1,720,960 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
PERLINDUNGAN PEREMPUAN DI BAWAH UMUR TERHADAP POTENSI TINDAK KEKERASAN DALAM PERKAWINAN ADAT DI TOBELO: Protection of Underage Women Against Potential Violence In Traditional Marriage At Tobelo
Perkawinan adat menjadi emergency exit dalam upaya mengatasi persoalan hamil di luar nikah akibat pergaulan bebas di kalangan remaja. Dampak perkawinan instan tersebut berpotensi menimbulkan ketimpangan gender yang dialami oleh perempuan sebagai pihak yang lemah dan berkorelasi terjadinya persoalan tindak kekerasan serta pengenyampingan hak anak dalam mengembangkan kapasitas diri. Ketidakpastian pemberlakuan hukum secara konsisten dan timpangnya tradisi serta inkonsistensi penerapan norma dan sanksi adat membuat melemahnya budaya hukum dan tingkat kepatuhan hukum. Berdasarkan observasi dan in-depth interview yang dilakukan dalam penelitian ini terungkap data dan fakta bahwa lemahnya kekuatan hukum yang mengikat pada praktik perkawinan adat di bawah umur berpotensi menimbulkan dampak ketimpangan gender, pengabaian hak, pengingkaran tanggung jawab, tindak kekerasan dan ketidakadilan. Penguatan dan pembaharuan hukum dalam ranah hubungan integral antara hukum adat dan hukum positif yang ada dilakukan secara komprehensif sehingga terbentuk keselarasan norma, sistem dan kelembagaan yang menjamin adanya kepastian hukum dan proteksi terhadap terhadap pelanggaran hak dan ketidakadilan. Restorative Justice yang mengedepankan mediasi, rekonsiliasi dan pemulihan adalah model pendekatan yang ideal dalam penyelesaian konflik yang terjadi
RUANG TERBUKA DALAM PERANCANGAN KOTA
RUANG TERBUKA DALAM PERANCANGAN KOTA
Triarso *)
Abstraksi
Peradaban manusia dimulai sewaktu manusia menginginkan suatu ruang untuk perlindungan dirinya terhadap alam. Manusia purba mulanya tinggal di gua – gua, mereka kemudian hidup berkelompok untuk tujuan pengamanan, kemudian mereka mulai menginginkan kebutuhan yang berlebih. Perlindungan kepada hal yang gaib menimbulkan pendirian altar atau tempat pemujaan sebagai bagian dari lingkungannya disamping unit – unit huniannya, timbullah dusun – dusun sederhana sebagai dasar dimulainya kebudayaan urban. Bagian yang solid dari suatu kota adalah susunan masa atau bangunan kota.
Dalam arsitektur ( kota ) elemennya tidak terbatas kepada bagian yang solid, tapi juga ruang – ruang yang terbentuk oleh bagian yang solid tersebut, baik berupa jalan, taman atau lebih luas kepada seluruh ruang yang ada padanya. Jenis yang formal, yang dibentuk oleh façade bangunan dan pelataran kota di sebut urban space ( ruang kota ), sedang yang natural ( informal ) yang menyajikan alam ( nature ) didalam atau disekeliling kota disebut open space ( ruang terbuka ).Secara umum problema yang di hadapi dalam perencanaan suatu open space adalah sama, variasinya tergantung kepada skala fungsi yang dilayaninya. Ruang terbuka pada suatu lingkungan adalah merupakan wujud dari karakter lingkungan itu secara menyeluruh, dengan fungsi sebagai pusat kegiatan bersama.
Kata Kunci : Ruang Terbuka, Perancangan Kota
PENDAHULUAN
Bahan dasar arsitektur adalah massa dan ruang, perpaduan antara keduanya adalah merupakan esensi perancangan. Dalam kultur sekarang ini, perancangan cendrung menitik beratkan kepada massa, atau banyak perancang yang “buta ruang”. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pendalaman ruang merupakan pengalaman intelektual yang penuh sensasi dan perasaan, yang akan melahirkan kepekaan akan estetika. Oleh karenanya sering dikemukakan bahwa ungkapan ruang merupakan ungkapan arsitektural yang lebih besar. Secara universal diakui oleh kebudayaan di seluruh dunia bahwa perwujudan karya arsitektur merupakan ungkapan filosofis dari hubungan ruang dan massa. Sehingga dalam merancang kota sebagai karya arsitektur, ruang harus ditampilkan dalam volume yang utuh, diwujudkan dalam spirit arsitektural, yang kaya akan variasi pada kotanya. Ruang disamping mengungkapkan spirit dari aktifitasnya juga emosi dari manusia didalamnya, ruang tidak hanya nyata terlihat dari bidang yang mengelilingnya, melainkan karakternya terwujud pada susunan bidang yang kaya dengan irama, warna dan texture.
RUANG KOTA DAN RUANG TERBUKA
Bagian yang solid dari suatu kota adalah susunan masa atau bangunan kota. Dalam arsitektur ( kota ) elemennya tidak terbatas kepada bagian yang solid, tapi juga ruang – ruang yang terbentuk oleh bagian yang solid tersebut, baik berupa jalan, taman atau lebih luas kepada seluruh ruang yang ada padanya. Jenis yang formal, yang dibentuk oleh façade bangunan dan pelataran kota di sebut urban space ( ruang kota ), sedang yang natural ( informal ) yang menyajikan alam ( nature ) didalam atau disekeliling kota disebut open space ( ruang terbuka ).
Pada dasarnya suatu ruang kota adalah karakter yang dominan pada kota, baik segi kualitas ruangnya maupun aktifitas yang terjadi didalamnya. Pengertian ruang kota diperluas tidak hanya yang terbentuk oleh bangunan ( massa ) melainkan juga yang terbentuk oleh alam ( pohon, tebing, sungai dan sebagainya ), pembicaraan mengenai ruang dikota akan mencakup keduanya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kota. Bentuknya bisa merupakan suatu koridor atau pulau persinggahan ( taman, plaza, persimpangan dan sebagainya ). Ruang – ruang terbuka ( informal / open space ) dapat memberi ciri lain kepada karakter yang alami dari kota, misalnya yang membentuk vista alami kearah pandangan bangunan, pendestarian, alam dan sebagainya. Pengertian ruang terbuka dikota adalah sebagai sistem tanah umum ( system of public land ) didalamnya termasuk jalan, sekolah, taman, ruang – ruang untuk bangunan umum yang tersusun dalam suatu jaringan kota.
Perkembangan Sejarah
Peradaban manusia dimulai sewaktu manusia menginginkan suatu ruang untuk perlindungan dirinya terhadap alam. Manusia purba mulanya tinggal di gua – gua, mereka kemudian hidup berkelompok untuk tujuan pengamanan, kemudian mereka mulai menginginkan kebutuhan yang berlebih. Perlindungan kepada hal yang gaib menimbulkan pendirian altar atau tempat pemujaan sebagai bagian dari lingkungannya disamping unit – unit huniannya, timbullah dusun – dusun sederhana sebagai dasar dimulainya kebudayaan urban.
Masing – masing dusun kadang – kadang bersaing hingga terjadi pertempuran, kelompok yang berjaya membesar menjadi semacam kerajaan kecil dan seterusnya, dengan perubahan nilai yang terus menerus melahirkan kota – kota dengan perbentengan yang mengelilinginya, tempat penguasa dan rakyat yang berlindung di tempat tersebut. Dalam sejarah Mesir kuno struktur kotanya sudah mengenal jalan yang monumental, plaza yang kolosal tempat kuil pemujaan, dan monumen kuburan atau makam yang monumental untuk rajanya. Pada jaman ini fungsi ruang kota memang ditujukan dan dibangun untuk tujuan mengagungkan raja, di bangun dengan kekuatan kekuasaan selalu ada hubungan antara ruang terbuka dengan kuil atau istana.
Kota – kota jaman klasik pada kebudayaan Yunani yang lebih maju, di kenal ruang – ruang terbuka dengan fungsi yang lebih terklasifikasi, misalnya sebagai pasar ( agora ) untuk kegiatan dagang dan kehidupan politik. Bentuk agora umumnya geometris dengan luas sekitar 5 % dari luas kota , sekelilingnya merupakan suatu arkade.
Ruang – ruang kota jaman pertengahan didominasi oleh gereja dan kastil bangsawan, plaza disamping halaman gereja juga berfungsi sebagai market place.
Ruang terbuka, jalan dan plaza di bangun integrated dengan bangunan disekelilingnya. Sampai perkembangan yang lebih maju yaitu sampai jaman pra-industri telah memberi gambaran kepada kita bahwa kota yang dibangun dan ruang yang terjadi, merupakan hasil karya yang didasari oleh kecermatan penghayatan yang tinggi didukung oleh kekuatan dan kekuasaan.
PERUBAHAN PADA KARAKTERISTIK KOTA
Pembentukan kota sejak jaman Yunani adalah suatu kreasi yang ditujukan untuk manusia, yang kemudian diikuti oleh kebudayaan Roma yang lebih maju, serta diekspresikan lebih baru lagi pada kota – kota abad pertengahan. Konsep yang lebih manusiawi diketengahkan dalam konsep Renainssance.
Sekitar abad ke 18, pada saat terjadi revolusi industri yakni perubahan dari kerajinan tangan kepada kerja masinal, tumbuhnya pabrik – pabrik merupakan magnet pergerakan pekerja yang selalu bertambah. Kota merupakan tempat tinggal untuk pekerja. Ciri lain disamping populasi yang meningkat di seluruh dunia juga peningkatan sistem transportasi kota, perubahan pergerakan dalam kota yang cenderung lebih cepat. Problema yang dihadapi oleh kota – kota besar adalah kekusutan transportasi kota, masalahnya terus berkembang tidak hanya peningkatan kecepatan transportasi, melainkan jumlah alat transportasi.
Kejadian diatas menimbulkan efek lain dalam penghayatan ruang dan waktu secara drastis.
Problem yang lebih meluas timbul pada jaman ini adalah problem polusi dan problem tata ruang yang lebih komplek.
Para pemikir mulai mengimpikan kondisi yang lebih baik, bernostalgia pada kehidupan kota yang lebih baik pada kota – kota jaman sebelumnya, yang dipelopori oleh orang Inggris dalam memikirkan pemikiran utopian. Lahirnya garden city, dimana industri dipisahkan sama sekali dengan kota, mulai timbulnya kota – kota koloni. Pada sekitar akhir abad 18 masalah keruwetan muncul kembali, pertumbuhan kota yang serampangan, kondisi kota yang tidak sehat dan sebagainya. Berkembangnya ide garden city, merupakan kota yang semi rural, dengan penyediaan ruang - ruang untuk kegiatan manusiawi dipadukan dengan penyelesaian landscaping
yang membentuk ruang – ruangnya.
Masalah yang timbul kembali pada kota pada pertengahan tahun – tahun 1940-an adalah peningkatan kebutuhan perumahan dan lapangan kerja, rakyat membutuhkan kota ( untuk tinggal dan bekerja ) sedang kota butuh berkembang untuk menampungnya. Teori baru membawa kepada desentralisasi pertumbuhan industri, tapi pada daerah – daerah tersebut permasalahannya juga berulang. Sehingga timbul masalah spekulasi tanah, yang menambah kompleknya masalah. Peningkatan transportasi jalan raya menimbulkan kemacetan dan kecelakaan di jalan – jalan, timbul penyediaan tempat parkir, dari taman parkir ke parkir garasi, timbul masalah pemisahan pedestrian dan mobil, terus berulang kepada masalah perencanaan kota dan keterbatasannya.
Ungkapan yang sering diulang – ulang adalah perencanaan harus fleksibel, mampu menampung perkembangan dan perobahan setiap saat.
STRATEGI PERENCANAAN
a. Perancangan kota yang menyeluruh.
1. Kota dan material dasar ( pembentuknya )
Pertimbangan dalam merancang kota adalah menempatkan elemen secara efesien dengan sedikit benturan yang masih mungkin, kota harus ditempatkan pada posisi yang memungkinkan kesehatan, bebas dari kemungkinan “ bencana “, tata letaknya jangan mengundang masalah, ruang terbukanya dapat dilalui angin ( nyaman ). Semua itu merupakan pertimbangan manusiawi secara fisik.
Disamping itu perlu pertimbangan emosi manusiawi akan perasaan – perasaan keindahan, ekspresi kotanya menampilkan sensasi visual yang hidup, atau katakanlah bahwa kota itu harus indah ( secara manusiawi ). Hal itu tidak berarti melulu bahwa taman dan bangunannya saja yang indah, tapi juga sampai kedetail- detail pembentuknya, misalnya detail bangunan, proporsi arsitektural, paving, penempatan lampu, pohon, papan iklan dan sebagainya, harus indah sehingga akan membentuk kwalitas ruang kota yang lebih baik, tidak acak – acakan dan terencana rapi.
Perencanaan kota merupakan perencanaan yang menyeluruh, walaupun bagian individunya juga harus merupakan hasil yang sungguh – sungguh.
Sebagai contoh perencanaan jalan, jambatan tidaklah sekedar pemikiran teknis belaka, tapi juga merupakan seni dalam menciptakan ruang, hasilnya tidak saja aman, berdaya guna ( melancarkan lalu lintas ) juga indah, penyelesaiannya juga manusiawi.
Penampilan masing – masing material dasar tersebut merupakan elemen pembentuk pandangan suatu kota, baik secara sendiri maupun secara bersama – sama.
2. Material dasar dan ruang
Seni dari perancangan kota adalah teristimewa pada pembentukan dan pengisian ruang, yaitu ruang – ruang yang diperuntukkan bagi built-up area dan ruang yang diisi dengan lanscaping ( un-built-up ) : open space.
Ruang dan pengisiannya mempunyai hubungan yang erat. Elemen lain yang juga harus diperhatikan adalah pelataran dan bangunannya yang akan membentuk ruang terbuka.
Pada umumnya dalam perencanaan kota, ruang yang akan terjadi dirancang dengan asumsi massa yang akan membentuknya maupun pola sirkulasi yang mengelilinginya
b. Metode ruang terbuka
Dasar pemikirannya adalah kepada pertanyaan yang esensial dalam suatu perencanaan, yaitu dimana kita boleh membangun, atau dimana kita tidak boleh membangun. Yang dimaksud dengan pengertian Open Space untuk perencanaan, adalah meliputi beberapa macam seperti taman, sungai, jalan umum, air port, bangunan umum, plaza, greenbelt, jalan, pendestrian dan sebagainya. Semuanya terjalin dan membentuk suatu struktur, yang merupakan kerangka pengembangan. Oleh karenanya penataan bentuk dan polanya harus melalui perancangan yang matang.
Pengertian daerah tidak boleh dibangun ada dua hal :
1. Sebagai daerah cadangan ( pembangunan terbatas ) yaitu daerah yang dicadangkan untuk penyediaan fasilitas atau sarana untuk umum seperti untuk pusat lingkungan, sekolah, masjid, gereja, pasar dan lain – lain. Malahan juga bagi keperluan yang lebih luas lagi seperti air port atau daerah pengembangan.
2. Sebagai daerah yang dilindungi ( preservasi ) yaitu daerah yang mutlak tidak boleh dibangun. Sebagi contoh dalam skala regional adalah daerah dengan kriteria subur, cagar alam, daerah bencana kritis, potensi rekreasi, jalur – jalur bersejarah. Untuk skala lokal ( kota ) seperti ROW jalan, sungai ( dikota ), daerah landmark, tempat bersejarah, Jalur hijau, tempat bersejarah dan sebagainya.
KLASIFIKASI RUANG- RUANG KOTA
Open Space Dalam Skala Pembangunan Kota
Secara umum problema yang di hadapi dalam perencanaan suatu open space adalah sama, variasinya tergantung kepada skala fungsi yang dilayaninya.
a Dalam skala metropolitan
Ada suatu usulan agar setiap metropolitan ( di Amerika ) mempersiapkan master plan dari open space, yang dapat dipandang sebagai struktur pelengkap total dari daerah built-up, yang akan sanggup menjadi daerah yang di cadangkan untuk pengembangan.
Kerangka open space suatu kota dapat dipakai sebagai kontrol tata guna tanah, sistem yang baik akan mampu mendukung dan sebagai pelengkap dari macam – macam tata guna tanah.
b Dalam skala kota ( yang lebih kecil )
Dalam tata kota, perencanaan open space diarahkan kepada penggunaannya sebagai tempat aktifitas, taman, tempat bermain, halaman sekolah atau stadion olah raga, pendestrian, plaza kecil, mall, plaza, boulevard, jalan, sungai dan lembahnya, taman rekreasi dan sebagainya.
Pengarahan perencanaannya tidak kepada penyediaannya sebagai ruang yang terisolir, melainkan diarahkan kepada struktur ruang secara menyeluruh ( network of space )
Open Space pada bagian – bagian kota
Dalam bagian ini akan di coba memberikan gambaran sekilas mengenai open space pada bagian – bagian kota, pada problem dan peranannya.
a Pada pusat kota
Pusat kota merupakan tempat pertemuan semua unsur masyarakat, yang banyak
mengundang segala macam aktifitas. Problem utama yang dihadapi suatu pusat kota adalah kesibukan yang berlebihan, banyaknya bangunan dan lalulintas yang masuk pada area yang terbatas. Problem ruangnya adalah penyediaan floor space dan ruang untuk kendaraan ( jalan, tempat parkir, pedestrian, pemberhentian bus, dan sebagainya ). Pertimbangan dalam perencanaannya harus dapat menampilkan karakter urbannya, sebagai ruang yang terorganisir yang membawa kepada impresi kepada lingkungan kota secara keseluruhan.
Strategi perencanaan mendatang memang harus dimulai dari penyediaan daerah yang terbuka, tidak hanya diarahkan kepada penyediaan halaman yang secara fungsi dapat nenampung kegiatan, tapi juga memenuhi tujuan pengamat ruang pusat kota, agar dapat dinikmati secara manusiawi memberikan pembukaan pada built – up area, memberikan penekanan pandangan pada bangunan utama ( orientasi ), menimbulkan ruang yang human dan intim tanpa kehilangan fungsinya. Ruang terbuka tersebut secara visual akan dapat berperan sebagai organisator antara bagunan – bangunannya dan antara bangunan dan ruang terbukanya.
b Pada daerah industri
Penempatan lokasi industri sebetulnya tergantung kepada klasifikasi jenis industrinya. Beberapa industri di tempatkan justru mendekati lokasi raw material, atau ditempatkan mendekati fasilitas transportasi ( rel, jalan, sungai, pelabuhan ). Problema yang dihadapi oleh jenis industri adalah gangguannya terhadap lingkungan, problem kebutuhan pengembangannya. Strategi perencanaan ruang terbuka adalah untuk menjawab problem diatas.
Trend sekarang mengarah bahwa arsitektur suatu pabrik tidaklah mati begitu saja, perencanaannya juga di arahkan pada penbentukan lingkungan yang estetis, ruang terbukanya juga sudah membutuhkan penerapan unsur landscape. Tata letaknya disamping standard juga sudah dapat diarahkan kepada sense lingkungan yang lebih baik.
c Pada Lingkungan Perumahan
Program kebutuhan ruang pada lingkungan perumahan disamping kebutuhan untuk rumah, juga kebutuhan untuk fasilitas lingkungannya.
Dalam bagian terdahulu terlihat bahwa yang akan dominan dalam lingkungan perumahan adalah pola tata ruangnya secara umum, secara khusus adalah karakter ruang yang terjadi antar bangunan. Penyediaan ruang untuk fasilitas lingkungannya seperti untuk taman, tempat bermain anak, untuk pertokoan, sekolah dan aktifitas bersama lainnya. Ukuran dari fasilitasnya tergantung besaran lingkungannya. Pola umum lingkungannya akan tercermin pada pola ruang koridornya ( the street as space designed ). Jalan bukan sekedar tampak muka bangunan perumahan, melainkan suatu ruang yang mengikat kelompok – kelompok perumahan. Disampingnya juga ada ruang – ruang yang terbentuk yang tidak tergantung jalan, yaitu ruang – ruang antar bangunan yang terbentuk pada susunan pohon, baik yang formal maupun informal.
Dengan lain perkataan, ruang terbuka pada suatu lingkungan adalah merupakan wujud dari karakter lingkungan itu secara menyeluruh, dengan fungsi sebagai pusat kegiatan bersama.
KESIMPULAN
Strategi perencanaan mendatang memang harus dimulai dari penyediaan daerah yang terbuka, tidak hanya diarahkan kepada penyediaan halaman yang secara fungsi dapat nenampung kegiatan, tapi juga memenuhi tujuan pengamat ruang pusat kota, agar dapat dinikmati secara manusiawi memberikan pembukaan pada built – up area, memberikan penekanan pandangan pada bangunan utama ( orientasi ), menimbulkan ruang yang human dan intim tanpa kehilangan fungsinya. Ruang terbuka tersebut secara visual akan dapat berperan sebagai organisator antara bagunan – bangunannya dan antara bangunan dan ruang terbukanya.
Daftar Pustaka
1. DK Ching, Fransis, Architecture, Form, Space and Order, Erlangga, 1931
2. Lynch, Kevin, The image of The City, the M.I.T. Press, USSA, 1960
3. Neufert, Erns, Syamsu Amril. Data Arsitek, Erlangga, 1997
4. Pearce, Douglas, Topics in Applied Geography Tourist Developr rient,
5. Powell, Robert, Ken Yeang: Rethinking the Environmental Filter, Ldnmark Book, PTE Ltd, 1989.
6. Sirvani, Hamid, The Urban Design Process, Van Nostrand Reinhold Company, New York, 1985.
7. Soemarwoto, Otto, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Djambatan, Jakarta. 1989.
8. Trancik, Roger, Finding Lost Space, Van Nostrand Reinhold Company, New York, 1986.
9. Callender, John Hancocok, Time Saver Standards, Mc. Graw Hill Book Company, 1996
10. Fairweather, Leslie, AJ, Metric Handbook, Londan: The Architecture Press. 1969
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
SQUARE DALAM RUANG DAN WAKTU
Pelataran St. Peter di Roma, St. Mark di Venezuela maupun place Vendome di Prancis semuanya merupakan ha yang secara umum diketahuai dan dikagumi, sebagaimana monalisanya Leonardo, Mosesnya Michelangelo maupun Night watch-nya Rembrant. Tak diragukan lagi semua itu merupakan karya seni yang tinggi sebagai lukisan, sculpture, maupun karya arsitektur. Pekataran diatas kaya dengan hubungan yang unik antara ruang terbuka, bangunan disekelilingnya maupun dengan langit diatasnya, yang menunjukan kreasi sejati dari suatu pengalaman emosi yang digabung dengan usha-usaha seni lainnya. Itu sendiri baru merupakan hal penting kedua setelah penemuhan setiap kebutuhan fungsinya.
Pada masa akhir-akhir ini terlihat adanya penghargaan yang berlebihan terhadap penalaran yang tercermin pada perencanaan kota. Para perencana kota seakan-akan hanya disibukkan oleh masalah fisik (terukur) saja, seperti masalah tata guna tanah, peningkatan trafik, komunikasi, zoning, pendaerahan dan sebagainya. Pertimbangan-pertimbangan square tidak lebih hanya kepada kepentingan akan susunan kota belaka.
Secra fisik dan psikologis, fungsi-fungsi suatu square tidak tergantung kepada ukuran dan skala, baik pada suatu dusun yang hijau, pada suatu kota yang kecil, lapangan dari suatu perumahan disuatu kota besar maupun plasa yang monumental dari suatu metropolitan, semuanya mempunyai kegunaan yang sama. Dibuat sebagai suatu tempat berkumpul yang humanis, memberikan perlindungan terhadap kesibukan lalu lintas dan membebaskannya dari ketegangan yang ditimbulkan dari kesibukan sepanjang jaringan jalan. Kalau jalan digambarkan sungai tempat arus gerakan hubungan manusia, maka square digambarkan sebagai suatu danau, yang mengarahkan dan memberikan gerakan-gerakan hidup tidak hanya pada batas-batasnya sendiri, tapi juga menjangkau kepada jaringan jalan di sekelilingnya yang seakan bermuara kepadanya.
Sebagaimana pada masa lalu maka funfsi psikologis dari suatu square dimasa sekarang dan mendatang adalah sama. Seorang perencana kota dimasa lalu menghadapi problem yang sama dengan seperti perencanaan kota sekarang, misalnya masuknya bangunan baru pada suatu pemukiman, peningkatan frekuensi kegiatan atau rorganisasi dari suatu daerah pada suatu kota lama. Atau dalam hal standar, misalnya pembuangan lengkungan suatu untuk pemberhentian kereta untuk bangsawan atau mobil, atau pembuatan ruang terbuka yang untuk kegiatan spektakuler atau monumental bagi para pemimpin-pemimpin politik dan sebagainya, tidaklah dibuat dalam prinsip yang berbeda. Fungsi juga mempengaruhi pertimbangan dari lebar, panjang dan kedalaman dari jalan maupun lapangan.
Yang membedakan adalah bahwa perencanaan ruang kini menyangkut lebih banyak fungsi daripada abad yang lalu.
Keinginan dan kebutuhan masa lalu tidak banyak dan sekompleks sebagaimana sekarang.
Karenanya analisa dari contoh typical dari masa lalu tinggal sedikit yang didiskusikan oleh sejarah, namun demikian masih dapat dijadikan rangsangan pemikiran bagi perencanaan kota dimasa sekarang
PERKEMBANGAN TAMAN AMERIKA
The growth and development of parks in America from 18th century to 19th century brought a different shape. On 18th century park had designed in small squares as a compact urban structure. And it change on 19th century, become park with large areas, with greenness of many vegetation and place for some wild animals. It is more to express the nature. This changes express on how the America appreciate the nature.
Architecture Landscape consist of area planning activity, harmonic structure unity and outside building area planning. So, Architecture Landscape can be extended on how to create good environment and bring enjoyment, happiness, health and prosperity situations for humans.
Nowadays Architectrure Landscape can be said as knowladge of area planning which is influenced by social, politic, and economic factors.
PENDAHULUAN
Pertambahan penduduk yang meningkat pesat, kebutuhan areal tanah untuk perluasan kota, telah banyak mengikis dan memotong serta merampas areal tanah untuk keperluan pembangunan, yang mengakibatkan terjadinya banjir dan erosi tanah, dan berbagai macam bencana. Pemborosan dan pemakaian yang kurang pada tempatnya mendorong para konservasionist melontarkan pemikiran dan ide-idenya secara praktis memanfaatkan tanah tanpa merusak kesuburannya. George Parkin Marsh dalam bukunya terbitan tahun 1862 Man and Nature memperkenalkan ekologi, ensiklopedia fakta-fakta tanah, melukiskan kemerosotan tanah akibat kebodohan pemakaian yang mengabaikan hukum-hukum alam, termasuk penjelasan hubungan kehidupan antara flora dan fauna. Singkatnya Marsh dianggap sebagai penemu konservasi modern, yang meletakkan manusia dalam kedudukan bekerjasama dengan alam. Pengaruhnya sangat luas terhadap ahli-ahli konservasi bangsa Amerika, termasuk : Carl Shcurz, Theodora Rosevelt, John Wesley Powell, Gifford Pinchot, George Norris, John Muir, Rachel Carson, kelompok orang yang tergabung dalam taman nasional dan memperhatikan dan menasehatkan preservasi. Ide-ide Marsh diterapkan dalam skala regional dan kontinental. Dalam bidang yang lebih khusus di dalam desain perkotaan berdiri sistem taman bengsa Amerika, dimana Frederick Law Olmsted merupakan nama yang sangat menonjol dalam usaha ini.
Olmsted melihat pertumbuhan kota-kota yang tanpa bentuk, akibat pertumbuhan penduduk emigran yang menggunakan tanah yang buruk dan kurang tepat. Dari kacamata sosial dia melihat kehancuran moral dalam tubuh masyarakat akibat perbudakan.
Sebagai seorang petani memanfaatkan desain lanskap sebagai satuan suatu pemecahan penyakit.
Taman-taman perkotaan merupakan bantuan dalam pembaharuan sosial, merubah kejemuan penghuni kota untuk berhubungan dengan alam. Olmsted melihat bahwa kota-kota hendaknya direncakan untuk sedikitnya dua generasi mendatang, mempertahankan ruang pernafasan yang memadai secara kontinyu harus diperbaharui.
Sikapnya dalam perencanaan taman yang terpadu dan luas diugkapkan dalam buku Publik Park and Enlargement of Towns tahun 1870. Penampilan Olmset yang pertama adalah dalam desain Central Park di New York yang dimenangkan dalam suatu kompetisi Tahun 1859. Disamping masih banayak lagi desain-desain tamannya di beberapa kota-kota lainnya, namun yang lebih penting adalah pandangan dan pemikirannya yang kreatif di dalam pekerjaan sebuah kota.
Kesadaran akan penting dan manfaatnya daerah-daerah sumber alam potensial , daerah-daerah rawan dan daerah yang belum terjamah oleh pembangunan, bagi kelangsungan dan keseimbangannya hidup manusia dan alam berikut flora-faunanya, maka dilakukan usaha-usaha pencegahan terhadap kerusakan akibat perluasan pembangunan.
Ruang-ruang terbuka yang semula hanya berupa pulau-pulau kehijauan kecil yang terpisah dan bagian struktur kota, telah berkembang menjadi suatu rangkaian sistem taman dalam program pembangunan perkotaan, baik dalam skala urban, metropolitan, negara bagian atau nasional. Bentuk status urban park bergantung dari kewenangan pihak pengelola.
Dari serangkaian sistem taman-taman di Amerika berkaitan dengan berbagai usaha preservasi, konservasi, reservasi, rekreasi, dan olah raga, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pendidikan, terhadap berbagai bentuk sumber dan potensi alamiah tempat – daerah – jalur bersejarah dan daerah rekreasi.
Berbagai sistem pertamana nasional ditandai dengan istilah nama sebagai berikut :
- Memorial Parkway – jalan taman untuk peringatan
- National Battelefield – medan tempur nasional
- National Historical Park – taman bersejarah nasional
- National Site – daerah bersejarah nasional
- National Lakeshorre – tepian danau nasonal
- National Memorial – tugu peringatan nasional
- Natinonal Paark – taman nasional
- National Recreation Area - daerah rekreasi national
- National River – sungai nasional
- Nasional Seashore – pantai laut nasional.
Berbagai bentuk taman nasional tersebut masing-masing menyediakan bentuk pelayanan dan kegiatan yang berbeda-beda, yaitu menyangkut pelayanan dan kegiatan: jalan tembus yang berat, pondok, kemah, pelayanan makan, berlayar, mengail, jalan kaki-hiking, berkuda, berenang, kegiatan musim dingin, seperti ski-es dan lain-lain dan sejarah hidup, dimana diantaranya dikenakan biaya masuk.
Dari berbagai macam sistem pertamanan nasional Amerika, masing-masing memiliki penanggungjawab, manajemen pengelolaan, tata cara atau prosedur penanganan, personalia, peraturan dan ketertiban kunjungan, pelayanan dan kegiatan yang disediakan serta larangan yang dikenakan, yang berbeda-beda bentuk dan sifatnya bergantung dari sistem yang digunakan. Dalam sistem preservasi daerah alam yang liar dan perlindungan binatang atau tumbuh-tumbuhan, dilarang adanya jamahan pembangunan, terkecuali ada ijin khusus. Bahkan di suatu daerah tertentu sama sekali tidak boleh mendapat kunjungan. Dari bentuk taman di Amerika ini telah memberikan gambaran pandangan yang jauh ke depan bagi kelestarian dan keseimbangan hidup manusia dengan alamnya.
A. NATIONAL PARK
National Park adalah taman milik Nasional di negara bagian yang sifatnya untuk presentasi dan konservasi, karena obyek–obyeknya yang mengagumkan dan merupakan alam yang tidak akan terjamah manusia. Didaerah ini tidak diperkenankan untuk memasang pipa-pipa, tegangan tinggi, karena daerah ini harus benar-benar representatip.
Obyek-obyek berupa :
Fauna atau flora atau keduanya
Peristiwa-peristiwa geoligi
Pemandangan yang indah
Suatu yang monumental
Daerah yang mempunyai hubungan dengan segi kehidupan manusia
Peristiwa-peeristiwa air, gletser dan sebagainya.
Daerah-daerah yang mempunyai potensi-potensi seperti tersebut diatas menjadi incaran bagi National Park. Orang yang melandasi ide ini adalah Olmsted, yang sekaligus menyarankan agar perlindungan semacam ini dimasukkan dalam peraturan federal atau peraturan negara bagian. Hal ini disadari oleh Olmsted karena negara kapitalis dapat menguasai tanah seluas-luasnya, sehingga timbul National Park dan State Park di Amerika Serikat yang merupakan sumbangan monumental dari Omsted terhadap negara.
B. STATE PARK
State Park adalah taman yang dikelola oleh negara bagaian masing-masing yang berfungsi sebagai tempat rekreasi juga olah raga dan camping, pada tempat-tempat tertentu, yang tidak menimbulkan kebakaran dan untuk kegiatan-kegiatan camping ini disediakan fasilitas berupa : lokasi, tempat parkir, tenda, tempat memasak, listrik dan lobang-lobang sanitasi.
Kegiatan camping dilakukan pada musim panas, yang harus diorganisir oleh suatu badan misalnya anak-anak sekolah yang dididik untuk sadar ligkungan.
Stae Park mempunyai dasar hukum sehingga dapat menguasi daerah-daerah rawan yang dinamakan hazard area, berupa tanah yang mudah longsor pada musim semi, baik jalurnya maupun daerah-daerah yang longsor.
Daerah-daerah yang berbahaya ini tidak boleh digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial ekonomi, dengan maksud untuk melindungi manusia terhadap bencana alam.
Obyek-obyek State Park berupa :
Daerah bekas perkebunan
Hutan-hutan produksi
Daerah perkebunan
Daerah dekat danau yang menurut penilaian National Park dapat dijadkan tempa-tempat rekreasi.
Bekas daerah pertambangan sebagai museum alam
Sungai-singai kecil juga dapat dijadikan State Park selama tidak mengganggu sungai besar.
C. LANDSCAPE ACHITECTURE
Sejarah landscape architecture (arsitektur pertamanan) sebagai suatau profesi di Amerika mulai berkembang dengan perencanaan Central Park, New York dalam tahuyn 1857. Tuntutan dari taman telah menciptakan suatu profesi dari kemampuan orang dalam mempertemukan problem-problem dari berbagai keahlian didalam desain.
Didalam waktu yang singkat profesi ini meluas dengan mengikutsertakan berbagai jasa-jasa yang sebelumnya kurang penting terhadap desain lain. Pendiri ini adalah Frederick Law Olmsted.
Selain Central Park Olmsted mendesain beberapa taman antara lain : Prospek Park, Brooklyn tahun 1868, Back Bay Fens di Boston tahun 1879 dan Franklin Park tahun 1858.
Disamping Olmsted usaha yang sama dilakukan oleh seorang pastor Horace Bushnell, Hasford, Connecticut tahun 1858.
Horace Cleveland merupakan arsitek lanskap dari South Park, dengan Boulefard-nya. Ide pembaharuan Cleveland lainnya adalah anjuran penanaman pohon-pohonan dengan peraturan kota praja, Cleveland juga menyarankan para planner agar mengambil manfaat dari potensi natural lingkungan yang mendapat tanggapan dari Eugene, Oregon dan Colorado Springs.
Daftar Kepustakaan
1. Julius GY. Fabos, Gordon T. Milde & V. Michael Weinmayr.
2. Frederick Law Olmsted, Sr. The University of Massachusetts, Press 1968
3. Michael Laurie. Nature and City Planning in The Ninteenh Century
4. Harvey Arden, Howard Spivak, Maryam Weber. USA the land and its people Greystone Press, New York 1966.
5. National Geographic. Vol 156, July 1976
6. Tunnard, Pushkarev. Man-Made America Yale University Press, 1963
7. Spreiregen Paul D. The Architecture of Town and Cities, Mc Graw Hill Book Co, 196
- …
