ECC)). FR-ECC ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan beton mutu tinggi (FRC/ fiber Reinforced Concrete) dikarenakan FR-ECC menggunakan fiber yang sedikit yaitu sekitar 2%. FR-ECC merupakan solusi dari pengurangan penggunaan semen yang tinggi pada konstruksi yang menerapkan material FRC. Dengan menggunakan material by-product seperti Fly Ash (FA) dan Abu Sekam Padi (ASP) sebagai material cementitious penyusunnya, diharapkan kandungan SiO2 dari FA dan ASP efektif bereaksi pada proses reaksi hidrasi semen sehingga dapat menghasilkan CSH yang baru.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemanfaatan FA dan ASP sehingga dapat mengurangi dampak negatifnya pada lingkungan serta pemanfaatannya dalam meningkatkan kuat tekan terhadap PP-ECC. Penelitian ini menggunakan metode kajian eksperiman di laboratorium. Penelitian ini memiliki komposisi variasi Moderate Volume fly ash (MVFA) dengan persentase 0%, 25%, dan 35% dari berat awal semen sedangkan abu sekam padi (ASP) yang digunakan yaitu 0% dan 10% dari berat semen awal yang divariasikan terhadap fiber 0%, 0,1%, 0,2%, dan 0,3% dengan umur pengujian selama 28 hari.
Data yang diperoleh dari penelitian ini yaitu kuat tekan paling tinggi (optimum) pada variasi MH35-10 dengan variasi fiber 0,1%, 0,2%, 0,3% secara berturut-turut sebesar 62,59 MPa, 63,68 MPa, 65,58 MPa dan 56,13 MPa mengalami peningkatan sebesar 120,23%; 39,98%; 28,43%; dan 49,95% dari kuat tekan benda uji normal (kontrol) dimana kuat tekan rata-ratanya yaitu 28,42 MPa, 45,49 MPa, 51,06 MPa, dan 37,43 MPa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fly ash (FA) dan Abu Sekam Padi (ASP) dapat di usulkan menjadi material tambahan dalam meningkatkan nilai kuat tekan PP-ECC.140 HalamanSkripsi Sarjan
Kajian Kuat Tarik Fibre Reinforced Engineered Cementitious Composites yang Dimodifikasi dengan Penambahan Low Volume Fly Ash dan Abu Sekam Padi
Beton merupakan bahan bangunan dan bahan konstruksi yang penggunaannya semakin meningkat tetapi pemenuhan akan bahan baku beton semakin berkurang. Salah satu alternatifnya adalah penggunaan Fiber Reinforced Engineered Cementitious Composites (FR-ECC) dengan cara mengganti sebagian agregat halus dengan Fly Ash dan Abu Sekam Padi serta dengan penambahan serat Polypropylene (PP). Pada penelitian ini, akan dilakukan penelitian tentang dampak penggunaan Low Volume Fly Ash (FA) dengan persentase 0%; 5%; 15% dari berat semen dan Abu Sekam Padi (ASP) dengan konsentrasi 0%; 15% dari berat semen terhadap kuat tarik FR-ECC. Sampel dibuat sebanyak 72 buah benda uji berupa dog bone prismatic dengan 6 jenis variasi campuran abu sekam padi dan FA dimana tiap variasi campuran tersebut terdapat 4 variasi polypropylene fibre (PP) yaitu 0%;0,1%;0,2%;0,3%. Jumlah sampel untuk tiap variasi adalah 3 buah sampel. Sampel yang sudah dicetak direndam di bak rendam selama 22 hari kemudian dikeluarkan dari bak perendam dan dibiarkan kering dengan suhu ruangan sampai hari ke-28. Pengujian kuat tarik FR-ECC dilakukan pada umur 28 hari dengan menggunakan direct tensile test. Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa nilai kuat tarik optimum terdapat pada variasi FA15-ASP15 0,2% PP fiber. Adapun nilai kuat tarik LVFA FR-ECC FA15-RHA15 untuk polypropylene fiber 0%; 0,1%; 0,2% dan 0,3% adalah 1,69 Mpa; 2,00 MPa; 2,51 MPa dan 1,83 MPa sedangkan kuat tarik untuk FA0-RHA0 yang tidak menggunakan fly ash maupun abu sekam padi dengan variasi polypropylene fiber 0%; 0,1%; 0,2% dan 0,3% adalah 0,72 MPa; 1,53 MPa; 1,65 MPa; 1,21 MPa. Sehingga kenaikan kuat tarik LVFA FR-ECC FA15-RHA15 dibandingkan dengan FA0-RHA0 adalah 0,97 MPa; 0,47 MPa; 0,86 MPa dan; 0,62 MPa.94 HalamanSkripsi Sarjan
Evaluation of ECC Mortar and Bio Fiber-ECC Based on Fly Ash and Palm Shell Ash Based on Microstructure Study
This study aims to evaluate the microstructural characteristics and mechanical performance of Engineered Cementitious Composite (ECC) mortar modified with waste-based additives such as fly ash and palm shell ash (PSA), along with natural fibers including bamboo and rattan (Bio Fiber-ECC). Sieve analysis revealed that fly ash had the finest particle size (FM = 0.00), allowing for better void filling, which enhanced mortar density and compressive strength. XRF testing identified key pozzolanic compounds (SiO₂, Al₂O₃, Fe₂O₃) in fly ash and PSA that contribute to the formation of hydration products like calcium silicate hydrate (CSH). FTIR analysis detected dominant functional groups (Si-O, Al-O, O-H), indicating active pozzolanic and hydration reactions, with noticeable peak shifts suggesting the formation of new bonds and amorphous silica/aluminosilicate structures. SEM observations revealed diverse particle morphologies: spherical, smooth fly ash particles enhanced workability and packing density, while irregular, porous PSA particles accelerated hydration due to their high surface area. The optimal sample (M33) exhibited a denser and more compact microstructure with smaller pores. In Bio Fiber-ECC, uniform fiber dispersion provided a bridging effect, reducing crack propagation, whereas samples with minimal fiber content showed voids that contributed to decreased compressive strength. Overall, the synergy of fly ash, PSA, and natural fibers significantly improved the mechanical and microstructural properties of the mortar.118 PagesSkripsi Sarjan
pengaruh Rendaman Larutan Asam (Hcl) terhadap Kuat Tekan Beton Abu Daun Jagung
Beton merupakan salah satu bahan bangunan yang banyak dipakai di dunia konstruksi, serta mengalami perkembangan yang pesat hingga saat ini. Komposisi beton terdiri dari campuran semen, pasir, air kerikil dengan perbandingan tertentu. Penambahan bahan tambahan (admixture) juga dapat dilakukan sesuai dengan tujuan yang diinginkan untuk meningkatkan mutu beton. Salah satunya dilakukan pemanfaatan limbah tanaman jagung sebagai bahan tambahan pada campuran beton. Penelitian diharapkan dapat menghasilkan inovasi baru pada beton yang ramah lingkungan. Letak geografis Indonesia menyebabkan banyak wilayah Indonesia sering mengalami curah hujan yang tinggi. Banyaknya industri atau pabrik di Indonesia, emisi kendaraan bermotor, kebakaran hutan, erupsi gunung berapi dan lainnya, secara potensial dapat menyebabkan hujan asam......... merupakan salah satu golongan asam kuat yang terdapat dalam kandungan hujan asam dan dapat menyebabkan kerusakan pada konstruksi beton. Penelitian ini dibuat untuk mengkaji sejauh mana ketahanan beton terhadap rendaman air asam ....... berdasarkan tinjauan kuat tekan beton, dimana beton yang digunakan merupakan beton normal dan beton yang dimodifikasi dengan penambahan abu daun jagung.
Metode penelitian yang digunakan adalah kajian eksperimental di laboratorium dengan tujuan mengetahui pengaruh rendaman larutan asam (HCl) terhadap kuat tekan beton abu daun jagung. Pada penelitian ini persentase abu daun jagung yang digunakan dipilih dari variasi 10% dan 15% dari berat semen yang memberikan kuat tekan paling optimum pada umur 28 hari dan penambahan superplasticizer pada beton abu daun jagung serta variasi persentase larutan HCl yang digunakan pada penelitian ini yaitu 3,5% dan 10,5%. Pada penelitian ini digunakan juga beton normal sebagai kontrol. Pengujian kuat tekan dilakukan dengan benda uji silinder diameter 15 ...... dan tinggi 30 ....... pada umur 1, 2, 3 dan 4 bulan.
Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh kekuatan tekan optimum pada beton abu daun jagung 10% dalam rendaman 3,5% HCl pada umur 1, 2, 3 dan 4 bulan masing-masing sebesar 32,5 ......, 33,3 ...., 36,0 ...... dan 34,9 ..... serta pada rendaman 10,5% HCl dengan kuat tekan masing-masing sebesar 24,5 ......, 22,3 ....., 21,5 MPa dan 19,7 ...... Dari hasil pengujian ini, dapat diketahui bahwa beton ADJ 10% mampu meningkatkan kuat tekan dan memiliki ketahanan yg lebih besar pada rendaman HCl dibandingkan beton normal serta penggunaan abu daun jagung sebagai limbah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambah dalam adukan beton.125 HalamanSkripsi Sarjan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Aplikasi Strut-And-Tie Model pada Analisis Balok Tinggi Berdasarkan Sni 2847-2019 dan Model-Model Truss yang Sudah Established Serta Computer Aided Strut And Tie
Balok tinggi merupakan salah satu elemen struktur yang banyak digunakan
pada konstruksi bangunan beton bertulang karena kemampuannya yang besar
dalam memikul beban geser. Balok tinggi sering digunakan pada dinding geser,
balok couple, pile cap, kepala pilar atas jembatan, dan lain-lain. Distribusi tegangan
dan regangan pada balok tinggi pada umumnya bersifat nonlinier. Sehingga
perancangan dan analisis balok tinggi, lazimnya menggunakan metode
strut-and-tie model (STM). Aliran tegangan pada balok tinggi dapat diketahui
dengan menggunakan salah satu software finite element modeling (FEM) seperti
LUSAS14. Penggunaan metode strut-and-tie model ini membawa pengaruh yang
cukup besar dan luas dalam perancangan dan analisis pada struktur beton bertulang,
karena konsep-konsep pada metode STM yang sederhana dan mudah diaplikasikan
secara logika. Meskipun demikian, sering juga timbul masalah pada saat proses
perancangan dan analisisnya, akibat proses perhitungan yang memerlukan waktu
yang lama. Untuk mengatasi masalah tersebut, saat ini sudah mulai banyak
dikembangkan beberapa software yang dapat digunakan, salah satunya adalah
CAST (Computer Aided Strut and Tie).
Pada penelitian ini, elemen struktur yang ditinjau adalah balok tinggi.
Dimensi dan pembesian balok tinggi dirancang berdasarkan SNI 2847-2019,
kemudian hasil perancangan balok tinggi tersebut dianalisis dengan menggunakan
metode STM berdasarkan SNI 2847-2019, serta berdasarkan lima model STM lain
yang berbeda yang telah establish untuk mengetahui keefektifan hasil perancangan
balok tinggi menggunakan SNI 2847-2019. Pemilihan pemodelan rangka batang
menurut SNI 2847-2019 didasarkan pada aliran tegangan hasil analisis
menggunakan perangkat lunak non-linear analysis LUSAS14. Selain itu, untuk
mengetahui perbandingan hasil analisis berdasarkan metode-metode STM yang
digunakan, digunakan juga program CAST.
Dari hasil analisis diperoleh bahwa hasil perancangan balok tinggi
menggunakan SNI 2847-2019 cukup efektif. Force ratio yang diperoleh pada setiap
metode STM yang digunakan serta berdasarkan hasil analisis CAST menunjukkan
nilai yang kurang dari satu. Kapasitas gaya pada setiap elemen truss lebih besar
daripada gaya batang yang bekerja pada masing-masing elemen untuk setiap model
yang digunakan. Berdasarkan hasil analisis STM diperoleh force ratio rata-rata
untuk Model-1; Model-2; Model-3; Model-4; Model-5; Model-6 masing-masing
adalah 0,846; 0,756; 0,746; 0,668; 0,642; 0,744. Sedangkan berdasarkan hasil
analisis CAST, diperoleh force ratio rata-rata untuk Model-1; Model-2; Model-3;
Model-4; Model-5; Model-6 masing-masing adalah 0.869; 0.803; 0.845; 0,695;
0.768; 0,781. Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat dilihat bahwa tidak terdapat
perbedaan yang signifikan antara hasil analisis STM dan CAST.116 HalamanSkripsi Sarjan
The Effect of Using Bamboo and Rattan Fibers in Ecc Mortar Based on Fly Ash and Palm Karnel Shell Ash (PKSA) on Tensile Strength
Concrete is a building material that is still widely used in the construction industry.
However, its extensive use contributes significantly to the increase in global carbon
emissions. One alternative to reduce this impact is the use of Bio-Fiber Engineered
Cementitious Composite (Bio-Fiber ECC), by substituting cement with fly ash and
palm shell ash, along with the addition of bamboo and rattan fibers.This study
investigates the effect of Bio-Fiber ECC with fiber content percentages of 0%, 1%,
1.5%, and 2% by weight of cement on tensile strength. A total of 48 prismatic dog
bone-shaped specimens were prepared, using two types of fibers—bamboo and
rattan—each with a length of 10 mm and a diameter of 1 mm. For each fiber type,
four variations of fiber content were used: 0%, 1%, 1.5%, and 2% by weight of
cement. Each variation consisted of 3 samples. The specimens were tested for
tensile strength using a Universal Testing Machine after curing for 3 days and 7
days.Based on the test results, the highest tensile strength was achieved in the
RT_1_2% variation, with a value of 1.41 MPa. The tensile strength values obtained
for the bamboo fiber variations at 7 days of age were 0.58 MPa, 0.68 MPa, 0.72
MPa, and 0.61 MPa for 0%, 1%, 1.5%, and 2% fiber content, respectively.
Meanwhile, for the rattan fiber variations, the tensile strength values at 7 days were
0.58 MPa, 0.58 MPa, 0.75 MPa, and 1.23 MPa, respectively.It can be concluded
that increasing the bamboo fiber content leads to a decrease in the tensile strength
of Bio-Fiber ECC, whereas the opposite trend is observed with the use of rattan
fiber.113 PagesSkripsi Sarjan
- …
